Jika dulu saya selalu iri dengan orang-orang yang selalu jalan-jalan, maka saya selalu ingin punya waktu lebih untuk traveling. Kemudian belakangan ini, kerjaan saya membuat saya jadi sering jalan walaupun dalam rangka kerjaan dan bukan liburan. Saya sudah cukup senang, namun kadang-kadang ada rasa capek juga tentu saja. Untuk waktu libur yang memang jatahnya bisa liburan tanpa kerjaan, pasti masih saya manfaatkan sebaik-baiknya. Mau ada teman atau tidak, sepertinya saya sekarang sudah cukup berani. Tapi, tetap saja ada satu tujuan perjalanan yang selalu dirindukan mau berapa kali pun ke sana. Ya, jawaban anda benar, sebagai muslim pasti ingin mengunjungi tanah suci, di tengah kepenatan urusan duniawi. Saya sudah pernah umroh sekali pada Bulan November 2022 setelah jaman covid mereda. Sekarang Alhamdulillah mendapat kesempatan berangkat lagi Februari 2026 di saat yang sangat istimewa yaitu Bulan Puasa. Melaksanakan umroh saat bulan puasa pasti lebih berat, tapi saya yakin dengan tekad yang kuat pasti akan bisa menjalaninya.
Travel umroh kali ini saya ambil dari Palembang. Saya sendirian, tapi tenang saja pasti akan banyak mendapat teman saat umroh nanti. Jika akhir tahun saya sudah sendirian ke Dubai, Istanbul dan Doha, maka kali ini saya juga berani untuk umroh sendirian. Paspor saya sudah ada additional name Bapak dan Kakek, jadi saya tidak perlu urus nama di paspor lagi. Untuk vaksin, sebulan sebelum berangkat saya sudah suntik vaksin meningitis dan polio. Pesawatnya menggunakan pesawat Lion yang akan berangkat langsung ke Jeddah dari Palembang tanpa transit lagi di Jakarta. Untuk urusan uang, berdasarkan pengalaman umroh saya sebelumnya, di Arab Saudi mereka mau menerima uang rupiah, tapi saya tetap menukar sedikit sebagai pegangan, sisanya akan saya ambil lewat ATM sesampainya di sana saja. Komunikasi internet, saya tetap setia dengan roaming telkomsel dan sudah disetting akan aktif saat tiba di sana. Pakaian gamis saya masih bisa dipakai lagi beberapa diantaranya ditambah dengan beberapa yang baru supaya agak sedikit kelihatan berbeda. Dari travelnya sudah mendapat paket dua buah koper besar dan kecil, mukena, tas kecil, syal, buku doa, jilbab hitam dan kain batik untuk dijahit. Karena sudah pernah umroh maka ada banyak persiapan penting berdasarkan pengalaman sebelumnya. Jangan lupa membawa kantong/tas sendal karena kita tidak tahu pintu mana saat keluar dari masjid dan belum tentu sama dengan pintu masuknya. Sholat tidak perlu pakai mukena, karena bajunya sudah panjang, tapi tetap disiapkan penutup tangan yang biasanya sepaket dengan baju umroh yang dibeli.
Untuk keperluan bolak balik Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, saya berencana akan membawa tas kecil saja sementara tas tangan yang lebih besar akan ditinggal di hotel. Isi tas kecilnya nanti susunannya adalah penutup tangan, sajadah tipis, tas lipat untuk sendal, dompet, handphone, tisu, power bank, dan botol kecil untuk air zamzam. Saat packing koper besar dipenuhkan dengan pakaian yang sudah disusun per hari, sementara koper kecil agak kosong karena nanti akan diisi oleh-oleh 😁. Baju umroh saya bawa dua berwarna hitam dan putih, karena nanti akan ada 2 kali umroh. Umroh kali ini saya juga ingin Badal Ibu saya, karena dulu saat umroh pertama untuk Bapak. Beberapa waktu yang lalu kakak tertua saya sudah mengumrohkan Bapak, jadi kali ini saya untuk Ibu.
