Selesai sholat Subuh, sepertinya masih banyak yang ingin berdiam di Masjid Nabawi untuk solat Sunnah dan membaca Al Quran. Saya, Meta, Ibunya Meta dan Bu Neti pindah ke luar, sambil menunggu payung Masjid Nabawi terbuka. Sayang saya tidak jadi ketemu Nabila karena waktunya tidak tepat. Saya selalu suka dengan warna langit Nabawi menjelang matahari terbit. Warnanya ungu kemerahan dan sangat cantik. Tengah menikmati waktu di pelataran Masjid Nabawi, saya di wa Nyai dan Nek Ino yang terpisah dari kami untuk minta kunci kamar. Mereka sudah di hotel, sementara kunci kamarnya ada di saya. Kami hanya dikasih satu kunci kamar, dan sayang sekali tidak saya titip di resepsionis. Maka dengan berat hati saya merelakan pemandangan hari pertama di Madinah melihat payung Masjid Nabawi terbuka karena harus mengantar kunci... 😭. Saat saya balik lagi, payungnya sudah terbuka dan hari sudah terang. 


Setelah Subuh di Masjid Nabawi

Menunggu payung Masjid terbuka


Masjid Abu Bakar di depan Hotel

Umroh saat Bulan Ramadhan harus dimanfaatkan untuk beribadah, karena pahalanya berlipat-lipat. Alhamdulillah saat itu Hari Jum'at. Jika umroh pertama saya mendapatkan sholat Jum'at di Mekah, maka kali ini di Madinah. Selesai kegiatan Subuh kami kembali ke hotel dan tidur sebelum bersiap kembali ke Masjid untuk solat Jum'at. Selama umroh di Bulan Ramadhan ini, kami tidak dijanjikan city tour baik di Madinah maupun di Mekah nanti, karena suasana yang ramai dan tidak memungkinkan. Rasanya jumlah jemaah umroh berlipat-lipat saat Bulan Ramadhan ini. 

Sejam sebelum Azan Zuhur, kami sudah datang tapi tetap tidak mendapat tempat di dalam. Yah lumayan lah masih dapat tempat di area luar Masjid Nabawi. Sangat tidak panas, karena berada di bawah payung Masjid Nabawi dan banyak terdapat kipas blower. Saya sempat membuat insta story dengan tulisan "Solat Jum'at dulu biar cantik...." sebagai balasan para ikhwan yang sering mengklaim "Solat Jum'at biar ganteng" 😁. Seperti biasa ceramah dalam Bahasa Arab sama sekali tidak dimengerti, malah jadi tertukar kapan ceramah dan kapan doanya. Selesai solat Jumat, Para ibu-ibu ingin belanja oleh-oleh mumpung ada waktu. Dan tentu saja, waktu bubaran solat di Masjid Nabawi itu sama ramainya dengan kondisi pasar kalau menjelang lebaran. 

Mereka sudah dapat bocoran kalau belanja murah ada di area pintu 338. Heran deh, emak-emak kalau soal seperti ini jago bener. Jadi kami berjalan menembus keramaian menuju pintu 338. Karena puasa, jadi tidak perlu makan siang dan fokus akan belanja saja. Meta pakai acara tidak bawa uang, jadi dia mau uji nyali balik ke hotel dulu, sementara saya, Ibu Meta, Bu Neti dan Nek Ino menunggu di dekat pintu 338 area dalam. Di dekat kami, kembali ada cerita jemaah tersesat. Kali ini ada nenek yang terpisah dari anaknya, mereka dari Pakistan. Jadi ada Bapak-bapak Pakistan juga yang berbicara dengan nenek tersebut. Kemudian dia berbicara kepada kami, tepatnya saya karena hanya saya yang mengerti Bahasa Inggris. Katanya nenek itu punya catatan nomor telepon anaknya, si Bapak sudah menelpon anak si nenek dan bilang kalau ibunya ada di pintu 338, tapi si Bapak tidak bisa menunggu karena ada keperluan. Karena kami juga duduk menunggu di sana, saya tidak keberatan menyanggupi menjaga si nenek sampai anaknya datang. Setelah si Bapak pergi, Nek Ino ngajak bicara pakai Bahasa Indonesia, si nenek bicara apa pakai Bahasa Pakistan. Bicara yang tidak nyambung ini sangat tidak berguna, dan sulitnya adalah si nenek berkali-kali ingin pergi dan kami coba tahan. Karena kalau si nenek pergi, nanti tambah tersesat lagi sementara anaknya sedang menuju pintu 338. Saya berdoa agar anak si nenek cepat datang, karena semakin lama semakin sulit menahannya agar tidak berpindah tempat. Alhamdulillah si anak akhirnya datang juga. Tapi yang bikin agak kesal, saya sudah berusaha senyum dia sama sekali tidak menganggap kami dan langsung mengajak ibunya pergi. Ya okelah, mungkin dia tidak tau infonya kalau si Bapak sebelumnya menitip sang ibu dengan kami, yang penting mereka sudah ketemu dan legalah kami. Tak lama Meta datang sambil ngos-ngosan sambil cerita kalau perjalanannya sangat berat, sampai di hotel nunggu lift juga lama, karena orang pada bareng pulang solat jum'at. 

