Dari sekian banyak perjalanan saya, perjalanan inilah yang paling nekat sekaligus paling mahal. Kenapa seperti itu? jadi ceritanya, semua teman traveling saya tidak ada yang cocok keinginannya. Sementara saya tidak mau menyia-nyiakan waktu libur akhir tahun. Sudah setahun kerja, benar-benar butuh waktu untuk recharge energi untuk bisa melanjutkan hidup... 😅 Jadi diputuskan saya akan solo traveling kali ini. Kalau solo traveling di Indonesia, saya sudah terlalu sering dikarenakan kerjaan juga, jadi sering kemana-mana. Kalau keluar Indonesia, saya pernah melakukan perjalanan secara solo saat tahun 2019 ke Brunei Darussalam. Kenapa saya berani, karena menurut saya negara Brunei Darussalam adalah negara yang aman kalau mau melakukan perjalanan solo untuk wanita berhijab. Nah kali ini juga saya berani, karena semua negara yang akan saya kunjungi adalah negara Islam. Solo traveling memang ada minusnya karena semua dilakukan sendiri, tapi tentu saja ada juga plusnya. Plusnya tentu saja adalah saya bebas menyusun rencana ke mana saja sesuai keinginan saya, tanpa perlu harus memikirkan keinginan orang juga.

Saya memilih negara yang belum pernah saya kunjungi dan saya nilai aman, kemudian terpilihlah Turki untuk saya kunjungi kali ini. Karena saya sendirian dan gak pake acara romantis-romantisan, maka untuk Cappadocia saya skip dan hanya akan konsentrasi ke Istanbul. Mungkin lain kali kalau ada rezeki dan nasib ke Turki lagi dan ada teman, mungkin saya akan punya kesempatan ke Cappadocia."Because it's not my dream, mas.." 😎 Dannn... karena saya pengen juga tidak satu negara, maka tentu saja memilih penerbangan transit yang harganya tidak jauh beda dengan yang direct. Sempat galau karena ada beberapa pilihan menarik untuk harga pp. Dua yang paling menarik adalah ke UEA yaitu Dubai dengan Emirates atau Abu Dhabi dengan Etihad, serta satu lagi Doha dengan Qatar Airways. Setelah mikir panjang, jadi pengen dua-duanya, yaitu ke UEA dan Qatar. So akhirnya diputuskan akan diambil Dubai dan Doha yang akhirnya malah jadi mahal karena tidak pp dengan maskapai yang sama. Tapi saya nekat, karena dua-duanya negara Islam dan maskapainya memang keduanya ingin saya tumpangi sejak lama. Permasalahannya mau yang mana duluan antara Dubai dan Doha sebelum ke Istanbul. Baru mau pesan tiket Emirates, saya sudah dapat pesan bahwa untuk yang masuk UEA harus punya nama lebih dari satu kata. Ini berarti kacau balaulah dunia persilatan, karena nama resmi saya hanya satu kata. 

Karena persoalan nama satu kata ini, saya lama tidak melanjutkan rencana saya untuk membeli tiket liburan. Tapi walau begitu, saya tetap browsing mencari info bagaimana cara masuk ke UEA. Jika untuk umroh sudah jelas bisa menggunakan nama additional name di paspor, maka untuk ke Dubai ini, semua serba simpang siur, karena ada yang mengatakan boleh, ada yang mengatakan tidak boleh. Kalau saya tetap membeli tiket transit ke Dubai, maka resikonya kalau saya tidak bisa masuk ke Dubai maka saya akan menghabiskan waktu di bandara, kan sayang sekali. Selain baca info dari berbagai sumber seperti web dan instagram, saya juga mencari vlog youtube yang cocok, tapi tetap tidak jelas. Nanya ke tour travel yang pernah mengurus visa saya saat ke Jepang dan Korea dulu, juga tidak memuaskan jawabannya. Saat nanya ke chat Emirates, operator hanya menginfokan bahwa saya harus memesan tiket dengan nama depan FNU (First Name Unknown) dan nama belakang nama saya sesuai halaman 1 di paspor. Trus bagaimana dengan visa, yang mewajibkan lebih dari satu kata, katanya harus dipastikan ke imigrasi. Saya juga mengirim email ke pihak berwenang Emirates ekvisaquery, katanya nama satu kata tidak bisa masuk Dubai tanpa ada penjelasan untuk yang punya nama satu kata. Sementara email ke Consular Office dapat jawaban bahwa untuk mengajukan izin masuk ke UEA, nama di paspor harus mengandung setidaknya dua kata, baik di halaman biodata maupun halaman pengesahan. Jawaban ini juga tidak memberikan solusi bagi saya. Dua bulan menjelang keberangkatan saya mendapatkan informasi dari maskapai flydubai yang memberikan tabel bagaimana cara memesan tiket untuk yang punya satu nama, dua nama dan seterusnya, walau saya tidak naik flydubai tapi inikan juga informasi berguna karena merupakan maskapai milik UEA. Walau Qatar tidak mewajibkan punya nama lebih dari satu kata, tapi saya juga mendapatkan info cara pesan tiket untuk satu nama menggunkan FNU nama atau nama LNU (Last Name Unknown). Setelah mengobrol dengan teman saya yang pernah mengurus visa transit masuk UEA tidak ada keterangan yang mengharuskan nama tiket harus sama dengan nama visa, akhirnya saya cukup yakin dengan strategi yang akan saya ambil, yaitu memesan tiket dengan nama FNU namasaya dan untuk visa, saya menggunakan namasaya namabapak namakakek, dimana additional nama bapak dan kakek memang sudah ada di paspor saya di halaman 4. Jika nanti tidak sesuai skenario, ya resiko terburuknya paling saya akan keliling-keliling bandara saja kan ya...😭 tiket sudah mahal sayang sekali tidak bisa melihat Burj Khalifa...

