Saya sebenarnya juga memperhatikan cuaca untuk perjalanan kali ini. Berdasarkan perkiraan cuaca, di Istanbul hujannya kemarin dan hari ini tidak hujan. Berhubung kemarin sudah hujan, maka saya pikir hari ini akan beruntung cuaca terang walau di musim dingin, karena akan ke tempat wisata utama yaitu Hagia Sophia dan Blue Mosque. Ternyata perkiraan cuacanya salah saudara-saudara, kemarin sudah hujan, hari ini juga hujan malah lebih lebat 😅. Saya pernah ke Korea tahun 2023 dan perkiraan cuacanya tanggal 30 Desember akan turun salju di Seoul dan ternyata benar, jadi kesimpulannya perkiraan cuacanya tidak selalu benar tentu saja.
Sama seperti kemarin, jam 11 saya kembali bertemu Hafiz dan Nabila di stasiun Metro Taksim. Mereka sempat kaget betapa pintarnya saya berhasil menemukan mereka di stasiun tempat mereka duduk. Mereka baru sadar bahwa ternyata saya sebenarnya expert kalau soal membaca peta dan traveling, hanya malas saja kali ini karena ada pemandu, he he... Sama seperti kemarin, saya hanya tinggal mengikuti ke mana mereka pergi. Menuju ke Hagia Sophia saya benar-benar tidak hapal naik apa, turun di mana dan keluar exit berapa. Pokoknya setelah naik Metro, lanjut naik Tram di arena Sultanahmet yang sangat ramai. Sebelumnya saya direkomendasikan untuk membeli oleh-oleh mumpung ketemu tokonya. Manisan warna-warni, ada isi kacang dan bertabur gula halus yang belakangan baru saya ketahui namanya adalah Turkish Delight.
Tram menuju Hagia Sophia benar-benar ujian bagi kami, sudah ramai mau rebutan naik, makin ribet karena hujan dan menahan payung agar tidak diterbangkan angin. Tapi semuanya terbayar setelah melihat keindahan Hagia Sophia dan Blue Mosque yang berdekatan. Hafiz tidak sengaja ketemu dengan kenalannya, jadi saya dan Nabila duluan ke Blue Mosque. Dari sekian banyak kisah traveling saya, baru kali saya mendapat reward karena saya muslim. Masuk ke Blue Mosque tidak bisa sembarangan, tapi saya dan Nabila bisa masuk dengan mudahnya. Nabila banyak bertanya ke petugas supaya kami tidak salah masuk. Ada bule yang maksa masuk mendapat teguran keras "What's your problem!!" katanya, karena memang saat itu sudah mau masuk Zuhur, sehingga pengunjung sudah dibatasi.
Setelah kami berhasil masuk, sempat foto-foto dulu sebelum memang berniat mau ikut solat berjamaah sekalian di sana. Tapi ternyata tempat mengambil wudhunya di luar, jadi Nabila bertanya kembali ke petugas dan mendapat petunjuk akan ke arah mana untuk mengambil wudhu sekalian ke toilet. Dari pintu keluar, kami belok ke kiri. Tempat wudhu dan toilet di Blue Mosque sangat bersih dan nyaman. Setelah selesai, kami kembali masuk ke Masjid, walau sempat ditegur, untung Nabila berhasil meyakinkan petugas bahwa kami sebenarnya sudah masuk dan keluar karena mau wudhu.
Interior di dalam Blue Mosque benar-benar menakjubkan. Sesuai dengan yang saya bayangkan saat menontonya di vlog-vlog orang. Warnanya didominasi warna biru tentu saja, tapi sayang beberapa spot terlihat berbeda karena sedang ada perbaikan. Semakin mendekati waktu solat, pengunjung yang masih berada di dalam, terutama yang non muslim diarahkan untuk segera keluar. Kami sudah bersiap duduk ketika Hafiz menelpon. Untuk masuk ke Hagia Sophia seharusnya bayar dan harganya lumayan mahal. Namun ada caranya agar bisa masuk gratis untuk muslim, yaitu pada saat waktu solat. Itulah sebabnya Hafiz, meminta kami keluar dari Blue Mosque dan solat di Hagia Sophia saja. Okelah kalau begitu, kami bergegas keluat dan menuju Hagia Sophia yang untungnya dekat.
Namun kan bukan traveling saat high season namanya kalau semuanya mudah. Mau masuk ke Hagia Sophia untuk solat ini, kami harus masuk antrian yang tidak pendek. Jadi harus sabar, sambil berdoa semoga waktunya cukup sebelum waktu solat tiba. Alhamdulillah antriannya semakin maju, bule di belakang kami kena usir karena sudah jelas mereka bukan muslim. Saat masuk, harus melewati pintu metal detector dan mesin x-ray untuk barang bawaan. Tas saya dibongkar karena petugas penasaran dengan tongkat panjang saya yang sebenarnya adalah tripod stand yang dilipat. Setelah semua aman, terdengar azan dari Hagia Sophia dan Blue Mosque yang seperti bersahut-sahutan.
Alhamdulillah saya tercicip juga solat berjamaah Zuhur di Hagia Sophia. Kemudian saya lanjutkan untuk jamak Ashar setelah solat Zuhur. Sama seperti Blue Mosque, Hagia Sophia juga sedang mengalami perbaikan, baik di dalam maupun di luar. Tapi walau begitu, masih tetap kelihatan ciri khasnya. Dan karena masih ada di Turki, tentu saja ketemu lagi dengan mahluk bulu lucu nan sombong selama di Hagia Sophia. Kucing-kucingnya terawat dan lari saat dipanggi, mungkin saya harus bawa sogokan dulu baru dia mau didekati... 🙀😻
Interior Blue Mosque
.jpeg)

