Jika dulu saya selalu iri dengan orang-orang yang selalu jalan-jalan, maka saya selalu ingin punya waktu lebih untuk traveling. Kemudian belakangan ini, kerjaan saya membuat saya jadi sering jalan walaupun dalam rangka kerjaan dan bukan liburan. Saya sudah cukup senang, namun kadang-kadang ada rasa capek juga tentu saja. Untuk waktu libur yang memang jatahnya bisa liburan tanpa kerjaan, pasti masih saya manfaatkan sebaik-baiknya. Mau ada teman atau tidak, sepertinya saya sekarang sudah cukup berani. Tapi, tetap saja ada satu tujuan perjalanan yang selalu dirindukan mau berapa kali pun ke sana. Ya, jawaban anda benar, sebagai muslim pasti ingin mengunjungi tanah suci, di tengah kepenatan urusan duniawi. Saya sudah pernah umroh sekali pada Bulan November 2022 setelah jaman covid mereda. Sekarang Alhamdulillah mendapat kesempatan berangkat lagi Februari 2026 di saat yang sangat istimewa yaitu Bulan Puasa. Melaksanakan umroh saat bulan puasa pasti lebih berat, tapi saya yakin dengan tekad yang kuat pasti akan bisa menjalaninya. 


Travel umroh kali ini saya ambil dari Palembang. Saya sendirian, tapi tenang saja pasti akan banyak mendapat teman saat umroh nanti. Jika akhir tahun saya sudah sendirian ke Dubai, Istanbul dan Doha, maka kali ini saya juga berani untuk umroh sendirian. Paspor saya sudah ada additional name Bapak dan Kakek, jadi saya tidak perlu urus nama di paspor lagi. Untuk vaksin, sebulan sebelum berangkat saya sudah suntik vaksin meningitis dan polio. Pesawatnya menggunakan pesawat Lion yang akan berangkat langsung ke Jeddah dari Palembang tanpa transit lagi di Jakarta. Untuk urusan uang, berdasarkan pengalaman umroh saya sebelumnya, di Arab Saudi mereka mau menerima uang rupiah, tapi saya tetap menukar sedikit sebagai pegangan, sisanya akan saya ambil lewat ATM sesampainya di sana saja. Komunikasi internet, saya tetap setia dengan roaming telkomsel dan sudah disetting akan aktif saat tiba di sana. Pakaian gamis saya masih bisa dipakai lagi beberapa diantaranya ditambah dengan beberapa yang baru supaya agak sedikit kelihatan berbeda. Dari travelnya sudah mendapat paket dua buah koper besar dan kecil, mukena, tas kecil, syal, buku doa, jilbab hitam dan kain batik untuk dijahit. Karena sudah pernah umroh maka ada banyak persiapan penting berdasarkan pengalaman sebelumnya. Jangan lupa membawa kantong/tas sendal karena kita tidak tahu pintu mana saat keluar dari masjid dan belum tentu sama dengan pintu masuknya. Sholat tidak perlu pakai mukena, karena bajunya sudah panjang, tapi tetap disiapkan penutup tangan yang biasanya sepaket dengan baju umroh yang dibeli. 

Untuk keperluan bolak balik Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, saya berencana akan membawa tas kecil saja sementara tas tangan yang lebih besar akan ditinggal di hotel. Isi tas kecilnya nanti susunannya adalah penutup tangan, sajadah tipis, tas lipat untuk sendal, dompet, handphone, tisu, power bank, dan botol kecil untuk air zamzam. Saat packing koper besar dipenuhkan dengan pakaian yang sudah disusun per hari, sementara koper kecil agak kosong karena nanti akan diisi oleh-oleh 😁. Baju umroh saya bawa dua berwarna hitam dan putih, karena nanti akan ada 2 kali umroh. Umroh kali ini saya juga ingin Badal Ibu saya, karena dulu saat umroh pertama untuk Bapak. Beberapa waktu yang lalu kakak tertua saya sudah mengumrohkan Bapak, jadi kali ini saya untuk Ibu. 

Sebelum berangkat ada satu kali manasik di Hari Sabtu. Seperti biasa dijelaskan tata cara umroh dan keperluan-keperluan lainnya. Keberangkatan kali ini ternyata pesertanya juga ada Abah kyai pemilik travel dan istrinya, katanya nanti anaknya yang juga Ustad, akan bergabung sesampainya di sana, karena sedang berada di salah satu negara arab juga. Peserta yang lain sisanya kebanyakan orang tua. Luar biasa ya vibes nya, mungkin ada korelasinya karena dilaksanakan saat bulan puasa, jadi yang pergi lebih serius ingin beribadah. Bukan berarti yang muda tidak serius, tapi yang saya rasakan kali ini memang berbeda dibanding dengan saat umroh pertama kali dulu. Dari data yang bisa dilihat, peserta yang lebih muda dari saya hanya 3 orang, sisanya umurnya di atas saya. Jarang-jarang saya berkumpul dengan orang-orang yang lebih senior, biasanya saya yang senior πŸ˜€. Saat manasik juga saya berkenalan dengan Meta yang umurnya salah satunya dibawah saya, dia pergi bersama orang tuanya. Nah ini, sepertinya saya sudah menemukan teman yang bisa diajak jalan kalau saya ingin melipir atau mencari Al Baik misalnya... πŸ˜…. Untuk tour leader nanti ada 1 ustad yang ikut di rombongan kami dan seperti biasa langsung ada grup wa yang dibuat untuk memudahkan komunikasi. 

Minggu kedua Puasa 2026 di akhir Februari, kami berangkat. Dari Palembang ada beberapa tour travel yang akan sepesawat dengan rombongan kami. Sejak bandara Palembang kembali menjadi bandara Internasional, baru kali ini saya kembali naik pesawat ke luar Indonesia lewat Palembang. Saat ke Kuala Lumpur tahun lalu dan ke Turki bulan lalu, saya selalu lewat Jakarta. Sesampainya di bandara, sudah penuh dengan warna-warni baju batik para jamaah umroh. Setelah menyerahkan koper, kami mendapat lanyard umroh yang tidak boleh hilang, karena berisi data diri dan hotel tempat tinggal selama di Madinah dan Mekah. Hal ini juga sudah saya informasikan ke satu nenek yang berangkat sendirian dan dititipkan anaknya ke kami, bahwa kalung itu harus selalu dipakai. Saya ingat punya pengalaman bertemu kakek-kakek di Madinah yang tersesat terpisah dari rombongannya, ditolong Bapak Malaysia dan minta saya untuk menghubungi tour leader kakek tersebut. Selanjutnya kami juga diberi penanda koper lengkap dengan foto masing-masing, agar koper mudah dicari.

Sebelum berangkat, kami mendapat briefing dan juga berdoa bersama. Setelah urusan check in selesai, kami menuju ruang tunggu dan melewati imigrasi. Pesawat akan berangkat jam 1 siang, dan saya sudah tahu bahwa puasa hari ini akan dijalani lebih lama. Jadi jika biasanya puasanya selama 14 jam, maka hari ini akan bertambah 4 jam menjadi 18 jam. Perjalanan akan ditempuh selama kurang lebih 9 jam, nanti akan tiba di Jeddah kira-kira jam 6 lewat, dimana jam Arab Saudi lebih lambat 4 jam dari waktu Indonesia barat. Kesimpulannya, selama di pesawat yang seharusnya dapat dua kali makan, jadi akan lewat semua kecuali untuk yang tidak puasa. Perkiraannya pesawat akan mendarat, tepat saat waktu magrib untuk berbuka puasa di Jeddah.

Pesawat Lion yang saya naiki kali ini agak berbeda lay out nya, tapi tentu saja lebih besar dari pesawat dengan rute domestik. Konfigurasi kursinya 3 4 3, namun tidak ada in flight entertainment seperti di pesawat-pesawat besar lainnya. Jadi sebaiknya memang waktu dimanfaatkan untuk istirahat atau ibadah saja. Benar-benar pengalamana baru, tidak bisa makan dan tidak ada yang bisa ditonton selama 9 jam. Tapi ini tergantung niat kan, kalau memang berniat untuk umroh, saya rasa hal ini tidak masalah karena seharusnya sudah siap dari awal, dari fisik maupun mental. Makan pertama tetap ditawarkan kalau ada yang tidak puasa, tapi pramugari meminta maaf terlebih dahulu kepada yang berpuasa. Pramugari Lion Air seragamnya juga berbeda, bajunya lebih panjang dan memakai jilbab merah. Saya berusaha untuk tidur, kadang berhasil tapi lebih banyak tidak  berhasilnya. Semua jendela sudah ditutup dan para pramugari membantu untuk merebahkan kursi bagi jemaah agar bisa tidur. Sayup-sayup terdengar ada yang mengaji selain ada juga yang mengobrol. Suatu waktu pesawat lengang karena kebanyakan tidur, tapi di saat lainnya rame karena sudah banyak yang bangun dan lalu lalang. Entah kenapa, untuk kali ini saya tidak ingin ke toilet, saya sempat mendengar pramugari memberi tahu agar penumpang tidak membasahi lantai toilet. Saya berusaha untuk menahan pipis dan syukurlah berhasil, karena memang tidak minum saat puasa. 

Lima jam setelah terbang, ada pembicaraan menarik di sekitar saya. Tour leader di rombongan lain menjelaskan, kalau dari waktu Indonesia saat ini sudah bisa berbuka puasa namun waktu kami sebenarnya belum masuk berbuka. Bagi yang sudah tidak tahan, boleh membatalkan puasa, namun di lain hari harus diganti. Beberapa jemaah jadi memutuskan untuk berbuka saja, namun saya dan banyak jemaah lain memutuskan untuk meneruskan puasa. Saya pikir, saya nanti akan malas kalau mau mengganti di lain hari, kepalang sudah puasa hari ini jadi ditahan saja sekitar 4 jam lagi. Beberapa saat menjelang mendarat, pramugari kembali membagikan makanan dan minuman. Kali ini untuk semuanya dan diberi kantong untuk menyimpan makanan untuk dimakan nanti, karena memang masih puasa. Isinya ada roti, kerupuk udang, nasi beserta lauk, botol air minum dan minuman dalam gelas kertas. Saya menyesal kenapa meminta minum juga orange juice dalam gelas kertas, karena semua yang lain bisa disimpan kecuali itu, sementara sesuai aturan keselamatan pesawat saat akan mendarat, semua meja harus dilipat. Jadi.... repotlah orang-orang seperti saya memegang gelas tersebut di tengah proses pendaratan pesawat. Coba deh, kalau diingatkan sebelumnya kan saya tidak akan minta minum tersebut, dan lebih heboh lagi, sebelum mendarat... pramugari melakukan semprotan di kabin pesawat, sehingga tambah repotlah saya menutup gelas tersebut dengan tangan πŸ˜“. Duh, seharusnya ada aturan yang disesuaikan untuk pembagian makanan dan minuman saat puasa dengan waktu mendarat pas menjelang waktu berbuka seperti ini. Saya sempat melihat ada Bapak-bapak memasukkan minumannya ke kantong plastik yang membuat saya iri karena tidak punya kantong plastik juga πŸ˜…. Menjelang waktu mendarat, pilot memberitahu bahwa sudah waktunya berbuka dan disambut sorakan dari semua penumpang pesawat. Akhirnya saya minum dengan lega dan terbebas dari gelas kertas yang merepotkan itu πŸ˜”. Tak lama, pesawat Alhamdulillah mendarat dengan selamat, selamat datang di Arab Saudi kembali....

Makanan di pesawat menjelang berbuka puasa.


Selesai mendarat, belum sempat makan apapun. Dengan bis, langsung masuk terminal dan imigrasi serta ambil koper. Bandaranya kali ini berbeda dengan umroh pertama saya dulu. Jika pesawat Saudia mendarat di Bandara King Abul Aziz yang selayaknya bandara-bandara besar lainnya, maka bandara yang kami lewati ini seperti versi lebih sederhananya. Mungkin khusus jemaah haji, karena ada tempat berkelompok-kelompok untuk bersiap ganti pakaian, makan dan sholat berjemaah. Saya melihat jadwal kedatangan pesawat, setelah kami yang dari Indonesia ada yang dari Medan dan Surabaya dengan Lion. Beberapa kota lain dengan maskapai negara lain ada juga, tapi kota-kotanya banyak yang tidak saya kenal. Sepertinya Lion dan maskapai-maskapai yang ke bandara ini melayani rute dari kota yang bukan merupakan ibukota negara, jadi tidak perlu transit dulu, seperti kami yang bisa langsung dari Palembang tanpa lewat Jakarta dulu. Kalau menggunakaan pesawat Saudia, tentu saja rute nya pasti lewat Jakarta atau kota-kota besar lainnya. 

