Jika pengalaman saya sebelumnya Miqat diambil sambil city tour sekitar Mekah, maka kali ini tujuan Miqat nya tidak disambil kan karena tidak ada city tour. Dulu kami mengambil miqat di Masjid Ji'ronah dan sekarang akan mengambil miqat di Masjid Aisyah. Kami berangkat pagi-pagi dan tetap mendapati masjid Aisyah yang dipadati jemaah umroh yang akan mengambil miqat. Setelah berwudhu dan sholat sunah 2 rakaat, kami dibimbing ustad Muthawif untuk berniat umroh. Kami diberi 2 pilihan, akan umroh untuk diri sendiri dalam rangka menyempurnakan umroh pertama, atau akan dibadalkan ke orang lain. Saya berniat badal umroh untuk Ibu saya dan berniat mengikuti Ustad Muthawif. Setelah semua selesai berniat, kami kembali ke bis dan berangkat menuju Masjidil Haram.

Mengambil Miqat di Masjid Aisyah


Bersama para ibu-ibu


Pelaksaan umroh kedua ini dilaksanakan siang hari, jadi tidak bisa minum di sela-sela umroh seperti saat pelaksanaan umroh pertama. Mau siang maupun malam, suasana Masjidil Haram sama saja ramainya. Setelah tawaf 7 putaran, dilanjutkan sai 7 kali bolak balik Safa ke Marwah. Setelah semua rangkaian umroh dilaksanakan terakhir tahalul dengan memotong rambut sedikit. Setelah benar-benar selesai umroh pilihannya mau lanjut tetap di Masjidil Haram atau pulang istirahat. Kebanyakan jemaah pulang, tapi Meta mengajak saya untuk mencoba memegang Kabah mengikuti Ustad Muthawif. Saya ingin sebenarnya, tapi masih ragu-ragu. Saya baru sekali memegang Kabah saat umroh 2022, dan keinginan saya yang paling diinginkan saat itu malah tidak terucap dan terganti dengan keinginan lain yang ternyata top of mind saya dan ternyata Alhamdulillah sudah dikabulkan sekarang. Sekarang saya mencoba berani, dan bersiap mengucapkan doa keinginan saya yang sempat tertunda waktu itu. 

Kali ini tidak mudah, saat itu sudah mau masuk waktu Zuhur. Orang-orang sudah membuat barisan, saya dan Meta nekat menerobos masuk dan Alhamdulillah saya berhasil memegang Kabah dan mengucapkan keinginan saya. Setelah itu saya akan keluar dari kerumunan orang-orang, tapi Meta masih ingin memegang Hajar Aswad, saya yang tidak siap akhirnya terpisah dari Meta dan menjauh. Kabarnya Meta tidak berhasil karena waktu Zuhur memang sudah dekat dan dia dimarahi Askar. Karena sudah kepalang terpisah, saya akhirnya mencari tempat untuk sholat Zuhur. Alhamdulillah dapat tepat di depan Kabah, walau panas sekali dan rasanya matahari tepat di atas kepala. Saya bertahan tidak mau pindah ke dalam, karena baru kali ini saya bisa sholat di depan Kabah tanpa penghalang. Panas dan puasa saya yakin bisa bertahan. Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil ikut sholat Zuhur berjamaah di Masjidil Haram hari itu. Pulang ke hotel, baru bisa bersih-bersih dan istirahat.

Selesai umroh kedua


Sebenarnya Nabila mengirimi saya pesan hari itu, kalau ada waktu malamnya dia mengajak bertemu, jadi saya iyakan. Tapi saya sangat menyesal malam itu, karena alasan capek dan lainnya jadi saya tidak ikut tarawih. Padahal kan mumpung sudah ada di sana. Saat sholat tarawih masih berlangsung, saya keluar untuk mencari jajanan, masih sempat melihat orang-orang melaksanakan Tarawaih di mana-mana. Suara Imam Masjidil Haram terdengar dengan jelas, orang sholat di jalan bahkan ada yang di depan resepsionis hotel. Saya melihat banyak penjaga keamanan yang menjaga saat orang-orang sholat Tarawih. Seharusnya tidak ada alasan capek dan lain-lain, karena saya pun seharusnya bisa sholat di depan hotel. 

Selesai orang sholat tarawih, saya keluar membeli makanan dan juga jus mangga. Janji ketemu Nabila batal, karena dia ketiduran kecapekan katanya. Setelah tidak ada lagi agenda, malam itu saya packing bersama ibu-ibu yang lain. Koper besar dan kecil maksimal beratnya sudah ditentukan. Pagi-pagi koper sudah harus ditaruh di depan kamar untuk mulai diangkut. Setelah sahur kami berkumpul dulu kemudian ke Masjidil Haram untuk Tawaf Wada. Kali ini rombongan kami diarahkan bisa memegang Kabah secara bergantian. Saat itu, ada mbak-mbak dari Indonesia yang memegang Kabah dan seperti menunggu yang lain. Saya minta untuk gantian dan dikasihnya tempat. Setelah saya selesai, saya juga menunggu agar ada Ibu-ibu lain yang bisa bergantian dengan saya. Alhamdulillah akhirnya kami semua bisa memegang Kabah walau penuh perjuangan. Perjalanan umroh saya kali ini saya berhasil memegang Kabah 2 kali dan memanjatkan doa yang sama, semoga dikabulkan ya Allah dan semoga saya diberikan rezeki untuk ke sana lagi baik untuk umroh lagi maupun Haji, aminnn...

Selesai tawaf Wada, untuk sholat Subuh bagian depan sudah penuh, jadi kami berjalan agak ke belakang. Memang tidak bisa melihat Kabah karena terhalang dinding, tapi tetap bersyukur mendapatkan tempat. Jika sudah batal, ada tempat wudhu di bawah tangga didekat kami. Saya belum mandi dan belum selesai packing, jadi setelah selesai sholat Subuh saya harus segera pulang ke hotel untuk berberes. Kembali bersyukur, saat itu di tengah konflik timur tengah, kami tidak terdampak. Jika pesawatnya transit di Doha atau Dubai itu yang bermasalah, sementara pesawat kami langsung ke Indonesia. Lion direct ke Palembang, sementara pesawat-pesawat lain yang juga direct ke Jakarta misalnya Saudia atau Garuda juga tidak masalah.

Sholat Subuh sebelum pulang


Setelah koper-koper beres, masih punya waktu untuk istirahat, karena bisa ke Jeddah berangkat siang. Saya sudah menyiapakan tas kecil kalau nanti punya ilham untuk belanja lagi di Jeddah πŸ˜‚. Saat menunggu waktu berangkat Ibunya Meta demam, dan kami jadi khawatir tidak bisa pulang. Untunglah setelah diurut-urut dan minum obat paracetamol sudah agak mendingan walau masih lesu sampai saat keberangkatan. Setelah tiba saatnya bis datang dan kami berangkat ke Jeddah. Sesampainya di Jeddah benar saja, kami belanja lagi di Cornes. Saya jadi tidak sengaja membeli cokelat tambahan, kurma dan malah dapat Al Baik. Cokelatnya lengkap, cokelat Dubai yang asli dan dalam porsi kecil-kecil maupun besar. Luar biasa ya mereka, sudah disiapkan karena mereka tahu apa yang dicari jemaah umroh kalau mau pulang. Kesimpulannya, koper-koper saya sudah tidak saya urusi dan sekarang saya sibuk ngurusi tas tambahan saya yang sekarang jadi berat. 

Sesampainnya di Bandara, setelah urusan check in dan imigrasi selesai, kami naik ke ruang tunggu. Bandaranya sama dengan saat kedatangan kami sebelumnya, berbeda dengan saat saya naik Saudia dulu. Sambil menunggu kami mendapat nasi kotak karena saat menunggu berbarengan dengan waktu berbuka. Setelah berbuka, sholat jamak Magrib dan Isya serta keperluan toilet selesai kami naik ke pesawat saat hari sudah gelap. Kami akan sampai di Palembang diperkirakan jam 10 pagi. Itu artinya kami akan tidur malam di pesawat dan akan sahur juga. Sesuai waktunya, kemudian pesawat berangkat, saya perhatikan satu pesawat kebanyakan orang turnya sama dengan saat berangkat.

Setelah terbang beberapa jam, kami mendapat makan pertama. Walau sudah berbuka tadi, jadinya makan lagi karena sayang. Menunya tidak bisa pilih beef or chicken, kali ini langsung dikasih menu ayam. Kemudian setelah tertidur dan bangun saat mendekati waktu sahur, kami mendapat makan lagi yang kedua kali ini daging. Ini harus dihabiskan, karena setelah ini langsung berpuasa sesampainya di Palembang. Jika perginnya puasanya lebih lama, maka kali ini pulang puasanya lebih cepat waktunya. untuk sholat Subuh dilaksanakan dipesawat dengan tayamum.

Makan pertama di pesawat


Makan kedua sekaligus sahur di pesawat


Entah kenapa, kali ini saya berusaha tidak pipis di pesawat. Sulit sebenarnya, karena 9 jam perjalanan saat pergi kan puasa saya tidak minum, tapi kali ini karena malam hari jadi saya minum. Saya berusaha agar pipisnya nanti saat landing saja. Ini benar-benar bukan hal yang bagus, dan tidak boleh dilakukan sebenarnya, menahan pipis saat pesawat sudah mau landing itu rasanya mau nangis. Syukurlah dengan penuh perjuangan akhirnya sebelum melewati imigrasi saya berhasil ke toilet dengan leganya. 

Setelah urusan imigrasi, bea cukai yang sudah diurus pihak tur dan ambil bagasi sudah selesai, akhirnya selesailah umroh kami. Sebelum pulang kami dijemput pihak tur dan diberikan semacam sertifikat dan foto-foto kami yang dicetak. Saya pamit ke semuanya, Meta, Bu Neti, Nyai dan Nek Ino sebelum pulang. Agak berat sebenarnya, karena mau tidak mau sudah ada kedekatan yang terjalin selama umroh. Saya sangat senang setelah diajak berjanji untuk bertemu di lain waktu. Semoga nanti lain kali kami bisa bertemu lagi dalam suasana lain. Dan semoga saja umroh kami bisa diterima, doa-doa kami terkabul dan bisa ke sana lagi nantinya.

Hari ini seharusnya adalah umroh kedua yang dijadwalkan pagi hari. Namun karena kondisi Kota Mekah yang ramai, maka ada masalah dengan busnya makan umroh kedua terpaksa ditunda menjadi besok. Sebenarnya saya kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Saya sangat berharap umroh kedua bisa dilakukan karena saya ingin melakukannya untuk badal. Kembali sahur di hotel dengan lauk yang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Jika tidak dalam keadaan Bulan Puasa, mungkin kami juga akan diajak Tawaf setiap menjelang Subuh seperti umroh saya beberapa tahun yang lalu. Setelah itu langsung solat Subuh berjamaah. Sekarang jadi berbeda, setelah Tarawih dan pulang tengah malam kemudian lanjut lagi bangun untuk sahur, rasanya sulit untuk jalan ke Masjid. Atau mungkin niat saya saja yang kurang kuat. 


