Berbeda dengan postingan sebelumnya yang saya tulis perhari, postingan kali ini untuk beberapa hari selama sisa waktu saya di Istanbul sampai persiapan pulangnya lewat Doha. Kenapa begitu? karena selama 2 hari berikutnya saya tidak ke mana-mana dan sempat sakit juga 😔..., jadi hanya sedikit yang bisa diceritakan. Hari ketiga di Istanbul awalnya saya akan keluar entah kemana sendiri, tapi setelah hari semakin siang, semakin malas. Jadi akhirnya, saya keluar hanya untuk membeli makan siang dan belanja-belanja sedikit di area Taksim. Makan siang di Imkonezya dan memesan menu ayam bakar. Selama makan saya perhatikan tempat tissu yang agak berbeda di Turki. Jika di Indonesia dan tempat lain, kita menarik tissu dari atas, maka di sini menariknya dari samping.

Ayam Bakar di Imkonezya


Tempat tissu di Turki

Selesai makan, saya ke sisi lain Taksim yang 2 hari lalu saya lewati bersama Nabila dan Hafiz. Kembali nyari oleh-oleh tambahan. Saya sudah menemukan coklat Dubai lagi, kali ini versi Turki dan akan saya bandingkan rasanya dengan yang asli Dubai. Selain itu, ketemu dengan pashmina yang akan berikan ke diri sendiri sebagai reward... 😂. Kemudian beli makan lagi di Burger King dekat Taksim Square. Nggak mau ribet bahasanya, saya memesan lewat mesinnya dan membayar dengan kartu kredit. Kemudian tinggal menunggu giliran dipanggil kalau pesanan sudah siap. Untuk diri sendiri saya juga selalu mencari bel dinner di setiap negara yang saya datangi. Sejauh ini hanya 2 negara yang tidak berhasil saya koleksi bel dinner nya. Yaitu Taiwan karena saya kurang dari 24 jam di sana sehingga tidak sempat ke mana-mana, dan yang kedua adalah Arab Saudi yang memang tidak ada oleh-oleh bel dinner. 

Setelah semua benda yang dicari dapat, saya pulang. Sebelumnya sempat membeli makanan kecil dan minum untuk di hotel. Sampai di hotel kamar sudah dibersihkan dan saya tidak keluar lagi sampai malam, karena untuk makan malam pun sudah ada, sementara sarapan bisa menyeduh mi gelas Indomie yang saya beli di toko depan hotel. Luar biasa ya, jauh-jauh ke Turki cuma buat tidur... 

Perolehan saya dari Dubai dan Istanbul


Mungkin kalau tidak solo traveling saya akan lebih banyak keluar, tapi karena saat ini saya sendirian saya lebih waspada. Selain itu saya juga agak ngeri dengan kisah scam taksi di sini. Sejauh ini baru ke Brunei yang saya pernah jalani secara solo juga, namun kali ini adalah perjalanan 3 negara dan sekaligus terjauh. Karena terlalu sering tidur, malamnya saya jadi sering terbangun. Area di sekitar hotel saya sampai tengah malam pun tetap ramai. Matahari terbit jam 9 an, jadi subuhnya sekitar jam 7. Lagi liburan pun saya diganggu kerjaan, menyimak suatu kegiatan lewat zoom yang kalau di Indonesia di jam wajar yaitu jam 10 pagi, tapi bagi saya belum subuh masih jam 6. Jadi menyimak materi sambil tidur karena masih mengantuk. 

Besoknya kembali saya tidak ada agenda, maunya keluar cari makan saja dan packing untuk pulang. Tapi ternyata hari itu saya demam. Sedih sekali rasanya, sudah sendirian jauh dari rumah, kena sakit. Saya punya sakit maag, sekaligus gerd. Yang saya rasakan saat itu gejalanya kurang lebih sama, walau lenih ringan. Saya bawa obat-obatan lengkap, sehingga demamnya cepat hilang, tapi obat dokter saya tidak punya, karena sebelum berangkat saya sempat kumat juga dan obatnya sudah habis. Jadi saat itu saya hanya mengandalkan obat seadanya saja. Mungkin ini juga akibat saya kena hujan, tidak terasa saya tertidur saat petugas kebersihan kamar memanggil.

