Tahun baru tanggal 1 Januari 2026 saya ada di udara menuju Doha. Pesawat dari Istanbul berdurasi 5 jam dan sampai di Doha tengah malam, sama seperti saat baru sampai di Dubai dan Istanbul, saya juga akan tidur di bandara malam ini. Paspor Indonesia bebas visa untuk masuk Qatar, saya memang sengaja mencari penerbangan lanjutan yang lama sebelum ke Jakarta agar bisa expore Doha dulu. Saat ini kondisi saya sudah lebih baik, walau asam lambung saya masih mengganggu yang membuat saya susah makan di pesawat, paling tidak saya tidak mual lagi. Tapi muncul penyakit baru, saya batuk dan pilek sehingga suara saya jadi ikut serak akibatnya. Jadi sesampainya di Bandara Doha, jika di bandara Istanbul saya membeli obat mual, maka di bandara Doha saya jadi beli obat batuk yang merek nya Ivilyx. Jangan tanya harganya, karena sudah pasti mahal, luar biasa ya dalam 2 hari terpaksa beli obat di jalan. Tapi it's okay lah... yang penting sehat... ya kan.... 


Berbeda dengan di Bandara Dubai dan Istanbul yang saya terpaksa tidur di area landside, kali ini saya bisa tidur di area airside. Koper berat sudah diatur sampai Jakarta, jadi saya tidak perlu keluar imigrasi. Enaknya tidur di area airside, lebih banyak pilihan spot untuk tidur. Banyak terdapat reclining chair dan mushola. Saya memilih tidur di mushola agar lebih privat dan ternyata banyak orang yang memiliki pemikiran sama dengan saya, walau saat memasuki waktu subuh yang tidur diusir sama petugasnya. Sama seperti sebelumnya, demi keamanan, tas yang berisi dompet dan hp saya jadikan bantal untuk tidur. AC di mushola juga masih manusiawi tidak seperti AC di mushola Kuala Lumpur, jadi saya tidak perlu repot untuk mencari selimut. Untuk perjalanan kali ini di 3 negara, saya juga bersyukur karena semuanya negara mayoritas muslim. Makanan halal banyak dan yang paling membahagiakan selalu ada semprotan di toiletnya.

Sudah melihat Boneka Teddy ini, artinya anda sudah ada di Doha

Makan di pesawat

Bangun subuh, seperti di Dubai dan Istanbul saya tidak bisa mandi. Hanya gosok gisi, cuci muka, ganti baju dan dandan setelah solat subuh. Kalau ketemu tempat untuk mandi, tentu saja saya akan mandi. Tapi karena tidak ada, ya jadi mohon maaf... cuma bisa mengandalkan parfum jadinya... hahaha.... Jika saat di Dubai, saya sendirian menuju Burj Khlaifa, maka di Doha saya ikut tur dari Qatar Airways nama programnya adalah Discover Qatar. Syaratnya memiliki waktu transit lebih dari 6 jam, dan kita akan dibawa keliling Doha di area dekat bandara, selama 3 jam. Saya memilih waktu dari jam 8 sampai jam 11, kalau lebih dari 3 jam ada yang sampai desert safari. Untuk ikut program ini, harus berkumpul 1,5 jam sebelum waktunya, jadi saya jam 06.30 sudah harus siap sehingga tidak sempat sarapan. Kenapa berkumpulnya 1,5 sebelumnya, karena harus melewati imigrasi dan lain-lain. 

Lokasi berkumpul di Discover Qatar Tour Desk, di Duty Free Plaza South, di bawah eskalator di antara concourse A dan B. Atau cara mudahnya cari saja Boneka Teddy yang sangat terkenal di Bandara Doha, boneka yang sangat sering saya lihat di vlog orang-orang. Jalan lurus terus sampai ketemu 2 eskalator, sebelah kiri penukaran uang dan sebelah kanannya Discover Qatar Tour Desk. Eskalator ini juga merupakan eskalator turun jika masuk setelah melewati imigrasi. Peserta tur yang berkumpul cukup banyak, ada bule, ada yang dari Asia entah darimana dan beberapa rombongan keluarga Indonesia yang sepertinya habis umroh. Kan lumayan ya, transit lama di Doha sekalian bisa jalan-jalan. 

