Jika pengalaman saya sebelumnya Miqat diambil sambil city tour sekitar Mekah, maka kali ini tujuan Miqat nya tidak disambil kan karena tidak ada city tour. Dulu kami mengambil miqat di Masjid Ji'ronah dan sekarang akan mengambil miqat di Masjid Aisyah. Kami berangkat pagi-pagi dan tetap mendapati masjid Aisyah yang dipadati jemaah umroh yang akan mengambil miqat. Setelah berwudhu dan sholat sunah 2 rakaat, kami dibimbing ustad Muthawif untuk berniat umroh. Kami diberi 2 pilihan, akan umroh untuk diri sendiri dalam rangka menyempurnakan umroh pertama, atau akan dibadalkan ke orang lain. Saya berniat badal umroh untuk Ibu saya dan berniat mengikuti Ustad Muthawif. Setelah semua selesai berniat, kami kembali ke bis dan berangkat menuju Masjidil Haram.

Mengambil Miqat di Masjid Aisyah


Bersama para ibu-ibu


Pelaksaan umroh kedua ini dilaksanakan siang hari, jadi tidak bisa minum di sela-sela umroh seperti saat pelaksanaan umroh pertama. Mau siang maupun malam, suasana Masjidil Haram sama saja ramainya. Setelah tawaf 7 putaran, dilanjutkan sai 7 kali bolak balik Safa ke Marwah. Setelah semua rangkaian umroh dilaksanakan terakhir tahalul dengan memotong rambut sedikit. Setelah benar-benar selesai umroh pilihannya mau lanjut tetap di Masjidil Haram atau pulang istirahat. Kebanyakan jemaah pulang, tapi Meta mengajak saya untuk mencoba memegang Kabah mengikuti Ustad Muthawif. Saya ingin sebenarnya, tapi masih ragu-ragu. Saya baru sekali memegang Kabah saat umroh 2022, dan keinginan saya yang paling diinginkan saat itu malah tidak terucap dan terganti dengan keinginan lain yang ternyata top of mind saya dan ternyata Alhamdulillah sudah dikabulkan sekarang. Sekarang saya mencoba berani, dan bersiap mengucapkan doa keinginan saya yang sempat tertunda waktu itu. 

Kali ini tidak mudah, saat itu sudah mau masuk waktu Zuhur. Orang-orang sudah membuat barisan, saya dan Meta nekat menerobos masuk dan Alhamdulillah saya berhasil memegang Kabah dan mengucapkan keinginan saya. Setelah itu saya akan keluar dari kerumunan orang-orang, tapi Meta masih ingin memegang Hajar Aswad, saya yang tidak siap akhirnya terpisah dari Meta dan menjauh. Kabarnya Meta tidak berhasil karena waktu Zuhur memang sudah dekat dan dia dimarahi Askar. Karena sudah kepalang terpisah, saya akhirnya mencari tempat untuk sholat Zuhur. Alhamdulillah dapat tepat di depan Kabah, walau panas sekali dan rasanya matahari tepat di atas kepala. Saya bertahan tidak mau pindah ke dalam, karena baru kali ini saya bisa sholat di depan Kabah tanpa penghalang. Panas dan puasa saya yakin bisa bertahan. Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil ikut sholat Zuhur berjamaah di Masjidil Haram hari itu. Pulang ke hotel, baru bisa bersih-bersih dan istirahat.

Selesai umroh kedua


Sebenarnya Nabila mengirimi saya pesan hari itu, kalau ada waktu malamnya dia mengajak bertemu, jadi saya iyakan. Tapi saya sangat menyesal malam itu, karena alasan capek dan lainnya jadi saya tidak ikut tarawih. Padahal kan mumpung sudah ada di sana. Saat sholat tarawih masih berlangsung, saya keluar untuk mencari jajanan, masih sempat melihat orang-orang melaksanakan Tarawaih di mana-mana. Suara Imam Masjidil Haram terdengar dengan jelas, orang sholat di jalan bahkan ada yang di depan resepsionis hotel. Saya melihat banyak penjaga keamanan yang menjaga saat orang-orang sholat Tarawih. Seharusnya tidak ada alasan capek dan lain-lain, karena saya pun seharusnya bisa sholat di depan hotel. 