Makanan dari pesawat belum sempat dimakan, kami mendapat nasi lagi dari tour travel. Saya jadi bingung mau makan yang mana. Diberi kesempatan makan dan sholat dulu, sebelum naik bis malam ini ke Madinah. Jika umroh pertama saya dulu dari Mekah, maka pengalaman kali ini berbeda dengan ke Madinah dulu. Seperti biasa saat sudah sampai di Arab Saudi, selain tour leader kami mendapat pendamping ustad muthawif yang biasanya memang tinggal di Arab Saudi. Ustad muthawif lah yang nantinya akan membimbing selama pelaksanaan umroh. Ustad muthawif saya dulu sangat lincah, sampai buka order untuk beli kurma dan Al Baik, semoga kali ini juga... saya berharap.

Mendarat di Jeddah


Dapat nasi lagi untuk berbuka puasa


Perjalanan ke Madinah lumayan lama, di bis ustad muthawif menjelaskan berbagai hal dan juga memimpin doa. Saya duduk bersama Meta, dan setengah mendengar penjelasan yang disampaikan saat perjalanan ke Madinah karena tertidur. Saya baru terbangun, saat bis sudah hampir sampai ke Madinah dan terkena macet. Benar sekali kata teman saya yang berpengalaman umroh balik balik, saat saya belum berangkat. Di Arab Saudi kalau bulan puasa, siang seperti malam dan malam seperti siang. Kalau siang kan puasa, jadi banyak yang di rumah saja. Menjelang malam, jalanan justru ramai sekali. Tapi memang kan kalau di area Masjid Nabawi dan terutama di Masjidil Haram selalu ramai 24 jam. Jika dulu hotel saya di Madinah di area pintu 328, kali ini di samping Masjid Nawabi di belakang Masjid Abu Bakar As Siddiq di arah pintu 310 dan 311 yang kalau jalan lurus saja bisa menuju Raudah. 

Hotelnya di Sama Al Masi, benar-benar strategis. Jalan kaki ke Masjid Nabawi sangat dekat, tempat makan banyak dan tempat belanja di kiri kanan juga banyak 😁. Tapi ini sudah tengah malam, kami harus masuk ke kamar masing-masing untuk beberes dan istirahat sebentar, sebelum turun lagi jam 3 untuk sahur dan lanjut Subuh ke Masjid. Tidak sempat kalau mau tidur dulu, hanya sempat bongkar koper dan bergantian mandi. Tidurnya nanti saja, siang setelah kembali dari masjid. Kami mendapat kamar di lantai 8 dan harus ambil sendiri koper yang ada di lantai 7. Meta ada di kamar lain, saya sekamar dengan 3 ibu-ibu lainnya yang lebih tua dari saya. Jadi ceritanya saya bungsu dan paling melek teknologi juga di kamar itu hehe... Kalau ada masalah dengan hp mereka, saya langsung jadi teknisi dadakan. Saya juga jadi pusat informasi, karena dari kami berempat, hanya saya yang sudah pernah umroh sebelumnya. Tapi resikonya sebagai yang termuda, saya mengalah dapat giliran mandi terakhir. Di kamar saya ada ibu Neti dan 2 ibu yang merupakan besan yang saya panggil Nek Ino dan Nyai yang merupakan istilah panggilan nenek kalau di Sumatera Selatan. Banyak cerita lucu dari hubungan 2 ibu besan ini, Nek Ino lebih tua dan Nyai yang lebih muda. Nek Ino ibu dari anak laki-laki sementara Nyai adalah Ibu dari anak perempuan, dan mereka sudah punya 1 cucu dari pernikahan anak-anak mereka. Nyai suaminya tidak ikut umroh, sementara suami dari Nek Ino dan Bu Neti ada di kamar lain. Saya benar-benar terharu dengan cerita mereka, karena yang memberangkatkan mereka adalah anak-anak mereka. Bu Neti cerita kalau anaknya sudah umroh duluan dan sekarang memberangkatkan orang tuanya. Cerita seru pertama dengan ibu-ibu ini adalah saat giliran pertama mandi, Nyai sekalian mencuci baju di wastafel dan membuat kamar mandi jadi banjir πŸ˜…. Saya dan Bu Neti cuma senyum, tapi Nek Ino ngomel cukup panjang. Tapi walau begitu, nanti saat Nek Ino tersesat mau naik ke kamar habis belanja, Nyai juga lah yang direpotkan. Hubungan mereka ini seru sekali... seperti hate love relationship antar besan. Saya juga mau saja, misal punya anak dan berbesan dengan teman saya sehingga jadi akrab walau bisa juga berantem antar ibu-ibu... 😁.

Koper di lantai 7


Tempat tidur saya


Selesai beres-beres jam 3 kami turun untuk sahur. Tempat makan hotel ini terbagi dua, ada area jemaah Indonesia dan ada area jemaah dari India. Kami sudah diinfo kalau untuk arena India tidak boleh diambil makanannya, dan hanya bisa ambil di arena khusus Indonesia. Masalahnya tempat minum untuk jemaah Indonesia ada di sebelah meja makan jemaah India, sehingga untuk jemaah yang baru datang tidak tahu dan jadinya salah ambil, sebelum dikasih tahu petugasnya yang juga orang Indonesia. Menu makannya tentu Indonesia sekali, dan saya yakin nanti salah satu menunya di Madinah atau Mekah pasti ada ikan patinnya... πŸ˜€. Selesai sahur, kami menuju Masjid Nabawi. Rasanya mau nangis tercicip kembali ke sini, suasana menjelang subuh sangat ramai. 

Kalau mau dapat tempat di dalam, harus datang lebih cepat. Saya membawa botol minum kecil untuk mengambil air zamzam. Air zamzam di Masjid Nabawi ada di area dalam, kalau di area luar itu bukan air zamzam. Alhamdulillah kami mendapat tempat di dalam masjid, masih sempat minum karena belum waktunya azan. Azan menjelang Subuh ada 2 kali, jadi jangan sampai salah. Azan kedua baru kemudian pelaksanaan solat Shubuh dimulai. Di sebelah saya orang Indonesia dan sempat bercerita-cerita sedikit. Kemudian surprise dalam pesan dari Nabila saat dia melihat story saya. Nabila adalah yang menemani perjalanan saya saat di Istanbul bulan lalu, kebetulan saat ini dia juga ada di sini. Walau waktunya tidak pas, tapi kami sudah janjian untuk tetap saling kontak dan bertemu kalau sempat nanti.

Lanjut Part 2

Tahun baru tanggal 1 Januari 2026 saya ada di udara menuju Doha. Pesawat dari Istanbul berdurasi 5 jam dan sampai di Doha tengah malam, sama seperti saat baru sampai di Dubai dan Istanbul, saya juga akan tidur di bandara malam ini. Paspor Indonesia bebas visa untuk masuk Qatar, saya memang sengaja mencari penerbangan lanjutan yang lama sebelum ke Jakarta agar bisa expore Doha dulu. Saat ini kondisi saya sudah lebih baik, walau asam lambung saya masih mengganggu yang membuat saya susah makan di pesawat, paling tidak saya tidak mual lagi. Tapi muncul penyakit baru, saya batuk dan pilek sehingga suara saya jadi ikut serak akibatnya. Jadi sesampainya di Bandara Doha, jika di bandara Istanbul saya membeli obat mual, maka di bandara Doha saya jadi beli obat batuk yang merek nya Ivilyx. Jangan tanya harganya, karena sudah pasti mahal, luar biasa ya dalam 2 hari terpaksa beli obat di jalan. Tapi it's okay lah... yang penting sehat... ya kan.... 


Berbeda dengan di Bandara Dubai dan Istanbul yang saya terpaksa tidur di area landside, kali ini saya bisa tidur di area airside. Koper berat sudah diatur sampai Jakarta, jadi saya tidak perlu keluar imigrasi. Enaknya tidur di area airside, lebih banyak pilihan spot untuk tidur. Banyak terdapat reclining chair dan mushola. Saya memilih tidur di mushola agar lebih privat dan ternyata banyak orang yang memiliki pemikiran sama dengan saya, walau saat memasuki waktu subuh yang tidur diusir sama petugasnya. Sama seperti sebelumnya, demi keamanan, tas yang berisi dompet dan hp saya jadikan bantal untuk tidur. AC di mushola juga masih manusiawi tidak seperti AC di mushola Kuala Lumpur, jadi saya tidak perlu repot untuk mencari selimut. Untuk perjalanan kali ini di 3 negara, saya juga bersyukur karena semuanya negara mayoritas muslim. Makanan halal banyak dan yang paling membahagiakan selalu ada semprotan di toiletnya.

Sudah melihat Boneka Teddy ini, artinya anda sudah ada di Doha

Makan di pesawat

Bangun subuh, seperti di Dubai dan Istanbul saya tidak bisa mandi. Hanya gosok gisi, cuci muka, ganti baju dan dandan setelah solat subuh. Kalau ketemu tempat untuk mandi, tentu saja saya akan mandi. Tapi karena tidak ada, ya jadi mohon maaf... cuma bisa mengandalkan parfum jadinya... hahaha.... Jika saat di Dubai, saya sendirian menuju Burj Khlaifa, maka di Doha saya ikut tur dari Qatar Airways nama programnya adalah Discover Qatar. Syaratnya memiliki waktu transit lebih dari 6 jam, dan kita akan dibawa keliling Doha di area dekat bandara, selama 3 jam. Saya memilih waktu dari jam 8 sampai jam 11, kalau lebih dari 3 jam ada yang sampai desert safari. Untuk ikut program ini, harus berkumpul 1,5 jam sebelum waktunya, jadi saya jam 06.30 sudah harus siap sehingga tidak sempat sarapan. Kenapa berkumpulnya 1,5 sebelumnya, karena harus melewati imigrasi dan lain-lain. 

Lokasi berkumpul di Discover Qatar Tour Desk, di Duty Free Plaza South, di bawah eskalator di antara concourse A dan B. Atau cara mudahnya cari saja Boneka Teddy yang sangat terkenal di Bandara Doha, boneka yang sangat sering saya lihat di vlog orang-orang. Jalan lurus terus sampai ketemu 2 eskalator, sebelah kiri penukaran uang dan sebelah kanannya Discover Qatar Tour Desk. Eskalator ini juga merupakan eskalator turun jika masuk setelah melewati imigrasi. Peserta tur yang berkumpul cukup banyak, ada bule, ada yang dari Asia entah darimana dan beberapa rombongan keluarga Indonesia yang sepertinya habis umroh. Kan lumayan ya, transit lama di Doha sekalian bisa jalan-jalan. 

Setelah didata, kami mendapatkan seorang pemandu yang kemudian mengajak kami ke lantai atas untuk masuk imigrasi sebelum masuk ke Doha. Dia sudah menjelaskan ada 2 step yaitu imigrasi kemudian ke titik kumpul yang sekarang saya lupa namanya, intinya semacam tour desk juga tapi posisinya di luar. Karena ramai dan lift nya terbatas, rombongan kami sempat terpisah. Sedapat mungkin saya mencari dan mengenali muka-muka sesama peserta tur agar tidak ketinggalan, tapi saat di imigrasi akhirnya terpisah juga. Antrian di imigrasi seperti biasa selalu ramai, di paspor saya sudah diselipkan kertas yang sebelumnya diberikan di tour desk Discover Qatar. Saya yakin tidak akan disulitkan, karena mereka pasti sudah biasa melayani turis transit yang masuk ke Doha sebentar dalam Program Discover Qatar. Yang bikin bete selain lama antri adalah saya sempat pindah ke petugas imigrasi lainnya, karena petugas di depan saya entah kenapa langsung mengarahkan ke petugas lain. Jadi ketika saya selesai dari imigrasi saya tidak menemukan satu muka pun dari peserta tur yang sama dengan saya. Inisiatif, nanya ke petugas sambil menyebutkan tour desk Discover Qatar yang sudah diinformasikan pemandu sebelumnya. Ternyata tidak sulit, tinggal keluar dan sampailah saya untuk lapor kalau saya sudah selesai dari imigrasi. Kami diminta menunggu sampai jam 8 kurang 15 sebelum masuk ke bis. Saya duduk tak jauh dari peserta tur yang lain sambil ngemil makanan yang ada di tas saya.

