Selesai sholat Subuh, sepertinya masih banyak yang ingin berdiam di Masjid Nabawi untuk solat Sunnah dan membaca Al Quran. Saya, Meta, Ibunya Meta dan Bu Neti pindah ke luar, sambil menunggu payung Masjid Nabawi terbuka. Sayang saya tidak jadi ketemu Nabila karena waktunya tidak tepat. Saya selalu suka dengan warna langit Nabawi menjelang matahari terbit. Warnanya ungu kemerahan dan sangat cantik. Tengah menikmati waktu di pelataran Masjid Nabawi, saya di wa Nyai dan Nek Ino yang terpisah dari kami untuk minta kunci kamar. Mereka sudah di hotel, sementara kunci kamarnya ada di saya. Kami hanya dikasih satu kunci kamar, dan sayang sekali tidak saya titip di resepsionis. Maka dengan berat hati saya merelakan pemandangan hari pertama di Madinah melihat payung Masjid Nabawi terbuka karena harus mengantar kunci... 😭. Saat saya balik lagi, payungnya sudah terbuka dan hari sudah terang. 


Setelah Subuh di Masjid Nabawi

Menunggu payung Masjid terbuka


Masjid Abu Bakar di depan Hotel

Umroh saat Bulan Ramadhan harus dimanfaatkan untuk beribadah, karena pahalanya berlipat-lipat. Alhamdulillah saat itu Hari Jum'at. Jika umroh pertama saya mendapatkan sholat Jum'at di Mekah, maka kali ini di Madinah. Selesai kegiatan Subuh kami kembali ke hotel dan tidur sebelum bersiap kembali ke Masjid untuk solat Jum'at. Selama umroh di Bulan Ramadhan ini, kami tidak dijanjikan city tour baik di Madinah maupun di Mekah nanti, karena suasana yang ramai dan tidak memungkinkan. Rasanya jumlah jemaah umroh berlipat-lipat saat Bulan Ramadhan ini. 

Sejam sebelum Azan Zuhur, kami sudah datang tapi tetap tidak mendapat tempat di dalam. Yah lumayan lah masih dapat tempat di area luar Masjid Nabawi. Sangat tidak panas, karena berada di bawah payung Masjid Nabawi dan banyak terdapat kipas blower. Saya sempat membuat insta story dengan tulisan "Solat Jum'at dulu biar cantik...." sebagai balasan para ikhwan yang sering mengklaim "Solat Jum'at biar ganteng" 😁. Seperti biasa ceramah dalam Bahasa Arab sama sekali tidak dimengerti, malah jadi tertukar kapan ceramah dan kapan doanya. Selesai solat Jumat, Para ibu-ibu ingin belanja oleh-oleh mumpung ada waktu. Dan tentu saja, waktu bubaran solat di Masjid Nabawi itu sama ramainya dengan kondisi pasar kalau menjelang lebaran. 

Mereka sudah dapat bocoran kalau belanja murah ada di area pintu 338. Heran deh, emak-emak kalau soal seperti ini jago bener. Jadi kami berjalan menembus keramaian menuju pintu 338. Karena puasa, jadi tidak perlu makan siang dan fokus akan belanja saja. Meta pakai acara tidak bawa uang, jadi dia mau uji nyali balik ke hotel dulu, sementara saya, Ibu Meta, Bu Neti dan Nek Ino menunggu di dekat pintu 338 area dalam. Di dekat kami, kembali ada cerita jemaah tersesat. Kali ini ada nenek yang terpisah dari anaknya, mereka dari Pakistan. Jadi ada Bapak-bapak Pakistan juga yang berbicara dengan nenek tersebut. Kemudian dia berbicara kepada kami, tepatnya saya karena hanya saya yang mengerti Bahasa Inggris. Katanya nenek itu punya catatan nomor telepon anaknya, si Bapak sudah menelpon anak si nenek dan bilang kalau ibunya ada di pintu 338, tapi si Bapak tidak bisa menunggu karena ada keperluan. Karena kami juga duduk menunggu di sana, saya tidak keberatan menyanggupi menjaga si nenek sampai anaknya datang. Setelah si Bapak pergi, Nek Ino ngajak bicara pakai Bahasa Indonesia, si nenek bicara apa pakai Bahasa Pakistan. Bicara yang tidak nyambung ini sangat tidak berguna, dan sulitnya adalah si nenek berkali-kali ingin pergi dan kami coba tahan. Karena kalau si nenek pergi, nanti tambah tersesat lagi sementara anaknya sedang menuju pintu 338. Saya berdoa agar anak si nenek cepat datang, karena semakin lama semakin sulit menahannya agar tidak berpindah tempat. Alhamdulillah si anak akhirnya datang juga. Tapi yang bikin agak kesal, saya sudah berusaha senyum dia sama sekali tidak menganggap kami dan langsung mengajak ibunya pergi. Ya okelah, mungkin dia tidak tau infonya kalau si Bapak sebelumnya menitip sang ibu dengan kami, yang penting mereka sudah ketemu dan legalah kami. Tak lama Meta datang sambil ngos-ngosan sambil cerita kalau perjalanannya sangat berat, sampai di hotel nunggu lift juga lama, karena orang pada bareng pulang solat jum'at. 