Maka belilah saya tiket yang mahal itu, tiket sekali jalan Emirates tanggal 24 Desember ke Dubai dulu lanjut Istanbul besoknya dan kembali dengan Qatar Airways ke Jakarta tanggal 31 Desember dari Istanbul, dilanjutkan ke Jakarta dari Doha tanggal 1 Januari 2026. Selama di Dubai dan Doha saya pilih waktu transit yang paling panjang, dan waktunya hampir sama. Sama-sama datang ke Dubai dan Doha tengah malam, lanjut ke penerbangan berikutnya malam berikutnya pada jam 7 dan 8 malam. Dengan pemilihan waktu ini, saya punya banyak waktu di siang hari untuk masuk ke Dubai dan Doha. Visa untuk masuk Dubai saya urus 2 minggu sebelum berangkat. Maskapai seperti Emirates dan Etihad sudah punya fasilitas khusus bisa langsung mengurus visa transit lewat website resmi mereka. Ada pilihan 48 dan 96 jam. Karena saya hanya kurang dari satu hari di Dubai, saya pilih yang 48 jam. Caranya cukup mudah, banyak vlog yang menginformasikan cara mengurus visa transit. Tinggal siapkan kode booking tiket, foto, dan scan paspor. Khusus paspor, saya juga siapkan scan halaman 4 yang berisi additional name. Untuk tempat tinggal selama di sana, diwajibkan diisi. Walau infonya bisa di skip, tapi saya tidak menemukan cara untuk mengabaikan isian tempat tinggal itu. Akhirnya saya pesan hostel yang murah untuk mengambil alamatnya dan tidak akan saya tinggali juga, karena saya tidak punya waktu dan akan menginap di bandara saja. Dan dengan diiringi dengan doa, Alhamdulillah beberapa hari kemudian visa transit saya untuk masuk Dubai akhirnya disetujui... Tapi walau visa sudah ditangan, saya tetap berdoa agar tidak ada masalah di imigrasi dan bisa masuk ke Dubai untuk melihat gedung tertinggi di dunia saat ini, yang pernah masuk di filmnya Tom Cruise Ghost Protocol.

Persiapan lainnya tentu saja banyak. Setelah tiket dan visa selanjutnya hotel. Saya memesan hotel untuk 5 malam di area yang strategis di Istanbul yaitu di daerah Taksim, di Dubai dan Doha tentu saja saya akan menginap di Bandara untuk menghemat uang, hal ini sudah biasa saya lakukan selama traveling. Selanjutnya mari kita bahas rencana perjalanan untuk setiap negara. Di Dubai, tujuannya cuma satu yaitu ke Burj Khalifa yang bisa dicapai dengan naik Metro melalui Dubai Mall. Sebenarnya Metro juga melewati Dubai Frame dan Museum of the Future, tapi saya mempertimbangkan apakah waktunya cukup. Tapi sebenarnya bukan itu alasannya. Sebenarnya saya lebih ke arah khawatir, karena untuk ke kedua tempat itu tidak bisa langsung dari stasiun Metro, harus jalan lagi atau naik taksi. Nah ini yang tidak bisa saya lakukan, karena perjalanan ini saya lakukan sendiri. Kalau ada teman mah oke saja. Maka saya berbesar hati dan ikhlas kalau hanya akan ke Burj Khalifa saja. Saya sudah bersyukur, untuk ke Burj Khalifa bisa langsung dari stasiun Metro walau kabarnya jalannya panjang lewat Dubai Mall, tapi semuanya indoor dan ber AC. 
 