Selesai orang sholat tarawih, saya keluar membeli makanan dan juga jus mangga. Janji ketemu Nabila batal, karena dia ketiduran kecapekan katanya. Setelah tidak ada lagi agenda, malam itu saya packing bersama ibu-ibu yang lain. Koper besar dan kecil maksimal beratnya sudah ditentukan. Pagi-pagi koper sudah harus ditaruh di depan kamar untuk mulai diangkut. Setelah sahur kami berkumpul dulu kemudian ke Masjidil Haram untuk Tawaf Wada. Kali ini rombongan kami diarahkan bisa memegang Kabah secara bergantian. Saat itu, ada mbak-mbak dari Indonesia yang memegang Kabah dan seperti menunggu yang lain. Saya minta untuk gantian dan dikasihnya tempat. Setelah saya selesai, saya juga menunggu agar ada Ibu-ibu lain yang bisa bergantian dengan saya. Alhamdulillah akhirnya kami semua bisa memegang Kabah walau penuh perjuangan. Perjalanan umroh saya kali ini saya berhasil memegang Kabah 2 kali dan memanjatkan doa yang sama, semoga dikabulkan ya Allah dan semoga saya diberikan rezeki untuk ke sana lagi baik untuk umroh lagi maupun Haji, aminnn...

Selesai tawaf Wada, untuk sholat Subuh bagian depan sudah penuh, jadi kami berjalan agak ke belakang. Memang tidak bisa melihat Kabah karena terhalang dinding, tapi tetap bersyukur mendapatkan tempat. Jika sudah batal, ada tempat wudhu di bawah tangga didekat kami. Saya belum mandi dan belum selesai packing, jadi setelah selesai sholat Subuh saya harus segera pulang ke hotel untuk berberes. Kembali bersyukur, saat itu di tengah konflik timur tengah, kami tidak terdampak. Jika pesawatnya transit di Doha atau Dubai itu yang bermasalah, sementara pesawat kami langsung ke Indonesia. Lion direct ke Palembang, sementara pesawat-pesawat lain yang juga direct ke Jakarta misalnya Saudia atau Garuda juga tidak masalah.

Sholat Subuh sebelum pulang


Setelah koper-koper beres, masih punya waktu untuk istirahat, karena bisa ke Jeddah berangkat siang. Saya sudah menyiapakan tas kecil kalau nanti punya ilham untuk belanja lagi di Jeddah 😂. Saat menunggu waktu berangkat Ibunya Meta demam, dan kami jadi khawatir tidak bisa pulang. Untunglah setelah diurut-urut dan minum obat paracetamol sudah agak mendingan walau masih lesu sampai saat keberangkatan. Setelah tiba saatnya bis datang dan kami berangkat ke Jeddah. Sesampainya di Jeddah benar saja, kami belanja lagi di Cornes. Saya jadi tidak sengaja membeli cokelat tambahan, kurma dan malah dapat Al Baik. Cokelatnya lengkap, cokelat Dubai yang asli dan dalam porsi kecil-kecil maupun besar. Luar biasa ya mereka, sudah disiapkan karena mereka tahu apa yang dicari jemaah umroh kalau mau pulang. Kesimpulannya, koper-koper saya sudah tidak saya urusi dan sekarang saya sibuk ngurusi tas tambahan saya yang sekarang jadi berat. 

Sesampainnya di Bandara, setelah urusan check in dan imigrasi selesai, kami naik ke ruang tunggu. Bandaranya sama dengan saat kedatangan kami sebelumnya, berbeda dengan saat saya naik Saudia dulu. Sambil menunggu kami mendapat nasi kotak karena saat menunggu berbarengan dengan waktu berbuka. Setelah berbuka, sholat jamak Magrib dan Isya serta keperluan toilet selesai kami naik ke pesawat saat hari sudah gelap. Kami akan sampai di Palembang diperkirakan jam 10 pagi. Itu artinya kami akan tidur malam di pesawat dan akan sahur juga. Sesuai waktunya, kemudian pesawat berangkat, saya perhatikan satu pesawat kebanyakan orang turnya sama dengan saat berangkat.

Setelah terbang beberapa jam, kami mendapat makan pertama. Walau sudah berbuka tadi, jadinya makan lagi karena sayang. Menunya tidak bisa pilih beef or chicken, kali ini langsung dikasih menu ayam. Kemudian setelah tertidur dan bangun saat mendekati waktu sahur, kami mendapat makan lagi yang kedua kali ini daging. Ini harus dihabiskan, karena setelah ini langsung berpuasa sesampainya di Palembang. Jika perginnya puasanya lebih lama, maka kali ini pulang puasanya lebih cepat waktunya. untuk sholat Subuh dilaksanakan dipesawat dengan tayamum.