Setelah didata, kami mendapatkan seorang pemandu yang kemudian mengajak kami ke lantai atas untuk masuk imigrasi sebelum masuk ke Doha. Dia sudah menjelaskan ada 2 step yaitu imigrasi kemudian ke titik kumpul yang sekarang saya lupa namanya, intinya semacam tour desk juga tapi posisinya di luar. Karena ramai dan lift nya terbatas, rombongan kami sempat terpisah. Sedapat mungkin saya mencari dan mengenali muka-muka sesama peserta tur agar tidak ketinggalan, tapi saat di imigrasi akhirnya terpisah juga. Antrian di imigrasi seperti biasa selalu ramai, di paspor saya sudah diselipkan kertas yang sebelumnya diberikan di tour desk Discover Qatar. Saya yakin tidak akan disulitkan, karena mereka pasti sudah biasa melayani turis transit yang masuk ke Doha sebentar dalam Program Discover Qatar. Yang bikin bete selain lama antri adalah saya sempat pindah ke petugas imigrasi lainnya, karena petugas di depan saya entah kenapa langsung mengarahkan ke petugas lain. Jadi ketika saya selesai dari imigrasi saya tidak menemukan satu muka pun dari peserta tur yang sama dengan saya. Inisiatif, nanya ke petugas sambil menyebutkan tour desk Discover Qatar yang sudah diinformasikan pemandu sebelumnya. Ternyata tidak sulit, tinggal keluar dan sampailah saya untuk lapor kalau saya sudah selesai dari imigrasi. Kami diminta menunggu sampai jam 8 kurang 15 sebelum masuk ke bis. Saya duduk tak jauh dari peserta tur yang lain sambil ngemil makanan yang ada di tas saya.

Setelah waktunya tiba, saya dan semua peserta menuju bis. Tas pakaian ganti ditaruh di bagasi bis dan kami mendapat pemandu lain yang bernama Francesca dari Italia. Kami juga diberikan air minum dingin untuk selama perjalanan. Perjalanan dimulai, Francesca menjelaskan tempat-tempat yang kami lewati termasuk beberapa tempat yang pernah dipakai pada piala dunia 2022. Ada area pantai dengan gedung-gedung tinggi masih terdapat logo world cup di tengah-tengahnya. Juga melewati stadion 974 yang merupakan stadion piala dunia yang terbuat dari kontainer. Qatar ini memang sunggu negara kaya, gedung-gedungnya kebanyakan berseni. Jarang gedung yang dibuat cuma lurus saja. Pasti ada "sesuatu" nya, kalau bisa dibuat meliuk kenapa tidak, uangnya ada kan... 😂 Di jalan juga saya melihat semacam acara apel pagi prajurit, tapi dilakukan di atas onta, sayang tidak bisa berhenti untuk foto-foto.

Kami akan berhenti di 3 tempat, yang pertama adalah Dhow Harbour. Ini adalah area di pinggir laut yang bisa melihat kapal-kapal di sana. Waktu yang diberikan tidak lama dan tripod dengan remote bluetooth saya memang benar-benar menjadi barang-barang yang berguna. Saya tidak perlu merepotkan orang lain untuk mengambil foto. Setting nya sesuai dengan yang saya mau, jadi tidak ada acara bete karena hasil foto yang diambil tidak sesuai keinginan. 

Di Dhow Harbour

Gedung-gedung di Doha 1...

Gedung-gedung di Doha 2...


Perhentian kedua adalah Kaltara Cultural Village. Ini semacam kawasan budaya dan seni yang diantaranya ada masjid, pigeon tower yang menaranya berbentuk seperti telur dan Katara Amphitheatre yang sepertinya stadion mini dengan warna dominan putih. Kalau mau menyimak pemandu menjelaskan objek-objek yang didatangi saya tidak punya cukup waktu untuk mengambil foto dan video. Setting kamera dan juga menunggu orang-orang sepi. Jadi saya lebih banyak memisahkan diri tapi tetap mengawasi di posisi Francesca supaya tidak ketinggalan. 