Sebelum berangkat ada satu kali manasik di Hari Sabtu. Seperti biasa dijelaskan tata cara umroh dan keperluan-keperluan lainnya. Keberangkatan kali ini ternyata pesertanya juga ada Abah kyai pemilik travel dan istrinya, katanya nanti anaknya yang juga Ustad, akan bergabung sesampainya di sana, karena sedang berada di salah satu negara arab juga. Peserta yang lain sisanya kebanyakan orang tua. Luar biasa ya vibes nya, mungkin ada korelasinya karena dilaksanakan saat bulan puasa, jadi yang pergi lebih serius ingin beribadah. Bukan berarti yang muda tidak serius, tapi yang saya rasakan kali ini memang berbeda dibanding dengan saat umroh pertama kali dulu. Dari data yang bisa dilihat, peserta yang lebih muda dari saya hanya 3 orang, sisanya umurnya di atas saya. Jarang-jarang saya berkumpul dengan orang-orang yang lebih senior, biasanya saya yang senior 😀. Saat manasik juga saya berkenalan dengan Meta yang umurnya salah satunya dibawah saya, dia pergi bersama orang tuanya. Nah ini, sepertinya saya sudah menemukan teman yang bisa diajak jalan kalau saya ingin melipir atau mencari Al Baik misalnya... 😅. Untuk tour leader nanti ada 1 ustad yang ikut di rombongan kami dan seperti biasa langsung ada grup wa yang dibuat untuk memudahkan komunikasi.
Minggu kedua Puasa 2026 di akhir Februari, kami berangkat. Dari Palembang ada beberapa tour travel yang akan sepesawat dengan rombongan kami. Sejak bandara Palembang kembali menjadi bandara Internasional, baru kali ini saya kembali naik pesawat ke luar Indonesia lewat Palembang. Saat ke Kuala Lumpur tahun lalu dan ke Turki bulan lalu, saya selalu lewat Jakarta. Sesampainya di bandara, sudah penuh dengan warna-warni baju batik para jamaah umroh. Setelah menyerahkan koper, kami mendapat lanyard umroh yang tidak boleh hilang, karena berisi data diri dan hotel tempat tinggal selama di Madinah dan Mekah. Hal ini juga sudah saya informasikan ke satu nenek yang berangkat sendirian dan dititipkan anaknya ke kami, bahwa kalung itu harus selalu dipakai. Saya ingat punya pengalaman bertemu kakek-kakek di Madinah yang tersesat terpisah dari rombongannya, ditolong Bapak Malaysia dan minta saya untuk menghubungi tour leader kakek tersebut. Selanjutnya kami juga diberi penanda koper lengkap dengan foto masing-masing, agar koper mudah dicari.
Sebelum berangkat, kami mendapat briefing dan juga berdoa bersama. Setelah urusan check in selesai, kami menuju ruang tunggu dan melewati imigrasi. Pesawat akan berangkat jam 1 siang, dan saya sudah tahu bahwa puasa hari ini akan dijalani lebih lama. Jadi jika biasanya puasanya selama 14 jam, maka hari ini akan bertambah 4 jam menjadi 18 jam. Perjalanan akan ditempuh selama kurang lebih 9 jam, nanti akan tiba di Jeddah kira-kira jam 6 lewat, dimana jam Arab Saudi lebih lambat 4 jam dari waktu Indonesia barat. Kesimpulannya, selama di pesawat yang seharusnya dapat dua kali makan, jadi akan lewat semua kecuali untuk yang tidak puasa. Perkiraannya pesawat akan mendarat, tepat saat waktu magrib untuk berbuka puasa di Jeddah.