Lurus dari pintu 338, tak lama tempatnya ketemu yang katanya banyak serba 1 riyal itu. Para ibu-ibu mulai kalap berbelanja, termasuk saya. Namun sayang, beberapa benda yang saya cari tidak ada di sana. Sepertinya besok saya akan coba lagi, sendirian tidak apa karena repot kalau banyak yang ikut dan banyak kepentingan. Saking banyaknya bawaan dan pintu 338 jauh dari pintu 310 yang dari ujung ke ujung, para emak-emak berinisiatif patungan untuk naik taksi. Siapa yang ketempuhan tugas mencari dan bicara dengan sopir taksi, ya tentu saya karena Meta walau masih muda juga tidak bisa Bahasa Inggris. Saya juga tidak jago Bahasa Inggris, tapi cukuplah kalau sekedar nawar belanjaan dan keperluan lainnya selama saya suka traveling πŸ˜…. Singkat cerita, taksinya dapat untuk menuju hotel, dan ketika ditanya berapa ongkosnya dijawab 40, para emak-emak yakin bahwa 40 yang dimaksud adalah Rp 40.000,-. Jadi saya harus menjelaskan bahwa ongkos 40 nya harus dikali 4.000 dulu ke Riyal, dan bahwa taksi berbeda dengan penjual oleh-oleh di sana yang bisa Bahasa Indonesia dan menerima rupiah. Alhamdulillah dengan begini, akhirnya saya tercicip juga naik taksi di Arab Saudi. Kami selamat sampai di hotel dan para ibu-ibu langsung bongkar barang belanjaan dan saling membandingkan.

Saya sangat lelah, jadi memutuskan akan tidur saja. Karena Magrib akan pergi lagi untuk berbuka di Masjid Nabawi, saya merelakan solat Ashar di hotel saja. Kalau kata Ustad Muthawib, jika memang lelah solat siangnya di hotel saja, karena malam akan lebih banyak ke Masjid. Nek Ino masih penasaran dan turun lagi untuk belanja baju oleh-oleh di toko samping hotel. Saya juga sudah sempat melihat-lihat di sana dan sekarang benar-benar ingin istirahat, Nyai yang minta ditemani solat Ashar di Masjid dengar berat hati jadi ditolak. Ada cerita lucu saat Nek Ino mau pulang ke kamar, dia menelpon Nyai dan nanya apakah benar kami di lantai 8. tapi dari video kok beda tampilan lorongnya, Nek Ino sampai dibantu orang yang sedang lewat untuk mencari kamar kami, tapi setelah saya lihat lantai 8 nya sangat berbeda, ternyata Nek Ino salah hotel nyasar di sebelah. Jadi saya turun untuk menjemput Nek Ino kembali ke hotel kami. Dia memperlihatkan hasil belanjaannya yang terdiri dari baju untuk anak cucunya, Nyai ikut kepo ingin tahu oleh-oleh untuk anak dan cucunya πŸ˜…. Ketika Nek Ino sadar ada ukuran baju yang salah, saya sarankan lain kali saja kalau mau nukarnya, karena tokonya kan ada di samping. Saya takut Nek Ino punya ide untuk minta ditemani ke bawah lagi πŸ˜†.

