Jadi ceritanya perjalanan ke Kuala Lumpur ini saya lakukan di pertengahan tahun 2025 lalu. Cuma karena luar biasa sibuk, jadi benar-benar tidak sempat untuk menulis blog. Walau sekarang sudah tidak musim lagi orang menulis blog, dan orang-orang juga biasanya nyari informasi dari vlog kalau mau jalan-jalan. Saya tetap setia menulis blog untuk setiap perjalanan saya untuk catatan di masa depan apa saja yang saya lakukan untuk hobi nomor satu saya ini yang bisa bikin bangkrut. Saya pernah menonton drama Korea yang mengatakan jadikan hobimu menjadi pekerjaan nomor dua. Memang sih nulis blog, juga vlog saya saat ini memang tidak menghasilkan, tetapi tetap saya laukan. Jadi boleh dibilang ini adalah pekerjaan tidak penting yang saya suka, dibalik pekerjaan dan profesi utama saya yang merupakan "periuk nasi" saya.
Terus apa yang mau diceritakan, jadi begini... Mungkin tingkat stress saya levelnya sudah benar-benar naik. Pertengahan tahun lalu juga saya beberapa kali sakit dan kata dokter sakit saya adalah maag. Lama kelamaan jadi gerd juga karena gejalanya seperti dari asam lambung. Dan kabarnya “This illness is caused by stress.” Jadi, selain saya harus menjaga waktu makan, saya juga jangan stres kan. Maka dengan kesadaran penuh, ketika mendapat tanggal libur akhir Juni sampai awal Juli, saya memesan tiket ke Kuala Lumpur, kali ini bersama keponakan saya Elsa. Kenapa Kuala Lunpur lagi, karena ini liburnya pendek, yang penting jalan saja dan tidak perlu menambah hitungan negara yang sudah saya kunjungi. Lagipula saya kan belum mengunjungi beberapa tempat, termasuk naik Petronas dan bisa sekalian wisata kuliner. "Naik Petronas," ya anda tidak salah baca, saya belum pernah naik Petronas padahal sudah berkali-kali ke sana, baik sengaja maupun transit.
Berhubung Air Asia waktu itu belum ada dari Palembang, maka jadi kami akan transit dulu di Jakarta. Kalau sekarang mah, jangankan ke Kuala Lumpur dari Palembang, ke Singapura juga sudah ada. Tapi walau sudah ada pilihan ke Kuala Lumpur dan Singapura selain dari Jakarta kalau mau ke mana-mana, setelah saya cek, ternyata tetap lebih murah dari Jakarta. Ini akan saya ceritakan pada seri blog selanjutnya saya ke negara baru nanti. Persiapannya singkat saja, setelah tiket, kemudian booking hotel. Saya tidak bisa move on dengan daerah Jalan Alor, jadi saya pesan hotel tetap di sana, karena strategis dan mudah untuk mencari makan. Nah yang baru adalah Malaysia Digital Arrival Card (MDAC) yang harus diisi paling tidak 3 hari sebelum berangkat. Selama ini saya belum pernah pakai, jadi kali ini harus dipersiapkan dan agak bingung awalnya sebelum berhasil mengisinya. Untuk persiapan lainnya, saya membeli tiket dari klook untuk kereta KLIA Express dari bandara ke kota. Untuk pulangnya, rencananya akan naik taksi saja. Kemudian berhubung punya rencana akan naik ke Petronas, saya juga membeli tiketnya seharga 98 MYR, kalau untuk warlok harganya lebih murah.
Terus selain naik Petronas apalagi rencananya. Mau ke Colmar Tropicale, sama mall TRX yang ada rooftop nya, sisanya nyari makanan, haha. Kebanyakan nonton vlog orang, jadi pengen Ikan Bakar Bellamy dari vlog Ria SW dan kemudian beli roti canai di Mansion Tea Stall yang dilihat dari vlog orang Malaysia. Selain itu penasaran sama Mon Chinese Beef Roti yang halal rekomendasi Dilla, dan beberapa makanan lain. Intinya adalah nyari makan dan tidur di hotel saja kalau capek, haha....