Di Turki nanti, untuk transportasi di Istanbul saya nanti akan membeli Istanbul Card yang bisa dipakai untuk banyak moda trasnsportasi. Destinasi wajib hanya hanya 3 yaitu Hagia Sophia, Blue Mosque dan Naik Cruise Selat Bosphorus, sisanya kalau bisa adalah bonus buat saya. Karena di Istanbul cukup lama, saya mencari cara agar bisa mendapatkan setidaknya satu teman jalan selama di sana. Beruntung sekali, dari teman saya ada kenalan orang Indonesia di Istanbul. Setelah saya hubungi namanya Nabila, dia bisa menghubungkan dengan temannya Hafiz yang juga biasa mengantar orang Indonesia berwisata di sana. Singkat cerita Hafiz mencarikan pemandu yang bisa menemani saya berkunjung di tempat-tempat wisata selama dua hari di Istanbul. Yah lumayanlah ya, dua hari berikutnya akan saya cari cara untuk berwisata sendirian ke mana misalnya, atau hanya rebahan saja di kamar... haha... dari calon pemandu saya, saya dapat jadwal hari pertama akan menyusuri Taksim, Eminonu, lanjut ke EyupSultan dan naik cable car. hari kedua ke Sultanahmet untuk berkunjung ke Hagia Sophia, Blue Mosque dan Tur Bosporus. Semua tempat itu dicapai hanya menggunakan Istanbul Card. Masuk ke Hagia Sophia memang bayar, tapi kata Hafiz untuk muslim bisa gratis dengan masuk di waktu sholat. Intinya selama di Istanbul, saya tidak perlu browsing cari cara untuk tempat-tempat wisata naik apa, tujuan ke mana... karena sudah ada pemandu. Beda waktu saya ke Korea, Jepang dan negara lainnya, dimana saya malah menjadi tour guide teman saya, karena semua saya yang cari tahu. Cuma minusnya, saya jadi tidak tahu jalan, jadi jangan tanya saya dari Taksim naik apa ke Hagia Sophia, turun di stasiun apa dan exit nomor berapa? karena saya tidak tahu... hahaha... Transportasi di Istanbul macam-macam, selain Metro ada Tram, Funicular, Bus dan lainnya. Dan untuk ke tempat-tempat wisatanya menggunakan kombinasi moda-moda transportasi itu. Oh ya kabarnya banyak scam kalau naik taksi di Istanbul, so saya harus cari cara menuju hotel dari bandara tanpa naik taksi. Setelah browsing, saya menemukan rute bus ke taksim dari Istanbul Airport di lantai minus 2. Dari titik berhenti bus di Taksim menuju hotel saya tidak jauh, jadi saya rasa bisa kalau jalan kaki saja.

Selanjutnya untuk rencana di Doha saya memesan tur singkat Discover Qatar yang merupakan programnya Qatar Airways. Pilihannya ada yang 3 jam dan ada yang lebih dari 3 jam. Untuk yang lebih dari 3 jam sampai ada yang ke gurun pasirnya. Syaratnya harus transit minimal 6 jam di Doha. Saya mengambil jadwal jam 8 pagi sampai jam 11 siang. Rutenya akan melewati beberapa tempat dan tiga kali berhenti yaitu di Dhow Harbour, Katara Cultural Village dan Souq Waqif. Di Bandara Hamad sendiri, selain ada Teddy Bear juga ada The Orchard, taman yang mirip seperti Jewel di Changi minus air terjunnya.

Setelah rencana di 3 negara sudah dibuat selanjutnya persiapan lainnya. Saya senang dengan perjalanan kali ini, karena saya tidak perlu repot mencari tempat-tempat makanan halalnya karena semua sudah halal termasuk saat di pesawat. Untuk urusan toilet juga aman, karena semua ada semprotan airnya, hanya saja saya tetap membawa bidet portable, botol untuk buang air kecil selamat di pesawat. Urusan tukar uang, saya membawa dollar karena di Palembang tidak menemukan mata uang Dirham UEA, Riyal Qatar dan Lira Turki. Saya juga membawa rupiah untuk nanti tukar di bandara Soeta kalau ada mata uang yang bisa ditukar. Sisanya saya putuskan akan ambil di ATM Istanbul saja. Saya juga membeli tiket pp Palembang Jakarta, tanggal 24 Desember pagi dan pulang 1 Januari sore. Karena malas pindah terminal, saya membeli tiket Pelita Air yang sama-sama ada di terminal 3 dengan Emirates dan Qatar Airways. Selanjutnya urusan pakaian, di Desember di Istanbul adalah musim dingin, tentu saja koper saya akan berat membawa pakaian musim dingin. Sementara selama di Dubai dan Doha, karena di negara arab, saya ingin menggunakan pakaian syar’i seperti saat saya umroh. Jadi rencananya selain koper, saya akan membawa tas pakaian kecil kabin untuk pakaian ganti selama transit, sementara koper saya akan langsung ke Istanbul saat pergi dan langsung juga ke Jakarta saat pulangnya nanti. Semoga pengalaman sial saya saat di Taipei tidak terulang, saat kami harus membawa koper berat kami saat transit kalau mau masuk ke kotanya. Berikutnya benda yang maha penting yaitu tripod dan remote bluetooth untuk handphone. Ini penting karena saya akan sendirian di Dubai dan Doha, sementara saya juga ngevlog selain mau foto-foto tentu saja... 😂 Walaupun saya cukup percaya diri, tapi saya tetap menyimpan nomor kedutaan besar Indonesia di Dubai, Istanbul dan Doha. Saya juga mencatat waktu-waktu sholat dan melihat ramalan cuaca dan ternyata di perkirakan tanggal 27 Desember akan hujan di Istanbul. Apakah ini gelaja OCD akut, saya rasa wajar kan ya, karena saya ingin semuanya rapi dan terencana... 😄 Saking terencananya, malah baju apa saja yang akan saya pakai sudah direncanakan. Kombinasi baju jangan sampai sama dengan yang sudah di post di Instagram maupun vlog...  Kemudian apakah saya juga punya jadwal per harinya nanti mau ngapain saja, oh tenang itu juga sudah saya buat...  Sepertinya saya sudah agak seperti Dokter Ahn di Hospital Playlist yang menyusun jadwal perjalanan sampai ke jadwal buang air kecil juga ada dan di mana... 😅