Lauk sahur


Makan sahur


Karena hari ini tidak jadi umroh kedua, maka jadwal kami kosong. Sebagai penggantinya akan diajak mengunjungi Pasar Kakiyah karena Ibu-ibu sepertinya masih kurang belanjaannya. Ini tidak dipaksa, jadi kalau ada yang tidak mau tidak apa. Transportasinya menggunakan beberapa mobil kecil sesuai jumlah orang yang mau ikut. Saya sebenarnya tidak mau ikut, karena merasa koper sudah penuh. Tapi karena tidak bisa tidur juga, akhirnya saya turun dan jadinya ikut. Pasar Kakiyah ini tidak terlalu besar tapi sangat lengkap. Saya akhirnya membeli kurma lagi, karena ketemu yang bagus. Juga beli baju gamis kecil titipan keponakan saya. Selain itu, lagi-lagi untuk reward diri sendiri saya menemukan gamis berwarna cenderung broken pink yang sepertinya oke dipakai untuk pergi atau kondangan. Semoga koper saya masih muat... 😁.

Malam ini saya bilang ke teman-teman sekamar saya bahwa saya akan pergi sendiri. Kenapa seperti itu, karena saya akan berangkat mulai dari Magrib dan langsung Isya serta Tarawih. Kenapa saya tidak mengajak orang, karena saya ingin berbuka puasa di Masjidil Haram, dengan resiko tidak makan kenyang seperti di hotel. Makannya akan saya beli setelah pulang saja. Saya tidak mau nanti ibu-ibu yang lain jadi menahan lapar karena mengikuti saya. Nanti untuk ibu-ibu yang lain akan ke Masjidil Haram setelah berbuka. Berangkatlah saya sendirian mulai dari jam 5. Harapannya masih mendapatkan tempat di dalam Masjid. Tidak apa tidak di depan Kabah, tapi yang penting di dalam. Tapi jangankan dapat tempat di dalam, di luar saja sudah penuh. Saya keliling-keliling mencari tempat di lantai bawah maupun lantai 2 masih tidak ketemu, saya sudah hampir putus asa, jadi keluar lagi dan kali ini mencoba tempat lain. Kaki saya membawa saya naik eskalator sampai ke atap. Saya belum pernah ke atap, dan ternyata sudah penuh juga. Menjelang waktu berbuka, sebelum azan berkumandang, saya akhirnya mendapat tempat tambahan di bagian depan. Cukup untuk berbuka bersam jemaah lain dan nanti lanjut sholat magrib.

Terus terang saya menangis waktu itu karena sedih. Umroh hari ini batal dan saya saat itu sendirian. Untuk mendapatkan bingkisan iftar tentu saja sudah tidak kebagian, tapi saya sudah cukup senang bisa merasakan berbuka puasa di Masjidil Haram. Saya hanya membawa air minum, dan memang sudah siap jika belum bisa makan. Tapi umat Islam yang baik itu di mana-mana, saya diberi makanan oleh orang-orang di sekeliling saya mulai dari kurma sampai roti. Padahal kami tidak saling mengenal dan dari negara yang berbeda-beda. Susah untuk mengulang momen solat Magrib yang dilaksanakan setelah berbuka dengan latar belakang sunset dan Tower Zamzam yang menjulang di belakang saya 😭.

Selesai Sholat Magrib orang-orang berberes dan saya turun ke bawah mencari tempat lagi. Setelah keliling-keliling lagi, akhirnya di lantai bawah saya mendapatkan tempat yang cukup di depan. Memang tidak pas langsung di depan Kabah, tapi posisinya cukup dekat. Untuk area di depan Kabah untuk wanita sebenarnya ada dan kosong, tapi sedang dibersihkan. Jadi saya cukup senang sudah mendapat tempat yang lebih baik dari Magrib saat itu, Di dekat saya, di bawah tangga ada tempat berwudhu. Saya wudhu lagi karena khawatir sudah batal. Di sela-sela duduk menunggu waktu Isya, tiba-tiba area di depan saya diserbu para akwat karena ternyata setelah dibersihkan diperbolehkan dipakai. Rezeki untuk saya, karena saya ada di posisi depan, saya tinggal angkut sejadah dan tas dan berlari mengambil tempat dan Alhamdulillah ya Allah, saya mendapat tempat tepat di depan Kabah. Memang masih ada rak Al Quran, tapi sholatnya sudah bisa langsung melihat Kabah. Saya sangat bersyukur karena ini adalah benar-benar anugrah bagi saya. Benar-benar dibutuhkan perjuangan dan nasib baik untuk mendapatkan tempat terbaik. Saya ingat waktu umroh beberapa tahun lalu, ke Masjidil Haram dari Ashar mendapat tempat di dalam, Magrib di tempat seperti ini dan Isya mendapat tempat di pelataran Kabah. Untuk mendapat tempat Sholat di pelataran Kabah saya sebenarnya masih berharap bisa, siapa tahu karena kami masih berada di Mekah sampai 2 hari lagi.

Karena jemaahnya banyak, tempat yang saya dapat jadi menyempit. Tapi tidak apa, asal saya bisa duduk dan sujud, bagi saya itu sudah cukup. Anugrah lainnya adalah, ternyata Imam Tarawih malam itu adalah Imam Yasser Al Dosari yang merupakan Imam favorit saya. Dulu saya pernah sholat Shubuh hampir 20 menit tidak terasa, karena bacaaan ayat yang sangat merdu. Suaranya sangat khas dan langsung bisa dikenali saat sholat Tarawih dimulai. Seperti biasa, bacaan ayat yang panjang tidak terasa lagi waktunya. Menjelang setengah sholat berikutnya setelah salam, Sholat Tarawih dan Witir dipimpin oleh Imam yang lain. Pulangnya saya kembali mampir kali ini untuk membeli Nasi Bryani. Ternyata di sepanjang jalan sampai hotel orang-orang sholat di pinggir jalan. Jadi untuk yang terlambat, bawa saja sejadah dan bisa ikut sholat berjamaah. Dan tenang saja, sepanjang jalan juga banyak pihak keamanan yang berjaga.

Nasi Bryani dan ayam


Sesampainya di kamar mendapat berita, bahwa umroh kedua bisa dilakukan besok. Mengambil miqatnya dari pagi, dan pelaksanaan umrohnya kemungkinan menjelang Zuhur. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Setelah beberes sebentar, harus segera tidur karena nanti akan bangun lagi untuk sahur dan siap-siap untuk berangkat mengambil miqat.

Lanjut Part 7

Hari Pertama di Mekkah secara resmi dimulai. Meski pada awalnya saya ingin sebanyak mungkin di Masjid, ternyata pada prakteknya tidak bisa. Malam memang fokus di Masjid, tapi siangnya benar-benar butuh waktu istirahat untuk tidur. Berbeda dengan umroh saya beberapa tahun lalu yang dilaksanakan bukan pada bulan Puasa, bisa bolak balik hotel masjid dengan segarnya. Setelaj sepagian istirahat, siangnya saya dan Meta keluar untuk mengurus beberapa hal. Pertama mencari ATM untuk Meta, sebelumnya mampir ke toko dulu untuk membeli sabun karena ternyata sabun saya hampir habis. Seharusnya saya membawa body wash dan hand wash terpisah supaya tidak kehabisan. Selanjutnya menuju ATM, ini arahnya dekat dengan Hotel saya saat umroh pertama kali dulu. Seperti biasa dapat pecahan besar. Saya tawarkan ke Meta untuk tukar ke saya nanti, karena saya akan membeli sesuatu di Mall di bawah Tower Zamzam. Untuk makanan, memang disediakan di hotel untuk sahur dan buka, tapi saya ingin jajan karena di depan hotel banyak makanan. Saya ingin beli nasi Briyani rencananya malam ini sepulang Tarawih. 

Saya mendapat beberapa titipan, mulai dari minyak wangi yang sudah saya beli di Madinah dan sekarang benda-benda lain yang harus dibeli di Mekah. Salep titipan kakak saya sudah dapat dari penjual yang banyak terdapat di pinggir jalan arah ke Masjidil Haram. Sekarang kami menuju Abraj Hypermarket di Mall depan Masjidil Haram untuk mencari titipan berikutnya. Keliling-keliling tujuh keliling, benda itu tidak ada di mana-mana. Akhirnya dengan berat hati saya mengabarkan kepada teman saya, kalau barang titipannya tidak ada. Lanjut melewati Sephora kami masuk untuk melihat-lihat dan saya akhirnya membeli benda maha penting bagi saya yaitu eye liner. Baru kali ini saya masuk Sephora dimana mbak-mbaknya menggunakan pakaian tertutup berwarna hitam dan cantik-cantik tentu saja. Saya sebenarnya masih ingin jalan lebih jauh lagi ke arah Carrefour dan mungkin kopi 1/2M tapi Meta ini beda dengan Desi yang sama hobi jalannya dengan saya. Setelah dari Sephora, dia sudah capek dan akhirnya kami kembali ke hotel. Saya sudah berniat, lain kali tidak apa saya sendirian kalau mau cari sesuatu lagi atau melakukan sesuatu, kalau memang tidak ada yang bisa menemani.

Di dekat Pintu King Abdul Aziz


Menuju Abraj Hypermarket


Titipan teman saya yang tidak ada di rak


Untuk berbuka hari ini kami laksanakan di hotel, selanjutnya baru akan Isya sekaligus Tarawih ke Masjidil Haram. Pilihannya ada 2, yaitu buka dulu di hotel baru Tarawih atau langsung buka dan Tarawih di Masjid tanpa balik ke hotel. Berbeda dengan di Madinah, jarak hotel dan Masjid agak jauh, jadi tidak bisa bolak balik. Memang sepanjang jalan, orang bisa sholat dimanapun, tapi kan kalau ada kesempatan maunya sholat di Masjidil Haram. Jadi setelah berbuka, saya, Bu Neti, Meta dan ibunya berangkat ke Masjidil Haram.

Menu berbuka


Yang terjadi adalah.... susah mencari tempat untuk sholat di dalam Masjidil Haram. Dari Magrib ke Isya orang-orang banyak yang masih stay, akibatnya tempat sholatnya sudah penuh. Keliling-keliling mencari tempat, dari lantai 1 sampai lantai 2 bikin capek, waktu juga sudah mau menjelang azan Isya. Karena saya yang sudah pernah umroh jadi diandalkan untuk mencari tempat. Benar-benar hampir bikin putus asa mencari tempat, mendengar teriakan askar dan lalu lalang di sela-sela orang yang tawaf di lantai 2. Setelah sekian lama berjalan berputar akhirnya ditemukan tempat yang juga sudah penuh, namun ternyata masih ada sedikit tempat kosong di ujung, paling pinggir dan tertutup tiang. Yah syukurlah, akhirnya dapat tempat juga untuk sholat Tarawih dan Isya. Masih bisa mengisi waktu dengan mengaji sebelum azan. Untuk sholat Tarawihnya, sama dengan di Madinah, 10 rakaat dan dilaksanakan masing-masing 2 rakaat dilanjutkan Witir 3 rakaat yang dipecah 2 dan 1 rakaat. Karena bacaan ayatnya 1 Juz 1 malam, maka Imamnya dibagi 2 untuk Tarawih dan Witir tersebut. Dan sama seperti di Madinah, siapkan kaki anda karena bacaan Imamnya pasti sangat panjang. Tapi tenang saja, dinikmati karena suara imam yang merdu jadi membuat tidak terasa dan waktu berlalu juga. Untuk witir, ayatnya pendek tapi doanya yang panjang, jadi jangan buru-buru mau sujud setelah rukuk.