Singkat cerita berangkatlah kami, ke Jakarta naik Garuda. Perjalanannya lumayan menegangkan karena cuaca juga tidak sedang bagus. Alhamdulillah sampai di Terminal 3, tapi terpaksa pindah ke Terminal 2 karena Air Asia tidak di Terminal 3. Capek dan rempong pindah terminal naik kereta bandara ke Terminal 2. Pesawat ke Kuala Lumpur berangkat jam 9 malam, jadi kami menunggu dan duduk manis di gatenya. Mau cari jajanan tidak terlalu banyak pilihan di sana, mau makan banyak, takut nanti bab di pesawat, jadi bengong saja sambil menahan kantuk. Eh tidak tahunya ketemu Dilla dan Ezar yang akan ke Jepang dan transit juga di Jakarta, tapi pesawat mereka berangkat duluan.
Snack dari Garuda
Saat boarding, kami dipindah lagi ke gate lain. Kebanyakan penumpangnya adalah warga Indonesia dan sedikit warga Malaysia. Kami nanti akan sampai tengah malam, dan untuk menghemat kami akan tidur di Bandara karena saya sudah biasa menggelandang di Bandara, terutama KLIA. Elsa juga nanti akan merasakan bagaimana seninya pahit dan manisnya traveling gaya kere demi jajan banyak, haha... Kenapa saya pilih Air Asia padahal ada pilihan lain ke Kuala Lumpur. Jawabannya adalah nasi lemak yang bisa di pesawat, saya sudah lama tidak naik Air Asia setelah pandemi, jadi saya sedikit kangen dengan nasi lemaknya. Kemasannya baru, minumnya dari rekomendasi saya pilih santan latte. Setelah saya cicip, menurut saya rasanya seperti kuah cendol atau kolak.
Makanan di Air Asia
Sampai tengah malam, di imigrasi tidak ada drama. Yah juga sudah malam juga kan, dan semua dokumen kami lengkap. Setelah dapat bagasi, dari area kedatangan saya mencari mushola di area lantai keberangkatan, tapi ternyata sedang renovasi. Toilet dan kamar mandinya masih bisa digunakan, tapi kami terpaksa mencari tempat untuk istirahat di tempat lain. Naik satu lantai, kami ketemu mushola lain, dan Alhamdulillah bisa istirahat bersama dengan para penumpang lain yang kebanyakan jadwal pesawatnya Subuh atau pagi.
Menjelang jam 5 ke 6, satu persatu orang-orang berangkat. Setelah sholat Subuh, kami mandi di lantai bawah. Lumayan badan lebih segar setelah mandi dan ganti baju. Tidak bisa langsung ke hotel, karena waktunya belum masuk waktu check in. Jadi saya berencana akan ke Mansion tea Stall dulu untuk sarapan roti canai spesial. Roti canai yang saya tonton di vlog, sepertinya enak. Ada tambahan 2 telur setengah matang dan sambal. Dari KLIA naik kereta KLIA Express ke KL Sentral. Titip koper dulu di loker KL Sentral. Tarifnya mahal sekali, tapi saya tidak ingat berapa. Karena terpaksa ya sudah direlakan saja. Lanjut dalam rangka mencari sarapan, naik LRT menuju Masjid Jamek. Dari stasiun Masjid Jamek menyeberang jalan dan mengikuti Google Maps ke Mansion tea Stall yang jaraknya tidak terlalu jauh kalau jalan kaki. Lumayan banyak juga orang yang makan di sana. Kami makan di meja luar dengan pemandangan Petronas dan gedung baru tertinggi di Kuala Lumpur yaitu Gedung Merdeka. Pesanannya teh tarik selain roti canai spesial yang memang sudah diidamkan dan rasanya enak sesuai dengan yang dibayangkan.