Lurus dari pintu 338, tak lama tempatnya ketemu yang katanya banyak serba 1 riyal itu. Para ibu-ibu mulai kalap berbelanja, termasuk saya. Namun sayang, beberapa benda yang saya cari tidak ada di sana. Sepertinya besok saya akan coba lagi, sendirian tidak apa karena repot kalau banyak yang ikut dan banyak kepentingan. Saking banyaknya bawaan dan pintu 338 jauh dari pintu 310 yang dari ujung ke ujung, para emak-emak berinisiatif patungan untuk naik taksi. Siapa yang ketempuhan tugas mencari dan bicara dengan sopir taksi, ya tentu saya karena Meta walau masih muda juga tidak bisa Bahasa Inggris. Saya juga tidak jago Bahasa Inggris, tapi cukuplah kalau sekedar nawar belanjaan dan keperluan lainnya selama saya suka traveling πŸ˜…. Singkat cerita, taksinya dapat untuk menuju hotel, dan ketika ditanya berapa ongkosnya dijawab 40, para emak-emak yakin bahwa 40 yang dimaksud adalah Rp 40.000,-. Jadi saya harus menjelaskan bahwa ongkos 40 nya harus dikali 4.000 dulu ke Riyal, dan bahwa taksi berbeda dengan penjual oleh-oleh di sana yang bisa Bahasa Indonesia dan menerima rupiah. Alhamdulillah dengan begini, akhirnya saya tercicip juga naik taksi di Arab Saudi. Kami selamat sampai di hotel dan para ibu-ibu langsung bongkar barang belanjaan dan saling membandingkan.

Saya sangat lelah, jadi memutuskan akan tidur saja. Karena Magrib akan pergi lagi untuk berbuka di Masjid Nabawi, saya merelakan solat Ashar di hotel saja. Kalau kata Ustad Muthawib, jika memang lelah solat siangnya di hotel saja, karena malam akan lebih banyak ke Masjid. Nek Ino masih penasaran dan turun lagi untuk belanja baju oleh-oleh di toko samping hotel. Saya juga sudah sempat melihat-lihat di sana dan sekarang benar-benar ingin istirahat, Nyai yang minta ditemani solat Ashar di Masjid dengar berat hati jadi ditolak. Ada cerita lucu saat Nek Ino mau pulang ke kamar, dia menelpon Nyai dan nanya apakah benar kami di lantai 8. tapi dari video kok beda tampilan lorongnya, Nek Ino sampai dibantu orang yang sedang lewat untuk mencari kamar kami, tapi setelah saya lihat lantai 8 nya sangat berbeda, ternyata Nek Ino salah hotel nyasar di sebelah. Jadi saya turun untuk menjemput Nek Ino kembali ke hotel kami. Dia memperlihatkan hasil belanjaannya yang terdiri dari baju untuk anak cucunya, Nyai ikut kepo ingin tahu oleh-oleh untuk anak dan cucunya πŸ˜…. Ketika Nek Ino sadar ada ukuran baju yang salah, saya sarankan lain kali saja kalau mau nukarnya, karena tokonya kan ada di samping. Saya takut Nek Ino punya ide untuk minta ditemani ke bawah lagi πŸ˜†.