Ibu petugas yang membersihkan kamar saya agak khawatir karena melihat saya lesu dan suara saya serak. Dia tidak bisa Bahasa Inggris, jadi saya bilang tidak usah membersihkan kamar, saya hanya minta dibuangkan sampah saja dan refil teh serta kopi. Dengan Bahasanya, dia menyuruh saya tidur saja dilengkapi isyarat setelah saya bilang, "Because of the Rain". Setelah si Ibu pergi, saya berusaha mandi walau masih pusing, karena harus beli makan siang. Di Imkonezya saya membeli makan siang yang dimakan di sana, sekaligus bungkus untuk makan malam. Kalau saya tidak makan, nanti maag saya tambah parah. Di Imkonezya tentu saja banyak orang Indonesia, yang punya orang Turki bisa Bahasa Indonesia, kabarnya istrinya juga orang Indonesia.

Makan siang lagi di Imkonezya


Besok paginya tanggal 31 Desember 2025 saya bersiap untuk check out sebelum jam 12, walau pesawat saya ke Doha berangkat malam. Dan pagi itu walau tidak demam lagi, saya muntah. Saya nangis karena hari itu harus naik pesawat dan takutnya kondisi saya tambah parah dan tidak bisa pulang. Berusaha sarapan dan makan obat seadanya, akhirnya saya chek out. Bawaan saya ada 3 yang terdiri dari koper besar yang rencananya akan masuk bagasi langsung ke Jakarta, tas pakaian untuk ganti di Doha dan tas tangan. 

Untuk ke bandara saya akan naik bis dari depan Point Hotel. Jalannya tidak jauh, namun bagi saya hari itu sangat berat menggeret koper dengan kondisi badan yang mual mau muntah. Jilbab terpaksa saya longgarkan sedikit hari itu. Untunglah bisnya langsung jalan setelah saya masuk. Saya tidak bisa lagi menikmati perjalanan sepanjang jalan menuju bandara. Rasanya lama sekali, dan saya berdoa agar saya sehat dan tidak muntah lagi dengan memakan permen untuk mengurangi rasa mual. Sesampainya di bandara tentu saja saya belum bisa check in. Bandara Istanbul ini sangat pet friendly mengingat maskapainya Turkish Airline juga membolehkan membawa peliharaan di pesawat. 

Bandara Istambul

Saya mencari tempat untuk duduk dan kalau bisa berbaring. Tapi sebelumnya saya ke mushola dulu untuk sholat jamak Zuhur dan Ashar. Duduk istirahat cukup lama sebelum akhirnya sholat. Saya juga memaksa diri untuk makan. Saya tidak ingat namanya fast foodnya, yang jelas tidak habis dimakan dan saya bungkus masuk tas. Untunglah di sana saya melihat toko obat dan dengan translate AI ke Bahasa Turki saya minta obat maag dan mual. Mereka memberi saya obat merek Onzyd dan setelah saya coba, sangat manjur. Walau saya masih agak susah makan, setidaknya rasa mualnya sudah hilang. 

Saat check in, saya memastikan bagasi besar saya bisa sampai Jakarta. Kali ini saya naik Qatar Airways untuk pulang ke Jakarta, dan akan transit lama di Doha. Di bandara Istanbul, bisa menggunakan mata uang euro, namun karena saya masih punya Lira, jadi membeli minuman manis pakai Lira. Sambil menunggu pesawat, jendela di samping saya menunjukkan pesawat yang turun dengan latar belakang sunset terakhir di Tahun 2025. Malam ini adalah malam tahun baru yang akan saya lewati di pesawat menuju Doha. Di depan saya ada satu keluarga Chinese dengan anaknya yang sedang makan kebab. Tapi mereka bicara menggunakan Bahasa Indonesia, maka mengobrol lah saya dengan mereka sambil menunggu waktu boarding. Alhamdulillah saat masuk pesawat kondisi saya sudah semakin baik, tidak lagi mual. Setidaknya saya berharap bisa bertahan satu hari lagi di Doha, sebelum nanti sampai di Jakarta. Kalaupun jika sakit lagi di Jakarta, paling tidak saya sudah berada di negara sendiri. 

Lanjut Part 5

Video youtube

Saya sebenarnya juga memperhatikan cuaca untuk perjalanan kali ini. Berdasarkan perkiraan cuaca, di Istanbul hujannya kemarin dan hari ini tidak hujan. Berhubung kemarin sudah hujan, maka saya pikir hari ini akan beruntung cuaca terang walau di musim dingin, karena akan ke tempat wisata utama yaitu Hagia Sophia dan Blue Mosque. Ternyata perkiraan cuacanya salah saudara-saudara, kemarin sudah hujan, hari ini juga hujan malah lebih lebat 😅. Saya pernah ke Korea tahun 2023 dan perkiraan cuacanya tanggal 30 Desember akan turun salju di Seoul dan ternyata benar, jadi kesimpulannya perkiraan cuacanya tidak selalu benar tentu saja.