Kira-kira Satu jam sebelum azan kami menuju ke Masjid Nabawi. Burung-burung di sekitar hotel benar-benar bikin salah fokus, sibuk foto sana sini, rombongan kami terpisah. Saya jadi tinggal bertiga dengan Bu Neti dan Ibunya Meta. Saking ramenya orang mau berbuka puasa di Masjid Nabawi, kami tidak kebagian tempat di dalam, dan sudah cukup beruntung mendapat tempat di luar masjid namun masih di bawah payung. Posisinya sudah hampir di pintu 328 yang jauh dari hotel kami, dan kami membentang sejadah di posisi paling ujung yang hanya tinggal itu pilihannya. Tapi untungnya karena posisi di pojok, jadi saat pembagian makanan, sup, teh dan lain-lain... kami dapat paling cepat. Untuk bingkisan iftar tentu saja kami juga dapat. Isinya ada air minum, bermacam-macam roti, yogurt, dan kurma. Di setiap bingkisan ada nomornya, mungkin ini kode yang memberi iftar nya. Saya benar-benar bahagia, jika selama ini saya hanya melihat di vlog orang-orang yang berbuka puasa di Arab Saudi dan mendapat bingkisan iftar, Alhamdulillah sekarang nasib saya tercicip juga. Makanannya sudah oke banget sebenarnya, tapi sepertinya bagi orang Indonesia masih tetap harus makan nasi habis ini 😁. 

Sambil menunggu waktu azan, Nyai wa Bu Neti. Ternyata tempat air minum Nek Ino dititip ke Bu Neti, dan mereka minta diantarkan karena nanti airnya untuk berbuka. Pengen nangis rasanya, ini artinya saya lagi yang harus jalan untuk mengantar botol tersebut, mana posisi mereka jauh dari kami. Saya sempat  bilang ke Bu Neti lain kali jangan mau dititipi apapun, yang kemudian saya sesali. Saya sudah setengah jalan dan ternyata tidak bisa lewat, karena waktunya sudah hampir berbuka dan pagar sudah dipasang Askar. Saat saya telpon kalau saya tidak bisa lewat, mereka bilang tidak apa karena sudah ada air minum lain....😭. Saya anggap ini sekalian olahraga bolak balik Masjid Nabawi. Saat kembali, saya dapat rezeki tambahan dikasih satu lagi bingkisan iftar dengan nomor berbeda. Alhamdulillah mungkin inilah jalan saya untuk mendapat tambahan makananπŸ˜ƒ. 

Iftar dari Masjid Nabawi


Bagaimana rasanya berbuka di Masjid Nabawi, sangat bahagia dan tidak dapat digambarkan. Dengan cuaca yang sejuk, berbuka puasa bersama umat muslim di seluruh dunia. Jika ada kesempatan lagi, tentu saja saya mau mengulang lagi momen tersebut. Selesai berbuka, sisa makanan dibereskan dengan plastik panjang. Setelah semua beres, baru solat magrib bisa dilaksanakan. Selesai solat Magrib, banyak orang yang beranjak dari tempatnya, mungkin kembali lagi ke hotel masing-masing. Saya mengajak Ibunya Meta dan Bu Neti untuk lanjut sampai Isya saja karena malas kalau mau kembali ke hotel lagi dan mereka setuju. Jadi kami pindah ke depan yang sudah banyak kosong untuk selanjutnya menunggu Isya sekaligus Tarawih. Sambil menunggu, bisa mengaji untuk mengisi waktu atau sekedar istirahat berbaring. Tak lama, tempat solat kembali terisi penuh untuk selanjutnya Solat Isya diikuti Tarawih. 

Solat Tarawihnya dilaksanakan 10 rakaat dengan 5 kali salam dan dilanjutnya 3 rakaat solat Witir. Dan sebagai informasi ayat yang dibaca 1 juz untuk 1 malam. Jadi siapkan kaki anda masing-masing. Awal-awal rakaat masih pada kuat, tapi menjelang akhir sudah mulai banyak yang tumbang. Sudah ada yang duduk dan hampir jatuh karena ngantuk. Menjelang selesai, saat masuk ke Witir saya lega mengenali ayat-ayat pendek yang dibaca Imam, tapi selanjutnya memasuki doa. Dan ternyata doanya juga panjang, jadi kembali harus menyiapkan diri karena ternyata tidak cepat selesai. Setelah selesai apakah jera, ya tentu saja tidak, malam berikutnya harus dikejar lagi untuk ibadah mumpung ada di sini. Capek pasti, tapi mental dan fisik harus disiapkan. Saat pulang ke hotel, suasana sangat ramai. Sempat membaca grup, ada jemaah yang terpisah dengan ibunya. Kami sempat cemas juga, tapi syukurlah ternyata ibunya hanya ke toilet. Saat sesampainya di hotel, kami menuju ke area makan. Ternyata waktu untuk makan selama Bulan Puasa hanya sampai jam 8 malam kalau tidak salah. Jadi saat kami datang sudah jam 10 lewat, makanan sudah habis. Saya jadi merasa bersalah dengan Ibunya Meta dan Bu Neti. Mau beli ayam dan Nuget yang ada di depan hotel ramai sekali. Tempatnya kalau siang tutup, tapi kalau malam ternyata ramai. Opsi lain jadi beli pop mi saja, Bu Neti dapat nasi dari suaminya, jadi saya membeli pop mi untuk saya dan Ibunya Meta. Saat saya dan Bu Neti sampai ke kamar, kamar sudah gelap dan kuncinya ditaruh di depan kamar oleh Nyai. Nyai dan Nek Ino sudah tidur nyenyak saat saya dan Bu Neti makan dalam diam dan gelap πŸ˜‚.