Di Kaltara Cultural Village


Katara Amphitheatre

Tempat terakhir yang kami datangi adalah Souq Waqif yang merupakan pasar tradisional. Tujuan saya cuma 2 yaitu berfoto dengan jempol besar dan mencari oleh-oleh gantungan kunci, magnet kulkas dan bel dinner untuk saya sendiri. Awalnya saya sempat kecewa karena pasar itu murni benar-benar pasar. maksud saya barang-barang yang dijual adalah kebutuhan orang lokal. Banyak bubuk-bubuk entah apa yang tidak saya ketahui fungsinya. Kami juga diajak mengunjungi toko tempat burung falcon. Ketika ada waktu saya bertanya ke Francesca dimana patung thumb yang saya cari dan dia menjelaskan dari tempat bis kami berhenti yang merupakan titik kumpul dekat gedung spiral, nanti jalan ke kiri. Syukurlah di sisa waktu, kami diberikan waktu bebas sebelum berkumpul lagi untuk pulang. Saya bergegas menuju tempat yang dimaksud Francesca, dan Alhamdulillah selain saya bisa berfoto dengan si jempol, saya juga menemukan banyak toko yang menjual souvenir turis. Ternyata di sana ada yang menjual gantungan kunci dan lain-lain karena memang merupakan sisi pasar tapi untuk turis dan lebih ramai. Banyak tempat makan yang juga berada di sana, tapi karena tidak ada waktu, saya bergegas kembali ke bis setelah semua yang saya cari ketemu.

Gedung spiral di depan Souq Waqif

Di Souq Waqif sebelah toko Burung Falcon


Patung jempol di Souq Waqif


Jam 11 kami kembali ke bandara dan berpamitan kepada Francesca. Air minum dari bis terpaksa ditinggal karena masuk bandara tidak boleh bawa air. Coklat Dubai saya yang dibeli di Dubai dan Istanbul hampir disita, tapi saya memohon jangan diambil karena itu untuk oleh-oleh. Kan sedikit juga ya, tidak akan djual. Setelah masuk lagi lewat imigrasi, saya langsung mencari makan. Ada foodcourt di dekat area Tour Desk Discover Qatar yang sudah saya lihat sebelumnya. Saya benar-benar lagi pengen nasi briyani dan syukurlah ada di sana. Ada macam-macam pilihan dan saya memilih lauk ayam. Saya minta kemasan take away, tapi sebagian saya makan di sana dan sebagian lagi saya makan nanti karena porsinya ternyata banyak sekali. Harganya? tentu saja mahal saudara-saudara. Saya menghabiskan 68 Riyal Qatar untuk makan siang. Untuk minum saya mengisi ulang botol dengan air minum yang banyak terdapat di sana. Di sana juga ada toko oleh-oleh yang harganya nauzubillah mahalnhya sesuai standar bandara. Saya membeli coklat Dubai lagi dan kurma dengan pembayaran menggunakan kartu kredit, karena uang tunai sudah menipis. Saya jadinya membeli 3 versi coklat Dubai untuk dibandingkan rasanya nanti. Coklat yang saya beli kali ini ada yang rasa mangga dan rasa lainnya.

Nasi briyani yang enak


Masih punya banyak waktu karena pesawat ke Jakarta jadwalnya malam, saya berjalan-jalan di bandara setelah sholat jamak Zuhur dan Ashar. Seperti Changi yang punya Jewel, maka di Bandara Hamad ini ada The Orchard. Taman dengan air terjun yang bisa menjadi tempat untuk rileks sambil menunggu jadwal terbang. Ada air mancur juga walau tidak sebesar di Changi. Posisinya ada di concourse paling ujung. Saya berharap gate saya nanti juga di C agar tidak terlalu jauh kalau jalan. Memang ada kereta menuju ke sana, tapi karena saya juga membawa tas pakaian plus oleh-oleh yang cukup berat, saya menggunakan luggage troley, saya malas harus meninggalkan troley itu dan nanti harus cari lagi. Jadi saya jalan kaki menelusuri concourse C yang panjang itu dengan mendorong troley. Untung ada banyak travelator, jadi kaki saya bisa terbantu untuk menghemat tenaga.