Karena kali ini menggunakan Emirates dan Qatar Airways, saya berharap bisa selanjutnya menggunakan keduanya maka saya mendaftar keanggotaan miles. Untuk klaim poin tiket dan Discover Qatar bisa langsung dari webnya setelah perjalanan, namun karena saya sempat salah membuat nama di web Emirates, terpaksa klaim poinnya harus lewat operatornya. Siapa tahu ya, kalau sering terbang dengan kedua maskapai ini, nanti bisa dapat potongan atau malah tiket gratis.


Tanggal 24 Desember pagi saya berangkat dari Palembang ke Jakarta dengan Pelita Air. Sampai di Soeta tinggal pindah posisi dari penerbangan domestik ke internasional. Terminal 3 itu ya kan sangat jauh dari pintu keluar pesawat menuju klaim bagasi, tapi saya beruntung saat itu saat saya lewat, mobil buggy bandara ada 1 tempat kosong dan mbak nya memanggil saya untuk ikut... Alhamdulillah, rezeki anak soleh, saya jadi tidak capek jalan mengingat perjalanan saya sebelumnya yang mau ke Surabaya rasanya mau nangis jalan kaki jauh mau mengejar pesawat selanjutnya dari Terminal 3 ke terminal 1C dengan waktu yang sempit. 

Setelah berada di terminal khusus internasional, saya masih punya banyak waktu. Nukar uang dapat dirham UEA yang mahal sekali dan saya hanya menukar 200 AED. Selesai menukar uang, masih sempat makan di Marugame sebelum masuk imigrasi. Paspor saya bukan elektronik, namun pengalaman saya ke Ho Chi Minh, Seoul dan Taipei beberapa tahun yang lalu, paspor saya selalu tidak bisa di scan, sehingga di imigrasi selalu lewat petugasnya. Paspor saya hanya bisa di scan saat masuk ke Indonesia saja. Sambil menunggu boarding, saya sudah sholat jamak Zuhur dan Ashar. Untuk Solat Magrib dan Isya nanti saja saat sudah sampai di Dubai. Perbedaan waktu antara Dubai dan WIB adalah 3 jam lebih lambat. Pesawat saya berangkat jam 17.45 dan akan sampai jam 23.00 waktu Dubai. Pesawat saya selanjutnya ke Istanbul besok akan berangkat jam 17.45 juga namun akan sampai di Istanbul jam 21.55. Jadi sudah jelas ya, kalau saya akan menginap di Bandara Dubai dan Istanbul sambil menunggu pagi. 

Sambil menunggu saya memperhatikan penumpang lain, kebanyakan orang Indonesia yang akan menuju Dubai. Ada juga rombongan umroh yang akan transit sebelum nanti lanjut ke Arab Saudi. Rombongan pramugari Emirates yang baru datang melewati gate kami, dan petugas berteriak memanggil mereka karena mereka salah gate. Saya ingat tahun 2010 saat di Bangkok, saat saya melihat rombongan pramugari berseragam Emirates dengan topi merah dan scarf putih. Saat itu saya membatin, kapan saya naik pesawat mereka, dan hari ini kesampaian... haha... maklum saja, selama ini saya cuma main di Asia saja, baru kali ini akan ke Negara 1/2 Eropa. Waktu saya umroh tahun 2022 lalu pun saya naiknya Saudia bukan Emirates. Next semoga saya akan ke Eropa dan Insya Allah akan sering bolak balik Eropa... aminnn