Menjelang jam 3 kami kembali bangun untuk bersiap-siap sahur dan setelahnya mendapat jadwal untuk ke Raudhah. Kali ini giliran ibu-ibu, sementara bapak-bapak jadwalnya berbeda. Karena Ustad Muthawif kami laki-laki, maka kami mendapat Ustazah baru, untuk menemani ke Raudhah. Selesai sahur dengan menu khas Indonesia kami menuju Masjid Nabawi. Kali ini Ustazah membimbing solat Subuhnya dekat area Raudhah saja. Sempat diusir-usir Askar juga karena salah tempat, tapi Alhamdulillah tetap bisa ikut solat Subuh berjamaah kemudian bersiap-siap antri untuk masuk Raudhah. Untuk urusan aplikasi Nusuk untuk masuk Raudhah, kami tidak perlu pusing karena semua sudah disiapkan. Antrinya lumayan lama, sempat melihat payung Masjid Nawabi terbuka sebelum kami masuk. Jika dulu dikasih air minum sebotol, kali ini mungkin karena bulan puasa jadi tidak dikasih, tapi kali ini kami dikasih plastik untuk menyimpan sendal.

Lauk sahur di hotel

Sudah siap menuju Raudhah


Ini adalah pengalaman kedua saya masuk ke Raudhah. Jika sebelumnya saya hanya sempat solat tahiyatul masjid dan taubat, maka kali ini saya juga ingin solat hajat. Seperti biasa, antusias jamaah untuk masuk Raudhah sangat besar. Tanpa banyak drama, kali ini jadwal kami benar dan dibimbing masuk ke Raudhah. Namun sayang sekali rombongan kami tidak bisa solat lebih maju karena sudah penuh. Kata Ustazah kita harus bersyukur sudah dapat tempat di sana, maka solatlah kami di sana, walau saya lebih ingin maju lagi di area tiang yang berbunga. Sajadah di Raudhah sangat wangi dan pasti bersih. Yang saya ingat, saya mencurahkan doa saya di sana sedapatnya dari waktu yang diberikan. Setelah selesai kami diarahkan keluar walau masih mencuri waktu masih berdoa saat melewati area depan, sebelum diusir askar. Askar malah harus marah saat ada yang bandel solat di jalan di samping mimbar. Yah kita memang niat beribadah, tapi peraturan tetap harus ditaati ya... Alhamdulillah setelah semua rombongan kami selesai, kami keluar dan sempat berfoto dengan Ustazah untuk kenang-kenangan.

Lanjut Part 3

Video youtube

Jika dulu saya selalu iri dengan orang-orang yang selalu jalan-jalan, maka saya selalu ingin punya waktu lebih untuk traveling. Kemudian belakangan ini, kerjaan saya membuat saya jadi sering jalan walaupun dalam rangka kerjaan dan bukan liburan. Saya sudah cukup senang, namun kadang-kadang ada rasa capek juga tentu saja. Untuk waktu libur yang memang jatahnya bisa liburan tanpa kerjaan, pasti masih saya manfaatkan sebaik-baiknya. Mau ada teman atau tidak, sepertinya saya sekarang sudah cukup berani. Tapi, tetap saja ada satu tujuan perjalanan yang selalu dirindukan mau berapa kali pun ke sana. Ya, jawaban anda benar, sebagai muslim pasti ingin mengunjungi tanah suci, di tengah kepenatan urusan duniawi. Saya sudah pernah umroh sekali pada Bulan November 2022 setelah jaman covid mereda. Sekarang Alhamdulillah mendapat kesempatan berangkat lagi Februari 2026 di saat yang sangat istimewa yaitu Bulan Puasa. Melaksanakan umroh saat bulan puasa pasti lebih berat, tapi saya yakin dengan tekad yang kuat pasti akan bisa menjalaninya. 