Selesai Tarawih, untuk pulang saya mengarahkan kami untuk masuk ke area Kabah saja, kemudian pulang lewat Hajar Aswad menuju pintu King Abdul Aziz yang akan muncul di depan Tower Zamzam, karena cuma pintu itulah yang saya hapal. Kalau lewat pintu lain saya tidak tahu jalan pulang untuk menuju hotel. Suasana sangat ramai, bukannya menjadi sepi. Memang kebanyakan orang akan keluar dari Masjidil Haram setelah Tarawih, tapi yang masuk pun juga banyak. Setelah berhasil keluar di jalan menuju hotel, saya terpisah dengan yang lain jadi sekalian mampir untuk membeli kebab yang lagi pengan saya makan setelah kunjungan ke Turki beberapa waktu lalu. Beli kebabnya di dekat hotel, kebabnya versi nasi tapi, dilengkapi dengan ayam dan yang lainnya. Rasanya jangan ditanya lagi, pasti enak. Selain ini saya juga beli juz mangga karena haus dan saya anggap ini makan tengah malam, diantara buka dan sahur πŸ˜‚.

Setelah Tarawih


Makanannya difoto setelah setengah dimakan, nasinya di bawah ayam

Saya sampai di kamar yang paling terakhir, memang kamar belum gelap. Tapi mereka jadi iri karena saya membeli juz mangga πŸ˜‚, saya tawari ayamnya tidak ada yang mau karena kata mereka masih kenyang. Tapi emang sih ayamnya sangat banyak, butuh usaha bagi saya untuk menghabiskannya dan akibatnya makan sahurnya jadi dikurangi karena sudah kenyang sebelumnya.

Lanjut Part 6

video youtube

Setelah sahur, seperti biasa kami menuju ke Masjid Nabawi untuk sholat Subuh. Dan lagi-lagi tidak kebagian tempat di dalam, jadi sholatnya di area luar saja dekat Raudhah. Selesai sholat rencananya akan berkumpul dulu, dipimpin ustad Muthawif berdoa di dekat Kubah Hijau dan pamit ke Rasulullah Nabi Muhammad SAW sebelum kami berangkat ke Mekkah hari ini. Setelah sholat, pake acara mau pipis dulu, kali ini saya mencari toilet dengan Nek Ino. Sudah berapa kali ke sana saya masih tidak jelas dengan sistem toilet di Masjid Nabawi. Kenapa ya kok semua toilet di area depan Masjid Nabawi semuanya untuk laki-laki. Sambil menahan pipis, akhirnya setelah sampai di ujung setelah mendapat info kalau toilet untuk perempuan di bagian belakang dan harus turun dulu ke bawah. Karena kaki Nek Ino sakit, maka dia harus pakai toilet duduk, untung di sana ada walau sedikit. Jadi setelah Nek Ino masuk toilet, baru saya masuk ke toilet lain. Setelah selesai urusan toilet, kami bergabung dengan jemaah segrub untuk berdoa di dekat Kubah Hijau.

Perjalanan ke Mekah yang seharusnya pagi, molor menjadi siang karena masih menunggu bis. Dengan padatnya jemaah umroh saat Bulan Ramadhan, maka transportasi juga ikut terdampak. Rencananya kami akan umroh sebelum Sholat Tarawih dilaksanakan, tapi karena dari Madinah berangkatnya siang, maka umrohnya jadi akan dilaksanakan malam hari setelah Sholat Tarawih. Yah positifnya jadi saat pelaksanaan umroh jadi bisa minum karena dilaksanakan malam hari. Koper sudah dikumpulkan, jadi kami tidak bisa ganti baju lagi dan sudah memakai baju ihram. Ini harus benar-benar hati-hati agar tidak terkena najis. Selama belum berniat, masih bisa memakai sabun, tapi setelah berniat harus diingat baik-baik semua larangan dalam berihram. Setelah sholat Zuhur yang dilaksanakan di hotel saja, kami berangkat. Kali ini ustad anak Pak Kyai sudah datang dan bergabung dengan kami. 

Seperti biasa, jika dari Madinah maka mengambil Miqat nya di Masjid Bir Ali. Sesampainya di Masjid Bir Ali, sebenarnya bisa sholat di dalam. Namun karena ramai, kami dibolehkan sholat di luar karena di luar juga sudah disiapkan sajadah. Jadi, saya dan beberapa ibu-ibu lain memutuskan sholat di luar saja sementara jemaah lain tetap ada yang masuk ke Masjid. Kapan lagi ya kan sholat dengan pemandangan samping adalah bukit gurun pasir, masalahnya cuacanya lumayan panas. Jadi setelah sholat, langsung mencari tempat berteduh sambil menunggu jemaah yang lain. Setelah semua berkumpul, kami kembali ke bis dan berniat bersama-sama di dalam bis, dipimpin ustad Muthawif.

Miqat di Masjid Bir Ali

Saat berniat harus dalam keadaan berwudhu, namun jika ditengah-tengahnya batal tidak apa. Tapi nanti sebelum memulai Tawaf harus berwudhu lagi. Di perjalanan tentu saja jadi tertidur, karena perjalanannya lumayan lama dan dalam keadaan puasa. Di tengah perjalanan di rest area, kami berhenti bertepatan dengan waktunya Magrib sekalian membatalkan puasa. Benar-benar berbeda sekali rasanya sholat dan berbuka puasa ramai-ramai dengan hanya beralaskan tikar seadanya. Makannya pun cukup sederhana, yang penting cukup untuk mengganjal perut sebelum sampai nanti di Mekah. Pengalaman yang sulit untuk terulang kembali. Semoga saya mendapatkan rezeki dan nasib untuk bisa mengulang kembali pengalaman ini.

Berbuka puasa di rest area

Kami sampai di Mekah sudah malam dan tidak bisa langsung ke hotel karena terkena macet. Hal ini karena saat itu Sholat Tarawih masih berlangsung, dan area sekitar Masjidil Haram masih disteril untuk kendaraan. Setelah lama berada di bis keliling-keling tidak sampai-sampai sementara menara Tower Zamzam sudah kelihatan, akhirnya kami bisa mendekat ke hotel. Tapi, hanya orang-orangnya dan dilanjutkan dengan jalan kaki, sementara koper akan menyusul saat bisnya sudah mendapat jalan untuk menuju hotel. Hotel kami adalah Nada Ajyad, walau hotelnya sempit tapi saya sudah bersyukur karena untuk ke Masjidil Haram bisa berjalan kaki, tidak perlu naik bis. Pengalaman orang-orang ada yang dapat hotel jauh di Mekah. Alhamdulillah dua kali saya umroh, semua hotelnya dekat dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Setelah makan kami masih bisa beristirahat sebelum lewat tengah malam akan melaksanakan umroh. Hotelnya panjang dan memiliki sedikit lift dan cukup lama kalau ditunggu. Kadang saya nyerah dan naik turun tangga saja kalau sudah kelamaan menunggu. Koper akhirnya datang, dan bisa dibereskan sebelum berangkat umroh. Kali ini saya sekamar dengan Meta, Ibunya Meta dan Bu Neti. Nek Ino dan Nyai ada di kamar lain, tapi masih sering kontak-kontakan untuk mengajak makan dan hal-hal lainnya. Hotel di Mekah sama sempitnya seperti di Madinah, tapi saya tetap bersyukur. Saya berencana mencuci setelah umroh, berberes koper juga di atas kasur dan koper ditegakkan di pinggir supaya tidak makan tempat. Kadang kalau tidak kebagian meja makan, kami bawa ke kamar tetapi makannya di depan kamar sambil lesehan πŸ˜€. Lewat tengah malam, kami berkumpul setelah berwudhu untk melaksanakan umroh yang pertama. Anak ustad sudah siap kiri dan kanan menggandeng Ayah dan Ibunya, pemandangan yang membuat saya iri karena saya tidak kebagian nasib untuk bisa umroh bersama orang tua saya. 

Dalam perjalanan ke Masjidil Haram, masih ramai walau Tarawih sudah selesai. Di Mekah tidak ada yang namanya sepi, mau tengah malam sekalipun. Apalagi Bulan Ramadhan, manusia lalu lalang selama 24 jam dan dijaga polisi maupun askar. Inilah yang membuat saya berani, saya yakin bisa kalau mau sendirian bolak balik karena merasa aman. Selama perjalanan, seperti biasa dibimbing oleh Ustad Muthawif untuk bacaan-bacaannya. Memang sudah ada bukunya juga, tapi saya memutuskan akan mengikuti Ustad saja. Dari depan Tower Zamzam kami memasuki pintu King Abdul Aziz yang kalau lurus saja, dan turun 1 lantai langsung menuju Kabah. Sebelum masuk, melepas sendal dengan cepat dan memasukkannya ke tas yang sudah saya siapkan danmemakainya di belakang seperti ransel. Karena masih cukup, sendal Nek Ino juga masih bisa masuk. 

Alhamdulillah ya Allah, dengan izin Nya saya kembali melihat Kabah dan melaksanakan umroh. Rasanya lebih ramai dari saat saya datang 4 tahun yang lalu. Kami benar-benar berjalan berdekatan supaya tidak terpisah, dan mengikuti bacaan-bacaan Ustad Muthawif. Ini tengah malam, tapi rasanya tidak berbeda dengan waktu yang lain untuk ramainya. Setelah 7 kali putaran, kami lanjut sai dan melaksanakan bolak balik Safa Marwah juga 7 kali. Karena sedang tidak berpuasa, kami punya kesempatan di tengah-tengah perjalanan meminum air zamzam yang terdapat di sana. Setelah selesai sai dilanjutkan tahalul memotong sedikit rambut, maka selesailah rangkaian umroh kami. Waktu menunjukkan sekitar jam 3 pagi, kalau mau lanjut Subuh bisa, tapi karena kami harus Sahur dulu dan masih capek, maka untuk kesempatan hari pertama diputuskan Subuhnya di Hotel dulu. Niat awalnya pengen setiap waktu sholat di Masjid, namun ternyata harus dipilih agar ada waktu istirahatnya.

Suasana malam Ramadhan di Masjdil Haram

Alhamdulillah saya selesai Tawaf

Kembali ke hotel kami sahur dulu, kemudian istirahat. Tempat makannya sama seperti di Madinah, ada tempat khusus untuk Jemaah Indonesia dan ada yang lain untuk jemaah yang lain juga. Menunya kurang lebih sama dan pastinya masakan Indonesia. Saya menghindari banyak makan cabe, karena takut diare. Perut saya ini agak tidak kuat makan banyak cabe dan kopi yang tidak cocok. Kalau saya di rumah tidak apa, tapi kalau bukan di rumah saya harus menjaga diri. Sama juga seperti di Madinah, selama Bulan Ramadhan tidak ada city tour seperti dulu yang mengunjungi Jabal Rahmah dan tempat-tempat lain. Umrohnya kali ini untuk diri sendiri dulu, di waktu berikutnya direncanakan akan ada umroh lagi yang bisa badal untuk orang lain seperti untuk Ibu dan Bapak. Saya berdoa agar tetap sehat dan selamat di tengah-tengah konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. 

Lanjut Part 5

Selesai dari Raudhah, kami tidak punya agenda khusus karena city tour ditiadakan. Dan saat itulah kami mendapat kabar mengenai krisis di negara-negara Teluk. Saya mendapat beberapa pesan yang menanyakan keadaan di Arab Saudi. Dan saya meyakinkan kalau Madinah dan Mekah aman, jaraknya cukup jauh dari Riyadh yang merupakan salah satu daerah yang terdampak. Walau sempat khawatir juga bagaimana kami pulangnya, tapi saya tetap yakin akan bisa pulang karena pesawat pulang kami langsung menuju Indonesia, tanpa tranist di negara lain. Seandainya keadaan ini terjadi saat saya ke Istanbul bulan lalu, nah barulah saya tidak bisa pulang, karena pesawat pergi saya lewat Dubai dan pulangnya lewat Doha.