Roti canai spesial dan teh tarik
Karena memang masih pagi, kami masih punya banyak waktu sebelum check in. Lanjut jalan kaki ke Pasar Seni. Luar biasa ya, saking seringnya saya ke Kuala Lumpur, sekarang saya sudah tahu jalan pintas dari Masjid Jamek ke Pasar Seni. Jalan yang kami lewati seingat saya pernah dipenuhi dengan orang jualan makanan saat Hari Jumat. Namun karena itu bukan hari Jumat, jadi sepi tidak ada orang jualan. Jalannya tembus ke pintu belakang Pasar Seni. Sempat melihat-lihat beberapa barang seperti casing hp, tas sampai sepatu dan kaos kaki. Sempat bengong juga di Mixue sampai akhirnya sudah semakin siang dan lanjut ke Ikan Bakar Bellamy untuk beli makan siang.
Naik grab sempat miscommunication karena titik jemput yang tidak sesuai. Depan pasar seni itu kan luas, sebagai turis mana kami tahu tempat yang difoto olehnya. Kami juga kirim foto lokasi depan Pasar Seni, sebagai warlok mestinya dia tahu kan, tapi dia tidak mau ngalah mencari kami. Akhirnya kami ngalah masuk ke dalam dan nanya ke petugas di mana foto lokasi yang diberi supir grab. Setelah dicari ternyata jaraknya tidak jauh maju dikit dari tempat kami menunggu tadi. Malas sih mau marah di negeri orang, akhirnya tetap naik walau capek rasanya bolak balik di cuaca panas. Sampai di tujuan, sang supir ngajak ngomong untuk konfirmasi soal titik jemput tadi, tidak ingat sih dia minta maaf atau tidak. Tapi gayanya sudah tidak sesongonng saat di chat tadi. Ya udahlah tidak masalah tetap dikasih bintang 5.
Di Ikan Bakar Bellamy menu-menunya asli bikin ngeces semua. Lauk-lauk dibakar dengan bumbu dan daun pisang. Pelengkapnya kecap dan sambal yang luar biasa enak. Saya pilih ikan nila dan lele, tapi sebutannya beda dalam Malaysia sementara Elsa pilih cumi-cumi. Saya sih pengen ya, tapi saya alergi seafood. Tidak bisa makan udang dan ikan laut yang bikin gatal. Akhirnya rela makan ikan non laut demi tidak gatal-gatal. Makanannya dibungkus mau makan di hotel saja, karena sudah siang dan kami sudah capek. Naik Grab lagi ke KL sentral ambil koper dan ganti naik MRT ke Bukit Bintang. Menginapnya di Alor Boutique Hotel, dan dapat kamar di lantai 3 di mana tidak ada lift saudara-saudara. Setelah beres-beres sebentar, makan siang dan saya tidak bisa menahan diri minta satu cumi ke Elsa sambil berdoa semoga jangan muncul alerginya. Enak sekali, dan Alhamdulillah alergi saya tidak muncul. Tapi walau begitu, saya tahu diri tidak bisa makan banyak takut nanti tulah, jadi muncul gatalnya. Sekarang kalau diingat-ingat, saya juga makan fish cake di Korea, juga tidak gatal karena ikannya bersih. Sepertinya yang patut saya hindari selain udang ya emang ikan laut seperti ikan tongkol dan sejenisnya.
Setelah makan, kami tertidur karena semalam belum tidur dengan benar karena tidur di pesawat. Di kamar tidak ada jendela, tv maupun jam dinding, bablas bangunnya menjelang malam. Untung menginapnya di Jalan Alor, jadi keluar hotel langsung ketemu ramainya orang menjual makanan. Kami malam itu kembali ke area Pasar Seni, karena mau melihat The River of Life dan Dataran Merdeka. Namun sayang, malam itu air mancurnya tidak ada dan Dataran Merdeka sedang renovasi. Jadi balik lagi ke Jalan Alor Bukit Bintang. Kami makan di rumah makan Thailand yang memasang logo halal. Makannya tom yam beef dan ayam pandan plus nasi.
Makan di Jalan Alor
Makan makanan Thailand
Seperti biasa jalan Alor tidak pernah sepi, selesai makan kami harus kembali istirahat karena besok akan jalan lagi.
Lanjut Part 2
Video youtube