Setelah waktunya tiba, saya dan semua peserta menuju bis. Tas pakaian ganti ditaruh di bagasi bis dan kami mendapat pemandu lain yang bernama Francesca dari Italia. Kami juga diberikan air minum dingin untuk selama perjalanan. Perjalanan dimulai, Francesca menjelaskan tempat-tempat yang kami lewati termasuk beberapa tempat yang pernah dipakai pada piala dunia 2022. Ada area pantai dengan gedung-gedung tinggi masih terdapat logo world cup di tengah-tengahnya. Juga melewati stadion 974 yang merupakan stadion piala dunia yang terbuat dari kontainer. Qatar ini memang sunggu negara kaya, gedung-gedungnya kebanyakan berseni. Jarang gedung yang dibuat cuma lurus saja. Pasti ada "sesuatu" nya, kalau bisa dibuat meliuk kenapa tidak, uangnya ada kan... πŸ˜‚ Di jalan juga saya melihat semacam acara apel pagi prajurit, tapi dilakukan di atas onta, sayang tidak bisa berhenti untuk foto-foto.

Kami akan berhenti di 3 tempat, yang pertama adalah Dhow Harbour. Ini adalah area di pinggir laut yang bisa melihat kapal-kapal di sana. Waktu yang diberikan tidak lama dan tripod dengan remote bluetooth saya memang benar-benar menjadi barang-barang yang berguna. Saya tidak perlu merepotkan orang lain untuk mengambil foto. Setting nya sesuai dengan yang saya mau, jadi tidak ada acara bete karena hasil foto yang diambil tidak sesuai keinginan. 

Di Dhow Harbour

Gedung-gedung di Doha 1...

Gedung-gedung di Doha 2...


Perhentian kedua adalah Kaltara Cultural Village. Ini semacam kawasan budaya dan seni yang diantaranya ada masjid, pigeon tower yang menaranya berbentuk seperti telur dan Katara Amphitheatre yang sepertinya stadion mini dengan warna dominan putih. Kalau mau menyimak pemandu menjelaskan objek-objek yang didatangi saya tidak punya cukup waktu untuk mengambil foto dan video. Setting kamera dan juga menunggu orang-orang sepi. Jadi saya lebih banyak memisahkan diri tapi tetap mengawasi di posisi Francesca supaya tidak ketinggalan. 

Di Kaltara Cultural Village


Katara Amphitheatre

Tempat terakhir yang kami datangi adalah Souq Waqif yang merupakan pasar tradisional. Tujuan saya cuma 2 yaitu berfoto dengan jempol besar dan mencari oleh-oleh gantungan kunci, magnet kulkas dan bel dinner untuk saya sendiri. Awalnya saya sempat kecewa karena pasar itu murni benar-benar pasar. maksud saya barang-barang yang dijual adalah kebutuhan orang lokal. Banyak bubuk-bubuk entah apa yang tidak saya ketahui fungsinya. Kami juga diajak mengunjungi toko tempat burung falcon. Ketika ada waktu saya bertanya ke Francesca dimana patung thumb yang saya cari dan dia menjelaskan dari tempat bis kami berhenti yang merupakan titik kumpul dekat gedung spiral, nanti jalan ke kiri. Syukurlah di sisa waktu, kami diberikan waktu bebas sebelum berkumpul lagi untuk pulang. Saya bergegas menuju tempat yang dimaksud Francesca, dan Alhamdulillah selain saya bisa berfoto dengan si jempol, saya juga menemukan banyak toko yang menjual souvenir turis. Ternyata di sana ada yang menjual gantungan kunci dan lain-lain karena memang merupakan sisi pasar tapi untuk turis dan lebih ramai. Banyak tempat makan yang juga berada di sana, tapi karena tidak ada waktu, saya bergegas kembali ke bis setelah semua yang saya cari ketemu.

Gedung spiral di depan Souq Waqif

Di Souq Waqif sebelah toko Burung Falcon


Patung jempol di Souq Waqif


Jam 11 kami kembali ke bandara dan berpamitan kepada Francesca. Air minum dari bis terpaksa ditinggal karena masuk bandara tidak boleh bawa air. Coklat Dubai saya yang dibeli di Dubai dan Istanbul hampir disita, tapi saya memohon jangan diambil karena itu untuk oleh-oleh. Kan sedikit juga ya, tidak akan djual. Setelah masuk lagi lewat imigrasi, saya langsung mencari makan. Ada foodcourt di dekat area Tour Desk Discover Qatar yang sudah saya lihat sebelumnya. Saya benar-benar lagi pengen nasi briyani dan syukurlah ada di sana. Ada macam-macam pilihan dan saya memilih lauk ayam. Saya minta kemasan take away, tapi sebagian saya makan di sana dan sebagian lagi saya makan nanti karena porsinya ternyata banyak sekali. Harganya? tentu saja mahal saudara-saudara. Saya menghabiskan 68 Riyal Qatar untuk makan siang. Untuk minum saya mengisi ulang botol dengan air minum yang banyak terdapat di sana. Di sana juga ada toko oleh-oleh yang harganya nauzubillah mahalnhya sesuai standar bandara. Saya membeli coklat Dubai lagi dan kurma dengan pembayaran menggunakan kartu kredit, karena uang tunai sudah menipis. Saya jadinya membeli 3 versi coklat Dubai untuk dibandingkan rasanya nanti. Coklat yang saya beli kali ini ada yang rasa mangga dan rasa lainnya.

Nasi briyani yang enak


Masih punya banyak waktu karena pesawat ke Jakarta jadwalnya malam, saya berjalan-jalan di bandara setelah sholat jamak Zuhur dan Ashar. Seperti Changi yang punya Jewel, maka di Bandara Hamad ini ada The Orchard. Taman dengan air terjun yang bisa menjadi tempat untuk rileks sambil menunggu jadwal terbang. Ada air mancur juga walau tidak sebesar di Changi. Posisinya ada di concourse paling ujung. Saya berharap gate saya nanti juga di C agar tidak terlalu jauh kalau jalan. Memang ada kereta menuju ke sana, tapi karena saya juga membawa tas pakaian plus oleh-oleh yang cukup berat, saya menggunakan luggage troley, saya malas harus meninggalkan troley itu dan nanti harus cari lagi. Jadi saya jalan kaki menelusuri concourse C yang panjang itu dengan mendorong troley. Untung ada banyak travelator, jadi kaki saya bisa terbantu untuk menghemat tenaga.

The Orchard Bandara Hamad Doha


Departure Board yang memberi tahu gate saya, baru menginformasikannya beberapa saat sebelum waktu boarding. Karena sudah capek, saya duduk saja sambil ngecas hp. Iseng menghabiskan uang riyal beli jus jeruk dan ternyata amit-amit mahal sekali. Sehari saya di Doha ini setara dengan saya seminggu di rumah sepertinya πŸ˜…. Alhamdulillah ternyata gate ke Jakarta tetap di concourse C tepatnya di C1, jadi saya tidak perlu jalan jauh lagi. Sambil menunggu, saya memakan nasi briyani lagi. Karena enak jadinya beli lagi, sisa yang tadi siang sudah habis dimakan di mushola. Di ruang tunggu sudah banyak orang Indonesia, saking lelahnya saya tertidur dan untung terbangun saat waktunya boarding. Saya termasuk yang terakhir masuk ke pesawat karena kursi saya di zona yang posisinya di depan. Awalnya saya duduk di 21C, tapi ada ibu dan suaminya mengajak tukaran. Jadi saya geser ke jendela 21A dan mereka duduk di tengah dan aisle seat. Alhamdulillah ya, rezeki anak soleh. Walau malam, tapi lumayan melihat pemandangan lampu-lampu gedung di Doha.

Saya sangat suka warna merah marun yang dominan di pesawat Qatar Airways. Karena perjalanan memakan waktu 8 jam, disediakan 2 kali makan. Jika di Emirates dan Saudia selain makan berat maka yang kedua adalah roti atau snack, maka kalau di Qatar Airways yang pertama makan berat yang kedua juga disajikan lengkap tapi bukan nasi. Kalau siang nafsu makan saya sudah kembali, nah malam ini saya kembali tidak nafsu makan. Demi bertahan hidup, obat yang saya beli di Istanbul jadi dimakan sebutir lagi agar saya bisa makan sedikit.

Makan pertama


Isinya nasi


Makan kedua


Isinya kentang, sosis dan telur

Menjelang subuh, pesawat memasuki wilayah Indonesia. Syukurlah ilmu saat saya umroh tahun 2023 dipakai lagi. Saya solat subuh di kursi pesawat setelah tayamum. Jika melihat layar di depan kursi, terlihat jelas rute pesawat yang gelap di belakangnya mulai berganti terang di depannya. Bumi seolah terpisah menjadi dua, gelap dan terang. Ini dibuktikan benar, saat saya melihat ke luar jendela dimana matahari mulai menampakkan dirinya. 

Pesawat mendarat di Jakarta jam 7 pagi. Saya sudah janjian dengan Desi yang kebetulan baru pulang umroh karena pesawat kami ke Palembang sama dan jadwalnya siang. Setelah saya sampai di Indonesia, Alhamdulillah saya benar-benar sehat. Saya sudah berani beli kopi dan minuman lainnya. Perut saya ini agak aneh, saya pernah mencret gara-gara beli kopi. Makanya selama traveling saya takut beli minuman asing, kecuali latte yang saya beli di Istanbul bersama Nabila dan Hafiz. Nah sekarang saya tidak peduli, mau mencret ya sudahlah, paling pesawatnya diundur πŸ˜‚. Yang penting lagi pengen minum manis untuk melegakan diri sendiri. 

Demikianlah kisah nekat saya solo traveling ke Istanbul dengan transit Dubai dan Doha. Perjalanan ini akan menambah memori dalam ingatan saya. Mungkin lain kali saya lebih berani solo traveling ke negara-negara lainnya yang bukan muslim. Jiwa traveling saya terus ingin mengunjungi tempat-tempat yang baru, namun teman-teman saya tidak selalu cocok waktunya dan mau dijadikan teman traveling. Jadi saya harus mengumpulkan keberanian dan uangnya tentu saja, untuk perjalanan berikutnya.

Video youtube

Berbeda dengan postingan sebelumnya yang saya tulis perhari, postingan kali ini untuk beberapa hari selama sisa waktu saya di Istanbul sampai persiapan pulangnya lewat Doha. Kenapa begitu? karena selama 2 hari berikutnya saya tidak ke mana-mana dan sempat sakit juga πŸ˜”..., jadi hanya sedikit yang bisa diceritakan. Hari ketiga di Istanbul awalnya saya akan keluar entah kemana sendiri, tapi setelah hari semakin siang, semakin malas. Jadi akhirnya, saya keluar hanya untuk membeli makan siang dan belanja-belanja sedikit di area Taksim. Makan siang di Imkonezya dan memesan menu ayam bakar. Selama makan saya perhatikan tempat tissu yang agak berbeda di Turki. Jika di Indonesia dan tempat lain, kita menarik tissu dari atas, maka di sini menariknya dari samping.

Ayam Bakar di Imkonezya


Tempat tissu di Turki

Selesai makan, saya ke sisi lain Taksim yang 2 hari lalu saya lewati bersama Nabila dan Hafiz. Kembali nyari oleh-oleh tambahan. Saya sudah menemukan coklat Dubai lagi, kali ini versi Turki dan akan saya bandingkan rasanya dengan yang asli Dubai. Selain itu, ketemu dengan pashmina yang akan berikan ke diri sendiri sebagai reward... πŸ˜‚. Kemudian beli makan lagi di Burger King dekat Taksim Square. Nggak mau ribet bahasanya, saya memesan lewat mesinnya dan membayar dengan kartu kredit. Kemudian tinggal menunggu giliran dipanggil kalau pesanan sudah siap. Untuk diri sendiri saya juga selalu mencari bel dinner di setiap negara yang saya datangi. Sejauh ini hanya 2 negara yang tidak berhasil saya koleksi bel dinner nya. Yaitu Taiwan karena saya kurang dari 24 jam di sana sehingga tidak sempat ke mana-mana, dan yang kedua adalah Arab Saudi yang memang tidak ada oleh-oleh bel dinner. 

Setelah semua benda yang dicari dapat, saya pulang. Sebelumnya sempat membeli makanan kecil dan minum untuk di hotel. Sampai di hotel kamar sudah dibersihkan dan saya tidak keluar lagi sampai malam, karena untuk makan malam pun sudah ada, sementara sarapan bisa menyeduh mi gelas Indomie yang saya beli di toko depan hotel. Luar biasa ya, jauh-jauh ke Turki cuma buat tidur... 