Kira-kira Satu jam sebelum azan kami menuju ke Masjid Nabawi. Burung-burung di sekitar hotel benar-benar bikin salah fokus, sibuk foto sana sini, rombongan kami terpisah. Saya jadi tinggal bertiga dengan Bu Neti dan Ibunya Meta. Saking ramenya orang mau berbuka puasa di Masjid Nabawi, kami tidak kebagian tempat di dalam, dan sudah cukup beruntung mendapat tempat di luar masjid namun masih di bawah payung. Posisinya sudah hampir di pintu 328 yang jauh dari hotel kami, dan kami membentang sejadah di posisi paling ujung yang hanya tinggal itu pilihannya. Tapi untungnya karena posisi di pojok, jadi saat pembagian makanan, sup, teh dan lain-lain... kami dapat paling cepat. Untuk bingkisan iftar tentu saja kami juga dapat. Isinya ada air minum, bermacam-macam roti, yogurt, dan kurma. Di setiap bingkisan ada nomornya, mungkin ini kode yang memberi iftar nya. Saya benar-benar bahagia, jika selama ini saya hanya melihat di vlog orang-orang yang berbuka puasa di Arab Saudi dan mendapat bingkisan iftar, Alhamdulillah sekarang nasib saya tercicip juga. Makanannya sudah oke banget sebenarnya, tapi sepertinya bagi orang Indonesia masih tetap harus makan nasi habis ini 😁. 

Sambil menunggu waktu azan, Nyai wa Bu Neti. Ternyata tempat air minum Nek Ino dititip ke Bu Neti, dan mereka minta diantarkan karena nanti airnya untuk berbuka. Pengen nangis rasanya, ini artinya saya lagi yang harus jalan untuk mengantar botol tersebut, mana posisi mereka jauh dari kami. Saya sempat  bilang ke Bu Neti lain kali jangan mau dititipi apapun, yang kemudian saya sesali. Saya sudah setengah jalan dan ternyata tidak bisa lewat, karena waktunya sudah hampir berbuka dan pagar sudah dipasang Askar. Saat saya telpon kalau saya tidak bisa lewat, mereka bilang tidak apa karena sudah ada air minum lain....😭. Saya anggap ini sekalian olahraga bolak balik Masjid Nabawi. Saat kembali, saya dapat rezeki tambahan dikasih satu lagi bingkisan iftar dengan nomor berbeda. Alhamdulillah mungkin inilah jalan saya untuk mendapat tambahan makananπŸ˜ƒ. 

Iftar dari Masjid Nabawi


Bagaimana rasanya berbuka di Masjid Nabawi, sangat bahagia dan tidak dapat digambarkan. Dengan cuaca yang sejuk, berbuka puasa bersama umat muslim di seluruh dunia. Jika ada kesempatan lagi, tentu saja saya mau mengulang lagi momen tersebut. Selesai berbuka, sisa makanan dibereskan dengan plastik panjang. Setelah semua beres, baru solat magrib bisa dilaksanakan. Selesai solat Magrib, banyak orang yang beranjak dari tempatnya, mungkin kembali lagi ke hotel masing-masing. Saya mengajak Ibunya Meta dan Bu Neti untuk lanjut sampai Isya saja karena malas kalau mau kembali ke hotel lagi dan mereka setuju. Jadi kami pindah ke depan yang sudah banyak kosong untuk selanjutnya menunggu Isya sekaligus Tarawih. Sambil menunggu, bisa mengaji untuk mengisi waktu atau sekedar istirahat berbaring. Tak lama, tempat solat kembali terisi penuh untuk selanjutnya Solat Isya diikuti Tarawih. 

