Hari Pertama di Mekkah secara resmi dimulai. Meski pada awalnya saya ingin sebanyak mungkin di Masjid, ternyata pada prakteknya tidak bisa. Malam memang fokus di Masjid, tapi siangnya benar-benar butuh waktu istirahat untuk tidur. Berbeda dengan umroh saya beberapa tahun lalu yang dilaksanakan bukan pada bulan Puasa, bisa bolak balik hotel masjid dengan segarnya. Setelaj sepagian istirahat, siangnya saya dan Meta keluar untuk mengurus beberapa hal. Pertama mencari ATM untuk Meta, sebelumnya mampir ke toko dulu untuk membeli sabun karena ternyata sabun saya hampir habis. Seharusnya saya membawa body wash dan hand wash terpisah supaya tidak kehabisan. Selanjutnya menuju ATM, ini arahnya dekat dengan Hotel saya saat umroh pertama kali dulu. Seperti biasa dapat pecahan besar. Saya tawarkan ke Meta untuk tukar ke saya nanti, karena saya akan membeli sesuatu di Mall di bawah Tower Zamzam. Untuk makanan, memang disediakan di hotel untuk sahur dan buka, tapi saya ingin jajan karena di depan hotel banyak makanan. Saya ingin beli nasi Briyani rencananya malam ini sepulang Tarawih. 

Saya mendapat beberapa titipan, mulai dari minyak wangi yang sudah saya beli di Madinah dan sekarang benda-benda lain yang harus dibeli di Mekah. Salep titipan kakak saya sudah dapat dari penjual yang banyak terdapat di pinggir jalan arah ke Masjidil Haram. Sekarang kami menuju Abraj Hypermarket di Mall depan Masjidil Haram untuk mencari titipan berikutnya. Keliling-keliling tujuh keliling, benda itu tidak ada di mana-mana. Akhirnya dengan berat hati saya mengabarkan kepada teman saya, kalau barang titipannya tidak ada. Lanjut melewati Sephora kami masuk untuk melihat-lihat dan saya akhirnya membeli benda maha penting bagi saya yaitu eye liner. Baru kali ini saya masuk Sephora dimana mbak-mbaknya menggunakan pakaian tertutup berwarna hitam dan cantik-cantik tentu saja. Saya sebenarnya masih ingin jalan lebih jauh lagi ke arah Carrefour dan mungkin kopi 1/2M tapi Meta ini beda dengan Desi yang sama hobi jalannya dengan saya. Setelah dari Sephora, dia sudah capek dan akhirnya kami kembali ke hotel. Saya sudah berniat, lain kali tidak apa saya sendirian kalau mau cari sesuatu lagi atau melakukan sesuatu, kalau memang tidak ada yang bisa menemani.

Di dekat Pintu King Abdul Aziz


Menuju Abraj Hypermarket


Titipan teman saya yang tidak ada di rak


Untuk berbuka hari ini kami laksanakan di hotel, selanjutnya baru akan Isya sekaligus Tarawih ke Masjidil Haram. Pilihannya ada 2, yaitu buka dulu di hotel baru Tarawih atau langsung buka dan Tarawih di Masjid tanpa balik ke hotel. Berbeda dengan di Madinah, jarak hotel dan Masjid agak jauh, jadi tidak bisa bolak balik. Memang sepanjang jalan, orang bisa sholat dimanapun, tapi kan kalau ada kesempatan maunya sholat di Masjidil Haram. Jadi setelah berbuka, saya, Bu Neti, Meta dan ibunya berangkat ke Masjidil Haram.

Menu berbuka


Yang terjadi adalah.... susah mencari tempat untuk sholat di dalam Masjidil Haram. Dari Magrib ke Isya orang-orang banyak yang masih stay, akibatnya tempat sholatnya sudah penuh. Keliling-keliling mencari tempat, dari lantai 1 sampai lantai 2 bikin capek, waktu juga sudah mau menjelang azan Isya. Karena saya yang sudah pernah umroh jadi diandalkan untuk mencari tempat. Benar-benar hampir bikin putus asa mencari tempat, mendengar teriakan askar dan lalu lalang di sela-sela orang yang tawaf di lantai 2. Setelah sekian lama berjalan berputar akhirnya ditemukan tempat yang juga sudah penuh, namun ternyata masih ada sedikit tempat kosong di ujung, paling pinggir dan tertutup tiang. Yah syukurlah, akhirnya dapat tempat juga untuk sholat Tarawih dan Isya. Masih bisa mengisi waktu dengan mengaji sebelum azan. Untuk sholat Tarawihnya, sama dengan di Madinah, 10 rakaat dan dilaksanakan masing-masing 2 rakaat dilanjutkan Witir 3 rakaat yang dipecah 2 dan 1 rakaat. Karena bacaan ayatnya 1 Juz 1 malam, maka Imamnya dibagi 2 untuk Tarawih dan Witir tersebut. Dan sama seperti di Madinah, siapkan kaki anda karena bacaan Imamnya pasti sangat panjang. Tapi tenang saja, dinikmati karena suara imam yang merdu jadi membuat tidak terasa dan waktu berlalu juga. Untuk witir, ayatnya pendek tapi doanya yang panjang, jadi jangan buru-buru mau sujud setelah rukuk.

Selesai Tarawih, untuk pulang saya mengarahkan kami untuk masuk ke area Kabah saja, kemudian pulang lewat Hajar Aswad menuju pintu King Abdul Aziz yang akan muncul di depan Tower Zamzam, karena cuma pintu itulah yang saya hapal. Kalau lewat pintu lain saya tidak tahu jalan pulang untuk menuju hotel. Suasana sangat ramai, bukannya menjadi sepi. Memang kebanyakan orang akan keluar dari Masjidil Haram setelah Tarawih, tapi yang masuk pun juga banyak. Setelah berhasil keluar di jalan menuju hotel, saya terpisah dengan yang lain jadi sekalian mampir untuk membeli kebab yang lagi pengan saya makan setelah kunjungan ke Turki beberapa waktu lalu. Beli kebabnya di dekat hotel, kebabnya versi nasi tapi, dilengkapi dengan ayam dan yang lainnya. Rasanya jangan ditanya lagi, pasti enak. Selain ini saya juga beli juz mangga karena haus dan saya anggap ini makan tengah malam, diantara buka dan sahur 😂.

Setelah Tarawih


Makanannya difoto setelah setengah dimakan, nasinya di bawah ayam

Saya sampai di kamar yang paling terakhir, memang kamar belum gelap. Tapi mereka jadi iri karena saya membeli juz mangga 😂, saya tawari ayamnya tidak ada yang mau karena kata mereka masih kenyang. Tapi emang sih ayamnya sangat banyak, butuh usaha bagi saya untuk menghabiskannya dan akibatnya makan sahurnya jadi dikurangi karena sudah kenyang sebelumnya.

Lanjut Part 6

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...