Perolehan saya dari Dubai dan Istanbul


Mungkin kalau tidak solo traveling saya akan lebih banyak keluar, tapi karena saat ini saya sendirian saya lebih waspada. Selain itu saya juga agak ngeri dengan kisah scam taksi di sini. Sejauh ini baru ke Brunei yang saya pernah jalani secara solo juga, namun kali ini adalah perjalanan 3 negara dan sekaligus terjauh. Karena terlalu sering tidur, malamnya saya jadi sering terbangun. Area di sekitar hotel saya sampai tengah malam pun tetap ramai. Matahari terbit jam 9 an, jadi subuhnya sekitar jam 7. Lagi liburan pun saya diganggu kerjaan, menyimak suatu kegiatan lewat zoom yang kalau di Indonesia di jam wajar yaitu jam 10 pagi, tapi bagi saya belum subuh masih jam 6. Jadi menyimak materi sambil tidur karena masih mengantuk. 

Besoknya kembali saya tidak ada agenda, maunya keluar cari makan saja dan packing untuk pulang. Tapi ternyata hari itu saya demam. Sedih sekali rasanya, sudah sendirian jauh dari rumah, kena sakit. Saya punya sakit maag, sekaligus gerd. Yang saya rasakan saat itu gejalanya kurang lebih sama, walau lebih ringan. Saya bawa obat-obatan lengkap, sehingga demamnya cepat hilang, tapi obat dokter saya tidak punya, karena sebelum berangkat saya sempat kumat juga dan obatnya sudah habis. Jadi saat itu saya hanya mengandalkan obat seadanya saja. Mungkin ini juga akibat saya kena hujan, tidak terasa saya tertidur saat petugas kebersihan kamar memanggil.

Ibu petugas yang membersihkan kamar saya agak khawatir karena melihat saya lesu dan suara saya serak. Dia tidak bisa Bahasa Inggris, jadi saya bilang tidak usah membersihkan kamar, saya hanya minta dibuangkan sampah saja dan refil teh serta kopi. Dengan Bahasanya, dia menyuruh saya tidur saja dilengkapi isyarat setelah saya bilang, "Because of the Rain". Setelah si Ibu pergi, saya berusaha mandi walau masih pusing, karena harus beli makan siang. Di Imkonezya saya membeli makan siang yang dimakan di sana, sekaligus bungkus untuk makan malam. Kalau saya tidak makan, nanti maag saya tambah parah. Di Imkonezya tentu saja banyak orang Indonesia, yang punya orang Turki bisa Bahasa Indonesia, kabarnya istrinya juga orang Indonesia.

Makan siang lagi di Imkonezya


Besok paginya tanggal 31 Desember 2025 saya bersiap untuk check out sebelum jam 12, walau pesawat saya ke Doha berangkat malam. Dan pagi itu walau tidak demam lagi, saya muntah. Saya nangis karena hari itu harus naik pesawat dan takutnya kondisi saya tambah parah dan tidak bisa pulang. Berusaha sarapan dan makan obat seadanya, akhirnya saya chek out. Bawaan saya ada 3 yang terdiri dari koper besar yang rencananya akan masuk bagasi langsung ke Jakarta, tas pakaian untuk ganti di Doha dan tas tangan. 

Untuk ke bandara saya akan naik bis dari depan Point Hotel. Jalannya tidak jauh, namun bagi saya hari itu sangat berat menggeret koper dengan kondisi badan yang mual mau muntah. Jilbab terpaksa saya longgarkan sedikit hari itu. Untunglah bisnya langsung jalan setelah saya masuk. Saya tidak bisa lagi menikmati perjalanan sepanjang jalan menuju bandara. Rasanya lama sekali, dan saya berdoa agar saya sehat dan tidak muntah lagi dengan memakan permen untuk mengurangi rasa mual. Sesampainya di bandara tentu saja saya belum bisa check in. Bandara Istanbul ini sangat pet friendly mengingat maskapainya Turkish Airline juga membolehkan membawa peliharaan di pesawat. 

Bandara Istambul

Saya mencari tempat untuk duduk dan kalau bisa berbaring. Tapi sebelumnya saya ke mushola dulu untuk sholat jamak Zuhur dan Ashar. Duduk istirahat cukup lama sebelum akhirnya sholat. Saya juga memaksa diri untuk makan. Saya tidak ingat namanya fast foodnya, yang jelas tidak habis dimakan dan saya bungkus masuk tas. Untunglah di sana saya melihat toko obat dan dengan translate AI ke Bahasa Turki saya minta obat maag dan mual. Mereka memberi saya obat merek Onzyd dan setelah saya coba, sangat manjur. Walau saya masih agak susah makan, setidaknya rasa mualnya sudah hilang. 

Saat check in, saya memastikan bagasi besar saya bisa sampai Jakarta. Kali ini saya naik Qatar Airways untuk pulang ke Jakarta, dan akan transit lama di Doha. Di bandara Istanbul, bisa menggunakan mata uang euro, namun karena saya masih punya Lira, jadi membeli minuman manis pakai Lira. Sambil menunggu pesawat, jendela di samping saya menunjukkan pesawat yang turun dengan latar belakang sunset terakhir di Tahun 2025. Malam ini adalah malam tahun baru yang akan saya lewati di pesawat menuju Doha. Di depan saya ada satu keluarga Chinese dengan anaknya yang sedang makan kebab. Tapi mereka bicara menggunakan Bahasa Indonesia, maka mengobrol lah saya dengan mereka sambil menunggu waktu boarding. Alhamdulillah saat masuk pesawat kondisi saya sudah semakin baik, tidak lagi mual. Setidaknya saya berharap bisa bertahan satu hari lagi di Doha, sebelum nanti sampai di Jakarta. Kalaupun jika sakit lagi di Jakarta, paling tidak saya sudah berada di negara sendiri. 

Lanjut Part 5


Saya sebenarnya juga memperhatikan cuaca untuk perjalanan kali ini. Berdasarkan perkiraan cuaca, di Istanbul hujannya kemarin dan hari ini tidak hujan. Berhubung kemarin sudah hujan, maka saya pikir hari ini akan beruntung cuaca terang walau di musim dingin, karena akan ke tempat wisata utama yaitu Hagia Sophia dan Blue Mosque. Ternyata perkiraan cuacanya salah saudara-saudara, kemarin sudah hujan, hari ini juga hujan malah lebih lebat πŸ˜…. Saya pernah ke Korea tahun 2023 dan perkiraan cuacanya tanggal 30 Desember akan turun salju di Seoul dan ternyata benar, jadi kesimpulannya perkiraan cuacanya tidak selalu benar tentu saja.


Sama seperti kemarin, jam 11 saya kembali bertemu Hafiz dan Nabila di stasiun Metro Taksim. Mereka sempat kaget betapa pintarnya saya berhasil menemukan mereka di stasiun tempat mereka duduk. Mereka baru sadar bahwa ternyata saya sebenarnya expert kalau soal membaca peta dan traveling, hanya malas saja kali ini karena ada pemandu, he he... Sama seperti kemarin, saya hanya tinggal mengikuti ke mana mereka pergi. Menuju ke Hagia Sophia saya benar-benar tidak hapal naik apa, turun di mana dan keluar exit berapa. Pokoknya setelah naik Metro, lanjut naik Tram di arena Sultanahmet yang sangat ramai. Sebelumnya saya direkomendasikan untuk membeli oleh-oleh mumpung ketemu tokonya. Manisan warna-warni, ada isi kacang dan bertabur gula halus yang belakangan baru saya ketahui namanya adalah Turkish Delight. 

Tram menuju Hagia Sophia benar-benar ujian bagi kami, sudah ramai mau rebutan naik, makin ribet karena hujan dan menahan payung agar tidak diterbangkan angin. Tapi semuanya terbayar setelah melihat keindahan Hagia Sophia dan Blue Mosque yang berdekatan. Hafiz tidak sengaja ketemu dengan kenalannya, jadi saya dan Nabila duluan ke Blue Mosque. Dari sekian banyak kisah traveling saya, baru kali saya mendapat reward karena saya muslim. Masuk ke Blue Mosque tidak bisa sembarangan, tapi saya dan Nabila bisa masuk dengan mudahnya. Nabila banyak bertanya ke petugas supaya kami tidak salah masuk. Ada bule yang maksa masuk mendapat teguran keras dari petugasnya "What's your problem!!" katanya, karena memang saat itu sudah mau masuk Zuhur, sehingga pengunjung sudah dibatasi. 

Setelah kami berhasil masuk, sempat foto-foto dulu sebelum memang berniat mau ikut solat berjamaah sekalian di sana. Tapi ternyata tempat mengambil wudhunya di luar, jadi Nabila bertanya kembali ke petugas dan mendapat petunjuk akan ke arah mana untuk mengambil wudhu sekalian ke toilet. Dari pintu keluar, kami belok ke kiri. Tempat wudhu dan toilet di Blue Mosque sangat bersih dan nyaman. Setelah selesai, kami kembali masuk ke Masjid, walau sempat ditegur, untung Nabila berhasil meyakinkan petugas bahwa kami sebenarnya sudah masuk dan keluar karena mau wudhu.

Interior di dalam Blue Mosque benar-benar menakjubkan. Sesuai dengan yang saya bayangkan saat menontonya di vlog-vlog orang. Warnanya didominasi warna biru tentu saja, tapi sayang beberapa spot terlihat berbeda karena sedang ada perbaikan. Semakin mendekati waktu solat, pengunjung yang masih berada di dalam, terutama yang non muslim diarahkan untuk segera keluar. Kami sudah bersiap duduk ketika Hafiz menelpon. Untuk masuk ke Hagia Sophia seharusnya bayar dan harganya lumayan mahal. Namun ada caranya agar bisa masuk gratis untuk muslim, yaitu pada saat waktu solat. Itulah sebabnya Hafiz, meminta kami keluar dari Blue Mosque dan solat di Hagia Sophia saja. Okelah kalau begitu, kami bergegas keluat dan menuju Hagia Sophia yang untungnya dekat.

Namun kan bukan traveling saat high season namanya kalau semuanya mudah. Mau masuk ke Hagia Sophia untuk solat ini, kami harus masuk antrian yang tidak pendek. Jadi harus sabar, sambil berdoa semoga waktunya cukup sebelum waktu solat tiba. Alhamdulillah antriannya semakin maju, bule di belakang kami kena usir karena sudah jelas mereka bukan muslim. Saat masuk, harus melewati pintu metal detector dan mesin x-ray untuk barang bawaan. Tas saya dibongkar karena petugas penasaran dengan tongkat panjang saya yang sebenarnya adalah tripod stand yang dilipat. Setelah semua aman, terdengar azan dari Hagia Sophia dan Blue Mosque yang seperti bersahut-sahutan. 

Alhamdulillah saya tercicip juga solat berjamaah Zuhur di Hagia Sophia. Kemudian saya lanjutkan untuk jamak Ashar setelah solat Zuhur. Sama seperti Blue Mosque, Hagia Sophia juga sedang mengalami perbaikan, baik di dalam maupun di luar. Tapi walau begitu, masih tetap kelihatan ciri khasnya. Dan karena masih ada di Turki, tentu saja ketemu lagi dengan mahluk bulu lucu nan sombong selama di Hagia Sophia. Kucing-kucingnya terawat dan lari saat dipanggi, mungkin saya harus bawa sogokan dulu baru dia mau didekati... πŸ™€πŸ˜»

Interior Blue Mosque

Di luar Blue Mosque

Kucing di Hagia Sophia


Di luar Hagia Sophia


Setelah keluar, kami kembali kena hujan saat hendak mencari makan. Saya pernah berada di posisi musim dingin di Jepang dan Korea. Suatu saat suhu mencapai -19 derajat. Nafsu ngambil foto sudah tidak ada lagi karena tidak kuat menahan dingin, hidung sudah meler dan mimisan saking dinginnya. Tapi anehnya saya masih bisa bertahan di luar ruangan. Nah kali ini di Istanbul, suhu "hanya" 4 derajat tapi saya tidak kuat berlama-lama di luar ruangan, karena cuaca dingin bercampur air hujan itu ternyata lebih menyiksa daripada suhu minus tanpa hujan. Sarung tangan sudah basah, tidak bisa dipakai lagi, jadi semakin tersiksa saya dengan cuaca saat itu.