Kemudian tibalah saatnya naik ke pesawat, saya diarahkan ke pintu depan, walau ada pintu lain di belakang. Dan artinya apa saudara-saudara, saya akan melewati business class. Tuh kan nafsu manusia muncul lagi, saya jadi pengen dan berharap kapan-kapan bisa naik business class juga, siapa coba yang mau bayarin... 😓. Sudah lupakan kursi nyaman business class itu, saya menuju kursi saya yang sudah saya pilih duduk dekat jendela. Emirates menunya juga sudah bisa dilihat saat akan check in online, jadi nanti saat pramugari menanyakan pertanyaan khasnya "chicken or beef" saya sudah tahu akan pilih apa. Saya duduk bersama ibu dan anaknya. Suaminya bekerja di Dubai, dan mereka akan mengunjunginya. Dari pramugari yang lalu lalang, saya juga melihat satu pramugari yang merupakan orang Indonesia. Dia jugalah yang memberikan pengumuman dalam Bahasa Indonesia selain Bahasa Inggris. 

Saat pesawat baru berangkat, saya tahu dari vlog bahwa pramugari Emirates akan keliling menawarkan foto polaroid. Mereka mengutamakan orang-orang yang pergi sekeluarga dan membawa anak. Tapi saya cuek saja, bahwa saya juga mau dan diminta menunggu oleh pramugaranya. Menunggu yang dimaksud itu adalah entah kapan, akhirnya saya mencari pramugari mbak Indonesia tadi di area dekat toilet dan nanya masih bisakah minta foto polaroid. Kapan lagi kan ya naik Emirates, jadi saya tidak perduli karena ini adalah liburan saya. Yang memfoto saya adalah si pramugara yang minta saya menunggu tadi, jadi saya bilang kalau tadi saya lama menunggunya, akhirnya mungkin karena merasa bersalah saya dapat foto 2 kali. 1 kali sendirian dan 1 lagi sama dia dengan selfie ... 😂 Jadi dapat foto sama pramugara Emirates. Fotonya dikasih sekalian dapat frame khas Emirates. Perjalanan melewati pulau Sumatera dari sisi sebelah kiri kalau saya lihat di peta, jadi kami melewati Bengkulu, Sumatera Barat dan seterusnya. Tontonan saya diantaranya adalah Fantastic Four, sebelum tidur ditawarkan makan, dan jawaban saya adalah beef kali ini. Kegiatan lain selain makan dan nonton tentu saja tidur, saya hanya ke toilet 1 kali selama di pesawat. Beberapa jam sebelum mendarat kami mendapatkan snack yang tidak habis saya makan dan saya simpan di tas untuk dimakan nanti.

Tontonan di pesawat


Makan malam di Emirates


Snack di Emirates


Sebelum mendarat, walau gelap karena sudah malam, saya sangat beruntung berhasil merekam Tulisan besar "Welcome to Dubai". Jadi kalau ingin melihat tulisan ini sebelum mendarat, duduklah di dekat jendela sebelah kanan. Tapi tidak tahu ya, kalau nanti pesawatnya mendarat dari arah yang berbeda. Saat mendarat, tetap berdoa semoga tidak masalah nanti saat imigrasi dengan nama saya yang hanya satu kata. Saya berencana akan tetap berada disisi airside daripada landside. Karena di airside banyak terdapat kursi-kursi rebah, reclining chair dan mushola untuk tidur. Namun saat saya nanya di bagian informasi mana arah keluar imigrasi untuk nanti keluar, seorang petugas menghampiri dan nanya saya mau ke mana dan melihat tiket saya. Dia nanya saya mau menginap di mana, karena saya bilang saya transit dan mau masuk Dubai dulu, dia mengarahkan ke lift menuju imigrasi. Maksud saya, saya belum mau ke imigrasi dulu. Mau cari tempat untuk tidur, besok pagi baru ke imigrasi. Tapi sepertinya kendala bahasa, saya jadi ke imigrasi lebih cepat. Dan semua terjadi begitu cepat saudara-saudara, saya tidak pakai antri langsung menuju petugas imigrasi dengan pakaian dan kain penutup kepala khas Arab mereka itu. Memberikan paspor dan visa, tanpa menanyakan apapun, paspor saya di cap dan saya resmi masuk Dubai. 😁