Travel umroh kali ini saya ambil dari Palembang. Saya sendirian, tapi tenang saja pasti akan banyak mendapat teman saat umroh nanti. Jika akhir tahun saya sudah sendirian ke Dubai, Istanbul dan Doha, maka kali ini saya juga berani untuk umroh sendirian. Paspor saya sudah ada additional name Bapak dan Kakek, jadi saya tidak perlu urus nama di paspor lagi. Untuk vaksin, sebulan sebelum berangkat saya sudah suntik vaksin meningitis dan polio. Pesawatnya menggunakan pesawat Lion yang akan berangkat langsung ke Jeddah dari Palembang tanpa transit lagi di Jakarta. Untuk urusan uang, berdasarkan pengalaman umroh saya sebelumnya, di Arab Saudi mereka mau menerima uang rupiah, tapi saya tetap menukar sedikit sebagai pegangan, sisanya akan saya ambil lewat ATM sesampainya di sana saja. Komunikasi internet, saya tetap setia dengan roaming telkomsel dan sudah disetting akan aktif saat tiba di sana. Pakaian gamis saya masih bisa dipakai lagi beberapa diantaranya ditambah dengan beberapa yang baru supaya agak sedikit kelihatan berbeda. Dari travelnya sudah mendapat paket dua buah koper besar dan kecil, mukena, tas kecil, syal, buku doa, jilbab hitam dan kain batik untuk dijahit. Karena sudah pernah umroh maka ada banyak persiapan penting berdasarkan pengalaman sebelumnya. Jangan lupa membawa kantong/tas sendal karena kita tidak tahu pintu mana saat keluar dari masjid dan belum tentu sama dengan pintu masuknya. Sholat tidak perlu pakai mukena, karena bajunya sudah panjang, tapi tetap disiapkan penutup tangan yang biasanya sepaket dengan baju umroh yang dibeli. 

Untuk keperluan bolak balik Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, saya berencana akan membawa tas kecil saja sementara tas tangan yang lebih besar akan ditinggal di hotel. Isi tas kecilnya nanti susunannya adalah penutup tangan, sajadah tipis, tas lipat untuk sendal, dompet, handphone, tisu, power bank, dan botol kecil untuk air zamzam. Saat packing koper besar dipenuhkan dengan pakaian yang sudah disusun per hari, sementara koper kecil agak kosong karena nanti akan diisi oleh-oleh 😁. Baju umroh saya bawa dua berwarna hitam dan putih, karena nanti akan ada 2 kali umroh. Umroh kali ini saya juga ingin Badal Ibu saya, karena dulu saat umroh pertama untuk Bapak. Beberapa waktu yang lalu kakak tertua saya sudah mengumrohkan Bapak, jadi kali ini saya untuk Ibu. 

Sebelum berangkat ada satu kali manasik di Hari Sabtu. Seperti biasa dijelaskan tata cara umroh dan keperluan-keperluan lainnya. Keberangkatan kali ini ternyata pesertanya juga ada Abah kyai pemilik travel dan istrinya, katanya nanti anaknya yang juga Ustad, akan bergabung sesampainya di sana, karena sedang berada di salah satu negara arab juga. Peserta yang lain sisanya kebanyakan orang tua. Luar biasa ya vibes nya, mungkin ada korelasinya karena dilaksanakan saat bulan puasa, jadi yang pergi lebih serius ingin beribadah. Bukan berarti yang muda tidak serius, tapi yang saya rasakan kali ini memang berbeda dibanding dengan saat umroh pertama kali dulu. Dari data yang bisa dilihat, peserta yang lebih muda dari saya hanya 3 orang, sisanya umurnya di atas saya. Jarang-jarang saya berkumpul dengan orang-orang yang lebih senior, biasanya saya yang senior πŸ˜€. Saat manasik juga saya berkenalan dengan Meta yang umurnya salah satunya dibawah saya, dia pergi bersama orang tuanya. Nah ini, sepertinya saya sudah menemukan teman yang bisa diajak jalan kalau saya ingin melipir atau mencari Al Baik misalnya... πŸ˜…. Untuk tour leader nanti ada 1 ustad yang ikut di rombongan kami dan seperti biasa langsung ada grup wa yang dibuat untuk memudahkan komunikasi. 