Untungnya tempat makan kami saat itu ada meja kosong di bagian dalam. Saya dan Nabila masuk ke dalam, sementara Hafiz makan dan mengobrol di luar dengan kenalannya yang terdiri dari beberapa orang. Mereka adalah mutawif dari NTB yang sedang ada urusan di Istanbul. Selanjutnya mereka akan bergabung dengan kami untuk naik ferry di selat Bosphorus. Untungnya di antara mereka ada yang jago foto, sehingga foto-foto kami selanjutnya jadi semakin keren. Untuk makan siang, saya makan bubur hangat dengan celupan roti dan kentang goreng. Mau cari nasi tidak ada, jadi makan yang ada saja. Kalau masih di Asia tentu mudah mencari nasi, karena ini sudah masuk Eropa orang-orangnya terbiasa makan roti. Nabila baik hati mentraktir Kunefe untuk dimakan bersama. Tapi saya jadi minta maaf kepada Nabila, karena tidak bisa makan banyak Kunefe tersebut karena manis sekali 😭. 

Kunefe di Istanbul


Untuk menuju ke sisi Asia Istanbul kami ke pelabuhan ferrynya yang sisi Eropa dan saya tidak ingat namanya Kabatas atau apa gitu. Untuk sisi Asia rasanya namanya Uskudar. Jangan sampai salah pelabuhannya, karena tujuannya banyak dan berbeda-beda. Sebelum naik ferry, saya sempat beli oleh-oleh gantungan kunci dan magnet kulkas. Oleh-oleh standar yang murah dan tidak memberatkan koper. Belinya dibantu Hafiz ngomong Bahasa Turkinya untuk nawar supaya bisa beli banyak. 

Di ferry, saya hanya sebentar naik ke atas untuk foto-foto karena pemandangannya yang bagus. Seterusnya saya memilih duduk di dalam, karena tentu saja di atas sangat dingin. Ferrynya kecil karena hanya mengangkut orang, tidak sekaligus dengan kendaraan. Perjalanan di Ferry tidak lama, maka sampailah kami di sisi Asia Istanbul. Trus ngapain selama di sana? jawabannya adalah tidak ada, hahaha... Karena hari sudah sore, jadi duduk-duduk dan foto-foto saja. Kabarnya harga di sisi Asia lebih murah, tapi saya tidak sempat explore lebih jauh. Saya sempat menumpang pipis di toilet di Masjid dekat sana sebelum kemudian naik ferry lagi untuk pulang. Perjalanan pulang kali ini agak berbeda, suasananya lebih keren karena banyak burung-burung beterbangan dengan latar belakang sunset yang mulai muncul.

Sisi Asia Istanbul


Sunset dari ferry ke sisi Eropa Istanbul


Ini hari terakhir saya bersama Hafiz dan Nabila setelah 2 hari bersama mereka. Selanjutnya saya berencana explore Istanbul sendiri, Nabila juga akan berangkat Umroh besok. Setelah sampai di stasiun Metro Taksim, kami berpamitan dan saya berterima kasih karena sudah ditemani selama 2 hari ini. Sebelum pulang ke hotel, saya membeli makan malam dulu, seperti biasa kebab dengan nasi yang merupakan makanan terenak yang bisa saya makan menurut saya selama di sana. 

Nasinya ngumpet di bawah ayam 


Lanjut Part 4

Video youtube



Pesawat Emirates dari Dubai menuju Istanbul lamanya 5 jam dan mendapat satu kali makan. Saya sangat suka interior pesawat yang ini, karena ada ornamen kayu seperti di mejanya yang sangat keren. Makannya juga enak sekali, pilihannya ikan dan ayam. Saya memilih ayam, dan karena kehabisan saya rela menunggu agar menunya dipanaskan kembali. Untuk foto polaroid, kali ini saya sudah tidak semangat lagi, karena sudah merasa lelah. Sampai di Istanbul tengah malam, saya menukar uang dolar dengan Lira. Sama seperti di Dubai saya akan menginap di bandara lagi. Dan sama seperti di Dubai, saya terpaksa menginap di area landside bukan airside karena harus keluar imigrasi dan ambil bagasi. Padahal jika dibandingkan, tentu saja menginap di area airside lebih enak karena lebih banyak area untuk tidur, banyak makanan dan lebih ramai. Tapi ya sudahlah saya jalani saja dengan percaya diri. Pilihan pertama untuk tidur adalah mushola, tapi ternyata mushola di area landside bandara Istanbul sangat sepi, kemudian kebetulan air wudhunya juga mati, jadi kalau mau wudhu harus ke toilet dulu. Ada satu toko yang menjual minuman di dekat sana, tapi sayangnya yang dijual bukan air putih, dari sekian banyak minuman, satupun tidak ada air putih, saya juga tidak mengerti toko apa itu. Akhirnya, saya menuju cafe dan membeli air mineral seharga 60 Lira.

Saya sudah sangat lelah dan mengantuk. Walau sudah tidur sedikit di pesawat, tapi saya butuh tidur yang benar setelah malam sebelumnya juga tidur di pesawat menuju Dubai dan lanjut tidur di Bandara Dubai. Sementara pemesanan hotel saya baru berlaku tengah hari nanti. Saya sempat terpikir jika akan check in sekarang saja, jika ada kamar kosong dan bayar untuk satu hari lagi, tapi mikir lagi karena saya takut naik taksi kena scam. Akhirnya setengah sadar saya mengikuti petunjuk hotel transit Yotel, walau kemungkinan pasti sudah penuh. Saking tidak pikir panjang, ternyata saya sudah keluar dari area bandara dan baru sadar kalau pakaian saya belum disesuaikan dengan musim dingin saat itu. Mau bongkar koper nyari coat sangat ribet jadi saya berniat masuk lagi dan kena cegat petugas. Saya tidak boleh masuk melalui pintu itu, karena itu pintu keluar. Tidak ada pengecualian walau saya yakin dia melihat, kalau saya baru saja keluar dan sekarang kedinginan untuk masuk lagi. Apa boleh buat, penderitaan saya dimulai, dengan menahan dingin saya mencari pintu lain untuk masuk. Begitu ketemu pintu masuk, semua proses masuk bandara harus diikuti, masuk security check dan lain-lain. Super repot dalam keadaan lelah ngangkat-ngangkat koper lagi.

Setelah berhasil masuk, saya duduk di bangku tunggu yang banyak terdapat di sana. Syukurlah kursinya walau ada pegangan, tapi dibuat dua-dua. Jadi saya bisa berbaring dengan tas sebagai bantal. Ini juga penting, tas berisi dompet, hp dan barang berharga saya jadikan bantal saat tidur agar aman. Sambil tidur ayam, saya sempat makan ayam Al Baik yang saya beli dari Dubai. Ada banyak orang yang juga tidur di sana juga, yang pasti sama seperti saya perhitungannya untuk menghemat hotel pasti. Sambil menunggu subuh, saya mendapat wa dari calon pemandu saya kalau dia mendadak tidak bisa memandu saya, karena ada urusan lain. Wow luar biasa,.... membatalkan kerjaan H-1 dan saya sudah di sana. Tapi kembali harus sabar, masih ada jalan lain. Saya akhirnya jadi mendapat pemandu langsung Hafiz dan Nabila, dan menurut saya ini malah lebih baik.



Makan di Emirates

Airport Istanbul

Setelah subuh, saya solat di mushola. Ada satu orang yang tidur di mushola ternyata dan kemudian ditegur oleh petugasnya. Setelah solat dan sedikit bersih-bersih saya masih menunggu hari benar-benar siang sebelum menuju Kota. Di musim dingin, matahari mulai muncul sekitar jam 9, saya masih menunggu sebentar lagi karena check in hotel pasti di atas jam 12. Akhirnya setelah dirasa cukup, saya menuju ke lantai -2 untuk naik bis Havaist menuju area Taksim. Saya sudah mengecek dari Google maps, tempat turun bis di depan Point Hotel yang jaraknya tidak terlalu jauh dan bisa jalan kaki ke hotel saya di Aston Hotel Taksim. Saya mengisi saldo dulu untuk Istanbul Card dan kemudian mendapat tanda 72 untuk koper yang disimpan di bagasi bis, ongkosnya 355 TRY. Perjalanan menuju ke kota sekitar satu jam. Pemandangannya tentu saja sangat berbeda dan ini adalah pengalaman pertama bagi saya. Masjid-masjid di Istanbul memiliki 4 tiang tinggi di setiap sudut yang sangat khas. Sesampainya di hotel, sesuai dugaan saya belum bisa check in. Setelah menitip koper saya jalan-jalan sedikit di area Taksim. Di sana ada satu tempat makan yang menunya menu Indonesia nama restorannya Imkonezya. Tapi untuk kali ini saya ingin makan kebab, namun saya belinya yang versi nasi. Menu inilah yang sering saya beli saat di Jepang dan Korea karena keterbatasan makanan halal dan sekarang saya beli di tempat asalnya. Penjual di restoran kebabnya mirip dengan salah satu pemain bola timnas Indonesia naturalisasi, dia memanggil saya mama dan saya panggil dia brother... 😁 karena saya menolak tua sepertinya.... Menu yang saya pesan luar biasa banyak isinya. Ada nasi, ayam, kentang, bawang bombay, tomat, acar timun dan dapat roti prata lagi, harganya 430 ditambah minum. Di depan hotel ada toko kecil dan saya membeli cemilan. Di hotel tidak ada sarapan karena memang hotel kecil, saya membeli pop mi Indomie, roti dan tentu saja air mineral. Sekilas di hotel saya melihat ada dapur dan tempat makan, tapi saya malas untuk turun ke bawah jadi akan memanfaatkan pemasak air di kamar saja. Saya merasa senang karena perjalanan kali ini benar-benar gak pake ribet nyari makanan halal dan bebas makan apa saja. Tapi sebenarnya saya agak kurang cocok ternyata dengan jajanan di Turki karena kebanyakan rasanya sangat manis, sementara saya adalah tim asin...πŸ˜… Setelah beberapa jam menunggu, saya akhirnya bisa masuk ke kamar. Kamarnya lumayan luas dan memiliki jendela, kemudian lengkap juga ada teh, kopi, di kamar mandi ada sabun dan sampo. 

Tanda penitipan koper di bagasi bis

Kamar saya di Aston Hotel Taksim

Nasi kebab di Taksim

Setelah beres-beres sedikit dan mandi serta solat akhirnya saya bisa istirahat. Tidur sesukanya karena hari ini belum ada agenda jalannya. Saya tidur puas untuk membayar 2 malam saya yang tidurnya berantakan di pesawat dan bandara. Saking malasnya saya, makan malam saya tetap di kamar karena sudah beli dari siangnya. Sayang tv nya tidak bisa dihidupkan, jadi hiburan saya hanya dari hp dan untungnya sempat download drama korea Netflix sebelum sampai di Turki. Hotelnya oke, namun suara dari luar cukup terdengar. Di kamar sebelah, orang-orang bicara biasa seperti mau ngajak berantem, jadi saya harus terbiasa dan berusaha tidur saja. 

Besoknya, jam 11 saya akan bertemu Hafiz dan Nabila di Stasiun Metro Taksim. Jaraknya sangat dekat dari hotel. Di tengah perjalanan saya melewati Taksim Square yang merupakan salah satu tempat wisata di Taksim. Tidak bisa lama-lama, karena selain dingin saya juga sudah telat. Bukti bahwa sudah ada di Turki adalah saat saya tiba di Stasiun Metro Taksim. Ada beberapa kucing di sana yang lucu-lucu dengan bulu yang tebal. Inilah yang paling saya suka dan kagumi dengan orang-orang di Turki. Mereka sangat menyayangi kucing dan memfasilitasi kucing-kucing jalanan dengan memberikan tempat dan makanan. Di sana juga saya melihat tempat makan kucing yang berisi makanan dan minuman. Satu lagi yang bikin kagum, tempat stasiunnya bersih dan tidak ada kotoran kucing. Ternyata Nabila dan Hafiz terlambat datangnya, karena ada acara di salah satu stasiun sehingga mereka harus menunggu. Saya tidak keberatan karena bisa bermain dengan beberapa kucing di sana yang lumayan sombong... πŸ˜ΎπŸ˜… Bulu mereka tebal-tebal dan ada tanda eartip yang menandakan bahwa mereka sudah steril. 