Di luar Hagia Sophia
.jpeg)
Setelah keluar, kami kembali kena hujan saat hendak mencari makan. Saya pernah berada di posisi musim dingin di Jepang dan Korea. Suatu saat suhu mencapai -19 derajat. Nafsu ngambil foto sudah tidak ada lagi karena tidak kuat menahan dingin, hidung sudah meler dan mimisan saking dinginnya. Tapi anehnya saya masih bisa bertahan di luar ruangan. Nah kali ini di Istanbul, suhu "hanya" 4 derajat tapi saya tidak kuat berlama-lama di luar ruangan, karena cuaca dingin bercampur air hujan itu ternyata lebih menyiksa daripada suhu minus tanpa hujan. Sarung tangan sudah basah, tidak bisa dipakai lagi, jadi semakin tersiksa saya dengan cuaca saat itu.
Sisi Asia Istanbul

Sunset dari ferry ke sisi Eropa Istanbul

Ini hari terakhir saya bersama Hafiz dan Nabila setelah 2 hari bersama mereka. Selanjutnya saya berencana explore Istanbul sendiri, Nabila juga akan berangkat Umroh besok. Setelah sampai di stasiun Metro Taksim, kami berpamitan dan saya berterima kasih karena sudah ditemani selama 2 hari ini. Sebelum pulang ke hotel, saya membeli makan malam dulu, seperti biasa kebab dengan nasi yang merupakan makanan terenak yang bisa saya makan menurut saya selama di sana.
Nasinya ngumpet di bawah ayam