Sama seperti kemarin, jam 11 saya kembali bertemu Hafiz dan Nabila di stasiun Metro Taksim. Mereka sempat kaget betapa pintarnya saya berhasil menemukan mereka di stasiun tempat mereka duduk. Mereka baru sadar bahwa ternyata saya sebenarnya expert kalau soal membaca peta dan traveling, hanya malas saja kali ini karena ada pemandu, he he... Sama seperti kemarin, saya hanya tinggal mengikuti ke mana mereka pergi. Menuju ke Hagia Sophia saya benar-benar tidak hapal naik apa, turun di mana dan keluar exit berapa. Pokoknya setelah naik Metro, lanjut naik Tram di arena Sultanahmet yang sangat ramai. Sebelumnya saya direkomendasikan untuk membeli oleh-oleh mumpung ketemu tokonya. Manisan warna-warni, ada isi kacang dan bertabur gula halus yang belakangan baru saya ketahui namanya adalah Turkish Delight. 

Tram menuju Hagia Sophia benar-benar ujian bagi kami, sudah ramai mau rebutan naik, makin ribet karena hujan dan menahan payung agar tidak diterbangkan angin. Tapi semuanya terbayar setelah melihat keindahan Hagia Sophia dan Blue Mosque yang berdekatan. Hafiz tidak sengaja ketemu dengan kenalannya, jadi saya dan Nabila duluan ke Blue Mosque. Dari sekian banyak kisah traveling saya, baru kali saya mendapat reward karena saya muslim. Masuk ke Blue Mosque tidak bisa sembarangan, tapi saya dan Nabila bisa masuk dengan mudahnya. Nabila banyak bertanya ke petugas supaya kami tidak salah masuk. Ada bule yang maksa masuk mendapat teguran keras "What's your problem!!" katanya, karena memang saat itu sudah mau masuk Zuhur, sehingga pengunjung sudah dibatasi. 

Setelah kami berhasil masuk, sempat foto-foto dulu sebelum memang berniat mau ikut solat berjamaah sekalian di sana. Tapi ternyata tempat mengambil wudhunya di luar, jadi Nabila bertanya kembali ke petugas dan mendapat petunjuk akan ke arah mana untuk mengambil wudhu sekalian ke toilet. Dari pintu keluar, kami belok ke kiri. Tempat wudhu dan toilet di Blue Mosque sangat bersih dan nyaman. Setelah selesai, kami kembali masuk ke Masjid, walau sempat ditegur, untung Nabila berhasil meyakinkan petugas bahwa kami sebenarnya sudah masuk dan keluar karena mau wudhu.

Interior di dalam Blue Mosque benar-benar menakjubkan. Sesuai dengan yang saya bayangkan saat menontonya di vlog-vlog orang. Warnanya didominasi warna biru tentu saja, tapi sayang beberapa spot terlihat berbeda karena sedang ada perbaikan. Semakin mendekati waktu solat, pengunjung yang masih berada di dalam, terutama yang non muslim diarahkan untuk segera keluar. Kami sudah bersiap duduk ketika Hafiz menelpon. Untuk masuk ke Hagia Sophia seharusnya bayar dan harganya lumayan mahal. Namun ada caranya agar bisa masuk gratis untuk muslim, yaitu pada saat waktu solat. Itulah sebabnya Hafiz, meminta kami keluar dari Blue Mosque dan solat di Hagia Sophia saja. Okelah kalau begitu, kami bergegas keluat dan menuju Hagia Sophia yang untungnya dekat.

Namun kan bukan traveling saat high season namanya kalau semuanya mudah. Mau masuk ke Hagia Sophia untuk solat ini, kami harus masuk antrian yang tidak pendek. Jadi harus sabar, sambil berdoa semoga waktunya cukup sebelum waktu solat tiba. Alhamdulillah antriannya semakin maju, bule di belakang kami kena usir karena sudah jelas mereka bukan muslim. Saat masuk, harus melewati pintu metal detector dan mesin x-ray untuk barang bawaan. Tas saya dibongkar karena petugas penasaran dengan tongkat panjang saya yang sebenarnya adalah tripod stand yang dilipat. Setelah semua aman, terdengar azan dari Hagia Sophia dan Blue Mosque yang seperti bersahut-sahutan. 