The Orchard Bandara Hamad Doha


Departure Board yang memberi tahu gate saya, baru menginformasikannya beberapa saat sebelum waktu boarding. Karena sudah capek, saya duduk saja sambil ngecas hp. Iseng menghabiskan uang riyal beli jus jeruk dan ternyata amit-amit mahal sekali. Sehari saya di Doha ini setara dengan saya seminggu di rumah sepertinya 😅. Alhamdulillah ternyata gate ke Jakarta tetap di concourse C tepatnya di C1, jadi saya tidak perlu jalan jauh lagi. Sambil menunggu, saya memakan nasi briyani lagi. Karena enak jadinya beli lagi, sisa yang tadi siang sudah habis dimakan di mushola. Di ruang tunggu sudah banyak orang Indonesia, saking lelahnya saya tertidur dan untung terbangun saat waktunya boarding. Saya termasuk yang terakhir masuk ke pesawat karena kursi saya di zona yang posisinya di depan. Awalnya saya duduk di 21C, tapi ada ibu dan suaminya mengajak tukaran. Jadi saya geser ke jendela 21A dan mereka duduk di tengah dan aisle seat. Alhamdulillah ya, rezeki anak soleh. Walau malam, tapi lumayan melihat pemandangan lampu-lampu gedung di Doha.

Saya sangat suka warna merah marun yang dominan di pesawat Qatar Airways. Karena perjalanan memakan waktu 8 jam, disediakan 2 kali makan. Jika di Emirates dan Saudia selain makan berat maka yang kedua adalah roti atau snack, maka kalau di Qatar Airways yang pertama makan berat yang kedua juga disajikan lengkap tapi bukan nasi. Kalau siang nafsu makan saya sudah kembali, nah malam ini saya kembali tidak nafsu makan. Demi bertahan hidup, obat yang saya beli di Istanbul jadi dimakan sebutir lagi agar saya bisa makan sedikit.

Makan pertama


Isinya nasi


Makan kedua


Isinya kentang, sosis dan telur

Menjelang subuh, pesawat memasuki wilayah Indonesia. Syukurlah ilmu saat saya umroh tahun 2023 dipakai lagi. Saya solat subuh di kursi pesawat setelah tayamum. Jika melihat layar di depan kursi, terlihat jelas rute pesawat yang gelap di belakangnya mulai berganti terang di depannya. Bumi seolah terpisah menjadi dua, gelap dan terang. Ini dibuktikan benar, saat saya melihat ke luar jendela dimana matahari mulai menampakkan dirinya. 

Pesawat mendarat di Jakarta jam 7 pagi. Saya sudah janjian dengan Desi yang kebetulan baru pulang umroh karena pesawat kami ke Palembang sama dan jadwalnya siang. Setelah saya sampai di Indonesia, Alhamdulillah saya benar-benar sehat. Saya sudah berani beli kopi dan minuman lainnya. Perut saya ini agak aneh, saya pernah mencret gara-gara beli kopi. Makanya selama traveling saya takut beli minuman asing, kecuali latte yang saya beli di Istanbul bersama Nabila dan Hafiz. Nah sekarang saya tidak peduli, mau mencret ya sudahlah, paling pesawatnya diundur 😂. Yang penting lagi pengen minum manis untuk melegakan diri sendiri. 

Demikianlah kisah nekat saya solo traveling ke Istanbul dengan transit Dubai dan Doha. Perjalanan ini akan menambah memori dalam ingatan saya. Mungkin lain kali saya lebih berani solo traveling ke negara-negara lainnya yang bukan muslim. Jiwa traveling saya terus ingin mengunjungi tempat-tempat yang baru, namun teman-teman saya tidak selalu cocok waktunya dan mau dijadikan teman traveling. Jadi saya harus mengumpulkan keberanian dan uangnya tentu saja, untuk perjalanan berikutnya.