Alhamdulillah ya, ternyata sama sekali tidak ada drama dari kekhawatiran saya selama ini mengenai nama, semuanya berjalan lancar. Namun, masalah selanjutnya saya mau ke mana. Setelah ke toilet, tanpa mengambil bagasi saya yang akan langsung ke Istanbul, saya keluar. Tidak ada yang menyambut, tidak ada yang memegang kertas bertuliskan saya jalan saja terus keliling-keling melihat-lihat. Tuh kan, area landside ini sedikit tempat pilihan untuk tidurnya. Memang ada kursi-kursi, tapi tempatnya cukup ramai. Pilihan lainnya tidur di area cafe, tapi tetap tidak nyaman menurut saya. Akhirnya saya ke lantai 2 dan menemukan area kursi yang cukup sepi di depan lift dan eskalator menuju Metro. Sempat tertidur sebentar, tapi lebih banyak bangunnya. Saat tidur, demi keamanan tas berisi dompet, hp dan lain-lain saya jadikan sebagai bantal. Setelah bosan melihat orang lalu lalang, akhirnya saya menemukan mushola untuk sholat dan tidur sebentar sambil berharap petugasnya tidak cerewet. Di Mushola juga sekalian ngecas hp dan ketemu satu mbak-mbak dari Indonesia. Dia mau ketemu temannya di Dubai, dan entah kenapa saat itu, saya mengajak dia untuk sama-sama ke Burj Khalifa. Padahal saya sudah siap untuk jalan traveling sendirian, ternyata saya tetap ingin ada teman. Awalnya dia menjawab mau, tapi saat saya tertidur dan bangun dia sudah menghilang entah kemana. Rasanya pengen ketawa, apakah saya semenakutkan itu, mengajak orang asing untuk jalan bersama-sama. Oke, lanjut ke rencana awal, saya akan jalan sendirian selama di Dubai. Intinya adalah jangan merasa takut, dan bila ada yang tanya jawab saja bersama dan sedang menunggu teman, demi keamanan.

Mushola di area landside lebih sepi. Setelah solat subuh, tidak mandi hanya cuci muka, gosok gigi dan berganti pakaian. Setelah bersiap-siap dengan penampilan yang lebih segar, walau tidur hanya sedikit di pesawat dan bandara, saya menunggu pagi dan menuju lantai bawah untuk mencari sarapan. Tidak banyak pilihan yang saya temui, saya mencari-cari kalau ada ricebowl tapi tidak ketemu. Akhirnya memutuskan akan makan onigiri saja. Jauh-jauh ke Dubai, belinya makanan Jepang. Yang penting ada nasinya dan cukup untuk mengisi perut. Setelah makan, saya melewati area menuju hotel transit Emirates. Saya kemudian ingat petugas semalam yang bertanya saya menginap di mana. Jangan-jangan maksud dia menyuruh saya keluar imigrasi untuk ke hotel transit ini. Tapi setelah saya browsing lagi, sepertinya saya tidak memenuhi syarat untuk menginap di hotel transit, karena penerbangan saya yang lama ini bukanlah pilihan tercepat. Transit lama saya ini bukan terpaksa, saya pilih karena memang mau lama di Dubai, padahal banyak pilihan penerbangan lanjutan lainnya yang lebih cepat ke Istanbul. Jadi saya cukup berpuas diri sudah istirahat tidur ayam di pesawat, kursi dan Mushola bandara.

Menjelang munculnya matahari dan Metro sudah beroperasi, saya menuju stasiun Metro. Saya sangat bersemangat di hari pertama di Dubai, sekaligus hari terakhir di Dubai ini... hehe.. Rencananya saya ingin membeli kartu transport Dubai sekalian untuk koleksi. Tapi petugas mengarahkan saya untuk membeli tiket pp saja, karena saya hanya ke Dubai Mall. Nol Card itu seharga 8 AED rasanya harganya. Sambil menunggu Metro saya lega karena ada gerbong khusus wanita dan anak-anak. Saat masih dari arah bandara, kereta isinya sepi. Tapi begitu masuk ke kotanya, keretanya langsung penuh dengan warga lokal yang mulai melakukan aktifitasnya. Mungkin hanya saya turis yang kepagian ikut sempit-sempitan di Metro menuju Dubai Mall. Di dalam perjalanan saya melihat Dubai Frame di sebelah kiri, siapa tahu suatu saat saya akan ke sana.... aminnn

Kartu sekali jalan Metro Dubai

Sesampainya di stasiun Metro menuju Dubai Mall, siapkan kaki anda saudara-saudara, karena jalannya lumayan jauh. Memang sih, seluruh jalan ada atap dan ber AC, saya selalu memanfaatkan alat favorit saya selama jalan yaitu travelator. Lumayan untuk menghemat tenaga. Sampai di Dubai Mall, toko-toko belum pada buka karena memang ini masih sangat pagi. Saya menuju waterfront Dubai Mall yang merupakan area terbuka dengan pemandangan langsung di arah kanan melihat Burj Khalifa.