Tempat makanan kucing di Stasiun Metro Taksim


Kucing sombong di Stasiun Metro Taksim

Setelah bertemu dengan Nabila dan Hafiz, kami keluar dari Stasiun Metro taksim karena jadwal hari itu tidak naik Metro dulu. Mereka membawa saya ke sisi lain di area Taksim. Suatu jalan yang sangat ramai dan ada jalur tram merah. Kayaknya ini Myeongdong versi Turki, tapi street food nya tidak berada di tengah. Menurut saya street food di Istanbul hanya beberapa jenis saja. Kalau tidak Roti Simit, atau jual jagung bakar dan kacang chesnut. Jalannya lumaya jauh, tapi tidak terasa karena sibuk ngobrol dengan mereka. Sambil jalan, saya dijelaskan mengenai apa saja yang kami lewati dan beberapa tradisi di Turki. Karena saat ini saya pakai pemandu, jangan tanya saya jalan dan bagaimana cara ke suatu tempat karena saya tidak riset dan mencari tahu kali ini. Beda dengan perjalanan traveling saya yang lain, yang saya selalu menjadi guide. Kali ini saya hanya tinggal bawa diri dan menikmati liburan. 

Jalanan di Taksim

Perjalanan berikutnya adalah menuju ke Eyup Sultan. Menuju ke sana kami melewati Eminonu dan beberapa kali ganti moda transportasi yang saya tidak tahu sebutannya. Ada yang kereta dan bis dengan berbagai nama dan jenis. Eminonu merupakan tempat dimana kita bisa melihat laut yang membelah Turki menjadi 2 menjadi sisi Eropa dan Asia. Kata Hafiz, Selat Bosporus ini milik internasional bukan punya Turki, tapi harus tetap izin untuk melewatinya. 

Di Eminonu


Sesampainya di area Eyup Sultan, kami makan dulu sebelum naik cable car ke atas. Makannya kembali nasi kebab diantara guyuran air hujan yang membuat cuaca semakin dingin. Untuk mengejar supaya tidak kemalaman, kami antri untuk naik cable car. Lagi-lagi kami ketemu kucing-kucing lucu, sebagai cat lover saya ingin bermain-main dengan mereka, tapi antriannya semakin maju. Untuk naik cable car ini, tetap menggunakan Istanbul Card. Intinya untuk menuju ke semua tempat  menggunakan Istanbul Card untuk transportasinya. Cable car nya kecil, ada 2 unit dengan masing-masing unit berisi 8 orang. Di atas kita bisa melihat pemandangan Istanbul lebih jelas dengan Selat Bosporusnya. Selain itu juga da cafe yang kalau pada high season bisa harus war dulu saking ramenya. Kali ini kami beruntung, mendapat tempat untuk sekedar minum kopi dan berbincang-bincang menghilangkan capek.

Di Cafe atas Eyup Sultan


Latte yang saya pesan


Pemandangan dari cafe


Kami turun untuk sholat ke Masjid setelah turun, kembali menggunakan cable car. Masjidnya besar dan ramai. Dan lagi-lagi kami banyak ketemu kucing yang membuat saya sangat bahagia di sana. Saya sudah masuk ke masjid tapi kemudian keluar lagi, karena ternyata tempat wudhunya di luar dan cukup jauh. Jangan tanya suhu airnya karena tentu saja dingin sedingin air es. Selesai solat, hari sudah gelap dan mereka mengantar saya dulu ke Taksim sebelum pulang masing-masing dengan Metro. Pulangnya naik apa, lagi-lagi jangan tanya saya, karena saya tidak tahu rute, yang jelas terakhir naik bis dan muncul di under pass di bawah Taksim Square.

Di Masjid Eyup Sultan


Sebelum ke hotel saya mampir dulu untuk membeli makan malam di Imkonezya. Karena saya kurang cocok dengan makanan lain selain nasi kebab, jadi saya kembali ke selera asal dengan membeli makanan Indonesia. Saya memang membeli baklava, tapi hanya bisa menghabiskan 1 saja karena terlalu manis. Kemudian saya juga mampir ke toko di depan hotel untuk membeli jajanan dan minum.

Lanjut Part 3

Video youtube

Dari sekian banyak perjalanan saya, perjalanan inilah yang paling nekat sekaligus paling mahal. Kenapa seperti itu? jadi ceritanya, semua teman traveling saya tidak ada yang cocok keinginannya. Sementara saya tidak mau menyia-nyiakan waktu libur akhir tahun. Sudah setahun kerja, benar-benar butuh waktu untuk recharge energi untuk bisa melanjutkan hidup... πŸ˜… Jadi diputuskan saya akan solo traveling kali ini. Kalau solo traveling di Indonesia, saya sudah terlalu sering dikarenakan kerjaan juga, jadi sering kemana-mana. Kalau keluar Indonesia, saya pernah melakukan perjalanan secara solo saat tahun 2019 ke Brunei Darussalam. Kenapa saya berani, karena menurut saya negara Brunei Darussalam adalah negara yang aman kalau mau melakukan perjalanan solo untuk wanita berhijab. Nah kali ini juga saya berani, karena semua negara yang akan saya kunjungi adalah negara Islam. Solo traveling memang ada minusnya karena semua dilakukan sendiri, tapi tentu saja ada juga plusnya. Plusnya tentu saja adalah saya bebas menyusun rencana ke mana saja sesuai keinginan saya, tanpa perlu harus memikirkan keinginan orang juga.

Saya memilih negara yang belum pernah saya kunjungi dan saya nilai aman, kemudian terpilihlah Turki untuk saya kunjungi kali ini. Karena saya sendirian dan gak pake acara romantis-romantisan, maka untuk Cappadocia saya skip dan hanya akan konsentrasi ke Istanbul. Mungkin lain kali kalau ada rezeki dan nasib ke Turki lagi dan ada teman, mungkin saya akan punya kesempatan ke Cappadocia."Because it's not my dream, mas.." 😎 Dannn... karena saya pengen juga tidak satu negara, maka tentu saja memilih penerbangan transit yang harganya tidak jauh beda dengan yang direct. Sempat galau karena ada beberapa pilihan menarik untuk harga pp. Dua yang paling menarik adalah ke UEA yaitu Dubai dengan Emirates atau Abu Dhabi dengan Etihad, serta satu lagi Doha dengan Qatar Airways. Setelah mikir panjang, jadi pengen dua-duanya, yaitu ke UEA dan Qatar. So akhirnya diputuskan akan diambil Dubai dan Doha yang akhirnya malah jadi mahal karena tidak pp dengan maskapai yang sama. Tapi saya nekat, karena dua-duanya negara Islam dan maskapainya memang keduanya ingin saya tumpangi sejak lama. Permasalahannya mau yang mana duluan antara Dubai dan Doha sebelum ke Istanbul. Baru mau pesan tiket Emirates, saya sudah dapat pesan bahwa untuk yang masuk UEA harus punya nama lebih dari satu kata. Ini berarti kacau balaulah dunia persilatan, karena nama resmi saya hanya satu kata. 

Karena persoalan nama satu kata ini, saya lama tidak melanjutkan rencana saya untuk membeli tiket liburan. Tapi walau begitu, saya tetap browsing mencari info bagaimana cara masuk ke UEA. Jika untuk umroh sudah jelas bisa menggunakan nama additional name di paspor, maka untuk ke Dubai ini, semua serba simpang siur, karena ada yang mengatakan boleh, ada yang mengatakan tidak boleh. Kalau saya tetap membeli tiket transit ke Dubai, maka resikonya kalau saya tidak bisa masuk ke Dubai maka saya akan menghabiskan waktu di bandara, kan sayang sekali. Selain baca info dari berbagai sumber seperti web dan instagram, saya juga mencari vlog youtube yang cocok, tapi tetap tidak jelas. Nanya ke tour travel yang pernah mengurus visa saya saat ke Jepang dan Korea dulu, juga tidak memuaskan jawabannya. Saat nanya ke chat Emirates, operator hanya menginfokan bahwa saya harus memesan tiket dengan nama depan FNU (First Name Unknown) dan nama belakang nama saya sesuai halaman 1 di paspor. Trus bagaimana dengan visa, yang mewajibkan lebih dari satu kata, katanya harus dipastikan ke imigrasi. Saya juga mengirim email ke pihak berwenang Emirates ekvisaquery, katanya nama satu kata tidak bisa masuk Dubai tanpa ada penjelasan untuk yang punya nama satu kata. Sementara email ke Consular Office dapat jawaban bahwa untuk mengajukan izin masuk ke UEA, nama di paspor harus mengandung setidaknya dua kata, baik di halaman biodata maupun halaman pengesahan. Jawaban ini juga tidak memberikan solusi bagi saya. Dua bulan menjelang keberangkatan saya mendapatkan informasi dari maskapai flydubai yang memberikan tabel bagaimana cara memesan tiket untuk yang punya satu nama, dua nama dan seterusnya, walau saya tidak naik flydubai tapi inikan juga informasi berguna karena merupakan maskapai milik UEA. Walau Qatar tidak mewajibkan punya nama lebih dari satu kata, tapi saya juga mendapatkan info cara pesan tiket untuk satu nama menggunkan FNU nama atau nama LNU (Last Name Unknown). Setelah mengobrol dengan teman saya yang pernah mengurus visa transit masuk UEA tidak ada keterangan yang mengharuskan nama tiket harus sama dengan nama visa, akhirnya saya cukup yakin dengan strategi yang akan saya ambil, yaitu memesan tiket dengan nama FNU namasaya dan untuk visa, saya menggunakan namasaya namabapak namakakek, dimana additional nama bapak dan kakek memang sudah ada di paspor saya di halaman 4. Jika nanti tidak sesuai skenario, ya resiko terburuknya paling saya akan keliling-keliling bandara saja kan ya...😭 tiket sudah mahal sayang sekali tidak bisa melihat Burj Khalifa...

Maka belilah saya tiket yang mahal itu, tiket sekali jalan Emirates tanggal 24 Desember ke Dubai dulu lanjut Istanbul besoknya dan kembali dengan Qatar Airways ke Jakarta tanggal 31 Desember dari Istanbul, dilanjutkan ke Jakarta dari Doha tanggal 1 Januari 2026. Selama di Dubai dan Doha saya pilih waktu transit yang paling panjang, dan waktunya hampir sama. Sama-sama datang ke Dubai dan Doha tengah malam, lanjut ke penerbangan berikutnya malam berikutnya pada jam 7 dan 8 malam. Dengan pemilihan waktu ini, saya punya banyak waktu di siang hari untuk masuk ke Dubai dan Doha. Visa untuk masuk Dubai saya urus 2 minggu sebelum berangkat. Maskapai seperti Emirates dan Etihad sudah punya fasilitas khusus bisa langsung mengurus visa transit lewat website resmi mereka. Ada pilihan 48 dan 96 jam. Karena saya hanya kurang dari satu hari di Dubai, saya pilih yang 48 jam. Caranya cukup mudah, banyak vlog yang menginformasikan cara mengurus visa transit. Tinggal siapkan kode booking tiket, foto, dan scan paspor. Khusus paspor, saya juga siapkan scan halaman 4 yang berisi additional name. Untuk tempat tinggal selama di sana, diwajibkan diisi. Walau infonya bisa di skip, tapi saya tidak menemukan cara untuk mengabaikan isian tempat tinggal itu. Akhirnya saya pesan hostel yang murah untuk mengambil alamatnya dan tidak akan saya tinggali juga, karena saya tidak punya waktu dan akan menginap di bandara saja. Dan dengan diiringi dengan doa, Alhamdulillah beberapa hari kemudian visa transit saya untuk masuk Dubai akhirnya disetujui... Tapi walau visa sudah ditangan, saya tetap berdoa agar tidak ada masalah di imigrasi dan bisa masuk ke Dubai untuk melihat gedung tertinggi di dunia saat ini, yang pernah masuk di filmnya Tom Cruise Ghost Protocol.

Persiapan lainnya tentu saja banyak. Setelah tiket dan visa selanjutnya hotel. Saya memesan hotel untuk 5 malam di area yang strategis di Istanbul yaitu di daerah Taksim, di Dubai dan Doha tentu saja saya akan menginap di Bandara untuk menghemat uang, hal ini sudah biasa saya lakukan selama traveling. Selanjutnya mari kita bahas rencana perjalanan untuk setiap negara. Di Dubai, tujuannya cuma satu yaitu ke Burj Khalifa yang bisa dicapai dengan naik Metro melalui Dubai Mall. Sebenarnya Metro juga melewati Dubai Frame dan Museum of the Future, tapi saya mempertimbangkan apakah waktunya cukup. Tapi sebenarnya bukan itu alasannya. Sebenarnya saya lebih ke arah khawatir, karena untuk ke kedua tempat itu tidak bisa langsung dari stasiun Metro, harus jalan lagi atau naik taksi. Nah ini yang tidak bisa saya lakukan, karena perjalanan ini saya lakukan sendiri. Kalau ada teman mah oke saja. Maka saya berbesar hati dan ikhlas kalau hanya akan ke Burj Khalifa saja. Saya sudah bersyukur, untuk ke Burj Khalifa bisa langsung dari stasiun Metro walau kabarnya jalannya panjang lewat Dubai Mall, tapi semuanya indoor dan ber AC. 
 