Pesawat Lion yang saya naiki kali ini agak berbeda lay out nya, tapi tentu saja lebih besar dari pesawat dengan rute domestik. Konfigurasi kursinya 3 4 3, namun tidak ada in flight entertainment seperti di pesawat-pesawat besar lainnya. Jadi sebaiknya memang waktu dimanfaatkan untuk istirahat atau ibadah saja. Benar-benar pengalamana baru, tidak bisa makan dan tidak ada yang bisa ditonton selama 9 jam. Tapi ini tergantung niat kan, kalau memang berniat untuk umroh, saya rasa hal ini tidak masalah karena seharusnya sudah siap dari awal, dari fisik maupun mental. Makan pertama tetap ditawarkan kalau ada yang tidak puasa, tapi pramugari meminta maaf terlebih dahulu kepada yang berpuasa. Pramugari Lion Air seragamnya juga berbeda, bajunya lebih panjang dan memakai jilbab merah. Saya berusaha untuk tidur, kadang berhasil tapi lebih banyak tidak berhasilnya. Semua jendela sudah ditutup dan para pramugari membantu untuk merebahkan kursi bagi jemaah agar bisa tidur. Sayup-sayup terdengar ada yang mengaji selain ada juga yang mengobrol. Suatu waktu pesawat lengang karena kebanyakan tidur, tapi di saat lainnya rame karena sudah banyak yang bangun dan lalu lalang. Entah kenapa, untuk kali ini saya tidak ingin ke toilet, saya sempat mendengar pramugari memberi tahu agar penumpang tidak membasahi lantai toilet. Saya berusaha untuk menahan pipis dan syukurlah berhasil, karena memang tidak minum saat puasa.
Lima jam setelah terbang, ada pembicaraan menarik di sekitar saya. Tour leader di rombongan lain menjelaskan, kalau dari waktu Indonesia saat ini sudah bisa berbuka puasa namun waktu kami sebenarnya belum masuk berbuka. Bagi yang sudah tidak tahan, boleh membatalkan puasa, namun di lain hari harus diganti. Beberapa jemaah jadi memutuskan untuk berbuka saja, namun saya dan banyak jemaah lain memutuskan untuk meneruskan puasa. Saya pikir, saya nanti akan malas kalau mau mengganti di lain hari, kepalang sudah puasa hari ini jadi ditahan saja sekitar 4 jam lagi. Beberapa saat menjelang mendarat, pramugari kembali membagikan makanan dan minuman. Kali ini untuk semuanya dan diberi kantong untuk menyimpan makanan untuk dimakan nanti, karena memang masih puasa. Isinya ada roti, kerupuk udang, nasi beserta lauk, botol air minum dan minuman dalam gelas kertas. Saya menyesal kenapa meminta minum juga orange juice dalam gelas kertas, karena semua yang lain bisa disimpan kecuali itu, sementara sesuai aturan keselamatan pesawat saat akan mendarat, semua meja harus dilipat. Jadi.... repotlah orang-orang seperti saya memegang gelas tersebut di tengah proses pendaratan pesawat. Coba deh, kalau diingatkan sebelumnya kan saya tidak akan minta minum tersebut, dan lebih heboh lagi, sebelum mendarat... pramugari melakukan semprotan di kabin pesawat, sehingga tambah repotlah saya menutup gelas tersebut dengan tangan 😓. Duh, seharusnya ada aturan yang disesuaikan untuk pembagian makanan dan minuman saat puasa dengan waktu mendarat pas menjelang waktu berbuka seperti ini. Saya sempat melihat ada Bapak-bapak memasukkan minumannya ke kantong plastik yang membuat saya iri karena tidak punya kantong plastik juga 😅. Menjelang waktu mendarat, pilot memberitahu bahwa sudah waktunya berbuka dan disambut sorakan dari semua penumpang pesawat. Akhirnya saya minum dengan lega dan terbebas dari gelas kertas yang merepotkan itu 😔. Tak lama, pesawat Alhamdulillah mendarat dengan selamat, selamat datang di Arab Saudi kembali....