Hari ini kami lebih memilih agenda masing-masing, tepatnya saya. Karena saya akan mencari ATM dan belanja lagi benda-benda yang belum didapatkan kemarin. Sebenarnya nanti sore ada acara keliling area Masjid Nabawi dipandu Ustad Muthawib, tapi karena masih lama jadi saya masih punya waktu untuk keliling-keliling sendiri. ATM pertama yang saya dapatkan entah kenapa tidak bisa keluar uangnya, ATM kedua bisa, tapi dapat uang pecahan besar. Saya membeli gamis hitam sebagai reward untuk diri sendiri, harganya lumayan mahal. Untunglah di toko itu mau menerima uang saya dan ada kembalian. Ketika saya mau menukar untuk lembar kedua, mereka juga oke, syukurlah jadi uang saya bisa terpecah. Selanjutnya nyari oleh-oleh makanan. Saya membeli kurma yang enak, kismis dan kacang. Juga mencari beberapa titipan dari orang-orang. Di Bin Dawood saya membeli lagi tas sendal, kali ini yang bisa ditaruh di belakang punggung seperti ransel, ini agar saya saat di Masjidil Haram nanti, tidak repot ngurusan tas sendal saat berdesak-desakan saat Tawaf. 

Saat melewati halaman Masjid Nabawi, tetap masih ada beberapa jemaah yang menghabiskan waktu di sana walau bukan waktu solat. Saya juga sempat berbaik hati membantu foto satu keluarga di pintu masuk Masjid. Saya bawa tripod, jadi saat sendirian tetap bisa mengambil foto. Sorenya sempat belanja lagi dengan ibu-ibu lain di toko samping hotel. Untuk tasbih dan lain-lain sudah saya beli kemarin, di toko itu saya membeli parfum titipan yang namanya parfum seribu bunga. Yang lucunya penjualnya kan bisa bahasa Indonesia dan agak genit seperti biasa. Saat para ibu-ibu menawar dengan sadis, saya yang tidak terlalu cerewet menawar malah dapat bonus parfum dari penjualnya, untuk bikin iri ibu-ibu lain dan menunjukkan kalau dia baik sama yang tidak cerewet πŸ˜….

Hasil foto dengan tripod

Sore sebelum berbuka kami diajak berkeliling Masjid Nabawi. Diceritakan mengenai sejarah Islam di sana yang kira-kira pernah kita pelajari saat SD. Saya tidak ingat apakah cerita yang saya dengar saat itu sama dengan yang saya terima saat umroh pertama kali dulu. Selesai acara keliling itu kami mulai mencari tempat untuk menanti berbuka. Kali ini lebih parah dari kemarin, kami mendapat tempat di luar pagar Masjid Nabawi. Tapi tenang saja, tetap diberi sajadah panjang dan tetap menadapat bingkisan iftar. Dan ini ada ada info penting mengenai yogurt yang kerap ada di bingkisan iftar. Saya selalu tidak bisa makan yogurt plain tersebut karena asam. Mau dicolek dengan roti pun tidak bisa makan banyak. Salah saya tidak riset dahulu, karena ternyata ada sachet perasa di dalam plastik tersebut. Jadi bisa ditambahkan ke yogurtnya agar ada rasanya πŸ˜‹. Semoga saya ada nasib ke sana lagi saat Bulan Puasa untuk memperbaiki kesalahan ini πŸ˜€.

Selesai solat Magrib berjamaah kali ini saya ikut strategi ibu-ibu yang lain, yaitu kembali ke hotel untuk makan nasi dulu. Selesai makan baru kembali menuju Masjid. Kali ini tidak usah berharap banyak dapat tempat strategis. Dipimpin Ibu Kyai, kami membentang sejadah di area bebas yang penting berkelompok. Tak jauh dari kami, juga ada jemaah-jemaah lain yang membentang sajadah di mana saja untuk ikut solat Tarawih. Kali ini sudah lebih siap untuk Solat Tarawih dengan Ayat sebanyak 1 Juz dan doa yang panjang. Namun apa daya di rakaat-rakaat terakhir saya dan beberapa Ibu-ibu jadinya mulai capek dan membaca niat solatnya setelah istirahat sebentar. Pulang ke hotel, karena kami solatnya tidak jauh dari hotel, saya masih penasaran dan melihat toko makanan di depan hotel antriannya sepi. Saya mengajak Meta dan berhasil membeli kentang dan nuget. Setelah kami selesai, baru antriannya jadi panjang dengan orang-orang yang baru pulang solat.

Kentang dan Nuget


Malam ini kami mulai packing, karena besok akan lanjut perjalanan ke Mekah. Sedapat mungkin oleh-oleh sudah saya beli di sini, karena di Mekah pasti tidak sempat dan lebih ramai lagi. Kamar kami seperti kapal pecah. Kamarnya standar, tapi karena dihuni orang 4 maka pasti lebih sempit. Kami packing dengan meletakkan koper masing-masing di tempat tidur. Pengumpulan koper untuk besok sudah ditentukan jam nya, jadi saya memindahkan barang-barang kecil yang masih akan saya gunakan ke tas tangan saya. Baju Batik tidak sempat saya cuci, jadi rencananya nanti sampai di Mekah akan saya angin-anginkan saja karena saya yakin akan dipakai lagi saat pulang. Harus diakui kamar kami ini jadi rame karena ada Nyai dan Nek Ino, karena saya dan Bu Neti ini orangnya cenderung hobi mendengarkan. Setelah semua beres, harus segera istirahat karena sudah tengah malam dan harus segera bangun lagi untuk sahur.

Lanjut Part 4

Selesai sholat Subuh, sepertinya masih banyak yang ingin berdiam di Masjid Nabawi untuk solat Sunnah dan membaca Al Quran. Saya, Meta, Ibunya Meta dan Bu Neti pindah ke luar, sambil menunggu payung Masjid Nabawi terbuka. Sayang saya tidak jadi ketemu Nabila karena waktunya tidak tepat. Saya selalu suka dengan warna langit Nabawi menjelang matahari terbit. Warnanya ungu kemerahan dan sangat cantik. Tengah menikmati waktu di pelataran Masjid Nabawi, saya di wa Nyai dan Nek Ino yang terpisah dari kami untuk minta kunci kamar. Mereka sudah di hotel, sementara kunci kamarnya ada di saya. Kami hanya dikasih satu kunci kamar, dan sayang sekali tidak saya titip di resepsionis. Maka dengan berat hati saya merelakan pemandangan hari pertama di Madinah melihat payung Masjid Nabawi terbuka karena harus mengantar kunci... 😭. Saat saya balik lagi, payungnya sudah terbuka dan hari sudah terang. 


Setelah Subuh di Masjid Nabawi

Menunggu payung Masjid terbuka


Masjid Abu Bakar di depan Hotel

Umroh saat Bulan Ramadhan harus dimanfaatkan untuk beribadah, karena pahalanya berlipat-lipat. Alhamdulillah saat itu Hari Jum'at. Jika umroh pertama saya mendapatkan sholat Jum'at di Mekah, maka kali ini di Madinah. Selesai kegiatan Subuh kami kembali ke hotel dan tidur sebelum bersiap kembali ke Masjid untuk solat Jum'at. Selama umroh di Bulan Ramadhan ini, kami tidak dijanjikan city tour baik di Madinah maupun di Mekah nanti, karena suasana yang ramai dan tidak memungkinkan. Rasanya jumlah jemaah umroh berlipat-lipat saat Bulan Ramadhan ini. 

Sejam sebelum Azan Zuhur, kami sudah datang tapi tetap tidak mendapat tempat di dalam. Yah lumayan lah masih dapat tempat di area luar Masjid Nabawi. Sangat tidak panas, karena berada di bawah payung Masjid Nabawi dan banyak terdapat kipas blower. Saya sempat membuat insta story dengan tulisan "Solat Jum'at dulu biar cantik...." sebagai balasan para ikhwan yang sering mengklaim "Solat Jum'at biar ganteng" 😁. Seperti biasa ceramah dalam Bahasa Arab sama sekali tidak dimengerti, malah jadi tertukar kapan ceramah dan kapan doanya. Selesai solat Jumat, Para ibu-ibu ingin belanja oleh-oleh mumpung ada waktu. Dan tentu saja, waktu bubaran solat di Masjid Nabawi itu sama ramainya dengan kondisi pasar kalau menjelang lebaran. 

Mereka sudah dapat bocoran kalau belanja murah ada di area pintu 338. Heran deh, emak-emak kalau soal seperti ini jago bener. Jadi kami berjalan menembus keramaian menuju pintu 338. Karena puasa, jadi tidak perlu makan siang dan fokus akan belanja saja. Meta pakai acara tidak bawa uang, jadi dia mau uji nyali balik ke hotel dulu, sementara saya, Ibu Meta, Bu Neti dan Nek Ino menunggu di dekat pintu 338 area dalam. Di dekat kami, kembali ada cerita jemaah tersesat. Kali ini ada nenek yang terpisah dari anaknya, mereka dari Pakistan. Jadi ada Bapak-bapak Pakistan juga yang berbicara dengan nenek tersebut. Kemudian dia berbicara kepada kami, tepatnya saya karena hanya saya yang mengerti Bahasa Inggris. Katanya nenek itu punya catatan nomor telepon anaknya, si Bapak sudah menelpon anak si nenek dan bilang kalau ibunya ada di pintu 338, tapi si Bapak tidak bisa menunggu karena ada keperluan. Karena kami juga duduk menunggu di sana, saya tidak keberatan menyanggupi menjaga si nenek sampai anaknya datang. Setelah si Bapak pergi, Nek Ino ngajak bicara pakai Bahasa Indonesia, si nenek bicara apa pakai Bahasa Pakistan. Bicara yang tidak nyambung ini sangat tidak berguna, dan sulitnya adalah si nenek berkali-kali ingin pergi dan kami coba tahan. Karena kalau si nenek pergi, nanti tambah tersesat lagi sementara anaknya sedang menuju pintu 338. Saya berdoa agar anak si nenek cepat datang, karena semakin lama semakin sulit menahannya agar tidak berpindah tempat. Alhamdulillah si anak akhirnya datang juga. Tapi yang bikin agak kesal, saya sudah berusaha senyum dia sama sekali tidak menganggap kami dan langsung mengajak ibunya pergi. Ya okelah, mungkin dia tidak tau infonya kalau si Bapak sebelumnya menitip sang ibu dengan kami, yang penting mereka sudah ketemu dan legalah kami. Tak lama Meta datang sambil ngos-ngosan sambil cerita kalau perjalanannya sangat berat, sampai di hotel nunggu lift juga lama, karena orang pada bareng pulang solat jum'at. 