Lanjut Part 4
.jpeg)
Di luar Blue Mosque
Kucing di Hagia Sophia

Di luar Hagia Sophia
.jpeg)
Setelah keluar, kami kembali kena hujan saat hendak mencari makan. Saya pernah berada di posisi musim dingin di Jepang dan Korea. Suatu saat suhu mencapai -19 derajat. Nafsu ngambil foto sudah tidak ada lagi karena tidak kuat menahan dingin, hidung sudah meler dan mimisan saking dinginnya. Tapi anehnya saya masih bisa bertahan di luar ruangan. Nah kali ini di Istanbul, suhu "hanya" 4 derajat tapi saya tidak kuat berlama-lama di luar ruangan, karena cuaca dingin bercampur air hujan itu ternyata lebih menyiksa daripada suhu minus tanpa hujan. Sarung tangan sudah basah, tidak bisa dipakai lagi, jadi semakin tersiksa saya dengan cuaca saat itu.
Untungnya tempat makan kami saat itu ada meja kosong di bagian dalam. Saya dan Nabila masuk ke dalam, sementara Hafiz makan dan mengobrol di luar dengan kenalannya yang terdiri dari beberapa orang. Mereka adalah mutawif dari NTB yang sedang ada urusan di Istanbul. Selanjutnya mereka akan bergabung dengan kami untuk naik ferry di selat Bosphorus. Untungnya di antara mereka ada yang jago foto, sehingga foto-foto kami selanjutnya jadi semakin keren. Untuk makan siang, saya makan bubur hangat dengan celupan roti dan kentang goreng. Mau cari nasi tidak ada, jadi makan yang ada saja. Kalau masih di Asia tentu mudah mencari nasi, karena ini sudah masuk Eropa orang-orangnya terbiasa makan roti. Nabila baik hati mentraktir Kunefe untuk dimakan bersama. Tapi saya jadi minta maaf kepada Nabila, karena tidak bisa makan banyak Kunefe tersebut karena manis sekali ðŸ˜.
Kunefe di Istanbul

Untuk menuju ke sisi Asia Istanbul kami ke pelabuhan ferrynya yang sisi Eropa dan saya tidak ingat namanya Kabatas atau apa gitu. Untuk sisi Asia rasanya namanya Uskudar. Jangan sampai salah pelabuhannya, karena tujuannya banyak dan berbeda-beda. Sebelum naik ferry, saya sempat beli oleh-oleh gantungan kunci dan magnet kulkas. Oleh-oleh standar yang murah dan tidak memberatkan koper. Belinya dibantu Hafiz ngomong Bahasa Turkinya untuk nawar supaya bisa beli banyak.

Untuk menuju ke sisi Asia Istanbul kami ke pelabuhan ferrynya yang sisi Eropa dan saya tidak ingat namanya Kabatas atau apa gitu. Untuk sisi Asia rasanya namanya Uskudar. Jangan sampai salah pelabuhannya, karena tujuannya banyak dan berbeda-beda. Sebelum naik ferry, saya sempat beli oleh-oleh gantungan kunci dan magnet kulkas. Oleh-oleh standar yang murah dan tidak memberatkan koper. Belinya dibantu Hafiz ngomong Bahasa Turkinya untuk nawar supaya bisa beli banyak.
Di ferry, saya hanya sebentar naik ke atas untuk foto-foto karena pemandangannya yang bagus. Seterusnya saya memilih duduk di dalam, karena tentu saja di atas sangat dingin. Ferrynya kecil karena hanya mengangkut orang, tidak sekaligus dengan kendaraan. Perjalanan di Ferry tidak lama, maka sampailah kami di sisi Asia Istanbul. Trus ngapain selama di sana? jawabannya adalah tidak ada, hahaha... Karena hari sudah sore, jadi duduk-duduk dan foto-foto saja. Kabarnya harga di sisi Asia lebih murah, tapi saya tidak sempat explore lebih jauh. Saya sempat menumpang pipis di toilet di Masjid dekat sana sebelum kemudian naik ferry lagi untuk pulang. Perjalanan pulang kali ini agak berbeda, suasanhya lebih keren karena banyak burung-burung beterbangan dengan latar belakang sunset yang mulai muncul.
Sisi Asia Istanbul

Sunset dari ferry ke sisi Eropa Istanbul

Ini hari terakhir saya bersama Hafiz dan Nabila setelah 2 hari bersama mereka. Selanjutnya saya berencana explore Istanbul sendiri, Nabila juga akan berangkat Umroh besok. Setelah sampai di stasiun Metro Taksim, kami berpamitan dan saya berterima kasih karena sudah ditemani selama 2 hari ini. Sebelum pulang ke hotel, saya membeli makan malam dulu, seperti biasa kebab dengan nasi yang merupakan makanan terenak yang bisa saya makan menurut saya selama di sana.
Nasinya ngumpet di bawah ayam

Lanjut Part 4
Video youtube