Makanan di pesawat menjelang berbuka puasa.

Selesai mendarat, belum sempat makan apapun. Dengan bis, langsung masuk terminal dan imigrasi serta ambil koper. Bandaranya kali ini berbeda dengan umroh pertama saya dulu. Jika pesawat Saudia mendarat di Bandara King Abul Aziz yang selayaknya bandara-bandara besar lainnya, maka bandara yang kami lewati ini seperti versi lebih sederhananya. Mungkin khusus jemaah haji, karena ada tempat berkelompok-kelompok untuk bersiap ganti pakaian, makan dan sholat berjemaah. Saya melihat jadwal kedatangan pesawat, setelah kami yang dari Indonesia ada yang dari Medan dan Surabaya dengan Lion. Beberapa kota lain dengan maskapai negara lain ada juga, tapi kota-kotanya banyak yang tidak saya kenal. Sepertinya Lion dan maskapai-maskapai yang ke bandara ini melayani rute dari kota yang bukan merupakan ibukota negara, jadi tidak perlu transit dulu, seperti kami yang bisa langsung dari Palembang tanpa lewat Jakarta dulu. Kalau menggunakaan pesawat Saudia, tentu saja rute nya pasti lewat Jakarta atau kota-kota besar lainnya.
Makanan dari pesawat belum sempat dimakan, kami mendapat nasi lagi dari tour travel. Saya jadi bingung mau makan yang mana. Diberi kesempatan makan dan sholat dulu, sebelum naik bis malam ini ke Madinah. Jika umroh pertama saya dulu dari Mekah, maka pengalaman kali ini berbeda dengan ke Madinah dulu. Seperti biasa saat sudah sampai di Arab Saudi, selain tour leader kami mendapat pendamping ustad muthawif yang biasanya memang tinggal di Arab Saudi. Ustad muthawif lah yang nantinya akan membimbing selama pelaksanaan umroh. Ustad muthawif saya dulu sangat lincah, sampai buka order untuk beli kurma dan Al Baik, semoga kali ini juga... saya berharap.
Mendarat di Jeddah

Dapat nasi lagi untuk berbuka puasa

Perjalanan ke Madinah lumayan lama, di bis ustad muthawif menjelaskan berbagai hal dan juga memimpin doa. Saya duduk bersama Meta, dan setengah mendengar penjelasan yang disampaikan saat perjalanan ke Madinah karena tertidur. Saya baru terbangun, saat bis sudah hampir sampai ke Madinah dan terkena macet. Benar sekali kata teman saya yang berpengalaman umroh balik balik, saat saya belum berangkat. Di Arab Saudi kalau bulan puasa, siang seperti malam dan malam seperti siang. Kalau siang kan puasa, jadi banyak yang di rumah saja. Menjelang malam, jalanan justru ramai sekali. Tapi memang kan kalau di area Masjid Nabawi dan terutama di Masjidil Haram selalu ramai 24 jam. Jika dulu hotel saya di Madinah di area pintu 328, kali ini di samping Masjid Nawabi di belakang Masjid Abu Bakar As Siddiq di arah pintu 310 dan 311 yang kalau jalan lurus saja bisa menuju Raudah.
