Pesawat Emirates dari Dubai menuju Istanbul lamanya 5 jam dan mendapat satu kali makan. Saya sangat suka interior pesawat yang ini, karena ada ornamen kayu seperti di mejanya yang sangat keren. Makannya juga enak sekali, pilihannya ikan dan ayam. Saya memilih ayam, dan karena kehabisan saya rela menunggu untuk menunya dipanaskan kembali. Untuk foto polaroid, kali ini saya sudah tidak semangat lagi, karena sudah merasa lelah. Sampai di Istanbul tengah malam, saya menukar uang dolar dengan Lira. Sama seperti di Dubai saya akan menginap di bandara lagi. Dan sama seperti di Dubai, saya terpaksa menginap di area landside bukan airside karena harus keluar imigrasi dan ambil bagasi. Padahal jika dibandingkan, tentu saja menginap di area airside lebih enak karena lebih banyak area untuk tidur, banyak makanan dan lebih ramai. Tapi ya sudahlah saya jalani saja dengan percaya diri. Pilihan pertama untuk tidur adalah mushola, tapi ternyata mushola di area landside bandara Istanbul sangat sepi, kemudian kebetulan air wudhunya juga mati, jadi kalau mau wudhu harus ke toilet dulu. Ada satu toko yang menjual minuman di dekat sana, tapi sayangnya yang dijual bukan air putih, dari sekian banyak minuman, satupun tidak ada air putih, saya juga tidak mengerti toko apa itu. Akhirnya, saya menuju cafe dan membeli air miner seharga 60 Lira.
Saya sudah sangat lelah dan mengantuk. Walau sudah tidur sedikit di pesawat, tapi saya butuh tidur yang benar setelah malam sebelumnya juga tidur di pesawat menuju Dubai dan lanjut tidur di Bandara Dubai. Sementara pemesanan hotel saya baru berlaku tengah hari nanti. Saya sempat terpikir jika akan check ini sekarang saja, jika ada kamar kosong dan bayar untuk satu hari lagi, tapi mikir lagi karena saya takut naik taksi kena scam. Akhirnya setengah sadar saya mengikuti petunjuk hotel transit Yotel, walau kemungkinan pasti sudah penuh. Saking tidak pikir panjang, ternyata saya sudah keluar dari area bandara dan baru sadar kalau pakaian saya belum disesuaikan dengan musim dingin saat itu. Mau bongkar koper nyari coat sangat ribet jadi saya berniat masuk lagi dan kena cegat petugas. Saya tidak boleh masuk melalui pintu itu, karena itu pintu keluar. Tidak ada pengecualian walau saya yakin dia melihat, kalau saya baru saja keluar dan sekarang kedinginan untuk masuk lagi. Apa boleh buat, penderitaan saya dimulai, dengan menahan dingin saya mencari pintu lain untuk masuk. Begitu ketemu pintu masuk, semua proses masuk bandara harus diikuti, masuk security check dan lain-lain. Super repot dalam keadaan lelah ngangkat-ngangkat koper lagi.
Setelah berhasil masuk, saya duduk di bangku tunggu yang banyak terdapat di sana. Syukurlah kursinya walau ada pegangan, tapi dibuat dua-dua. Jadi saya bisa berbaring dengan tas sebagai bantal. Ini juga penting, tas berisi dompet, hp dan barang berharga saya jadikan bantal saat tidur agar aman. Sambil tidur ayam, saya sempat makan ayam Al Baik yang saya beli dari Dubai. Ada banyak orang yang juga tidur di sana juga, yang pasti sama seperti saya perhitungannya untuk menghemat hotel pasti. Sambil menunggu subuh, saya mendapat wa dari calon pemandu saya kalau dia mendadak tidak bisa memandu saya, karena ada urusan lain. Wow luar biasa,.... membatalkan kerjaan H-1 dan saya sudah di sana. Tapi kembali harus sabar, masih ada jalan lain. Saya akhirnya jadi mendapat pemandu langsung Hafiz dan Nabila, dan menurut saya ini malah lebih baik.