Lurus dari pintu 338, tak lama tempatnya ketemu yang katanya banyak serba 1 riyal itu. Para ibu-ibu mulai kalap berbelanja, termasuk saya. Namun sayang, beberapa benda yang saya cari tidak ada di sana. Sepertinya besok saya akan coba lagi, sendirian tidak apa karena repot kalau banyak yang ikut dan banyak kepentingan. Saking banyaknya bawaan dan pintu 338 jauh dari pintu 310 yang dari ujung ke ujung, para emak-emak berinisiatif patungan untuk naik taksi. Siapa yang ketempuhan tugas mencari dan bicara dengan sopir taksi, ya tentu saya karena Meta walau masih muda juga tidak bisa Bahasa Inggris. Saya juga tidak jago Bahasa Inggris, tapi cukuplah kalau sekedar nawar belanjaan dan keperluan lainnya selama saya suka traveling πŸ˜…. Singkat cerita, taksinya dapat untuk menuju hotel, dan ketika ditanya berapa ongkosnya dijawab 40, para emak-emak yakin bahwa 40 yang dimaksud adalah Rp 40.000,-. Jadi saya harus menjelaskan bahwa ongkos 40 nya harus dikali 4.000 dulu ke Riyal, dan bahwa taksi berbeda dengan penjual oleh-oleh di sana yang bisa Bahasa Indonesia dan menerima rupiah. Alhamdulillah dengan begini, akhirnya saya tercicip juga naik taksi di Arab Saudi. Kami selamat sampai di hotel dan para ibu-ibu langsung bongkar barang belanjaan dan saling membandingkan.

Saya sangat lelah, jadi memutuskan akan tidur saja. Karena Magrib akan pergi lagi untuk berbuka di Masjid Nabawi, saya merelakan solat Ashar di hotel saja. Kalau kata Ustad Muthawib, jika memang lelah solat siangnya di hotel saja, karena malam akan lebih banyak ke Masjid. Nek Ino masih penasaran dan turun lagi untuk belanja baju oleh-oleh di toko samping hotel. Saya juga sudah sempat melihat-lihat di sana dan sekarang benar-benar ingin istirahat, Nyai yang minta ditemani solat Ashar di Masjid dengar berat hati jadi ditolak. Ada cerita lucu saat Nek Ino mau pulang ke kamar, dia menelpon Nyai dan nanya apakah benar kami di lantai 8. tapi dari video kok beda tampilan lorongnya, Nek Ino sampai dibantu orang yang sedang lewat untuk mencari kamar kami, tapi setelah saya lihat lantai 8 nya sangat berbeda, ternyata Nek Ino salah hotel nyasar di sebelah. Jadi saya turun untuk menjemput Nek Ino kembali ke hotel kami. Dia memperlihatkan hasil belanjaannya yang terdiri dari baju untuk anak cucunya, Nyai ikut kepo ingin tahu oleh-oleh untuk anak dan cucunya πŸ˜…. Ketika Nek Ino sadar ada ukuran baju yang salah, saya sarankan lain kali saja kalau mau nukarnya, karena tokonya kan ada di samping. Saya takut Nek Ino punya ide untuk minta ditemani ke bawah lagi πŸ˜†.

Kira-kira Satu jam sebelum azan kami menuju ke Masjid Nabawi. Burung-burung di sekitar hotel benar-benar bikin salah fokus, sibuk foto sana sini, rombongan kami terpisah. Saya jadi tinggal bertiga dengan Bu Neti dan Ibunya Meta. Saking ramenya orang mau berbuka puasa di Masjid Nabawi, kami tidak kebagian tempat di dalam, dan sudah cukup beruntung mendapat tempat di luar masjid namun masih di bawah payung. Posisinya sudah hampir di pintu 328 yang jauh dari hotel kami, dan kami membentang sejadah di posisi paling ujung yang hanya tinggal itu pilihannya. Tapi untungnya karena posisi di pojok, jadi saat pembagian makanan, sup, teh dan lain-lain... kami dapat paling cepat. Untuk bingkisan iftar tentu saja kami juga dapat. Isinya ada air minum, bermacam-macam roti, yogurt, dan kurma. Di setiap bingkisan ada nomornya, mungkin ini kode yang memberi iftar nya. Saya benar-benar bahagia, jika selama ini saya hanya melihat di vlog orang-orang yang berbuka puasa di Arab Saudi dan mendapat bingkisan iftar, Alhamdulillah sekarang nasib saya tercicip juga. Makanannya sudah oke banget sebenarnya, tapi sepertinya bagi orang Indonesia masih tetap harus makan nasi habis ini 😁. 

Sambil menunggu waktu azan, Nyai wa Bu Neti. Ternyata tempat air minum Nek Ino dititip ke Bu Neti, dan mereka minta diantarkan karena nanti airnya untuk berbuka. Pengen nangis rasanya, ini artinya saya lagi yang harus jalan untuk mengantar botol tersebut, mana posisi mereka jauh dari kami. Saya sempat  bilang ke Bu Neti lain kali jangan mau dititipi apapun, yang kemudian saya sesali. Saya sudah setengah jalan dan ternyata tidak bisa lewat, karena waktunya sudah hampir berbuka dan pagar sudah dipasang Askar. Saat saya telpon kalau saya tidak bisa lewat, mereka bilang tidak apa karena sudah ada air minum lain....😭. Saya anggap ini sekalian olahraga bolak balik Masjid Nabawi. Saat kembali, saya dapat rezeki tambahan dikasih satu lagi bingkisan iftar dengan nomor berbeda. Alhamdulillah mungkin inilah jalan saya untuk mendapat tambahan makananπŸ˜ƒ. 

Iftar dari Masjid Nabawi


Bagaimana rasanya berbuka di Masjid Nabawi, sangat bahagia dan tidak dapat digambarkan. Dengan cuaca yang sejuk, berbuka puasa bersama umat muslim di seluruh dunia. Jika ada kesempatan lagi, tentu saja saya mau mengulang lagi momen tersebut. Selesai berbuka, sisa makanan dibereskan dengan plastik panjang. Setelah semua beres, baru solat magrib bisa dilaksanakan. Selesai solat Magrib, banyak orang yang beranjak dari tempatnya, mungkin kembali lagi ke hotel masing-masing. Saya mengajak Ibunya Meta dan Bu Neti untuk lanjut sampai Isya saja karena malas kalau mau kembali ke hotel lagi dan mereka setuju. Jadi kami pindah ke depan yang sudah banyak kosong untuk selanjutnya menunggu Isya sekaligus Tarawih. Sambil menunggu, bisa mengaji untuk mengisi waktu atau sekedar istirahat berbaring. Tak lama, tempat solat kembali terisi penuh untuk selanjutnya Solat Isya diikuti Tarawih. 

Solat Tarawihnya dilaksanakan 10 rakaat dengan 5 kali salam dan dilanjutnya 3 rakaat solat Witir. Dan sebagai informasi ayat yang dibaca 1 juz untuk 1 malam. Jadi siapkan kaki anda masing-masing. Awal-awal rakaat masih pada kuat, tapi menjelang akhir sudah mulai banyak yang tumbang. Sudah ada yang duduk dan hampir jatuh karena ngantuk. Menjelang selesai, saat masuk ke Witir saya lega mengenali ayat-ayat pendek yang dibaca Imam, tapi selanjutnya memasuki doa. Dan ternyata doanya juga panjang, jadi kembali harus menyiapkan diri karena ternyata tidak cepat selesai. Setelah selesai apakah jera, ya tentu saja tidak, malam berikutnya harus dikejar lagi untuk ibadah mumpung ada di sini. Capek pasti, tapi mental dan fisik harus disiapkan. Saat pulang ke hotel, suasana sangat ramai. Sempat membaca grup, ada jemaah yang terpisah dengan ibunya. Kami sempat cemas juga, tapi syukurlah ternyata ibunya hanya ke toilet. Saat sesampainya di hotel, kami menuju ke area makan. Ternyata waktu untuk makan selama Bulan Puasa hanya sampai jam 8 malam kalau tidak salah. Jadi saat kami datang sudah jam 10 lewat, makanan sudah habis. Saya jadi merasa bersalah dengan Ibunya Meta dan Bu Neti. Mau beli ayam dan Nuget yang ada di depan hotel ramai sekali. Tempatnya kalau siang tutup, tapi kalau malam ternyata ramai. Opsi lain jadi beli pop mi saja, Bu Neti dapat nasi dari suaminya, jadi saya membeli pop mi untuk saya dan Ibunya Meta. Saat saya dan Bu Neti sampai ke kamar, kamar sudah gelap dan kuncinya ditaruh di depan kamar oleh Nyai. Nyai dan Nek Ino sudah tidur nyenyak saat saya dan Bu Neti makan dalam diam dan gelap πŸ˜‚.

Menjelang jam 3 kami kembali bangun untuk bersiap-siap sahur dan setelahnya mendapat jadwal untuk ke Raudhah. Kali ini giliran ibu-ibu, sementara bapak-bapak jadwalnya berbeda. Karena Ustad Muthawif kami laki-laki, maka kami mendapat Ustazah baru, untuk menemani ke Raudhah. Selesai sahur dengan menu khas Indonesia kami menuju Masjid Nabawi. Kali ini Ustazah membimbing solat Subuhnya dekat area Raudhah saja. Sempat diusir-usir Askar juga karena salah tempat, tapi Alhamdulillah tetap bisa ikut solat Subuh berjamaah kemudian bersiap-siap antri untuk masuk Raudhah. Untuk urusan aplikasi Nusuk untuk masuk Raudhah, kami tidak perlu pusing karena semua sudah disiapkan. Antrinya lumayan lama, sempat melihat payung Masjid Nawabi terbuka sebelum kami masuk. Jika dulu dikasih air minum sebotol, kali ini mungkin karena bulan puasa jadi tidak dikasih, tapi kali ini kami dikasih plastik untuk menyimpan sendal.

Lauk sahur di hotel

Sudah siap menuju Raudhah


Ini adalah pengalaman kedua saya masuk ke Raudhah. Jika sebelumnya saya hanya sempat solat tahiyatul masjid dan taubat, maka kali ini saya juga ingin solat hajat. Seperti biasa, antusias jamaah untuk masuk Raudhah sangat besar. Tanpa banyak drama, kali ini jadwal kami benar dan dibimbing masuk ke Raudhah. Namun sayang sekali rombongan kami tidak bisa solat lebih maju karena sudah penuh. Kata Ustazah kita harus bersyukur sudah dapat tempat di sana, maka solatlah kami di sana, walau saya lebih ingin maju lagi di area tiang yang berbunga. Sajadah di Raudhah sangat wangi dan pasti bersih. Yang saya ingat, saya mencurahkan doa saya di sana sedapatnya dari waktu yang diberikan. Setelah selesai kami diarahkan keluar walau masih mencuri waktu masih berdoa saat melewati area depan, sebelum diusir askar. Askar malah harus marah saat ada yang bandel solat di jalan di samping mimbar. Yah kita memang niat beribadah, tapi peraturan tetap harus ditaati ya... Alhamdulillah setelah semua rombongan kami selesai, kami keluar dan sempat berfoto dengan Ustazah untuk kenang-kenangan.

Lanjut Part 3

Video youtube

Jika dulu saya selalu iri dengan orang-orang yang selalu jalan-jalan, maka saya selalu ingin punya waktu lebih untuk traveling. Kemudian belakangan ini, kerjaan saya membuat saya jadi sering jalan walaupun dalam rangka kerjaan dan bukan liburan. Saya sudah cukup senang, namun kadang-kadang ada rasa capek juga tentu saja. Untuk waktu libur yang memang jatahnya bisa liburan tanpa kerjaan, pasti masih saya manfaatkan sebaik-baiknya. Mau ada teman atau tidak, sepertinya saya sekarang sudah cukup berani. Tapi, tetap saja ada satu tujuan perjalanan yang selalu dirindukan mau berapa kali pun ke sana. Ya, jawaban anda benar, sebagai muslim pasti ingin mengunjungi tanah suci, di tengah kepenatan urusan duniawi. Saya sudah pernah umroh sekali pada Bulan November 2022 setelah jaman covid mereda. Sekarang Alhamdulillah mendapat kesempatan berangkat lagi Februari 2026 di saat yang sangat istimewa yaitu Bulan Puasa. Melaksanakan umroh saat bulan puasa pasti lebih berat, tapi saya yakin dengan tekad yang kuat pasti akan bisa menjalaninya. 