Video youtube

Berbeda dengan postingan sebelumnya yang saya tulis perhari, postingan kali ini untuk beberapa hari selama sisa waktu saya di Istanbul sampai persiapan pulangnya lewat Doha. Kenapa begitu? karena selama 2 hari berikutnya saya tidak ke mana-mana dan sempat sakit juga 😔..., jadi hanya sedikit yang bisa diceritakan. Hari ketiga di Istanbul awalnya saya akan keluar entah kemana sendiri, tapi setelah hari semakin siang, semakin malas. Jadi akhirnya, saya keluar hanya untuk membeli makan siang dan belanja-belanja sedikit di area Taksim. Makan siang di Imkonezya dan memesan menu ayam bakar. Selama makan saya perhatikan tempat tissu yang agak berbeda di Turki. Jika di Indonesia dan tempat lain, kita menarik tissu dari atas, maka di sini menariknya dari samping.

Ayam Bakar di Imkonezya


Tempat tissu di Turki

Selesai makan, saya ke sisi lain Taksim yang 2 hari lalu saya lewati bersama Nabila dan Hafiz. Kembali nyari oleh-oleh tambahan. Saya sudah menemukan coklat Dubai lagi, kali ini versi Turki dan akan saya bandingkan rasanya dengan yang asli Dubai. Selain itu, ketemu dengan pashmina yang akan berikan ke diri sendiri sebagai reward... 😂. Kemudian beli makan lagi di Burger King dekat Taksim Square. Nggak mau ribet bahasanya, saya memesan lewat mesinnya dan membayar dengan kartu kredit. Kemudian tinggal menunggu giliran dipanggil kalau pesanan sudah siap. Untuk diri sendiri saya juga selalu mencari bel dinner di setiap negara yang saya datangi. Sejauh ini hanya 2 negara yang tidak berhasil saya koleksi bel dinner nya. Yaitu Taiwan karena saya kurang dari 24 jam di sana sehingga tidak sempat ke mana-mana, dan yang kedua adalah Arab Saudi yang memang tidak ada oleh-oleh bel dinner. 

Setelah semua benda yang dicari dapat, saya pulang. Sebelumnya sempat membeli makanan kecil dan minum untuk di hotel. Sampai di hotel kamar sudah dibersihkan dan saya tidak keluar lagi sampai malam, karena untuk makan malam pun sudah ada, sementara sarapan bisa menyeduh mi gelas Indomie yang saya beli di toko depan hotel. Luar biasa ya, jauh-jauh ke Turki cuma buat tidur... 

Perolehan saya dari Dubai dan Istanbul


Mungkin kalau tidak solo traveling saya akan lebih banyak keluar, tapi karena saat ini saya sendirian saya lebih waspada. Selain itu saya juga agak ngeri dengan kisah scam taksi di sini. Sejauh ini baru ke Brunei yang saya pernah jalani secara solo juga, namun kali ini adalah perjalanan 3 negara dan sekaligus terjauh. Karena terlalu sering tidur, malamnya saya jadi sering terbangun. Area di sekitar hotel saya sampai tengah malam pun tetap ramai. Matahari terbit jam 9 an, jadi subuhnya sekitar jam 7. Lagi liburan pun saya diganggu kerjaan, menyimak suatu kegiatan lewat zoom yang kalau di Indonesia di jam wajar yaitu jam 10 pagi, tapi bagi saya belum subuh masih jam 6. Jadi menyimak materi sambil tidur karena masih mengantuk. 

Besoknya kembali saya tidak ada agenda, maunya keluar cari makan saja dan packing untuk pulang. Tapi ternyata hari itu saya demam. Sedih sekali rasanya, sudah sendirian jauh dari rumah, kena sakit. Saya punya sakit maag, sekaligus gerd. Yang saya rasakan saat itu gejalanya kurang lebih sama, walau lebih ringan. Saya bawa obat-obatan lengkap, sehingga demamnya cepat hilang, tapi obat dokter saya tidak punya, karena sebelum berangkat saya sempat kumat juga dan obatnya sudah habis. Jadi saat itu saya hanya mengandalkan obat seadanya saja. Mungkin ini juga akibat saya kena hujan, tidak terasa saya tertidur saat petugas kebersihan kamar memanggil.