Alhamdulillah saya tercicip juga solat berjamaah Zuhur di Hagia Sophia. Kemudian saya lanjutkan untuk jamak Ashar setelah solat Zuhur. Sama seperti Blue Mosque, Hagia Sophia juga sedang mengalami perbaikan, baik di dalam maupun di luar. Tapi walau begitu, masih tetap kelihatan ciri khasnya. Dan karena masih ada di Turki, tentu saja ketemu lagi dengan mahluk bulu lucu nan sombong selama di Hagia Sophia. Kucing-kucingnya terawat dan lari saat dipanggi, mungkin saya harus bawa sogokan dulu baru dia mau didekati... 🙀😻

Interior Blue Mosque

Di luar Blue Mosque

Kucing di Hagia Sophia


Di luar Hagia Sophia


Setelah keluar, kami kembali kena hujan saat hendak mencari makan. Saya pernah berada di posisi musim dingin di Jepang dan Korea. Suatu saat suhu mencapai -19 derajat. Nafsu ngambil foto sudah tidak ada lagi karena tidak kuat menahan dingin, hidung sudah meler dan mimisan saking dinginnya. Tapi anehnya saya masih bisa bertahan di luar ruangan. Nah kali ini di Istanbul, suhu "hanya" 4 derajat tapi saya tidak kuat berlama-lama di luar ruangan, karena cuaca dingin bercampur air hujan itu ternyata lebih menyiksa daripada suhu minus tanpa hujan. Sarung tangan sudah basah, tidak bisa dipakai lagi, jadi semakin tersiksa saya dengan cuaca saat itu.

Untungnya tempat makan kami saat itu ada meja kosong di bagian dalam. Saya dan Nabila masuk ke dalam, sementara Hafiz makan dan mengobrol di luar dengan kenalannya yang terdiri dari beberapa orang. Mereka adalah mutawif dari NTB yang sedang ada urusan di Istanbul. Selanjutnya mereka akan bergabung dengan kami untuk naik ferry di selat Bosphorus. Untungnya di antara mereka ada yang jago foto, sehingga foto-foto kami selanjutnya jadi semakin keren. Untuk makan siang, saya makan bubur hangat dengan celupan roti dan kentang goreng. Mau cari nasi tidak ada, jadi makan yang ada saja. Kalau masih di Asia tentu mudah mencari nasi, karena ini sudah masuk Eropa orang-orangnya terbiasa makan roti. Nabila baik hati mentraktir Kunefe untuk dimakan bersama. Tapi saya jadi minta maaf kepada Nabila, karena tidak bisa makan banyak Kunefe tersebut karena manis sekali 😭. 

Kunefe di Istanbul


Untuk menuju ke sisi Asia Istanbul kami ke pelabuhan ferrynya yang sisi Eropa dan saya tidak ingat namanya Kabatas atau apa gitu. Untuk sisi Asia rasanya namanya Uskudar. Jangan sampai salah pelabuhannya, karena tujuannya banyak dan berbeda-beda. Sebelum naik ferry, saya sempat beli oleh-oleh gantungan kunci dan magnet kulkas. Oleh-oleh standar yang murah dan tidak memberatkan koper. Belinya dibantu Hafiz ngomong Bahasa Turkinya untuk nawar supaya bisa beli banyak. 

Di ferry, saya hanya sebentar naik ke atas untuk foto-foto karena pemandangannya yang bagus. Seterusnya saya memilih duduk di dalam, karena tentu saja di atas sangat dingin. Ferrynya kecil karena hanya mengangkut orang, tidak sekaligus dengan kendaraan. Perjalanan di Ferry tidak lama, maka sampailah kami di sisi Asia Istanbul. Trus ngapain selama di sana? jawabannya adalah tidak ada, hahaha... Karena hari sudah sore, jadi duduk-duduk dan foto-foto saja. Kabarnya harga di sisi Asia lebih murah, tapi saya tidak sempat explore lebih jauh. Saya sempat menumpang pipis di toilet di Masjid dekat sana sebelum kemudian naik ferry lagi untuk pulang. Perjalanan pulang kali ini agak berbeda, suasanhya lebih keren karena banyak burung-burung beterbangan dengan latar belakang sunset yang mulai muncul.

Sisi Asia Istanbul


Sunset dari ferry ke sisi Eropa Istanbul


Ini hari terakhir saya bersama Hafiz dan Nabila setelah 2 hari bersama mereka. Selanjutnya saya berencana explore Istanbul sendiri, Nabila juga akan berangkat Umroh besok. Setelah sampai di stasiun Metro Taksim, kami berpamitan dan saya berterima kasih karena sudah ditemani selama 2 hari ini. Sebelum pulang ke hotel, saya membeli makan malam dulu, seperti biasa kebab dengan nasi yang merupakan makanan terenak yang bisa saya makan menurut saya selama di sana. 

Nasinya ngumpet di bawah ayam 


Lanjut Part 4

Video youtube



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...