Solat Tarawihnya dilaksanakan 10 rakaat dengan 5 kali salam dan dilanjutnya 3 rakaat solat Witir. Dan sebagai informasi ayat yang dibaca 1 juz untuk 1 malam. Jadi siapkan kaki anda masing-masing. Awal-awal rakaat masih pada kuat, tapi menjelang akhir sudah mulai banyak yang tumbang. Sudah ada yang duduk dan hampir jatuh karena ngantuk. Menjelang selesai, saat masuk ke Witir saya lega mengenali ayat-ayat pendek yang dibaca Imam, tapi selanjutnya memasuki doa. Dan ternyata doanya juga panjang, jadi kembali harus menyiapkan diri karena ternyata tidak cepat selesai. Setelah selesai apakah jera, ya tentu saja tidak, malam berikutnya harus dikejar lagi untuk ibadah mumpung ada di sini. Capek pasti, tapi mental dan fisik harus disiapkan. Saat pulang ke hotel, suasana sangat ramai. Sempat membaca grup, ada jemaah yang terpisah dengan ibunya. Kami sempat cemas juga, tapi syukurlah ternyata ibunya hanya ke toilet. Saat sesampainya di hotel, kami menuju ke area makan. Ternyata waktu untuk makan selama Bulan Puasa hanya sampai jam 8 malam kalau tidak salah. Jadi saat kami datang sudah jam 10 lewat, makanan sudah habis. Saya jadi merasa bersalah dengan Ibunya Meta dan Bu Neti. Mau beli ayam dan Nuget yang ada di depan hotel ramai sekali. Tempatnya kalau siang tutup, tapi kalau malam ternyata ramai. Opsi lain jadi beli pop mi saja, Bu Neti dapat nasi dari suaminya, jadi saya membeli pop mi untuk saya dan Ibunya Meta. Saat saya dan Bu Neti sampai ke kamar, kamar sudah gelap dan kuncinya ditaruh di depan kamar oleh Nyai. Nyai dan Nek Ino sudah tidur nyenyak saat saya dan Bu Neti makan dalam diam dan gelap πŸ˜‚.

Menjelang jam 3 kami kembali bangun untuk bersiap-siap sahur dan setelahnya mendapat jadwal untuk ke Raudhah. Kali ini giliran ibu-ibu, sementara bapak-bapak jadwalnya berbeda. Karena Ustad Muthawif kami laki-laki, maka kami mendapat Ustazah baru, untuk menemani ke Raudhah. Selesai sahur dengan menu khas Indonesia kami menuju Masjid Nabawi. Kali ini Ustazah membimbing solat Subuhnya dekat area Raudhah saja. Sempat diusir-usir Askar juga karena salah tempat, tapi Alhamdulillah tetap bisa ikut solat Subuh berjamaah kemudian bersiap-siap antri untuk masuk Raudhah. Untuk urusan aplikasi Nusuk untuk masuk Raudhah, kami tidak perlu pusing karena semua sudah disiapkan. Antrinya lumayan lama, sempat melihat payung Masjid Nawabi terbuka sebelum kami masuk. Jika dulu dikasih air minum sebotol, kali ini mungkin karena bulan puasa jadi tidak dikasih, tapi kali ini kami dikasih plastik untuk menyimpan sendal.

Lauk sahur di hotel

Sudah siap menuju Raudhah


Ini adalah pengalaman kedua saya masuk ke Raudhah. Jika sebelumnya saya hanya sempat solat tahiyatul masjid dan taubat, maka kali ini saya juga ingin solat hajat. Seperti biasa, antusias jamaah untuk masuk Raudhah sangat besar. Tanpa banyak drama, kali ini jadwal kami benar dan dibimbing masuk ke Raudhah. Namun sayang sekali rombongan kami tidak bisa solat lebih maju karena sudah penuh. Kata Ustazah kita harus bersyukur sudah dapat tempat di sana, maka solatlah kami di sana, walau saya lebih ingin maju lagi di area tiang yang berbunga. Sajadah di Raudhah sangat wangi dan pasti bersih. Yang saya ingat, saya mencurahkan doa saya di sana sedapatnya dari waktu yang diberikan. Setelah selesai kami diarahkan keluar walau masih mencuri waktu masih berdoa saat melewati area depan, sebelum diusir askar. Askar malah harus marah saat ada yang bandel solat di jalan di samping mimbar. Yah kita memang niat beribadah, tapi peraturan tetap harus ditaati ya... Alhamdulillah setelah semua rombongan kami selesai, kami keluar dan sempat berfoto dengan Ustazah untuk kenang-kenangan.

Lanjut Part 3

0 comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...