Minggu kedua Puasa 2026 di akhir Februari, kami berangkat. Dari Palembang ada beberapa tour travel yang akan sepesawat dengan rombongan kami. Sejak bandara Palembang kembali menjadi bandara Internasional, baru kali ini saya kembali naik pesawat ke luar Indonesia lewat Palembang. Saat ke Kuala Lumpur tahun lalu dan ke Turki bulan lalu, saya selalu lewat Jakarta. Sesampainya di bandara, sudah penuh dengan warna-warni baju batik para jamaah umroh. Setelah menyerahkan koper, kami mendapat lanyard umroh yang tidak boleh hilang, karena berisi data diri dan hotel tempat tinggal selama di Madinah dan Mekah. Hal ini juga sudah saya informasikan ke satu nenek yang berangkat sendirian dan dititipkan anaknya ke kami, bahwa kalung itu harus selalu dipakai. Saya ingat punya pengalaman bertemu kakek-kakek di Madinah yang tersesat terpisah dari rombongannya, ditolong Bapak Malaysia dan minta saya untuk menghubungi tour leader kakek tersebut. Selanjutnya kami juga diberi penanda koper lengkap dengan foto masing-masing, agar koper mudah dicari.

Sebelum berangkat, kami mendapat briefing dan juga berdoa bersama. Setelah urusan check in selesai, kami menuju ruang tunggu dan melewati imigrasi. Pesawat akan berangkat jam 1 siang, dan saya sudah tahu bahwa puasa hari ini akan dijalani lebih lama. Jadi jika biasanya puasanya selama 14 jam, maka hari ini akan bertambah 4 jam menjadi 18 jam. Perjalanan akan ditempuh selama kurang lebih 9 jam, nanti akan tiba di Jeddah kira-kira jam 6 lewat, dimana jam Arab Saudi lebih lambat 4 jam dari waktu Indonesia barat. Kesimpulannya, selama di pesawat yang seharusnya dapat dua kali makan, jadi akan lewat semua kecuali untuk yang tidak puasa. Perkiraannya pesawat akan mendarat, tepat saat waktu magrib untuk berbuka puasa di Jeddah.

Pesawat Lion yang saya naiki kali ini agak berbeda lay out nya, tapi tentu saja lebih besar dari pesawat dengan rute domestik. Konfigurasi kursinya 3 4 3, namun tidak ada in flight entertainment seperti di pesawat-pesawat besar lainnya. Jadi sebaiknya memang waktu dimanfaatkan untuk istirahat atau ibadah saja. Benar-benar pengalamana baru, tidak bisa makan dan tidak ada yang bisa ditonton selama 9 jam. Tapi ini tergantung niat kan, kalau memang berniat untuk umroh, saya rasa hal ini tidak masalah karena seharusnya sudah siap dari awal, dari fisik maupun mental. Makan pertama tetap ditawarkan kalau ada yang tidak puasa, tapi pramugari meminta maaf terlebih dahulu kepada yang berpuasa. Pramugari Lion Air seragamnya juga berbeda, bajunya lebih panjang dan memakai jilbab merah. Saya berusaha untuk tidur, kadang berhasil tapi lebih banyak tidak  berhasilnya. Semua jendela sudah ditutup dan para pramugari membantu untuk merebahkan kursi bagi jemaah agar bisa tidur. Sayup-sayup terdengar ada yang mengaji selain ada juga yang mengobrol. Suatu waktu pesawat lengang karena kebanyakan tidur, tapi di saat lainnya rame karena sudah banyak yang bangun dan lalu lalang. Entah kenapa, untuk kali ini saya tidak ingin ke toilet, saya sempat mendengar pramugari memberi tahu agar penumpang tidak membasahi lantai toilet. Saya berusaha untuk menahan pipis dan syukurlah berhasil, karena memang tidak minum saat puasa. 