Travel umroh kali ini saya ambil dari Palembang. Saya sendirian, tapi tenang saja pasti akan banyak mendapat teman saat umroh nanti. Jika akhir tahun saya sudah sendirian ke Dubai, Istanbul dan Doha, maka kali ini saya juga berani untuk umroh sendirian. Paspor saya sudah ada additional name Bapak dan Kakek, jadi saya tidak perlu urus nama di paspor lagi. Untuk vaksin, sebulan sebelum berangkat saya sudah suntik vaksin meningitis dan polio. Pesawatnya menggunakan pesawat Lion yang akan berangkat langsung ke Jeddah dari Palembang tanpa transit lagi di Jakarta. Untuk urusan uang, berdasarkan pengalaman umroh saya sebelumnya, di Arab Saudi mereka mau menerima uang rupiah, tapi saya tetap menukar sedikit sebagai pegangan, sisanya akan saya ambil lewat ATM sesampainya di sana saja. Komunikasi internet, saya tetap setia dengan roaming telkomsel dan sudah disetting akan aktif saat tiba di sana. Pakaian gamis saya masih bisa dipakai lagi beberapa diantaranya ditambah dengan beberapa yang baru supaya agak sedikit kelihatan berbeda. Dari travelnya sudah mendapat paket dua buah koper besar dan kecil, mukena, tas kecil, syal, buku doa, jilbab hitam dan kain batik untuk dijahit. Karena sudah pernah umroh maka ada banyak persiapan penting berdasarkan pengalaman sebelumnya. Jangan lupa membawa kantong/tas sendal karena kita tidak tahu pintu mana saat keluar dari masjid dan belum tentu sama dengan pintu masuknya. Sholat tidak perlu pakai mukena, karena bajunya sudah panjang, tapi tetap disiapkan penutup tangan yang biasanya sepaket dengan baju umroh yang dibeli. 

Untuk keperluan bolak balik Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, saya berencana akan membawa tas kecil saja sementara tas tangan yang lebih besar akan ditinggal di hotel. Isi tas kecilnya nanti susunannya adalah penutup tangan, sajadah tipis, tas lipat untuk sendal, dompet, handphone, tisu, power bank, dan botol kecil untuk air zamzam. Saat packing koper besar dipenuhkan dengan pakaian yang sudah disusun per hari, sementara koper kecil agak kosong karena nanti akan diisi oleh-oleh 😁. Baju umroh saya bawa dua berwarna hitam dan putih, karena nanti akan ada 2 kali umroh. Umroh kali ini saya juga ingin Badal Ibu saya, karena dulu saat umroh pertama untuk Bapak. Beberapa waktu yang lalu kakak tertua saya sudah mengumrohkan Bapak, jadi kali ini saya untuk Ibu. 

Sebelum berangkat ada satu kali manasik di Hari Sabtu. Seperti biasa dijelaskan tata cara umroh dan keperluan-keperluan lainnya. Keberangkatan kali ini ternyata pesertanya juga ada Abah kyai pemilik travel dan istrinya, katanya nanti anaknya yang juga Ustad, akan bergabung sesampainya di sana, karena sedang berada di salah satu negara arab juga. Peserta yang lain sisanya kebanyakan orang tua. Luar biasa ya vibes nya, mungkin ada korelasinya karena dilaksanakan saat bulan puasa, jadi yang pergi lebih serius ingin beribadah. Bukan berarti yang muda tidak serius, tapi yang saya rasakan kali ini memang berbeda dibanding dengan saat umroh pertama kali dulu. Dari data yang bisa dilihat, peserta yang lebih muda dari saya hanya 3 orang, sisanya umurnya di atas saya. Jarang-jarang saya berkumpul dengan orang-orang yang lebih senior, biasanya saya yang senior πŸ˜€. Saat manasik juga saya berkenalan dengan Meta yang umurnya salah satunya dibawah saya, dia pergi bersama orang tuanya. Nah ini, sepertinya saya sudah menemukan teman yang bisa diajak jalan kalau saya ingin melipir atau mencari Al Baik misalnya... πŸ˜…. Untuk tour leader nanti ada 1 ustad yang ikut di rombongan kami dan seperti biasa langsung ada grup wa yang dibuat untuk memudahkan komunikasi. 

Minggu kedua Puasa 2026 di akhir Februari, kami berangkat. Dari Palembang ada beberapa tour travel yang akan sepesawat dengan rombongan kami. Sejak bandara Palembang kembali menjadi bandara Internasional, baru kali ini saya kembali naik pesawat ke luar Indonesia lewat Palembang. Saat ke Kuala Lumpur tahun lalu dan ke Turki bulan lalu, saya selalu lewat Jakarta. Sesampainya di bandara, sudah penuh dengan warna-warni baju batik para jamaah umroh. Setelah menyerahkan koper, kami mendapat lanyard umroh yang tidak boleh hilang, karena berisi data diri dan hotel tempat tinggal selama di Madinah dan Mekah. Hal ini juga sudah saya informasikan ke satu nenek yang berangkat sendirian dan dititipkan anaknya ke kami, bahwa kalung itu harus selalu dipakai. Saya ingat punya pengalaman bertemu kakek-kakek di Madinah yang tersesat terpisah dari rombongannya, ditolong Bapak Malaysia dan minta saya untuk menghubungi tour leader kakek tersebut. Selanjutnya kami juga diberi penanda koper lengkap dengan foto masing-masing, agar koper mudah dicari.

Sebelum berangkat, kami mendapat briefing dan juga berdoa bersama. Setelah urusan check in selesai, kami menuju ruang tunggu dan melewati imigrasi. Pesawat akan berangkat jam 1 siang, dan saya sudah tahu bahwa puasa hari ini akan dijalani lebih lama. Jadi jika biasanya puasanya selama 14 jam, maka hari ini akan bertambah 4 jam menjadi 18 jam. Perjalanan akan ditempuh selama kurang lebih 9 jam, nanti akan tiba di Jeddah kira-kira jam 6 lewat, dimana jam Arab Saudi lebih lambat 4 jam dari waktu Indonesia barat. Kesimpulannya, selama di pesawat yang seharusnya dapat dua kali makan, jadi akan lewat semua kecuali untuk yang tidak puasa. Perkiraannya pesawat akan mendarat, tepat saat waktu magrib untuk berbuka puasa di Jeddah.

Pesawat Lion yang saya naiki kali ini agak berbeda lay out nya, tapi tentu saja lebih besar dari pesawat dengan rute domestik. Konfigurasi kursinya 3 4 3, namun tidak ada in flight entertainment seperti di pesawat-pesawat besar lainnya. Jadi sebaiknya memang waktu dimanfaatkan untuk istirahat atau ibadah saja. Benar-benar pengalamana baru, tidak bisa makan dan tidak ada yang bisa ditonton selama 9 jam. Tapi ini tergantung niat kan, kalau memang berniat untuk umroh, saya rasa hal ini tidak masalah karena seharusnya sudah siap dari awal, dari fisik maupun mental. Makan pertama tetap ditawarkan kalau ada yang tidak puasa, tapi pramugari meminta maaf terlebih dahulu kepada yang berpuasa. Pramugari Lion Air seragamnya juga berbeda, bajunya lebih panjang dan memakai jilbab merah. Saya berusaha untuk tidur, kadang berhasil tapi lebih banyak tidak  berhasilnya. Semua jendela sudah ditutup dan para pramugari membantu untuk merebahkan kursi bagi jemaah agar bisa tidur. Sayup-sayup terdengar ada yang mengaji selain ada juga yang mengobrol. Suatu waktu pesawat lengang karena kebanyakan tidur, tapi di saat lainnya rame karena sudah banyak yang bangun dan lalu lalang. Entah kenapa, untuk kali ini saya tidak ingin ke toilet, saya sempat mendengar pramugari memberi tahu agar penumpang tidak membasahi lantai toilet. Saya berusaha untuk menahan pipis dan syukurlah berhasil, karena memang tidak minum saat puasa. 

Lima jam setelah terbang, ada pembicaraan menarik di sekitar saya. Tour leader di rombongan lain menjelaskan, kalau dari waktu Indonesia saat ini sudah bisa berbuka puasa namun waktu kami sebenarnya belum masuk berbuka. Bagi yang sudah tidak tahan, boleh membatalkan puasa, namun di lain hari harus diganti. Beberapa jemaah jadi memutuskan untuk berbuka saja, namun saya dan banyak jemaah lain memutuskan untuk meneruskan puasa. Saya pikir, saya nanti akan malas kalau mau mengganti di lain hari, kepalang sudah puasa hari ini jadi ditahan saja sekitar 4 jam lagi. Beberapa saat menjelang mendarat, pramugari kembali membagikan makanan dan minuman. Kali ini untuk semuanya dan diberi kantong untuk menyimpan makanan untuk dimakan nanti, karena memang masih puasa. Isinya ada roti, kerupuk udang, nasi beserta lauk, botol air minum dan minuman dalam gelas kertas. Saya menyesal kenapa meminta minum juga orange juice dalam gelas kertas, karena semua yang lain bisa disimpan kecuali itu, sementara sesuai aturan keselamatan pesawat saat akan mendarat, semua meja harus dilipat. Jadi.... repotlah orang-orang seperti saya memegang gelas tersebut di tengah proses pendaratan pesawat. Coba deh, kalau diingatkan sebelumnya kan saya tidak akan minta minum tersebut, dan lebih heboh lagi, sebelum mendarat... pramugari melakukan semprotan di kabin pesawat, sehingga tambah repotlah saya menutup gelas tersebut dengan tangan πŸ˜“. Duh, seharusnya ada aturan yang disesuaikan untuk pembagian makanan dan minuman saat puasa dengan waktu mendarat pas menjelang waktu berbuka seperti ini. Saya sempat melihat ada Bapak-bapak memasukkan minumannya ke kantong plastik yang membuat saya iri karena tidak punya kantong plastik juga πŸ˜…. Menjelang waktu mendarat, pilot memberitahu bahwa sudah waktunya berbuka dan disambut sorakan dari semua penumpang pesawat. Akhirnya saya minum dengan lega dan terbebas dari gelas kertas yang merepotkan itu πŸ˜”. Tak lama, pesawat Alhamdulillah mendarat dengan selamat, selamat datang di Arab Saudi kembali....

Makanan di pesawat menjelang berbuka puasa.


Selesai mendarat, belum sempat makan apapun. Dengan bis, langsung masuk terminal dan imigrasi serta ambil koper. Bandaranya kali ini berbeda dengan umroh pertama saya dulu. Jika pesawat Saudia mendarat di Bandara King Abul Aziz yang selayaknya bandara-bandara besar lainnya, maka bandara yang kami lewati ini seperti versi lebih sederhananya. Mungkin khusus jemaah haji, karena ada tempat berkelompok-kelompok untuk bersiap ganti pakaian, makan dan sholat berjemaah. Saya melihat jadwal kedatangan pesawat, setelah kami yang dari Indonesia ada yang dari Medan dan Surabaya dengan Lion. Beberapa kota lain dengan maskapai negara lain ada juga, tapi kota-kotanya banyak yang tidak saya kenal. Sepertinya Lion dan maskapai-maskapai yang ke bandara ini melayani rute dari kota yang bukan merupakan ibukota negara, jadi tidak perlu transit dulu, seperti kami yang bisa langsung dari Palembang tanpa lewat Jakarta dulu. Kalau menggunakaan pesawat Saudia, tentu saja rute nya pasti lewat Jakarta atau kota-kota besar lainnya. 

