Setelah sahur, seperti biasa kami menuju ke Masjid Nabawi untuk sholat Subuh. Dan lagi-lagi tidak kebagian tempat di dalam, jadi sholatnya di area luar saja dekat Raudhah. Selesai sholat rencananya akan berkumpul dulu, dipimpin ustad Muthawif berdoa di dekat Kubah Hijau dan pamit ke Rasulullah Nabi Muhammad SAW sebelum kami berangkat ke Mekkah hari ini. Setelah sholat, pake acara mau pipis dulu, kali ini saya mencari toilet dengan Nek Ino. Sudah berapa kali ke sana saya masih tidak jelas dengan sistem toilet di Masjid Nabawi. Kenapa ya kok semua toilet di area depan Masjid Nabawi semuanya untuk laki-laki. Sambil menahan pipis, akhirnya setelah sampai di ujung setelah mendapat info kalau toilet untuk perempuan di bagian belakang dan harus turun dulu ke bawah. Karena kaki Nek Ino sakit, maka dia harus pakai toilet duduk, untung di sana ada walau sedikit. Jadi setelah Nek Ino masuk toilet, baru saya masuk ke toilet lain. Setelah selesai urusan toilet, kami bergabung dengan jemaah segrub untuk berdoa di dekat Kubah Hijau.

Perjalanan ke Mekah yang seharusnya pagi, molor menjadi siang karena masih menunggu bis. Dengan padatnya jemaah umroh saat Bulan Ramadhan, maka transportasi juga ikut terdampak. Rencananya kami akan umroh sebelum Sholat Tarawih dilaksanakan, tapi karena dari Madinah berangkatnya siang, maka umrohnya jadi akan dilaksanakan malam hari setelah Sholat Tarawih. Yah positifnya jadi saat pelaksanaan umroh jadi bisa minum karena dilaksanakan malam hari. Koper sudah dikumpulkan, jadi kami tidak bisa ganti baju lagi dan sudah memakai baju ihram. Ini harus benar-benar hati-hati agar tidak terkena najis. Selama belum berniat, masih bisa memakai sabun, tapi setelah berniat harus diingat baik-baik semua larangan dalam berihram. Setelah sholat Zuhur yang dilaksanakan di hotel saja, kami berangkat. Kali ini ustad anak Pak Kyai sudah datang dan bergabung dengan kami. 

Seperti biasa, jika dari Madinah maka mengambil Miqat nya di Masjid Bir Ali. Sesampainya di Masjid Bir Ali, sebenarnya bisa sholat di dalam. Namun karena ramai, kami dibolehkan sholat di luar karena di luar juga sudah disiapkan sajadah. Jadi, saya dan beberapa ibu-ibu lain memutuskan sholat di luar saja sementara jemaah lain tetap ada yang masuk ke Masjid. Kapan lagi ya kan sholat dengan pemandangan samping adalah bukit gurun pasir, masalahnya cuacanya lumayan panas. Jadi setelah sholat, langsung mencari tempat berteduh sambil menunggu jemaah yang lain. Setelah semua berkumpul, kami kembali ke bis dan berniat bersama-sama di dalam bis, dipimpin ustad Muthawif.

Miqat di Masjid Bir Ali

Saat berniat harus dalam keadaan berwudhu, namun jika ditengah-tengahnya batal tidak apa. Tapi nanti sebelum memulai Tawaf harus berwudhu lagi. Di perjalanan tentu saja jadi tertidur, karena perjalanannya lumayan lama dan dalam keadaan puasa. Di tengah perjalanan di rest area, kami berhenti bertepatan dengan waktunya Magrib sekalian membatalkan puasa. Benar-benar berbeda sekali rasanya sholat dan berbuka puasa ramai-ramai dengan hanya beralaskan tikar seadanya. Makannya pun cukup sederhana, yang penting cukup untuk mengganjal perut sebelum sampai nanti di Mekah. Pengalaman yang sulit untuk terulang kembali. Semoga saya mendapatkan rezeki dan nasib untuk bisa mengulang kembali pengalaman ini.