Di Turki nanti, untuk transportasi di Istanbul saya nanti akan membeli Istanbul Card yang bisa dipakai untuk banyak moda trasnsportasi. Destinasi wajib hanya hanya 3 yaitu Hagia Sophia, Blue Mosque dan Naik Cruise Selat Bosphorus, sisanya kalau bisa adalah bonus buat saya. Karena di Istanbul cukup lama, saya mencari cara agar bisa mendapatkan setidaknya satu teman jalan selama di sana. Beruntung sekali, dari teman saya ada kenalan orang Indonesia di Istanbul. Setelah saya hubungi namanya Nabila, dia bisa menghubungkan dengan temannya Hafiz yang juga biasa mengantar orang Indonesia berwisata di sana. Singkat cerita Hafiz mencarikan pemandu yang bisa menemani saya berkunjung di tempat-tempat wisata selama dua hari di Istanbul. Yah lumayanlah ya, dua hari berikutnya akan saya cari cara untuk berwisata sendirian ke mana misalnya, atau hanya rebahan saja di kamar... haha... dari calon pemandu saya, saya dapat jadwal hari pertama akan menyusuri Taksim, Eminonu, lanjut ke EyupSultan dan naik cable car. hari kedua ke Sultanahmet untuk berkunjung ke Hagia Sophia, Blue Mosque dan Tur Bosporus. Semua tempat itu dicapai hanya menggunakan Istanbul Card. Masuk ke Hagia Sophia memang bayar, tapi kata Hafiz untuk muslim bisa gratis dengan masuk di waktu sholat. Intinya selama di Istanbul, saya tidak perlu browsing cari cara untuk tempat-tempat wisata naik apa, tujuan ke mana... karena sudah ada pemandu. Beda waktu saya ke Korea, Jepang dan negara lainnya, dimana saya malah menjadi tour guide teman saya, karena semua saya yang cari tahu. Cuma minusnya, saya jadi tidak tahu jalan, jadi jangan tanya saya dari Taksim naik apa ke Hagia Sophia, turun di stasiun apa dan exit nomor berapa? karena saya tidak tahu... hahaha... Transportasi di Istanbul macam-macam, selain Metro ada Tram, Funicular, Bus dan lainnya. Dan untuk ke tempat-tempat wisatanya menggunakan kombinasi moda-moda transportasi itu. Oh ya kabarnya banyak scam kalau naik taksi di Istanbul, so saya harus cari cara menuju hotel dari bandara tanpa naik taksi. Setelah browsing, saya menemukan rute bus ke taksim dari Istanbul Airport di lantai minus 2. Dari titik berhenti bus di Taksim menuju hotel saya tidak jauh, jadi saya rasa bisa kalau jalan kaki saja.

Selanjutnya untuk rencana di Doha saya memesan tur singkat Discover Qatar yang merupakan programnya Qatar Airways. Pilihannya ada yang 3 jam dan ada yang lebih dari 3 jam. Untuk yang lebih dari 3 jam sampai ada yang ke gurun pasirnya. Syaratnya harus transit minimal 6 jam di Doha. Saya mengambil jadwal jam 8 pagi sampai jam 11 siang. Rutenya akan melewati beberapa tempat dan tiga kali berhenti yaitu di Dhow Harbour, Katara Cultural Village dan Souq Waqif. Di Bandara Hamad sendiri, selain ada Teddy Bear juga ada The Orchard, taman yang mirip seperti Jewel di Changi minus air terjunnya.

Setelah rencana di 3 negara sudah dibuat selanjutnya persiapan lainnya. Saya senang dengan perjalanan kali ini, karena saya tidak perlu repot mencari tempat-tempat makanan halalnya karena semua sudah halal termasuk saat di pesawat. Untuk urusan toilet juga aman, karena semua ada semprotan airnya, hanya saja saya tetap membawa bidet portable, botol untuk buang air kecil selamat di pesawat. Urusan tukar uang, saya membawa dollar karena di Palembang tidak menemukan mata uang Dirham UEA, Riyal Qatar dan Lira Turki. Saya juga membawa rupiah untuk nanti tukar di bandara Soeta kalau ada mata uang yang bisa ditukar. Sisanya saya putuskan akan ambil di ATM Istanbul saja. Saya juga membeli tiket pp Palembang Jakarta, tanggal 24 Desember pagi dan pulang 1 Januari sore. Karena malas pindah terminal, saya membeli tiket Pelita Air yang sama-sama ada di terminal 3 dengan Emirates dan Qatar Airways. Selanjutnya urusan pakaian, di Desember di Istanbul adalah musim dingin, tentu saja koper saya akan berat membawa pakaian musim dingin. Sementara selama di Dubai dan Doha, karena di negara arab, saya ingin menggunakan pakaian syar’i seperti saat saya umroh. Jadi rencananya selain koper, saya akan membawa tas pakaian kecil kabin untuk pakaian ganti selama transit, sementara koper saya akan langsung ke Istanbul saat pergi dan langsung juga ke Jakarta saat pulangnya nanti. Semoga pengalaman sial saya saat di Taipei tidak terulang, saat kami harus membawa koper berat kami saat transit kalau mau masuk ke kotanya. Berikutnya benda yang maha penting yaitu tripod dan remote bluetooth untuk handphone. Ini penting karena saya akan sendirian di Dubai dan Doha, sementara saya juga ngevlog selain mau foto-foto tentu saja... πŸ˜‚ Walaupun saya cukup percaya diri, tapi saya tetap menyimpan nomor kedutaan besar Indonesia di Dubai, Istanbul dan Doha. Saya juga mencatat waktu-waktu sholat dan melihat ramalan cuaca dan ternyata di perkirakan tanggal 27 Desember akan hujan di Istanbul. Apakah ini gelaja OCD akut, saya rasa wajar kan ya, karena saya ingin semuanya rapi dan terencana... πŸ˜„ Saking terencananya, malah baju apa saja yang akan saya pakai sudah direncanakan. Kombinasi baju jangan sampai sama dengan yang sudah di post di Instagram maupun vlog...  Kemudian apakah saya juga punya jadwal per harinya nanti mau ngapain saja, oh tenang itu juga sudah saya buat...  Sepertinya saya sudah agak seperti Dokter Ahn di Hospital Playlist yang menyusun jadwal perjalanan sampai ke jadwal buang air kecil juga ada dan di mana... πŸ˜…

Karena kali ini menggunakan Emirates dan Qatar Airways, saya berharap bisa selanjutnya menggunakan keduanya maka saya mendaftar keanggotaan miles. Untuk klaim poin tiket dan Discover Qatar bisa langsung dari webnya setelah perjalanan, namun karena saya sempat salah membuat nama di web Emirates, terpaksa klaim poinnya harus lewat operatornya. Siapa tahu ya, kalau sering terbang dengan kedua maskapai ini, nanti bisa dapat potongan atau malah tiket gratis.


Tanggal 24 Desember pagi saya berangkat dari Palembang ke Jakarta dengan Pelita Air. Sampai di Soeta tinggal pindah posisi dari penerbangan domestik ke internasional. Terminal 3 itu ya kan sangat jauh dari pintu keluar pesawat menuju klaim bagasi, tapi saya beruntung saat itu saat saya lewat, mobil buggy bandara ada 1 tempat kosong dan mbak nya memanggil saya untuk ikut... Alhamdulillah, rezeki anak soleh, saya jadi tidak capek jalan mengingat perjalanan saya sebelumnya yang mau ke Surabaya rasanya mau nangis jalan kaki jauh mau mengejar pesawat selanjutnya dari Terminal 3 ke terminal 1C dengan waktu yang sempit. 

Setelah berada di terminal khusus internasional, saya masih punya banyak waktu. Nukar uang dapat dirham UEA yang mahal sekali dan saya hanya menukar 200 AED. Selesai menukar uang, masih sempat makan di Marugame sebelum masuk imigrasi. Paspor saya bukan elektronik, namun pengalaman saya ke Ho Chi Minh, Seoul dan Taipei beberapa tahun yang lalu, paspor saya selalu tidak bisa di scan, sehingga di imigrasi selalu lewat petugasnya. Paspor saya hanya bisa di scan saat masuk ke Indonesia saja. Sambil menunggu boarding, saya sudah sholat jamak Zuhur dan Ashar. Untuk Solat Magrib dan Isya nanti saja saat sudah sampai di Dubai. Perbedaan waktu antara Dubai dan WIB adalah 3 jam lebih lambat. Pesawat saya berangkat jam 17.45 dan akan sampai jam 23.00 waktu Dubai. Pesawat saya selanjutnya ke Istanbul besok akan berangkat jam 17.45 juga namun akan sampai di Istanbul jam 21.55. Jadi sudah jelas ya, kalau saya akan menginap di Bandara Dubai dan Istanbul sambil menunggu pagi. 

Sambil menunggu saya memperhatikan penumpang lain, kebanyakan orang Indonesia yang akan menuju Dubai. Ada juga rombongan umroh yang akan transit sebelum nanti lanjut ke Arab Saudi. Rombongan pramugari Emirates yang baru datang melewati gate kami, dan petugas berteriak memanggil mereka karena mereka salah gate. Saya ingat tahun 2010 saat di Bangkok, saat saya melihat rombongan pramugari berseragam Emirates dengan topi merah dan scarf putih. Saat itu saya membatin, kapan saya naik pesawat mereka, dan hari ini kesampaian... haha... maklum saja, selama ini saya cuma main di Asia saja, baru kali ini akan ke Negara 1/2 Eropa. Waktu saya umroh tahun 2022 lalu pun saya naiknya Saudia bukan Emirates. Next semoga saya akan ke Eropa dan Insya Allah akan sering bolak balik Eropa... aminnn

Kemudian tibalah saatnya naik ke pesawat, saya diarahkan ke pintu depan, walau ada pintu lain di belakang. Dan artinya apa saudara-saudara, saya akan melewati business class. Tuh kan nafsu manusia muncul lagi, saya jadi pengen dan berharap kapan-kapan bisa naik business class juga, siapa coba yang mau bayarin... πŸ˜“. Sudah lupakan kursi nyaman business class itu, saya menuju kursi saya yang sudah saya pilih duduk dekat jendela. Emirates menunya juga sudah bisa dilihat saat akan check in online, jadi nanti saat pramugari menanyakan pertanyaan khasnya "chicken or beef" saya sudah tahu akan pilih apa. Saya duduk bersama ibu dan anaknya. Suaminya bekerja di Dubai, dan mereka akan mengunjunginya. Dari pramugari yang lalu lalang, saya juga melihat satu pramugari yang merupakan orang Indonesia. Dia jugalah yang memberikan pengumuman dalam Bahasa Indonesia selain Bahasa Inggris. 

Saat pesawat baru berangkat, saya tahu dari vlog bahwa pramugari Emirates akan keliling menawarkan foto polaroid. Mereka mengutamakan orang-orang yang pergi sekeluarga dan membawa anak. Tapi saya cuek saja, bahwa saya juga mau dan diminta menunggu oleh pramugaranya. Menunggu yang dimaksud itu adalah entah kapan, akhirnya saya mencari pramugari mbak Indonesia tadi di area dekat toilet dan nanya masih bisakah minta foto polaroid. Kapan lagi kan ya naik Emirates, jadi saya tidak perduli karena ini adalah liburan saya. Yang memfoto saya adalah si pramugara yang minta saya menunggu tadi, jadi saya bilang kalau tadi saya lama menunggunya, akhirnya mungkin karena merasa bersalah saya dapat foto 2 kali. 1 kali sendirian dan 1 lagi sama dia dengan selfie ... πŸ˜‚ Jadi dapat foto sama pramugara Emirates. Fotonya dikasih sekalian dapat frame khas Emirates. Perjalanan melewati pulau Sumatera dari sisi sebelah kiri kalau saya lihat di peta, jadi kami melewati Bengkulu, Sumatera Barat dan seterusnya. Tontonan saya diantaranya adalah Fantastic Four, sebelum tidur ditawarkan makan, dan jawaban saya adalah beef kali ini. Kegiatan lain selain makan dan nonton tentu saja tidur, saya hanya ke toilet 1 kali selama di pesawat. Beberapa jam sebelum mendarat kami mendapatkan snack yang tidak habis saya makan dan saya simpan di tas untuk dimakan nanti.