Makanan dari pesawat belum sempat dimakan, kami mendapat nasi lagi dari tour travel. Saya jadi bingung mau makan yang mana. Diberi kesempatan makan dan sholat dulu, sebelum naik bis malam ini ke Madinah. Jika umroh pertama saya dulu dari Mekah, maka pengalaman kali ini berbeda dengan ke Madinah dulu. Seperti biasa saat sudah sampai di Arab Saudi, selain tour leader kami mendapat pendamping ustad muthawif yang biasanya memang tinggal di Arab Saudi. Ustad muthawif lah yang nantinya akan membimbing selama pelaksanaan umroh. Ustad muthawif saya dulu sangat lincah, sampai buka order untuk beli kurma dan Al Baik, semoga kali ini juga... saya berharap.

Mendarat di Jeddah


Dapat nasi lagi untuk berbuka puasa


Perjalanan ke Madinah lumayan lama, di bis ustad muthawif menjelaskan berbagai hal dan juga memimpin doa. Saya duduk bersama Meta, dan setengah mendengar penjelasan yang disampaikan saat perjalanan ke Madinah karena tertidur. Saya baru terbangun, saat bis sudah hampir sampai ke Madinah dan terkena macet. Benar sekali kata teman saya yang berpengalaman umroh balik balik, saat saya belum berangkat. Di Arab Saudi kalau bulan puasa, siang seperti malam dan malam seperti siang. Kalau siang kan puasa, jadi banyak yang di rumah saja. Menjelang malam, jalanan justru ramai sekali. Tapi memang kan kalau di area Masjid Nabawi dan terutama di Masjidil Haram selalu ramai 24 jam. Jika dulu hotel saya di Madinah di area pintu 328, kali ini di samping Masjid Nawabi di belakang Masjid Abu Bakar As Siddiq di arah pintu 310 dan 311 yang kalau jalan lurus saja bisa menuju Raudah. 

Hotelnya di Sama Al Masi, benar-benar strategis. Jalan kaki ke Masjid Nabawi sangat dekat, tempat makan banyak dan tempat belanja di kiri kanan juga banyak 😁. Tapi ini sudah tengah malam, kami harus masuk ke kamar masing-masing untuk beberes dan istirahat sebentar, sebelum turun lagi jam 3 untuk sahur dan lanjut Subuh ke Masjid. Tidak sempat kalau mau tidur dulu, hanya sempat bongkar koper dan bergantian mandi. Tidurnya nanti saja, siang setelah kembali dari masjid. Kami mendapat kamar di lantai 8 dan harus ambil sendiri koper yang ada di lantai 7. Meta ada di kamar lain, saya sekamar dengan 3 ibu-ibu lainnya yang lebih tua dari saya. Jadi ceritanya saya bungsu dan paling melek teknologi juga di kamar itu hehe... Kalau ada masalah dengan hp mereka, saya langsung jadi teknisi dadakan. Saya juga jadi pusat informasi, karena dari kami berempat, hanya saya yang sudah pernah umroh sebelumnya. Tapi resikonya sebagai yang termuda, saya mengalah dapat giliran mandi terakhir. Di kamar saya ada ibu Neti dan 2 ibu yang merupakan besan yang saya panggil Nek Ino dan Nyai yang merupakan istilah panggilan nenek kalau di Sumatera Selatan. Banyak cerita lucu dari hubungan 2 ibu besan ini, Nek Ino lebih tua dan Nyai yang lebih muda. Nek Ino ibu dari anak laki-laki sementara Nyai adalah Ibu dari anak perempuan, dan mereka sudah punya 1 cucu dari pernikahan anak-anak mereka. Nyai suaminya tidak ikut umroh, sementara suami dari Nek Ino dan Bu Neti ada di kamar lain. Saya benar-benar terharu dengan cerita mereka, karena yang memberangkatkan mereka adalah anak-anak mereka. Bu Neti cerita kalau anaknya sudah umroh duluan dan sekarang memberangkatkan orang tuanya. Cerita seru pertama dengan ibu-ibu ini adalah saat giliran pertama mandi, Nyai sekalian mencuci baju di wastafel dan membuat kamar mandi jadi banjir πŸ˜…. Saya dan Bu Neti cuma senyum, tapi Nek Ino ngomel cukup panjang. Tapi walau begitu, nanti saat Nek Ino tersesat mau naik ke kamar habis belanja, Nyai juga lah yang direpotkan. Hubungan mereka ini seru sekali... seperti hate love relationship antar besan. Saya juga mau saja, misal punya anak dan berbesan dengan teman saya sehingga jadi akrab walau bisa juga berantem antar ibu-ibu... 😁.

Koper di lantai 7


Tempat tidur saya


Selesai beres-beres jam 3 kami turun untuk sahur. Tempat makan hotel ini terbagi dua, ada area jemaah Indonesia dan ada area jemaah dari India. Kami sudah diinfo kalau untuk arena India tidak boleh diambil makanannya, dan hanya bisa ambil di arena khusus Indonesia. Masalahnya tempat minum untuk jemaah Indonesia ada di sebelah meja makan jemaah India, sehingga untuk jemaah yang baru datang tidak tahu dan jadinya salah ambil, sebelum dikasih tahu petugasnya yang juga orang Indonesia. Menu makannya tentu Indonesia sekali, dan saya yakin nanti salah satu menunya di Madinah atau Mekah pasti ada ikan patinnya... πŸ˜€. Selesai sahur, kami menuju Masjid Nabawi. Rasanya mau nangis tercicip kembali ke sini, suasana menjelang subuh sangat ramai. 

Kalau mau dapat tempat di dalam, harus datang lebih cepat. Saya membawa botol minum kecil untuk mengambil air zamzam. Air zamzam di Masjid Nabawi ada di area dalam, kalau di area luar itu bukan air zamzam. Alhamdulillah kami mendapat tempat di dalam masjid, masih sempat minum karena belum waktunya azan. Azan menjelang Subuh ada 2 kali, jadi jangan sampai salah. Azan kedua baru kemudian pelaksanaan solat Shubuh dimulai. Di sebelah saya orang Indonesia dan sempat bercerita-cerita sedikit. Kemudian surprise dalam pesan dari Nabila saat dia melihat story saya. Nabila adalah yang menemani perjalanan saya saat di Istanbul bulan lalu, kebetulan saat ini dia juga ada di sini. Walau waktunya tidak pas, tapi kami sudah janjian untuk tetap saling kontak dan bertemu kalau sempat nanti.

Lanjut Part 2

Tahun baru tanggal 1 Januari 2026 saya ada di udara menuju Doha. Pesawat dari Istanbul berdurasi 5 jam dan sampai di Doha tengah malam, sama seperti saat baru sampai di Dubai dan Istanbul, saya juga akan tidur di bandara malam ini. Paspor Indonesia bebas visa untuk masuk Qatar, saya memang sengaja mencari penerbangan lanjutan yang lama sebelum ke Jakarta agar bisa expore Doha dulu. Saat ini kondisi saya sudah lebih baik, walau asam lambung saya masih mengganggu yang membuat saya susah makan di pesawat, paling tidak saya tidak mual lagi. Tapi muncul penyakit baru, saya batuk dan pilek sehingga suara saya jadi ikut serak akibatnya. Jadi sesampainya di Bandara Doha, jika di bandara Istanbul saya membeli obat mual, maka di bandara Doha saya jadi beli obat batuk yang merek nya Ivilyx. Jangan tanya harganya, karena sudah pasti mahal, luar biasa ya dalam 2 hari terpaksa beli obat di jalan. Tapi it's okay lah... yang penting sehat... ya kan.... 


Berbeda dengan di Bandara Dubai dan Istanbul yang saya terpaksa tidur di area landside, kali ini saya bisa tidur di area airside. Koper berat sudah diatur sampai Jakarta, jadi saya tidak perlu keluar imigrasi. Enaknya tidur di area airside, lebih banyak pilihan spot untuk tidur. Banyak terdapat reclining chair dan mushola. Saya memilih tidur di mushola agar lebih privat dan ternyata banyak orang yang memiliki pemikiran sama dengan saya, walau saat memasuki waktu subuh yang tidur diusir sama petugasnya. Sama seperti sebelumnya, demi keamanan, tas yang berisi dompet dan hp saya jadikan bantal untuk tidur. AC di mushola juga masih manusiawi tidak seperti AC di mushola Kuala Lumpur, jadi saya tidak perlu repot untuk mencari selimut. Untuk perjalanan kali ini di 3 negara, saya juga bersyukur karena semuanya negara mayoritas muslim. Makanan halal banyak dan yang paling membahagiakan selalu ada semprotan di toiletnya.

Sudah melihat Boneka Teddy ini, artinya anda sudah ada di Doha

Makan di pesawat

Bangun subuh, seperti di Dubai dan Istanbul saya tidak bisa mandi. Hanya gosok gisi, cuci muka, ganti baju dan dandan setelah solat subuh. Kalau ketemu tempat untuk mandi, tentu saja saya akan mandi. Tapi karena tidak ada, ya jadi mohon maaf... cuma bisa mengandalkan parfum jadinya... hahaha.... Jika saat di Dubai, saya sendirian menuju Burj Khlaifa, maka di Doha saya ikut tur dari Qatar Airways nama programnya adalah Discover Qatar. Syaratnya memiliki waktu transit lebih dari 6 jam, dan kita akan dibawa keliling Doha di area dekat bandara, selama 3 jam. Saya memilih waktu dari jam 8 sampai jam 11, kalau lebih dari 3 jam ada yang sampai desert safari. Untuk ikut program ini, harus berkumpul 1,5 jam sebelum waktunya, jadi saya jam 06.30 sudah harus siap sehingga tidak sempat sarapan. Kenapa berkumpulnya 1,5 sebelumnya, karena harus melewati imigrasi dan lain-lain. 

Lokasi berkumpul di Discover Qatar Tour Desk, di Duty Free Plaza South, di bawah eskalator di antara concourse A dan B. Atau cara mudahnya cari saja Boneka Teddy yang sangat terkenal di Bandara Doha, boneka yang sangat sering saya lihat di vlog orang-orang. Jalan lurus terus sampai ketemu 2 eskalator, sebelah kiri penukaran uang dan sebelah kanannya Discover Qatar Tour Desk. Eskalator ini juga merupakan eskalator turun jika masuk setelah melewati imigrasi. Peserta tur yang berkumpul cukup banyak, ada bule, ada yang dari Asia entah darimana dan beberapa rombongan keluarga Indonesia yang sepertinya habis umroh. Kan lumayan ya, transit lama di Doha sekalian bisa jalan-jalan. 