Makan di Emirates

Airport Istanbul
Setelah subuh, saya solat di mushola. Ada satu orang yang tidur di mushola ternyata dan kemudian ditegur oleh petugasnya. Setelah solat dan sedikit bersih-bersih saya masih menunggu hari benar-benar siang sebelum menuju Kota. Di musim dingin, matahari mulai muncul sekitar jam 9, saya masih menunggu sebentar lagi karena check ini hotel pasti di atas jam 12. Akhirnya setelah dirasa cukup, saya menuju ke lantai -2 untuk naik bis Havaist menuju area Taksim. Saya sudah mengecek dari Google maps, tempat turun bis di depan Point Hotel yang jaraknya tidak terlalu jauh dan bisa jalan kaki ke hotel saya di Aston Hotel Taksim. Saya mengisi saldo dulu untuk Istanbul Card dan kemudian mendapat tanda 72 untuk koper yang disimpan di bagasi bis, ongkosnya 355 TRY. Perjalanan menuju ke kota sekitar satu jam. Pemandangannya tentu saja sangat berbeda dan ini adalah pengalaman pertama bagi saya. Masjid-masjid di Istanbul memiliki 4 tiang tinggi di setiap sudut yang sangat khas. Sesampainya di hotel, sesuai dugaan saya belum bisa check ini. Setelah menitip koper saya jalan-jalan sedikit di area Taksim. Di sana ada satu tempat makan yang menunya menu Indonesia nama restorannya Imkonezya. Tapi untuk kali ini saya ingin makan kebab, namun saya belinya yang versi nasi. Menu inilah yang sering saya beli saat di Jepang dan Korea karena keterbatasan makanan halal dan sekarang saya beli di tempat asalnya. Penjual di restoran kebabnya mirip dengan salah satu pemain bola timnas Indonesia naturalisasi, dia memanggil saya mama dan saya panggil dia brother... π karena saya menolak tua sepertinya.... Menu yang saya pesan luar biasa banyak isinya. Ada nasi, ayam, kentang, bawang bombay, tomat, acar timun dan dapat roti prata lagi, harganya 430 ditambah minum. Di depan hotel ada toko kecil dan saya membeli cemilan. Di hotel tidak ada sarapan karena memang hotel kecil, saya membeli pop mi Indomie, roti dan tentu saja air mineral. Sekilas di hotel saya melihat ada dapur dan tempat makan, tapi saya malas untuk turun ke bawah jadi akan memanfaatkan pemasak air di kamar saja. Saya merasa senang karena perjalanan kali ini benar-benar gak pake ribet nyari makanan halal dan bebas makan apa saja. Tapi sebenarnya saya agak kurang cocok ternyata dengan jajanan di Turki karena kebanyakan rasanya sangat manis, sementara saya adalah tim asin. π
Setelah beberapa jam menunggu, saya akhirnya bisa masuk ke kamar. Kamarnya lumayan luas dan memiliki jendela, kemudian lengkap juga teh, kopi, di kamar mandi ada sabun dan sampo.
Tanda penitipan koper di bagasi bis
Kamar saya di Aston Hotel Taksim
Nasi kebab di Taksim
Setelah beres-beres sedikit dan mandi serta solat akhirnya saya bisa istirahat. Tidur sesukanya karena hari ini belum ada agenda jalannya. Saya tidur puas untuk membayar 2 malam saya yang tidurnya berantakan di pesawat dan bandara. Saking malasnya saya, makan malam saya tetap di kamar karena sudah beli dari siangnya. Sayang tv nya tidak bisa dihidupkan, jadi hiburan saya hanya dari hp dan untungnya sempat download drama korea Netflix sebelum sampai di Turki. Hotelnya oke, namun sura dari luar cukup terdengar. Di kamar sebelah, orang-orang bicara biasa seperti mau ngajak berantem, jadi saya harus terbiasa dan berusaha tidur saja.
Besoknya, jam 11 saya akan bertemu Hafiz dan Nabila di Stasiun Metro Taksim. Jaraknya sangat dekat dari hotel. Di tengah perjalanan saya melewati Taksim Square yang merupakan salah satu tempat wisata di Taksim. Tidak bisa lama-lama, karena selain dingin saya juga sudah telat. Bukti bahwa sudah ada di Turki adalah saat saya tiba di Stasiun Metro Taksim. Ada beberapa kucing di sana yang lucu-lucu dengan bulu yang tebal. Inilah yang paling saya suka dan kagumi dengan orang-orang di Turki. Mereka sangat menyayangi kucing dan memfasilitasi kucing-kucing jalanan dengan memberikan tempat dan makanan. Di sana juga saya melihat tempat makan kucing yang berisi makanan dan minuman. Satu lagi yang bikin kagum, tempat stasiunnya bersih dan tidak ada kotoran kucing. Ternyata Nabila dan Hafiz terlambat datangnya, karena ada acara di salah satu stasiun sehingga mereka harus menunggu. Saya tidak keberatan karena bisa bermain dengan beberapa kucing di sana yang lumayan sombong... πΎπ
Bulu mereka tebal-tebal dan ada tanda eartip yang menandakan bahwa mereka sudah steril.
Tempat makanan kucing di Stasiun Metro Taksim
Setelah bertemu dengan Nabila dan Hafiz, kami keluar dari Stasiun Metro taksim karena jadwal hari itu tidak naik Metro dulu. Mereka membawa saya ke sisi lain di area Taksim. Suatu jalan yang sangat ramai dan ada jalur tram merah. Kayaknya ini Myeongdong versi Turki, tapi street food nya tidak berada di tengah. Menurut saya street food di Istanbul hanya beberapa jenis saja. Kalau tidak Roti Simit, atau jual jagung bakar dan kacang chesnut. Jalannya lumaya jauh, tapi tidak terasa karena sibuk ngobrol dengan mereka. Sambil jalan, saya dijelaskan mengenai apa saja yang kami lewati dan beberapa tradisi di Turki. Karena saat ini saya pakai pemandu, jangan tanya saya jalan dan bagaimana cara ke suatu tempat karena saya tidak riset dan mencari tahu kali ini. Beda dengan perjalanan traveling saya yang lain, yang saya selalu menjadi guide. Kali ini saya hanya tinggal bawa diri dan menikmati liburan.
Jalanan di Taksim
Perjalanan berikutnya adalah menuju ke Eyup Sultan. Menuju ke sana kami melewati Eminonu dan beberapa kali ganti moda transportasi yang saya tidak tahu sebutannya. Ada yang kereta dan bis dengan berbagai nama dan jenis. Eminonu merupakan tempat dimana kita bisa melihat laut yang membelah Turki menjadi 2 menjadi sisi Eropa dan Asia. Kata Hafiz, Selat Bosporus ini milik internasional bukan punya Turki, tapi harus tetap izin untuk melewatinya.
Di Eminonu
.jpeg)
Sesampainya di area Eyup Sultan, kami makan dulu sebelum naik cable car ke atas. Makannya kembali nasi kebab diantara guyuran air hujan yang membuat cuaca semakin dingin. Untuk mengejar supaya tidak kemalaman, kami antri untuk naik cable car. Lagi-lagi kami ketemu kucing-kucing lucu, sebagai cat lover saya ingin bermain-main dengan mereka, tapi antriannya semakin maju. Untuk naik cable car ini, tetap menggunakan Istanbul Card. Intinya untuk menuju ke semua tempat menggunakan Istanbul Card untuk transportasinya. Cable car nya kecil, ada 2 unit dengan masing-masing unit berisi 8 orang. Di atas kita bisa melihat pemandangan Istanbul lebih jelas dengan Selat Bosporusnya. Selain itu juga da cafe yang kalau pada high season bisa harus war dulu saking ramenya. Kali ini kami beruntung, mendapat tempat untuk sekedar minum kopi dan berbincang-bincang menghilangkan capek.
Di Cafe atas Eyup Sultan