Ibu petugas yang membersihkan kamar saya agak khawatir karena melihat saya lesu dan suara saya serak. Dia tidak bisa Bahasa Inggris, jadi saya bilang tidak usah membersihkan kamar, saya hanya minta dibuangkan sampah saja dan refil teh serta kopi. Dengan Bahasanya, dia menyuruh saya tidur saja dilengkapi isyarat setelah saya bilang, "Because of the Rain". Setelah si Ibu pergi, saya berusaha mandi walau masih pusing, karena harus beli makan siang. Di Imkonezya saya membeli makan siang yang dimakan di sana, sekaligus bungkus untuk makan malam. Kalau saya tidak makan, nanti maag saya tambah parah. Di Imkonezya tentu saja banyak orang Indonesia, yang punya orang Turki bisa Bahasa Indonesia, kabarnya istrinya juga orang Indonesia.

Makan siang lagi di Imkonezya


Besok paginya tanggal 31 Desember 2025 saya bersiap untuk check out sebelum jam 12, walau pesawat saya ke Doha berangkat malam. Dan pagi itu walau tidak demam lagi, saya muntah. Saya nangis karena hari itu harus naik pesawat dan takutnya kondisi saya tambah parah dan tidak bisa pulang. Berusaha sarapan dan makan obat seadanya, akhirnya saya chek out. Bawaan saya ada 3 yang terdiri dari koper besar yang rencananya akan masuk bagasi langsung ke Jakarta, tas pakaian untuk ganti di Doha dan tas tangan. 

Untuk ke bandara saya akan naik bis dari depan Point Hotel. Jalannya tidak jauh, namun bagi saya hari itu sangat berat menggeret koper dengan kondisi badan yang mual mau muntah. Jilbab terpaksa saya longgarkan sedikit hari itu. Untunglah bisnya langsung jalan setelah saya masuk. Saya tidak bisa lagi menikmati perjalanan sepanjang jalan menuju bandara. Rasanya lama sekali, dan saya berdoa agar saya sehat dan tidak muntah lagi dengan memakan permen untuk mengurangi rasa mual. Sesampainya di bandara tentu saja saya belum bisa check in. Bandara Istanbul ini sangat pet friendly mengingat maskapainya Turkish Airline juga membolehkan membawa peliharaan di pesawat. 

Bandara Istambul

Saya mencari tempat untuk duduk dan kalau bisa berbaring. Tapi sebelumnya saya ke mushola dulu untuk sholat jamak Zuhur dan Ashar. Duduk istirahat cukup lama sebelum akhirnya sholat. Saya juga memaksa diri untuk makan. Saya tidak ingat namanya fast foodnya, yang jelas tidak habis dimakan dan saya bungkus masuk tas. Untunglah di sana saya melihat toko obat dan dengan translate AI ke Bahasa Turki saya minta obat maag dan mual. Mereka memberi saya obat merek Onzyd dan setelah saya coba, sangat manjur. Walau saya masih agak susah makan, setidaknya rasa mualnya sudah hilang. 

Saat check in, saya memastikan bagasi besar saya bisa sampai Jakarta. Kali ini saya naik Qatar Airways untuk pulang ke Jakarta, dan akan transit lama di Doha. Di bandara Istanbul, bisa menggunakan mata uang euro, namun karena saya masih punya Lira, jadi membeli minuman manis pakai Lira. Sambil menunggu pesawat, jendela di samping saya menunjukkan pesawat yang turun dengan latar belakang sunset terakhir di Tahun 2025. Malam ini adalah malam tahun baru yang akan saya lewati di pesawat menuju Doha. Di depan saya ada satu keluarga Chinese dengan anaknya yang sedang makan kebab. Tapi mereka bicara menggunakan Bahasa Indonesia, maka mengobrol lah saya dengan mereka sambil menunggu waktu boarding. Alhamdulillah saat masuk pesawat kondisi saya sudah semakin baik, tidak lagi mual. Setidaknya saya berharap bisa bertahan satu hari lagi di Doha, sebelum nanti sampai di Jakarta. Kalaupun jika sakit lagi di Jakarta, paling tidak saya sudah berada di negara sendiri. 

Lanjut Part 5


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...