Hari berikutnya adalah hari tidur sedunia. Capeknya baru terasa, setelah sebelumnya tidur di pesawat dan di Bandara, kemudian harus bangun pagi-pagi untuk naik Petronas. Kamar hotelnya tidak punya tv, jam dan jendela. Jadi mau siang atau malam tidak ada bedanya. Setelah bangun tidur yang super kesiangan, bersiap-siap dengan santai karena tidak punya tujuan yang pasti untuk hari itu. Diputuskan akhirnya hanya main ke TRX mall, serta mall-mall lainnya untuk jajan-jajan cantik dan belanja apa saja yang kelihatan.


Kenapa TRX mall yang dipilih, karena di mall ini ada rooftop di lantai 3 yang bisa dikunjungi. Setelah makan siang serta beli jajanana kami ke sana. Jajanan yang dibeli adalah jajanan viral. Karena kan kami tidak mau ketinggalan dengan apa yang sedang diminati saat ini. Makanan yang dimaksud adalah Mon Chines Beef Roti yang halal. Ini ada isi daging dan beef yang sama enaknya, gerainya juga ada di Jalan Alor selain di Pavilion. Selain itu juga ada Chez Choux yang kami beli untuk rasa cokelat, vanila dan matcha. Minumnya Koin yang juga ada di Indonesia. 

Rooftop di TRX mall ini sangat keren, bersih dan bikin betah. Kalau mau Me Time bisa di sini, atau kalau mau kumpul rame-rame sama teman atau keluarga juga bisa. Rumput dan tanamannya sangat terawat, pasti mahal biaya perawatannya. Kami jadi kemping  di sana sambil makan makanan yang sudah dibeli. 

Rooftop di TRX mall


Terlihat juga gedung-gedung sekitar


Cemilan yang dibawa


Makan siang di Pavilion lagi


Setelah dari TRX mall kami mencari tiket untuk ke Colmar Tropicale. Kami ke Berjaya Times Square. Tapi hasilnya benar-benar nihil. Semua informasi dari internet yang mengatakan ada di lantai berapa dan di posisi mana benar-benar tidak ada lagi. Bolak-balik tidak jelas, akhirnya kami ke arah Hotelnya dan bertanya ke staff di sana bagaimana cara ke Colmar Tropicale. Akhirnya dapat info kalau tidak salah, karena saya menulis blog ini bermodal ingatan dari kunjungan yang sudah cukup lama. Infonya di lantai 15 dan datang pagi-pagi. Tapi untuk bertanya dia juga memberikan nomor kontak yang sekarang entah di mana. Setelah dihubungi ternyata tiket nya untuk besok sudah habis, karena memang muatan mobilnya juga terbatas. Yang ada untuk lusa, tapi sudah pulang kalau waktunya lusa. So... apakah kami akan menyerah, yo wes... sepertinya sudah takdir kalau tidak bisa ke Colmar Tropicale untuk kedua kalinya setelah bertahun-tahun lalu saya juga pernah tidak berhasil dapat tiketnya.

Karena memang tidak ada lagi tujuan, habis dari TRX mall dan Berjaya Times Square, kami balik ke hotel untuk menyambung mimpi. Makan malamnya tinggal melipir ke luar hotel di Jalan Alor yang memang sangat ramai kalau malam. 

Makan malam di Jalan Alor


Kembali ke cerita Colmar Tropicale tadi, saya masih usaha mencari cara ke sana besok. Nanya ke resepsionis dia janji akan mencarikan mobil sewaan untuk ke Colmar Tropicale pp dan mau menunggu sekitar beberapa jam. Tak lama dapat infonya, tapi mahal sekali, saya tidak ingat berapa tapi yang jelas sangat mahal dan tidak worth it sama sekali bagi saya. Mencari jalan lain, dapat lewat kakak saya, yang pernah menyewa mobil dengan orang yang dipanggil Pak Cik. Maka nego lah saya lewat nomor yang diberikan, dan hasilnya juga memang mahal, karena posisinya di luar kota dan menanjak dekat dengan Genting. Namun Pak Cik ini walau mahal tidak semahal dari temannya resepsionis sebelumnya. Setelah dipikir lagi, mumpung ada waktunya dan entah kapan lagi bisa punya kesempatan, akhirnya saya setuju. Besok kami akan dijemput pagi, pp ke Colmar Tropicale dan akan ditunggu beberapa jam.

Lanjut Part 4

Video Youtube

Hari kedua di Kuala Lumpur memiliki agenda utama yaitu naik Petronas. Saya pertama kali ke Kuala Lumpur Desember 2007, dan sejak saat itu saya sangat sering bolak balik Kuala Lumpur, baik sebagai tempat tujuan utama atau hanya sekedar transit. Dahulu saat masa jayanya sebelum pandemi Covid 19, tiket Air Asia sangat terjangkau, sehingga kemana-mana akan lebih murah lewat Kuala Lumpur dibanding Jakarta. Kalau dihitung-hitung sampai sekarang kurang-lebih saya sudah 10 kali lebih ke Kuala Lumpur. Tapi dari sekian banyak kinjungan itu, tidak satupun yang punya kesempatan untuk naik Petronas. Film Entrapment sudah dari jaman kapan ditonton, baru sekarang baru akan terwujud naik Petronas.