Berbuka puasa di rest area

Kami sampai di Mekah sudah malam dan tidak bisa langsung ke hotel karena terkena macet. Hal ini karena saat itu Sholat Tarawih masih berlangsung, dan area sekitar Masjidil Haram masih disteril untuk kendaraan. Setelah lama berada di bis keliling-keling tidak sampai-sampai sementara menara Tower Zamzam sudah kelihatan, akhirnya kami bisa mendekat ke hotel. Tapi, hanya orang-orangnya dan dilanjutkan dengan jalan kaki, sementara koper akan menyusul saat bisnya sudah mendapat jalan untuk menuju hotel. Hotel kami adalah Nada Ajyad, walau hotelnya sempit tapi saya sudah bersyukur karena untuk ke Masjidil Haram bisa berjalan kaki, tidak perlu naik bis. Pengalaman orang-orang ada yang dapat hotel jauh di Mekah. Alhamdulillah dua kali saya umroh, semua hotelnya dekat dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Setelah makan kami masih bisa beristirahat sebelum lewat tengah malam akan melaksanakan umroh. Hotelnya panjang dan memiliki sedikit lift dan cukup lama kalau ditunggu. Kadang saya nyerah dan naik turun tangga saja kalau sudah kelamaan menunggu. Koper akhirnya datang, dan bisa dibereskan sebelum berangkat umroh. Kali ini saya sekamar dengan Meta, Ibunya Meta dan Bu Neti. Nek Ino dan Nyai ada di kamar lain, tapi masih sering kontak-kontakan untuk mengajak makan dan hal-hal lainnya. Hotel di Mekah sama sempitnya seperti di Madinah, tapi saya tetap bersyukur. Saya berencana mencuci setelah umroh, berberes koper juga di atas kasur dan koper ditegakkan di pinggir supaya tidak makan tempat. Kadang kalau tidak kebagian meja makan, kami bawa ke kamar tetapi makannya di depan kamar sambil lesehan 😀. Lewat tengah malam, kami berkumpul setelah berwudhu untk melaksanakan umroh yang pertama. Anak ustad sudah siap kiri dan kanan menggandeng Ayah dan Ibunya, pemandangan yang membuat saya iri karena saya tidak kebagian nasib untuk bisa umroh bersama orang tua saya. 

Dalam perjalanan ke Masjidil Haram, masih ramai walau Tarawih sudah selesai. Di Mekah tidak ada yang namanya sepi, mau tengah malam sekalipun. Apalagi Bulan Ramadhan, manusia lalu lalang selama 24 jam dan dijaga polisi maupun askar. Inilah yang membuat saya berani, saya yakin bisa kalau mau sendirian bolak balik karena merasa aman. Selama perjalanan, seperti biasa dibimbing oleh Ustad Muthawif untuk bacaan-bacaannya. Memang sudah ada bukunya juga, tapi saya memutuskan akan mengikuti Ustad saja. Dari depan Tower Zamzam kami memasuki pintu King Abdul Aziz yang kalau lurus saja, dan turun 1 lantai langsung menuju Kabah. Sebelum masuk, melepas sendal dengan cepat dan memasukkannya ke tas yang sudah saya siapkan danmemakainya di belakang seperti ransel. Karena masih cukup, sendal Nek Ino juga masih bisa masuk. 

Alhamdulillah ya Allah, dengan izin Nya saya kembali melihat Kabah dan melaksanakan umroh. Rasanya lebih ramai dari saat saya datang 4 tahun yang lalu. Kami benar-benar berjalan berdekatan supaya tidak terpisah, dan mengikuti bacaan-bacaan Ustad Muthawif. Ini tengah malam, tapi rasanya tidak berbeda dengan waktu yang lain untuk ramainya. Setelah 7 kali putaran, kami lanjut sai dan melaksanakan bolak balik Safa Marwah juga 7 kali. Karena sedang tidak berpuasa, kami punya kesempatan di tengah-tengah perjalanan meminum air zamzam yang terdapat di sana. Setelah selesai sai dilanjutkan tahalul memotong sedikit rambut, maka selesailah rangkaian umroh kami. Waktu menunjukkan sekitar jam 3 pagi, kalau mau lanjut Subuh bisa, tapi karena kami harus Sahur dulu dan masih capek, maka untuk kesempatan hari pertama diputuskan Subuhnya di Hotel dulu. Niat awalnya pengen setiap waktu sholat di Masjid, namun ternyata harus dipilih agar ada waktu istirahatnya.

Suasana malam Ramadhan di Masjdil Haram

Alhamdulillah saya selesai Tawaf

Kembali ke hotel kami sahur dulu, kemudian istirahat. Tempat makannya sama seperti di Madinah, ada tempat khusus untuk Jemaah Indonesia dan ada yang lain untuk jemaah yang lain juga. Menunya kurang lebih sama dan pastinya masakan Indonesia. Saya menghindari banyak makan cabe, karena takut diare. Perut saya ini agak tidak kuat makan banyak cabe dan kopi yang tidak cocok. Kalau saya di rumah tidak apa, tapi kalau bukan di rumah saya harus menjaga diri. Sama juga seperti di Madinah, selama Bulan Ramadhan tidak ada city tour seperti dulu yang mengunjungi Jabal Rahmah dan tempat-tempat lain. Umrohnya kali ini untuk diri sendiri dulu, di waktu berikutnya direncanakan akan ada umroh lagi yang bisa badal untuk orang lain seperti untuk Ibu dan Bapak. Saya berdoa agar tetap sehat dan selamat di tengah-tengah konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah. 

Lanjut Part 5

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...