Latte yang saya pesan

Pemandangan dari cafe

Kami turun untuk sholat ke Masjid setelah turun, kembali menggunakan cable car. Masjidnya besar dan ramai. Dan lagi-lagi kami banyak ketemu kucing yang membuat saya sangat bahagia di sana. Selesai solat, hari sudah gelap dan mereka mengantar saya dulu ke Taksim sebelum pulang masing-masing dengan Metro. Pulangnya naik apa, lagi-lagi jangan tanya saya, karena saya tidak tahu rute, yang jelas terakhir naik bis dan muncul di under pass di bawah Taksim Square.
Di Masjid Eyup Sultan

Sebelum ke hotel saya mampir dulu untuk membeli makan malam di Imkonezya. Karena saya kurang cocok dengan makanan lain selain nasi kebab, jadi saya kembali ke selera asal dengan membeli makanan Indonesia. Saya memang membeli baklava, tapi hanya bisa menghabiskan 1 saja karena terlalu manis. Kemudian saya juga mampir ke toko di depan hotel untuk membeli jajanan dan minum.

Latte yang saya pesan

Pemandangan dari cafe

Kami turun untuk sholat ke Masjid setelah turun, kembali menggunakan cable car. Masjidnya besar dan ramai. Dan lagi-lagi kami banyak ketemu kucing yang membuat saya sangat bahagia di sana. Selesai solat, hari sudah gelap dan mereka mengantar saya dulu ke Taksim sebelum pulang masing-masing dengan Metro. Pulangnya naik apa, lagi-lagi jangan tanya saya, karena saya tidak tahu rute, yang jelas terakhir naik bis dan muncul di under pass di bawah Taksim Square.
Di Masjid Eyup Sultan

Sebelum ke hotel saya mampir dulu untuk membeli makan malam di Imkonezya. Karena saya kurang cocok dengan makanan lain selain nasi kebab, jadi saya kembali ke selera asal dengan membeli makanan Indonesia. Saya memang membeli baklava, tapi hanya bisa menghabiskan 1 saja karena terlalu manis. Kemudian saya juga mampir ke toko di depan hotel untuk membeli jajanan dan minum.
Lanjut Part 3
Video youtube