Makan pertama di pesawat


Makan kedua sekaligus sahur di pesawat


Entah kenapa, kali ini saya berusaha tidak pipis di pesawat. Sulit sebenarnya, karena 9 jam perjalanan saat pergi kan puasa saya tidak minum, tapi kali ini karena malam hari jadi saya minum. Saya berusaha agar pipisnya nanti saat landing saja. Ini benar-benar bukan hal yang bagus, dan tidak boleh dilakukan sebenarnya, menahan pipis saat pesawat sudah mau landing itu rasanya mau nangis. Syukurlah dengan penuh perjuangan akhirnya sebelum melewati imigrasi saya berhasil ke toilet dengan leganya. 

Setelah urusan imigrasi, bea cukai yang sudah diurus pihak tur dan ambil bagasi sudah selesai, akhirnya selesailah umroh kami. Sebelum pulang kami dijemput pihak tur dan diberikan semacam sertifikat dan foto-foto kami yang dicetak. Saya pamit ke semuanya, Meta, Bu Neti, Nyai dan Nek Ino sebelum pulang. Agak berat sebenarnya, karena mau tidak mau sudah ada kedekatan yang terjalin selama umroh. Saya sangat senang setelah diajak berjanji untuk bertemu di lain waktu. Semoga nanti lain kali kami bisa bertemu lagi dalam suasana lain. Dan semoga saja umroh kami bisa diterima, doa-doa kami terkabul dan bisa ke sana lagi nantinya.

Hari ini seharusnya adalah umroh kedua yang dijadwalkan pagi hari. Namun karena kondisi Kota Mekah yang ramai, maka ada masalah dengan busnya makan umroh kedua terpaksa ditunda menjadi besok. Sebenarnya saya kecewa, tapi mau bagaimana lagi. Saya sangat berharap umroh kedua bisa dilakukan karena saya ingin melakukannya untuk badal. Kembali sahur di hotel dengan lauk yang disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Jika tidak dalam keadaan Bulan Puasa, mungkin kami juga akan diajak Tawaf setiap menjelang Subuh seperti umroh saya beberapa tahun yang lalu. Setelah itu langsung solat Subuh berjamaah. Sekarang jadi berbeda, setelah Tarawih dan pulang tengah malam kemudian lanjut lagi bangun untuk sahur, rasanya sulit untuk jalan ke Masjid. Atau mungkin niat saya saja yang kurang kuat. 


Lauk sahur


Makan sahur


Karena hari ini tidak jadi umroh kedua, maka jadwal kami kosong. Sebagai penggantinya akan diajak mengunjungi Pasar Kakiyah karena Ibu-ibu sepertinya masih kurang belanjaannya. Ini tidak dipaksa, jadi kalau ada yang tidak mau tidak apa. Transportasinya menggunakan beberapa mobil kecil sesuai jumlah orang yang mau ikut. Saya sebenarnya tidak mau ikut, karena merasa koper sudah penuh. Tapi karena tidak bisa tidur juga, akhirnya saya turun dan jadinya ikut. Pasar Kakiyah ini tidak terlalu besar tapi sangat lengkap. Saya akhirnya membeli kurma lagi, karena ketemu yang bagus. Juga beli baju gamis kecil titipan keponakan saya. Selain itu, lagi-lagi untuk reward diri sendiri saya menemukan gamis berwarna cenderung broken pink yang sepertinya oke dipakai untuk pergi atau kondangan. Semoga koper saya masih muat... 😁.

Malam ini saya bilang ke teman-teman sekamar saya bahwa saya akan pergi sendiri. Kenapa seperti itu, karena saya akan berangkat mulai dari Magrib dan langsung Isya serta Tarawih. Kenapa saya tidak mengajak orang, karena saya ingin berbuka puasa di Masjidil Haram, dengan resiko tidak makan kenyang seperti di hotel. Makannya akan saya beli setelah pulang saja. Saya tidak mau nanti ibu-ibu yang lain jadi menahan lapar karena mengikuti saya. Nanti untuk ibu-ibu yang lain akan ke Masjidil Haram setelah berbuka. Berangkatlah saya sendirian mulai dari jam 5. Harapannya masih mendapatkan tempat di dalam Masjid. Tidak apa tidak di depan Kabah, tapi yang penting di dalam. Tapi jangankan dapat tempat di dalam, di luar saja sudah penuh. Saya keliling-keliling mencari tempat di lantai bawah maupun lantai 2 masih tidak ketemu, saya sudah hampir putus asa, jadi keluar lagi dan kali ini mencoba tempat lain. Kaki saya membawa saya naik eskalator sampai ke atap. Saya belum pernah ke atap, dan ternyata sudah penuh juga. Menjelang waktu berbuka, sebelum azan berkumandang, saya akhirnya mendapat tempat tambahan di bagian depan. Cukup untuk berbuka bersam jemaah lain dan nanti lanjut sholat magrib.