Hotelnya di Sama Al Masi, benar-benar strategis. Jalan kaki ke Masjid Nabawi sangat dekat, tempat makan banyak dan tempat belanja di kiri kanan juga banyak 😁. Tapi ini sudah tengah malam, kami harus masuk ke kamar masing-masing untuk beberes dan istirahat sebentar, sebelum turun lagi jam 3 untuk sahur dan lanjut Subuh ke Masjid. Tidak sempat kalau mau tidur dulu, hanya sempat bongkar koper dan bergantian mandi. Tidurnya nanti saja, siang setelah kembali dari masjid. Kami mendapat kamar di lantai 8 dan harus ambil sendiri koper yang ada di lantai 7. Meta ada di kamar lain, saya sekamar dengan 3 ibu-ibu lainnya yang lebih tua dari saya. Jadi ceritanya saya bungsu dan paling melek teknologi juga di kamar itu hehe... Kalau ada masalah dengan hp mereka, saya langsung jadi teknisi dadakan. Saya juga jadi pusat informasi, karena dari kami berempat, hanya saya yang sudah pernah umroh sebelumnya. Tapi resikonya sebagai yang termuda, saya mengalah dapat giliran mandi terakhir. Di kamar saya ada ibu Neti dan 2 ibu yang merupakan besan yang saya panggil Nek Ino dan Nyai yang merupakan istilah panggilan nenek kalau di Sumatera Selatan. Banyak cerita lucu dari hubungan 2 ibu besan ini, Nek Ino lebih tua dan Nyai yang lebih muda. Nek Ino ibu dari anak laki-laki sementara Nyai adalah Ibu dari anak perempuan, dan mereka sudah punya 1 cucu dari pernikahan anak-anak mereka. Nyai suaminya tidak ikut umroh, sementara suami dari Nek Ino dan Bu Neti ada di kamar lain. Saya benar-benar terharu dengan cerita mereka, karena yang memberangkatkan mereka adalah anak-anak mereka. Bu Neti cerita kalau anaknya sudah umroh duluan dan sekarang memberangkatkan orang tuanya. Cerita seru pertama dengan ibu-ibu ini adalah saat giliran pertama mandi, Nyai sekalian mencuci baju di wastafel dan membuat kamar mandi jadi banjir 😅. Saya dan Bu Neti cuma senyum, tapi Nek Ino ngomel cukup panjang. Tapi walau begitu, nanti saat Nek Ino tersesat mau naik ke kamar habis belanja, Nyai juga lah yang direpotkan. Hubungan mereka ini seru sekali... seperti hate love relationship antar besan. Saya juga mau saja, misal punya anak dan berbesan dengan teman saya sehingga jadi akrab walau bisa juga berantem antar ibu-ibu... 😁.
Koper di lantai 7

Tempat tidur saya

Selesai beres-beres jam 3 kami turun untuk sahur. Tempat makan hotel ini terbagi dua, ada area jemaah Indonesia dan ada area jemaah dari India. Kami sudah diinfo kalau untuk arena India tidak boleh diambil makanannya, dan hanya bisa ambil di arena khusus Indonesia. Masalahnya tempat minum untuk jemaah Indonesia ada di sebelah meja makan jemaah India, sehingga untuk jemaah yang baru datang tidak tahu dan jadinya salah ambil, sebelum dikasih tahu petugasnya yang juga orang Indonesia. Menu makannya tentu Indonesia sekali, dan saya yakin nanti salah satu menunya di Madinah atau Mekah pasti ada ikan patinnya... 😀. Selesai sahur, kami menuju Masjid Nabawi. Rasanya mau nangis tercicip kembali ke sini, suasana menjelang subuh sangat ramai.
Kalau mau dapat tempat di dalam, harus datang lebih cepat. Saya membawa botol minum kecil untuk mengambil air zamzam. Air zamzam di Masjid Nabawi ada di area dalam, kalau di area luar itu bukan air zamzam. Alhamdulillah kami mendapat tempat di dalam masjid, masih sempat minum karena belum waktunya azan. Azan menjelang Subuh ada 2 kali, jadi jangan sampai salah. Azan kedua baru kemudian pelaksanaan solat Shubuh dimulai. Di sebelah saya orang Indonesia dan sempat bercerita-cerita sedikit. Kemudian surprise dalam pesan dari Nabila saat dia melihat story saya. Nabila adalah yang menemani perjalanan saya saat di Istanbul bulan lalu, kebetulan saat ini dia juga ada di sini. Walau waktunya tidak pas, tapi kami sudah janjian untuk tetap saling kontak dan bertemu kalau sempat nanti.
Lanjut Part 2