Lima jam setelah terbang, ada pembicaraan menarik di sekitar saya. Tour leader di rombongan lain menjelaskan, kalau dari waktu Indonesia saat ini sudah bisa berbuka puasa namun waktu kami sebenarnya belum masuk berbuka. Bagi yang sudah tidak tahan, boleh membatalkan puasa, namun di lain hari harus diganti. Beberapa jemaah jadi memutuskan untuk berbuka saja, namun saya dan banyak jemaah lain memutuskan untuk meneruskan puasa. Saya pikir, saya nanti akan malas kalau mau mengganti di lain hari, kepalang sudah puasa hari ini jadi ditahan saja sekitar 4 jam lagi. Beberapa saat menjelang mendarat, pramugari kembali membagikan makanan dan minuman. Kali ini untuk semuanya dan diberi kantong untuk menyimpan makanan untuk dimakan nanti, karena memang masih puasa. Isinya ada roti, kerupuk udang, nasi beserta lauk, botol air minum dan minuman dalam gelas kertas. Saya menyesal kenapa meminta minum juga orange juice dalam gelas kertas, karena semua yang lain bisa disimpan kecuali itu, sementara sesuai aturan keselamatan pesawat saat akan mendarat, semua meja harus dilipat. Jadi.... repotlah orang-orang seperti saya memegang gelas tersebut di tengah proses pendaratan pesawat. Coba deh, kalau diingatkan sebelumnya kan saya tidak akan minta minum tersebut, dan lebih heboh lagi, sebelum mendarat... pramugari melakukan semprotan di kabin pesawat, sehingga tambah repotlah saya menutup gelas tersebut dengan tangan πŸ˜“. Duh, seharusnya ada aturan yang disesuaikan untuk pembagian makanan dan minuman saat puasa dengan waktu mendarat pas menjelang waktu berbuka seperti ini. Saya sempat melihat ada Bapak-bapak memasukkan minumannya ke kantong plastik yang membuat saya iri karena tidak punya kantong plastik juga πŸ˜…. Menjelang waktu mendarat, pilot memberitahu bahwa sudah waktunya berbuka dan disambut sorakan dari semua penumpang pesawat. Akhirnya saya minum dengan lega dan terbebas dari gelas kertas yang merepotkan itu πŸ˜”. Tak lama, pesawat Alhamdulillah mendarat dengan selamat, selamat datang di Arab Saudi kembali....

Makanan di pesawat menjelang berbuka puasa.


Selesai mendarat, belum sempat makan apapun. Dengan bis, langsung masuk terminal dan imigrasi serta ambil koper. Bandaranya kali ini berbeda dengan umroh pertama saya dulu. Jika pesawat Saudia mendarat di Bandara King Abul Aziz yang selayaknya bandara-bandara besar lainnya, maka bandara yang kami lewati ini seperti versi lebih sederhananya. Mungkin khusus jemaah haji, karena ada tempat berkelompok-kelompok untuk bersiap ganti pakaian, makan dan sholat berjemaah. Saya melihat jadwal kedatangan pesawat, setelah kami yang dari Indonesia ada yang dari Medan dan Surabaya dengan Lion. Beberapa kota lain dengan maskapai negara lain ada juga, tapi kota-kotanya banyak yang tidak saya kenal. Sepertinya Lion dan maskapai-maskapai yang ke bandara ini melayani rute dari kota yang bukan merupakan ibukota negara, jadi tidak perlu transit dulu, seperti kami yang bisa langsung dari Palembang tanpa lewat Jakarta dulu. Kalau menggunakaan pesawat Saudia, tentu saja rute nya pasti lewat Jakarta atau kota-kota besar lainnya. 

Makanan dari pesawat belum sempat dimakan, kami mendapat nasi lagi dari tour travel. Saya jadi bingung mau makan yang mana. Diberi kesempatan makan dan sholat dulu, sebelum naik bis malam ini ke Madinah. Jika umroh pertama saya dulu dari Mekah, maka pengalaman kali ini berbeda dengan ke Madinah dulu. Seperti biasa saat sudah sampai di Arab Saudi, selain tour leader kami mendapat pendamping ustad muthawif yang biasanya memang tinggal di Arab Saudi. Ustad muthawif lah yang nantinya akan membimbing selama pelaksanaan umroh. Ustad muthawif saya dulu sangat lincah, sampai buka order untuk beli kurma dan Al Baik, semoga kali ini juga... saya berharap.

Mendarat di Jeddah


Dapat nasi lagi untuk berbuka puasa


Perjalanan ke Madinah lumayan lama, di bis ustad muthawif menjelaskan berbagai hal dan juga memimpin doa. Saya duduk bersama Meta, dan setengah mendengar penjelasan yang disampaikan saat perjalanan ke Madinah karena tertidur. Saya baru terbangun, saat bis sudah hampir sampai ke Madinah dan terkena macet. Benar sekali kata teman saya yang berpengalaman umroh balik balik, saat saya belum berangkat. Di Arab Saudi kalau bulan puasa, siang seperti malam dan malam seperti siang. Kalau siang kan puasa, jadi banyak yang di rumah saja. Menjelang malam, jalanan justru ramai sekali. Tapi memang kan kalau di area Masjid Nabawi dan terutama di Masjidil Haram selalu ramai 24 jam. Jika dulu hotel saya di Madinah di area pintu 328, kali ini di samping Masjid Nawabi di belakang Masjid Abu Bakar As Siddiq di arah pintu 310 dan 311 yang kalau jalan lurus saja bisa menuju Raudah. 