Setelah didata, kami mendapatkan seorang pemandu yang kemudian mengajak kami ke lantai atas untuk masuk imigrasi sebelum masuk ke Doha. Dia sudah menjelaskan ada 2 step yaitu imigrasi kemudian ke titik kumpul yang sekarang saya lupa namanya, intinya semacam tour desk juga tapi posisinya di luar. Karena ramai dan lift nya terbatas, rombongan kami sempat terpisah. Sedapat mungkin saya mencari dan mengenali muka-muka sesama peserta tur agar tidak ketinggalan, tapi saat di imigrasi akhirnya terpisah juga. Antrian di imigrasi seperti biasa selalu ramai, di paspor saya sudah diselipkan kertas yang sebelumnya diberikan di tour desk Discover Qatar. Saya yakin tidak akan disulitkan, karena mereka pasti sudah biasa melayani turis transit yang masuk ke Doha sebentar dalam Program Discover Qatar. Yang bikin bete selain lama antri adalah saya sempat pindah ke petugas imigrasi lainnya, karena petugas di depan saya entah kenapa langsung mengarahkan ke petugas lain. Jadi ketika saya selesai dari imigrasi saya tidak menemukan satu muka pun dari peserta tur yang sama dengan saya. Inisiatif, nanya ke petugas sambil menyebutkan tour desk Discover Qatar yang sudah diinformasikan pemandu sebelumnya. Ternyata tidak sulit, tinggal keluar dan sampailah saya untuk lapor kalau saya sudah selesai dari imigrasi. Kami diminta menunggu sampai jam 8 kurang 15 sebelum masuk ke bis. Saya duduk tak jauh dari peserta tur yang lain sambil ngemil makanan yang ada di tas saya.

Setelah waktunya tiba, saya dan semua peserta menuju bis. Tas pakaian ganti ditaruh di bagasi bis dan kami mendapat pemandu lain yang bernama Francesca dari Italia. Kami juga diberikan air minum dingin untuk selama perjalanan. Perjalanan dimulai, Francesca menjelaskan tempat-tempat yang kami lewati termasuk beberapa tempat yang pernah dipakai pada piala dunia 2022. Ada area pantai dengan gedung-gedung tinggi masih terdapat logo world cup di tengah-tengahnya. Juga melewati stadion 974 yang merupakan stadion piala dunia yang terbuat dari kontainer. Qatar ini memang sunggu negara kaya, gedung-gedungnya kebanyakan berseni. Jarang gedung yang dibuat cuma lurus saja. Pasti ada "sesuatu" nya, kalau bisa dibuat meliuk kenapa tidak, uangnya ada kan... πŸ˜‚ Di jalan juga saya melihat semacam acara apel pagi prajurit, tapi dilakukan di atas onta, sayang tidak bisa berhenti untuk foto-foto.

Kami akan berhenti di 3 tempat, yang pertama adalah Dhow Harbour. Ini adalah area di pinggir laut yang bisa melihat kapal-kapal di sana. Waktu yang diberikan tidak lama dan tripod dengan remote bluetooth saya memang benar-benar menjadi barang-barang yang berguna. Saya tidak perlu merepotkan orang lain untuk mengambil foto. Setting nya sesuai dengan yang saya mau, jadi tidak ada acara bete karena hasil foto yang diambil tidak sesuai keinginan. 

Di Dhow Harbour

Gedung-gedung di Doha 1...

Gedung-gedung di Doha 2...


Perhentian kedua adalah Kaltara Cultural Village. Ini semacam kawasan budaya dan seni yang diantaranya ada masjid, pigeon tower yang menaranya berbentuk seperti telur dan Katara Amphitheatre yang sepertinya stadion mini dengan warna dominan putih. Kalau mau menyimak pemandu menjelaskan objek-objek yang didatangi saya tidak punya cukup waktu untuk mengambil foto dan video. Setting kamera dan juga menunggu orang-orang sepi. Jadi saya lebih banyak memisahkan diri tapi tetap mengawasi di posisi Francesca supaya tidak ketinggalan. 

Di Kaltara Cultural Village


Katara Amphitheatre

Tempat terakhir yang kami datangi adalah Souq Waqif yang merupakan pasar tradisional. Tujuan saya cuma 2 yaitu berfoto dengan jempol besar dan mencari oleh-oleh gantungan kunci, magnet kulkas dan bel dinner untuk saya sendiri. Awalnya saya sempat kecewa karena pasar itu murni benar-benar pasar. maksud saya barang-barang yang dijual adalah kebutuhan orang lokal. Banyak bubuk-bubuk entah apa yang tidak saya ketahui fungsinya. Kami juga diajak mengunjungi toko tempat burung falcon. Ketika ada waktu saya bertanya ke Francesca dimana patung thumb yang saya cari dan dia menjelaskan dari tempat bis kami berhenti yang merupakan titik kumpul dekat gedung spiral, nanti jalan ke kiri. Syukurlah di sisa waktu, kami diberikan waktu bebas sebelum berkumpul lagi untuk pulang. Saya bergegas menuju tempat yang dimaksud Francesca, dan Alhamdulillah selain saya bisa berfoto dengan si jempol, saya juga menemukan banyak toko yang menjual souvenir turis. Ternyata di sana ada yang menjual gantungan kunci dan lain-lain karena memang merupakan sisi pasar tapi untuk turis dan lebih ramai. Banyak tempat makan yang juga berada di sana, tapi karena tidak ada waktu, saya bergegas kembali ke bis setelah semua yang saya cari ketemu.

Gedung spiral di depan Souq Waqif

Di Souq Waqif sebelah toko Burung Falcon


Patung jempol di Souq Waqif


Jam 11 kami kembali ke bandara dan berpamitan kepada Francesca. Air minum dari bis terpaksa ditinggal karena masuk bandara tidak boleh bawa air. Coklat Dubai saya yang dibeli di Dubai dan Istanbul hampir disita, tapi saya memohon jangan diambil karena itu untuk oleh-oleh. Kan sedikit juga ya, tidak akan djual. Setelah masuk lagi lewat imigrasi, saya langsung mencari makan. Ada foodcourt di dekat area Tour Desk Discover Qatar yang sudah saya lihat sebelumnya. Saya benar-benar lagi pengen nasi briyani dan syukurlah ada di sana. Ada macam-macam pilihan dan saya memilih lauk ayam. Saya minta kemasan take away, tapi sebagian saya makan di sana dan sebagian lagi saya makan nanti karena porsinya ternyata banyak sekali. Harganya? tentu saja mahal saudara-saudara. Saya menghabiskan 68 Riyal Qatar untuk makan siang. Untuk minum saya mengisi ulang botol dengan air minum yang banyak terdapat di sana. Di sana juga ada toko oleh-oleh yang harganya nauzubillah mahalnhya sesuai standar bandara. Saya membeli coklat Dubai lagi dan kurma dengan pembayaran menggunakan kartu kredit, karena uang tunai sudah menipis. Saya jadinya membeli 3 versi coklat Dubai untuk dibandingkan rasanya nanti. Coklat yang saya beli kali ini ada yang rasa mangga dan rasa lainnya.

Nasi briyani yang enak


Masih punya banyak waktu karena pesawat ke Jakarta jadwalnya malam, saya berjalan-jalan di bandara setelah sholat jamak Zuhur dan Ashar. Seperti Changi yang punya Jewel, maka di Bandara Hamad ini ada The Orchard. Taman dengan air terjun yang bisa menjadi tempat untuk rileks sambil menunggu jadwal terbang. Ada air mancur juga walau tidak sebesar di Changi. Posisinya ada di concourse paling ujung. Saya berharap gate saya nanti juga di C agar tidak terlalu jauh kalau jalan. Memang ada kereta menuju ke sana, tapi karena saya juga membawa tas pakaian plus oleh-oleh yang cukup berat, saya menggunakan luggage troley, saya malas harus meninggalkan troley itu dan nanti harus cari lagi. Jadi saya jalan kaki menelusuri concourse C yang panjang itu dengan mendorong troley. Untung ada banyak travelator, jadi kaki saya bisa terbantu untuk menghemat tenaga.

The Orchard Bandara Hamad Doha


Departure Board yang memberi tahu gate saya, baru menginformasikannya beberapa saat sebelum waktu boarding. Karena sudah capek, saya duduk saja sambil ngecas hp. Iseng menghabiskan uang riyal beli jus jeruk dan ternyata amit-amit mahal sekali. Sehari saya di Doha ini setara dengan saya seminggu di rumah sepertinya πŸ˜…. Alhamdulillah ternyata gate ke Jakarta tetap di concourse C tepatnya di C1, jadi saya tidak perlu jalan jauh lagi. Sambil menunggu, saya memakan nasi briyani lagi. Karena enak jadinya beli lagi, sisa yang tadi siang sudah habis dimakan di mushola. Di ruang tunggu sudah banyak orang Indonesia, saking lelahnya saya tertidur dan untung terbangun saat waktunya boarding. Saya termasuk yang terakhir masuk ke pesawat karena kursi saya di zona yang posisinya di depan. Awalnya saya duduk di 21C, tapi ada ibu dan suaminya mengajak tukaran. Jadi saya geser ke jendela 21A dan mereka duduk di tengah dan aisle seat. Alhamdulillah ya, rezeki anak soleh. Walau malam, tapi lumayan melihat pemandangan lampu-lampu gedung di Doha.

Saya sangat suka warna merah marun yang dominan di pesawat Qatar Airways. Karena perjalanan memakan waktu 8 jam, disediakan 2 kali makan. Jika di Emirates dan Saudia selain makan berat maka yang kedua adalah roti atau snack, maka kalau di Qatar Airways yang pertama makan berat yang kedua juga disajikan lengkap tapi bukan nasi. Kalau siang nafsu makan saya sudah kembali, nah malam ini saya kembali tidak nafsu makan. Demi bertahan hidup, obat yang saya beli di Istanbul jadi dimakan sebutir lagi agar saya bisa makan sedikit.

Makan pertama


Isinya nasi


Makan kedua


Isinya kentang, sosis dan telur

Menjelang subuh, pesawat memasuki wilayah Indonesia. Syukurlah ilmu saat saya umroh tahun 2023 dipakai lagi. Saya solat subuh di kursi pesawat setelah tayamum. Jika melihat layar di depan kursi, terlihat jelas rute pesawat yang gelap di belakangnya mulai berganti terang di depannya. Bumi seolah terpisah menjadi dua, gelap dan terang. Ini dibuktikan benar, saat saya melihat ke luar jendela dimana matahari mulai menampakkan dirinya. 

Pesawat mendarat di Jakarta jam 7 pagi. Saya sudah janjian dengan Desi yang kebetulan baru pulang umroh karena pesawat kami ke Palembang sama dan jadwalnya siang. Setelah saya sampai di Indonesia, Alhamdulillah saya benar-benar sehat. Saya sudah berani beli kopi dan minuman lainnya. Perut saya ini agak aneh, saya pernah mencret gara-gara beli kopi. Makanya selama traveling saya takut beli minuman asing, kecuali latte yang saya beli di Istanbul bersama Nabila dan Hafiz. Nah sekarang saya tidak peduli, mau mencret ya sudahlah, paling pesawatnya diundur πŸ˜‚. Yang penting lagi pengen minum manis untuk melegakan diri sendiri. 

Demikianlah kisah nekat saya solo traveling ke Istanbul dengan transit Dubai dan Doha. Perjalanan ini akan menambah memori dalam ingatan saya. Mungkin lain kali saya lebih berani solo traveling ke negara-negara lainnya yang bukan muslim. Jiwa traveling saya terus ingin mengunjungi tempat-tempat yang baru, namun teman-teman saya tidak selalu cocok waktunya dan mau dijadikan teman traveling. Jadi saya harus mengumpulkan keberanian dan uangnya tentu saja, untuk perjalanan berikutnya.

Video youtube

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...