Burj Khalifa Dubai


Area waterfront yang pagi-pagi masih sepi


Ada untungnya juga saya datang sangat pagi, karena tidak harus bersaing dengan orang-orang untuk mengambil foto. Saya tidak perlu bersusah payah menggunakan menu filter Samsung untuk menghilangkan objek yang tidak diinginkan... hehe... Cukup lama saya berada di sana, karena mengambil foto dengan tripod dan remote bluetooth lumayan membutuhkan effort dalam mengambil foto dan video. Tapi karena sepi, saya jadi bebas mau bolak balik dan pose gaya apapun, tanpa perlu mikirin pendapat orang-orang. Ada orang-orang pun saya tidak peduli, karena ini liburan saya dan saya nggak kenal mereka juga kan. Hasil dari foto dan video nya setelah saya lihat juga bagus-bagus saja, sama seperti kalau diambil kan foto oleh orang lain, malah lebih bagus pengambilannya karena settingnya saya yang atur sendiri. Saking lamanya saya di sana, perlahan orang-orang mulai ramai berdatangan. Pariwisata Dubai yang mahal inu memang sangat diminati. Saya lihat banyak orang India dan juga ada yang dari Korea selama di sana. Orang Indonesianya juga ada, beberapa keluarga yang juga sangat bersemangat mengambil foto dengan latar belakang Gedung Tertinggi di Dunia saat ini.

Setelah puas dan hari telah siang, saya masuk ke dalam mall untuk explore mall dan mencari makan. Saya sempat ke toiletnya yang sangat keren dan bersih, dan saya sangat bahagia karena sudah pasti ada bidet nya. Saya melihat tempat-tempat yang saya tonton di vlog seperti Aquariumnya dan Waterfall Human. Saya melihat Sephora, namun sayang saat saya lewat di sana, masih belum buka juga. Untuk makan saya ke food court untuk membeli Al Baik. Saya sudah kangen makan Al Baik, mumpung lagi di Uni Emirates Arab dan ada, jadi saya beli. Satu paket berisi 4 potong ayam, roti dan kentang harganya 27 AED. Lebih mahal di sini dibandingkan harga di Mekkah dan Madinah yang harganya 25 SAR. Saya cuma makan 1 ayam, sisanya saya simpan untuk dimakan di bandara saja. Lanjut menyusuri Dubai Mall, saya menemukan toko yang menjual oleh-oleh standar kalau traveling yaitu gantungan kunci dan magnet kulkas. Saya berencana hanya membeli sedikit saja, karena perjalanan utama saya adalah Istanbul, jadi hanya orang-orang tertentu saja yang akan mendapatkan gantungan kunci yang mahal itu. Saya juga mengoleksi bell dinner dari semua negara yang saya kunjungi, dan alhadulillah ada di sana. Satu-satunya negara yang tidak ada bell dinner adalah Arab Saudi. Selanjutnya beli satu makanan yang sudah pasti harus dibeli di Dubai yaitu Cokelat Dubai, harganya 35 AED muahal sekali saudara-saudara. Tapi kan sudah kepalang ada di Dubai, masa nggak beli cokelat Dubai. Kalau kurang, rencananya akan beli di bandara saja. 

Toilet di Dubai Mall


Interior Dubai Mall


Al Baik


Setelah semua yang saya ingin lihat dan beli sudah didapatkan, saya kembali ke bandara naik Metro. Kembali jalan kaki jauh menuju stasiun Metro sambil melihat pemandangan kota Dubai. Saat pulang, di arah sebelah kanan ternyata Metro juga melewati Museum of the Future, ya sudahlah ya.... nasib saya, mungkin lain kali bisa ke sana juga. Kalau sekarang saya tidak berani sendirian ke sana, selain hari juga sudah siang. Sampai ke bandara, saya belum bisa melihat gate saya yang menuju Istanbul karena masih belum 3 jam sebelum keberangkatan. Saya hanya dapat info bahwa gate saya ada di concourse C. Persisnya berapa, berdoa saja tidak jauh-jauh karena jumlah gate di concourse C sampai C50... 😅. Karena sudah capek, jadi saya mencari tempat duduk saja setelah sholat jamak Zuhur dan Ashar. Setelah mengisi ulang air minum, saya iseng masuk ke toko yang menjual cokelat Dubai lagi dan langsung menyesal kenapa tidak membeli banyak di Dubai Mall tadi, karena harganya di sini 2 kali lipat yaitu 70 AED...😓 Karena batere sekarat, jadi nyari tempat untuk ngecas juga. Ketemu sih dengan reclining chair, tapi saya sudah tidak bisa tidur saat itu. Setelah akhirnya dapat info gate berapa, saya putuskan menunggu di sana saja karena sudah capek. Gate nya di C9 dan masih sangat sepi ketika saya ke sana. Saya tidak perlu chekc in dan drop bagasi lagi, karena sudah semua dari Jakarta. Jadi tinggal nyari info gatenya tadi saat masuk ke bandara. 

Pemandangan di gate C9 yang masih sepi


Menjelang keberangkatan para penumpang mulai berdatangan. Pesawat terbang ontime menuju Istanbul dan saya sangat suka interior di pesawat Emirates kali ini. Mejanya unik sekali dari kayu dan makanannya juga enak. Pilihannya kali ini ikan atau ayam, tapi karena menu ayamnya sepertinya enak, saya pesan ayam walau harus menunggu karena kehabisan dan sedang dipanaskan. 