Terus terang saya menangis waktu itu karena sedih. Umroh hari ini batal dan saya saat itu sendirian. Untuk mendapatkan bingkisan iftar tentu saja sudah tidak kebagian, tapi saya sudah cukup senang bisa merasakan berbuka puasa di Masjidil Haram. Saya hanya membawa air minum, dan memang sudah siap jika belum bisa makan. Tapi umat Islam yang baik itu di mana-mana, saya diberi makanan oleh orang-orang di sekeliling saya mulai dari kurma sampai roti. Padahal kami tidak saling mengenal dan dari negara yang berbeda-beda. Susah untuk mengulang momen solat Magrib yang dilaksanakan setelah berbuka dengan latar belakang sunset dan Tower Zamzam yang menjulang di belakang saya 😭.

Selesai Sholat Magrib orang-orang berberes dan saya turun ke bawah mencari tempat lagi. Setelah keliling-keliling lagi, akhirnya di lantai bawah saya mendapatkan tempat yang cukup di depan. Memang tidak pas langsung di depan Kabah, tapi posisinya cukup dekat. Untuk area di depan Kabah untuk wanita sebenarnya ada dan kosong, tapi sedang dibersihkan. Jadi saya cukup senang sudah mendapat tempat yang lebih baik dari Magrib saat itu, Di dekat saya, di bawah tangga ada tempat berwudhu. Saya wudhu lagi karena khawatir sudah batal. Di sela-sela duduk menunggu waktu Isya, tiba-tiba area di depan saya diserbu para akwat karena ternyata setelah dibersihkan diperbolehkan dipakai. Rezeki untuk saya, karena saya ada di posisi depan, saya tinggal angkut sejadah dan tas dan berlari mengambil tempat dan Alhamdulillah ya Allah, saya mendapat tempat tepat di depan Kabah. Memang masih ada rak Al Quran, tapi sholatnya sudah bisa langsung melihat Kabah. Saya sangat bersyukur karena ini adalah benar-benar anugrah bagi saya. Benar-benar dibutuhkan perjuangan dan nasib baik untuk mendapatkan tempat terbaik. Saya ingat waktu umroh beberapa tahun lalu, ke Masjidil Haram dari Ashar mendapat tempat di dalam, Magrib di tempat seperti ini dan Isya mendapat tempat di pelataran Kabah. Untuk mendapat tempat Sholat di pelataran Kabah saya sebenarnya masih berharap bisa, siapa tahu karena kami masih berada di Mekah sampai 2 hari lagi.

Karena jemaahnya banyak, tempat yang saya dapat jadi menyempit. Tapi tidak apa, asal saya bisa duduk dan sujud, bagi saya itu sudah cukup. Anugrah lainnya adalah, ternyata Imam Tarawih malam itu adalah Imam Yasser Al Dosari yang merupakan Imam favorit saya. Dulu saya pernah sholat Shubuh hampir 20 menit tidak terasa, karena bacaaan ayat yang sangat merdu. Suaranya sangat khas dan langsung bisa dikenali saat sholat Tarawih dimulai. Seperti biasa, bacaan ayat yang panjang tidak terasa lagi waktunya. Menjelang setengah sholat berikutnya setelah salam, Sholat Tarawih dan Witir dipimpin oleh Imam yang lain. Pulangnya saya kembali mampir kali ini untuk membeli Nasi Bryani. Ternyata di sepanjang jalan sampai hotel orang-orang sholat di pinggir jalan. Jadi untuk yang terlambat, bawa saja sejadah dan bisa ikut sholat berjamaah. Dan tenang saja, sepanjang jalan juga banyak pihak keamanan yang berjaga.

Nasi Bryani dan ayam


Sesampainya di kamar mendapat berita, bahwa umroh kedua bisa dilakukan besok. Mengambil miqatnya dari pagi, dan pelaksanaan umrohnya kemungkinan menjelang Zuhur. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Setelah beberes sebentar, harus segera tidur karena nanti akan bangun lagi untuk sahur dan siap-siap untuk berangkat mengambil miqat.

Lanjut Part 7

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...