Hotelnya di Sama Al Masi, benar-benar strategis. Jalan kaki ke Masjid Nabawi sangat dekat, tempat makan banyak dan tempat belanja di kiri kanan juga banyak 😁. Tapi ini sudah tengah malam, kami harus masuk ke kamar masing-masing untuk beberes dan istirahat sebentar, sebelum turun lagi jam 3 untuk sahur dan lanjut Subuh ke Masjid. Tidak sempat kalau mau tidur dulu, hanya sempat bongkar koper dan bergantian mandi. Tidurnya nanti saja, siang setelah kembali dari masjid. Kami mendapat kamar di lantai 8 dan harus ambil sendiri koper yang ada di lantai 7. Meta ada di kamar lain, saya sekamar dengan 3 ibu-ibu lainnya yang lebih tua dari saya. Jadi ceritanya saya bungsu dan paling melek teknologi juga di kamar itu hehe... Kalau ada masalah dengan hp mereka, saya langsung jadi teknisi dadakan. Saya juga jadi pusat informasi, karena dari kami berempat, hanya saya yang sudah pernah umroh sebelumnya. Tapi resikonya sebagai yang termuda, saya mengalah dapat giliran mandi terakhir. Di kamar saya ada ibu Neti dan 2 ibu yang merupakan besan yang saya panggil Nek Ino dan Nyai yang merupakan istilah panggilan nenek kalau di Sumatera Selatan. Banyak cerita lucu dari hubungan 2 ibu besan ini, Nek Ino lebih tua dan Nyai yang lebih muda. Nek Ino ibu dari anak laki-laki sementara Nyai adalah Ibu dari anak perempuan, dan mereka sudah punya 1 cucu dari pernikahan anak-anak mereka. Nyai suaminya tidak ikut umroh, sementara suami dari Nek Ino dan Bu Neti ada di kamar lain. Saya benar-benar terharu dengan cerita mereka, karena yang memberangkatkan mereka adalah anak-anak mereka. Bu Neti cerita kalau anaknya sudah umroh duluan dan sekarang memberangkatkan orang tuanya. Cerita seru pertama dengan ibu-ibu ini adalah saat giliran pertama mandi, Nyai sekalian mencuci baju di wastafel dan membuat kamar mandi jadi banjir πŸ˜…. Saya dan Bu Neti cuma senyum, tapi Nek Ino ngomel cukup panjang. Tapi walau begitu, nanti saat Nek Ino tersesat mau naik ke kamar habis belanja, Nyai juga lah yang direpotkan. Hubungan mereka ini seru sekali... seperti hate love relationship antar besan. Saya juga mau saja, misal punya anak dan berbesan dengan teman saya sehingga jadi akrab walau bisa juga berantem antar ibu-ibu... 😁.

Koper di lantai 7


Tempat tidur saya


Selesai beres-beres jam 3 kami turun untuk sahur. Tempat makan hotel ini terbagi dua, ada area jemaah Indonesia dan ada area jemaah dari India. Kami sudah diinfo kalau untuk arena India tidak boleh diambil makanannya, dan hanya bisa ambil di arena khusus Indonesia. Masalahnya tempat minum untuk jemaah Indonesia ada di sebelah meja makan jemaah India, sehingga untuk jemaah yang baru datang tidak tahu dan jadinya salah ambil, sebelum dikasih tahu petugasnya yang juga orang Indonesia. Menu makannya tentu Indonesia sekali, dan saya yakin nanti salah satu menunya di Madinah atau Mekah pasti ada ikan patinnya... πŸ˜€. Selesai sahur, kami menuju Masjid Nabawi. Rasanya mau nangis tercicip kembali ke sini, suasana menjelang subuh sangat ramai. 

Kalau mau dapat tempat di dalam, harus datang lebih cepat. Saya membawa botol minum kecil untuk mengambil air zamzam. Air zamzam di Masjid Nabawi ada di area dalam, kalau di area luar itu bukan air zamzam. Alhamdulillah kami mendapat tempat di dalam masjid, masih sempat minum karena belum waktunya azan. Azan menjelang Subuh ada 2 kali, jadi jangan sampai salah. Azan kedua baru kemudian pelaksanaan solat Shubuh dimulai. Di sebelah saya orang Indonesia dan sempat bercerita-cerita sedikit. Kemudian surprise dalam pesan dari Nabila saat dia melihat story saya. Nabila adalah yang menemani perjalanan saya saat di Istanbul bulan lalu, kebetulan saat ini dia juga ada di sini. Walau waktunya tidak pas, tapi kami sudah janjian untuk tetap saling kontak dan bertemu kalau sempat nanti.

Lanjut Part 2

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...