Menu di Emirates minus ayam saya yang sedang dipanaskan

Pesawat akan tiba tengah malam di Istanbul, dan saya akan kembali menginap di bandaranya. Negara baru lagi dengan semangat baru dan akan ada cerita baru lagi.

Lanjut Part 2

video youtube

Tulisan kali ini dalam rangka kerjaan ke Surabaya selama 4 hari 3 malam. Tidak ada foto saya karena lebih fokus ke makanan... eh kerjaan 😆. Total naik pesawat dari Palembang ke Surabaya adalah 4 kali, dan dipastikan semuanya itu diiringi dengan doa tentu saja. Kali ini saya pergi sendirian tanpa ada teman, hitung-hitung latihan karena akhir tahun ada rencana solo traveling yang lebih jauh.


Hari H sebelum berangkat masih ada kerjaan, jadi pesawatnya sore. Itu artinya saya akan sampai di Surabaya sudah malam. Tiket pesawat saat pulang transit dengan maskapai yang sama, tapi yang perginya beda maskapai karena jadwal yang cocok yang itu. Saat perginya, jarak antar pesawat yang pertama dengan yang kedua 3 jam. Harusnya cukuplah ya, pindah dari terminal 3 ke terminal 1C tanpa bagasi, tapi itu ternyata hanya harapan saudara-saudara.

Saat masih di Palembang, sudah dapat kabar pesawatnya delay. Ok, masih punya waktu kan mestinya walau agak cemas juga. Kemudian petugas lagi cari-cari penumpang untuk menyarankan koper kabin masuk bagasi saja, karena pesawat penuh. Saran ini langsung saya tolak dengan halus, karena alasan saya transit dan bakal pindah terminal. Sehingga bakal nambah waktu lagi kalau mau nunggu bagasi lagi. Singkat cerita.... hana hini... segala kegiatan  dari naik pesawat dan seterusnya sampai landing. Spare waktu yang awalnya banyak tadi, tinggal sangat sedikit. Pesawat meendarat di Cengkareng dengan selamat, tapi satu yang saya lupa, terminal 3 itu jalannya panjang dari turun pesawat sampai keluarnya. Rasanya mau nangis waktu tinggal setengah jam sebelum boarding ke pesawat selanjutnya. Lari-lari di terminal 3, tidak ada juga mobil buggy yang bisa ditumpangi. Coba bayangkan bagaimana kalau tadi saya harus menunggu bagasi lagi, untung saya tolak tawaran tadi.

Setelah keluar teriminal 3, pilihan biasa yang saya ambil adalah naik kalayang. Tapi karena sudah tidak punya waktu, saya naik taksi hanya dari terminal 3 ke 1C. Ongkosnya jangan ditanya lagi, sudah pasti mahal, mau jarak dekat sekalipun. Tapi karena tidak punya pilihan akhirnya saya setuju. Pesan saya ke supir taksi, 5 menit sampai terminal 1C. Perjalanan memang jadi sangat singkat, karena taksinya ngebut dan agak sedikit mengkhawatirkan jalannya. Pesan tambahan saya, ya tidak apa Pak agak lambat asal selamat. Kan tidak lucu kalau saya ngejar pesawat tapi celaka di taksi. Alhamdulillah sampai di terminal 1C juga. Langsung lari-lari lagi, tidak perlu check in dan drop bagasi tentu saja. Sampai di gate keberangkatan, saya tidak sempat duduk, karena pesawat ke Surabaya sudah boarding. Akhirnya... Alhamdulillah sempat juga walau ngos ngosan... 

Kembali ke cerita saya di Surabaya ini, nginapnya dekat dengan Tunjungan Plaza. Top of Mind saya tentang Surabaya ini TP, jadi saya senang dapat hotel dekat dengan TP. Malam pertama dan kedua saya sendirian, tapi nanti di malam ketiga ada teman saya yang datang saya ajak menginap. 

Suasana sarapan di Hotel


AW di Bandara


Sarapan Hotel


Makan siang

Sarapan hotel lagi


Makan siang lagi


Makan siang lagi hari berikutnya


Matcha Latte


Snack time


Bakso A Fung Bandara


Rawon di Bandara

Saya pernah ke Surabaya 2 kali sebelum ini, salah satunya sudah lama sekali. Yang pertama saat masih kuliah dan yang kedua saat ada kerjaan di ITS. Mumpung di Surabaya, saya puas-puasin makan rawon. Tidak lupa juga saya melihat-lihat TP malamnya mumpung di sana dan dekat. Pulangnya, yang pastinya beli sambal Bu Rudy, berhubung tidak punya waktu maka pesannya online saja dan kemudian titip di resepsionis. Next perjalannya adalah Solo Traveling saya dalam rangka liburan Tahun Baru. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya...


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...