Tiketnya sudah dipesan secara online, dapat jadwal jam 11 pagi. Sebelum jam 11 sudah harus datang ke sana. Pagi-pagi sudah antri untuk beli sarapan nasi lemak di Jalan Alor yang sangat terkenal itu. Porsinya luar biasa banyak, satu nasi bisa dibagi dua, tinggal nambah lauknya saja. Selesai sarapan, cus naik MRT menuju Petronas. Kalau muncul dari mallny maka setelah sampai di pintu depan belok kanan. Tapi jika dari arah depan air mancur, maka belok kiri. Mungkin bisa juga ya dari arah sebaliknya, tapi kami ke arah yang ditunjuka oleh petugas saat nanya ke dia. Turun eskalator 1 lantai ke bawah. Setelah lapor ke meja petugas, kami dikasih stiker berwarna merah ditempel disebelah kanan bahu. Ini ada tanda rombongan yang jam 11. Rasanya jarak antar rombongan 15 menit, dan stikernya berwarna macam-macam dan ditempel di bahu kanan atau kiri.

Setelah waktunya, kami diperbolehkan masuk. Ada sesi foto dulu per kelompok dengan latar yang nantinya akan ditambah kemudian. Naik lift dengan tujuan pertama di Skybridge lantai 41. Cuma dikasih waktu 10 menit. Luar biasa, memanfaatkan waktu itu untuk ngevlog bikin video dan foto-foto narsis. Untunglah waktunya cukup dan masih sempat menikmati pemandangan di bawah, taman belakang di bagian belakang dan air mancur di bagian depan. Kemudian setelah petugas memanggil grup stiker warna merah sebelah kanan, lanjut ke lantai 86 setelah sebelumnya transit di lantai lain dulu. 

Di lantai 86 tempatnya lebih luas. Di tengah ada maket Petronas, juga ada Kota Kuala Lumpur dalam bentuk bentuk mini. Selain itu ada juga kamera dan layar yang menunjukkan augmented reality Petronas. Letakkan tangan kita menghada ke atas, nanti menaranya akan ada di atas tangan kita. 

Petronas Lantai 86


Skybridge lantai 41


Another angle lantai 41


Dari lantai 86, Kota Kuala Lumpur terlihat lebih jelas. Di sana ada teropong yang bisa digunakan. Saya juga melihat Pintasan Saloma dan beberapa tempat lain. Cuma sayang, tidak bisa berlama-lama, setelah waktunya habis, kami diantar turun ke lantai khusus yang menjual merchandise dan foto-foto yang bisa dipilih saat berfoto di bawah tadi. Foto kita juga bisa disatukan dengan merchandise khusus berbentuk kaca, tapi harganya lumayan mahal. Jadi supaya ada kenang-kenangan, saya beli yang versi biasa saja. Untuk softcopy boleh diambil setelah diberi linknya. Selain itu kita juga dapat sertifikat saudara-saudara... haha. Jadi bolehlah kali ya ditambahkan sebagai satu pencapaian telah berhasil naik Gedung Kembar tertinggi di dunia. Dari lantai tersebut juga terlihat jelas kembaran Petronas yang satunya. Kalau saya ditanya saya naik Petronas yang mana, sebelah kiri atau kanan, saya tidak tahu dan tidak bisa menjawabnya.

Foto merchandise Petronas


Sang kembaran


Makan siang kami makan di Pavilion. Sudah lama tidak makan Yong Tau Fu dan saya tidak menyia-nyiakan kesempatan mumpung masih di Malaysia. Agenda lain hari itu adalah Pintasan Saloma, tapi karena lebih bagus dilihat saat malam, maka kami akan ke sana saat malam hari, dan akan kembali ke hotel dulu untuk istirahat. Karena ini judulnya menuntaskan sisa list di Kuala Lumpur, jadi saya memang sengaja menyusun jadwal yang santai, dengan lebih banyak tidur di Hotel. Beda tentu saja kalau ke tempat baru, pasti dalam satu hari akan dibuah padat sampai kaki jadi gempor.

Yong Tau Fu Pavilion


Beli Mango Sticky Rice di dekat Hotel di Jalan Alor


Setelah Magrib kami ke arah Petonas lagi untuk ke Pintasan Saloma, tapi kali ini naik LRT ke Stasiun Kampung Baru. Keluar sedikit, sudah kelihatan si jembatan tersebut. Ternyata di sini juga rame sama orang-orang. Lampu-lampunya terus berganti merah, kuning, hijau, biru dan ungu. Latar belakangnya Petronas dengan lampu terang berwarna putih.

Di Pintasan Saloma


Sekalian dengan Petronas


Makan malamnya di Mall di bawah Petronas, Nasi Kari Jepang dan Daging. Karena memang sudah kemalaman, banyak tempat makan yang mulai tutup. Setelah makan kami segera pulang mengejar MRT yang takutnya juga sudah habis karena sudah kemalaman.

Makanan Jepang

Lanjut Part 3

Video Youtube

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...