Tontonan di pesawat


Makan malam di Emirates


Snack di Emirates


Sebelum mendarat, walau gelap karena sudah malam, saya sangat beruntung berhasil merekam Tulisan besar "Welcome to Dubai". Jadi kalau ingin melihat tulisan ini sebelum mendarat, duduklah di dekat jendela sebelah kanan. Tapi tidak tahu ya, kalau nanti pesawatnya mendarat dari arah yang berbeda. Saat mendarat, tetap berdoa semoga tidak masalah nanti saat imigrasi dengan nama saya yang hanya satu kata. Saya berencana akan tetap berada disisi airside daripada landside. Karena di airside banyak terdapat kursi-kursi rebah, reclining chair dan mushola untuk tidur. Namun saat saya nanya di bagian informasi mana arah keluar imigrasi untuk nanti keluar, seorang petugas menghampiri dan nanya saya mau ke mana dan melihat tiket saya. Dia nanya saya mau menginap di mana, karena saya bilang saya transit dan mau masuk Dubai dulu, dia mengarahkan ke lift menuju imigrasi. Maksud saya, saya belum mau ke imigrasi dulu. Mau cari tempat untuk tidur, besok pagi baru ke imigrasi. Tapi sepertinya kendala bahasa, saya jadi ke imigrasi lebih cepat. Dan semua terjadi begitu cepat saudara-saudara, saya tidak pakai antri langsung menuju petugas imigrasi dengan pakaian dan kain penutup kepala khas Arab mereka itu. Memberikan paspor dan visa, tanpa menanyakan apapun, paspor saya di cap dan saya resmi masuk Dubai. 😁

Alhamdulillah ya, ternyata sama sekali tidak ada drama dari kekhawatiran saya selama ini mengenai nama, semuanya berjalan lancar. Namun, masalah selanjutnya saya mau ke mana. Setelah ke toilet, tanpa mengambil bagasi saya yang akan langsung ke Istanbul, saya keluar. Tidak ada yang menyambut, tidak ada yang memegang kertas bertuliskan saya jalan saja terus keliling-keling melihat-lihat. Tuh kan, area landside ini sedikit tempat pilihan untuk tidurnya. Memang ada kursi-kursi, tapi tempatnya cukup ramai. Pilihan lainnya tidur di area cafe, tapi tetap tidak nyaman menurut saya. Akhirnya saya ke lantai 2 dan menemukan area kursi yang cukup sepi di depan lift dan eskalator menuju Metro. Sempat tertidur sebentar, tapi lebih banyak bangunnya. Saat tidur, demi keamanan tas berisi dompet, hp dan lain-lain saya jadikan sebagai bantal. Setelah bosan melihat orang lalu lalang, akhirnya saya menemukan mushola untuk sholat dan tidur sebentar sambil berharap petugasnya tidak cerewet. Di Mushola juga sekalian ngecas hp dan ketemu satu mbak-mbak dari Indonesia. Dia mau ketemu temannya di Dubai, dan entah kenapa saat itu, saya mengajak dia untuk sama-sama ke Burj Khalifa. Padahal saya sudah siap untuk jalan traveling sendirian, ternyata saya tetap ingin ada teman. Awalnya dia menjawab mau, tapi saat saya tertidur dan bangun dia sudah menghilang entah kemana. Rasanya pengen ketawa, apakah saya semenakutkan itu, mengajak orang asing untuk jalan bersama-sama. Oke, lanjut ke rencana awal, saya akan jalan sendirian selama di Dubai. Intinya adalah jangan merasa takut, dan bila ada yang tanya jawab saja bersama dan sedang menunggu teman, demi keamanan.

Mushola di area landside lebih sepi. Setelah solat subuh, tidak mandi hanya cuci muka, gosok gigi dan berganti pakaian. Setelah bersiap-siap dengan penampilan yang lebih segar, walau tidur hanya sedikit di pesawat dan bandara, saya menunggu pagi dan menuju lantai bawah untuk mencari sarapan. Tidak banyak pilihan yang saya temui, saya mencari-cari kalau ada ricebowl tapi tidak ketemu. Akhirnya memutuskan akan makan onigiri saja. Jauh-jauh ke Dubai, belinya makanan Jepang. Yang penting ada nasinya dan cukup untuk mengisi perut. Setelah makan, saya melewati area menuju hotel transit Emirates. Saya kemudian ingat petugas semalam yang bertanya saya menginap di mana. Jangan-jangan maksud dia menyuruh saya keluar imigrasi untuk ke hotel transit ini. Tapi setelah saya browsing lagi, sepertinya saya tidak memenuhi syarat untuk menginap di hotel transit, karena penerbangan saya yang lama ini bukanlah pilihan tercepat. Transit lama saya ini bukan terpaksa, saya pilih karena memang mau lama di Dubai, padahal banyak pilihan penerbangan lanjutan lainnya yang lebih cepat ke Istanbul. Jadi saya cukup berpuas diri sudah istirahat tidur ayam di pesawat, kursi dan Mushola bandara.

Menjelang munculnya matahari dan Metro sudah beroperasi, saya menuju stasiun Metro. Saya sangat bersemangat di hari pertama di Dubai, sekaligus hari terakhir di Dubai ini... hehe.. Rencananya saya ingin membeli kartu transport Dubai sekalian untuk koleksi. Tapi petugas mengarahkan saya untuk membeli tiket pp saja, karena saya hanya ke Dubai Mall. Nol Card itu seharga 8 AED rasanya harganya. Sambil menunggu Metro saya lega karena ada gerbong khusus wanita dan anak-anak. Saat masih dari arah bandara, kereta isinya sepi. Tapi begitu masuk ke kotanya, keretanya langsung penuh dengan warga lokal yang mulai melakukan aktifitasnya. Mungkin hanya saya turis yang kepagian ikut sempit-sempitan di Metro menuju Dubai Mall. Di dalam perjalanan saya melihat Dubai Frame di sebelah kiri, siapa tahu suatu saat saya akan ke sana.... aminnn

Kartu sekali jalan Metro Dubai

Sesampainya di stasiun Metro menuju Dubai Mall, siapkan kaki anda saudara-saudara, karena jalannya lumayan jauh. Memang sih, seluruh jalan ada atap dan ber AC, saya selalu memanfaatkan alat favorit saya selama jalan yaitu travelator. Lumayan untuk menghemat tenaga. Sampai di Dubai Mall, toko-toko belum pada buka karena memang ini masih sangat pagi. Saya menuju waterfront Dubai Mall yang merupakan area terbuka dengan pemandangan langsung di arah kanan melihat Burj Khalifa.

Burj Khalifa Dubai


Area waterfront yang pagi-pagi masih sepi


Ada untungnya juga saya datang sangat pagi, karena tidak harus bersaing dengan orang-orang untuk mengambil foto. Saya tidak perlu bersusah payah menggunakan menu filter Samsung untuk menghilangkan objek yang tidak diinginkan... hehe... Cukup lama saya berada di sana, karena mengambil foto dengan tripod dan remote bluetooth lumayan membutuhkan effort dalam mengambil foto dan video. Tapi karena sepi, saya jadi bebas mau bolak balik dan pose gaya apapun, tanpa perlu mikirin pendapat orang-orang. Ada orang-orang pun saya tidak peduli, karena ini liburan saya dan saya nggak kenal mereka juga kan. Hasil dari foto dan video nya setelah saya lihat juga bagus-bagus saja, sama seperti kalau diambil kan foto oleh orang lain, malah lebih bagus pengambilannya karena settingnya saya yang atur sendiri. Saking lamanya saya di sana, perlahan orang-orang mulai ramai berdatangan. Pariwisata Dubai yang mahal inu memang sangat diminati. Saya lihat banyak orang India dan juga ada yang dari Korea selama di sana. Orang Indonesianya juga ada, beberapa keluarga yang juga sangat bersemangat mengambil foto dengan latar belakang Gedung Tertinggi di Dunia saat ini.

Setelah puas dan hari telah siang, saya masuk ke dalam mall untuk explore mall dan mencari makan. Saya sempat ke toiletnya yang sangat keren dan bersih, dan saya sangat bahagia karena sudah pasti ada bidet nya. Saya melihat tempat-tempat yang saya tonton di vlog seperti Aquariumnya dan Waterfall Human. Saya melihat Sephora, namun sayang saat saya lewat di sana, masih belum buka juga. Untuk makan saya ke food court untuk membeli Al Baik. Saya sudah kangen makan Al Baik, mumpung lagi di Uni Emirates Arab dan ada, jadi saya beli. Satu paket berisi 4 potong ayam, roti dan kentang harganya 27 AED. Lebih mahal di sini dibandingkan harga di Mekkah dan Madinah yang harganya 25 SAR. Saya cuma makan 1 ayam, sisanya saya simpan untuk dimakan di bandara saja. Lanjut menyusuri Dubai Mall, saya menemukan toko yang menjual oleh-oleh standar kalau traveling yaitu gantungan kunci dan magnet kulkas. Saya berencana hanya membeli sedikit saja, karena perjalanan utama saya adalah Istanbul, jadi hanya orang-orang tertentu saja yang akan mendapatkan gantungan kunci yang mahal itu. Saya juga mengoleksi bell dinner dari semua negara yang saya kunjungi, dan alhamdulillah ada di sana.  Selanjutnya beli satu makanan yang sudah pasti harus dibeli di Dubai yaitu Cokelat Dubai, harganya 35 AED muahal sekali saudara-saudara. Tapi kan sudah kepalang ada di Dubai, masa nggak beli cokelat Dubai. Kalau kurang, rencananya akan beli di bandara saja. 

Toilet di Dubai Mall


Interior Dubai Mall


Al Baik


Setelah semua yang saya ingin lihat dan beli sudah didapatkan, saya kembali ke bandara naik Metro. Kembali jalan kaki jauh menuju stasiun Metro sambil melihat pemandangan kota Dubai. Saat pulang, di arah sebelah kanan ternyata Metro juga melewati Museum of the Future, ya sudahlah ya.... nasib saya, mungkin lain kali bisa ke sana juga. Kalau sekarang saya tidak berani sendirian ke sana, selain hari juga sudah siang. Sampai ke bandara, saya belum bisa melihat gate saya yang menuju Istanbul karena masih belum 3 jam sebelum keberangkatan. Saya hanya dapat info bahwa gate saya ada di concourse C. Persisnya berapa, berdoa saja tidak jauh-jauh karena jumlah gate di concourse C sampai C50... πŸ˜…. Karena sudah capek, jadi saya mencari tempat duduk saja setelah sholat jamak Zuhur dan Ashar. Setelah mengisi ulang air minum, saya iseng masuk ke toko yang menjual cokelat Dubai lagi dan langsung menyesal kenapa tidak membeli banyak di Dubai Mall tadi, karena harganya di sini 2 kali lipat yaitu 70 AED...πŸ˜“ Karena batere sekarat, jadi nyari tempat untuk ngecas juga. Ketemu sih dengan reclining chair, tapi saya sudah tidak bisa tidur saat itu. Setelah akhirnya dapat info gate berapa, saya putuskan menunggu di sana saja karena sudah capek. Gate nya di C9 dan masih sangat sepi ketika saya ke sana. Saya tidak perlu check in dan drop bagasi lagi, karena sudah semua dari Jakarta. Jadi tinggal nyari info gatenya tadi saat masuk ke bandara. 

Pemandangan di gate C9 yang masih sepi


Menjelang keberangkatan para penumpang mulai berdatangan. Pesawat terbang ontime menuju Istanbul dan saya sangat suka interior di pesawat Emirates kali ini. Mejanya unik sekali dari kayu dan makanannya juga enak. Pilihannya kali ini ikan atau ayam, tapi karena menu ayamnya sepertinya enak, saya pesan ayam walau harus menunggu karena kehabisan dan sedang dipanaskan. 

Menu di Emirates minus ayam saya yang sedang dipanaskan

Pesawat akan tiba tengah malam di Istanbul, dan saya akan kembali menginap di bandaranya. Negara baru lagi dengan semangat baru dan akan ada cerita baru lagi.

Lanjut Part 2

video youtube

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...