Jika dulu saya selalu iri dengan orang-orang yang selalu jalan-jalan, maka saya selalu ingin punya waktu lebih untuk traveling. Kemudian belakangan ini, kerjaan saya membuat saya jadi sering jalan walaupun dalam rangka kerjaan dan bukan liburan. Saya sudah cukup senang, namun kadang-kadang ada rasa capek juga tentu saja. Untuk waktu libur yang memang jatahnya bisa liburan tanpa kerjaan, pasti masih saya manfaatkan sebaik-baiknya. Mau ada teman atau tidak, sepertinya saya sekarang sudah cukup berani. Tapi, tetap saja ada satu tujuan perjalanan yang selalu dirindukan mau berapa kali pun ke sana. Ya, jawaban anda benar, sebagai muslim pasti ingin mengunjungi tanah suci, di tengah kepenatan urusan duniawi. Saya sudah pernah umroh sekali pada Bulan November 2022 setelah jaman covid mereda. Sekarang Alhamdulillah mendapat kesempatan berangkat lagi Februari 2026 di saat yang sangat istimewa yaitu Bulan Puasa. Melaksanakan umroh saat bulan puasa pasti lebih berat, tapi saya yakin dengan tekad yang kuat pasti akan bisa menjalaninya. 


Travel umroh kali ini saya ambil dari Palembang. Saya sendirian, tapi tenang saja pasti akan banyak mendapat teman saat umroh nanti. Jika akhir tahun saya sudah sendirian ke Dubai, Istanbul dan Doha, maka kali ini saya juga berani untuk umroh sendirian. Paspor saya sudah ada additional name Bapak dan Kakek, jadi saya tidak perlu urus nama di paspor lagi. Untuk vaksin, sebulan sebelum berangkat saya sudah suntik vaksin meningitis dan polio. Pesawatnya menggunakan pesawat Lion yang akan berangkat langsung ke Jeddah dari Palembang tanpa transit lagi di Jakarta. Untuk urusan uang, berdasarkan pengalaman umroh saya sebelumnya, di Arab Saudi mereka mau menerima uang rupiah, tapi saya tetap menukar sedikit sebagai pegangan, sisanya akan saya ambil lewat ATM sesampainya di sana saja. Komunikasi internet, saya tetap setia dengan roaming telkomsel dan sudah disetting akan aktif saat tiba di sana. Pakaian gamis saya masih bisa dipakai lagi beberapa diantaranya ditambah dengan beberapa yang baru supaya agak sedikit kelihatan berbeda. Dari travelnya sudah mendapat paket dua buah koper besar dan kecil, mukena, tas kecil, syal, buku doa, jilbab hitam dan kain batik untuk dijahit. Karena sudah pernah umroh maka ada banyak persiapan penting berdasarkan pengalaman sebelumnya. Jangan lupa membawa kantong/tas sendal karena kita tidak tahu pintu mana saat keluar dari masjid dan belum tentu sama dengan pintu masuknya. Sholat tidak perlu pakai mukena, karena bajunya sudah panjang, tapi tetap disiapkan penutup tangan yang biasanya sepaket dengan baju umroh yang dibeli. 

Untuk keperluan bolak balik Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, saya berencana akan membawa tas kecil saja sementara tas tangan yang lebih besar akan ditinggal di hotel. Isi tas kecilnya nanti susunannya adalah penutup tangan, sajadah tipis, tas lipat untuk sendal, dompet, handphone, tisu, power bank, dan botol kecil untuk air zamzam. Saat packing koper besar dipenuhkan dengan pakaian yang sudah disusun per hari, sementara koper kecil agak kosong karena nanti akan diisi oleh-oleh 😁. Baju umroh saya bawa dua berwarna hitam dan putih, karena nanti akan ada 2 kali umroh. Umroh kali ini saya juga ingin Badal Ibu saya, karena dulu saat umroh pertama untuk Bapak. Beberapa waktu yang lalu kakak tertua saya sudah mengumrohkan Bapak, jadi kali ini saya untuk Ibu. 

Sebelum berangkat ada satu kali manasik di Hari Sabtu. Seperti biasa dijelaskan tata cara umroh dan keperluan-keperluan lainnya. Keberangkatan kali ini ternyata pesertanya juga ada Abah kyai pemilik travel dan istrinya, katanya nanti anaknya yang juga Ustad, akan bergabung sesampainya di sana, karena sedang berada di salah satu negara arab juga. Peserta yang lain sisanya kebanyakan orang tua. Luar biasa ya vibes nya, mungkin ada korelasinya karena dilaksanakan saat bulan puasa, jadi yang pergi lebih serius ingin beribadah. Bukan berarti yang muda tidak serius, tapi yang saya rasakan kali ini memang berbeda dibanding dengan saat umroh pertama kali dulu. Dari data yang bisa dilihat, peserta yang lebih muda dari saya hanya 3 orang, sisanya umurnya di atas saya. Jarang-jarang saya berkumpul dengan orang-orang yang lebih senior, biasanya saya yang senior 😀. Saat manasik juga saya berkenalan dengan Meta yang umurnya salah satunya dibawah saya, dia pergi bersama orang tuanya. Nah ini, sepertinya saya sudah menemukan teman yang bisa diajak jalan kalau saya ingin melipir atau mencari Al Baik misalnya... 😅. Untuk tour leader nanti ada 1 ustad yang ikut di rombongan kami dan seperti biasa langsung ada grup wa yang dibuat untuk memudahkan komunikasi. 

Minggu kedua Puasa 2026 di akhir Februari, kami berangkat. Dari Palembang ada beberapa tour travel yang akan sepesawat dengan rombongan kami. Sejak bandara Palembang kembali menjadi bandara Internasional, baru kali ini saya kembali naik pesawat ke luar Indonesia lewat Palembang. Saat ke Kuala Lumpur tahun lalu dan ke Turki bulan lalu, saya selalu lewat Jakarta. Sesampainya di bandara, sudah penuh dengan warna-warni baju batik para jamaah umroh. Setelah menyerahkan koper, kami mendapat lanyard umroh yang tidak boleh hilang, karena berisi data diri dan hotel tempat tinggal selama di Madinah dan Mekah. Hal ini juga sudah saya informasikan ke satu nenek yang berangkat sendirian dan dititipkan anaknya ke kami, bahwa kalung itu harus selalu dipakai. Saya ingat punya pengalaman bertemu kakek-kakek di Madinah yang tersesat terpisah dari rombongannya, ditolong Bapak Malaysia dan minta saya untuk menghubungi tour leader kakek tersebut. Selanjutnya kami juga diberi penanda koper lengkap dengan foto masing-masing, agar koper mudah dicari.

Sebelum berangkat, kami mendapat briefing dan juga berdoa bersama. Setelah urusan check in selesai, kami menuju ruang tunggu dan melewati imigrasi. Pesawat akan berangkat jam 1 siang, dan saya sudah tahu bahwa puasa hari ini akan dijalani lebih lama. Jadi jika biasanya puasanya selama 14 jam, maka hari ini akan bertambah 4 jam menjadi 18 jam. Perjalanan akan ditempuh selama kurang lebih 9 jam, nanti akan tiba di Jeddah kira-kira jam 6 lewat, dimana jam Arab Saudi lebih lambat 4 jam dari waktu Indonesia barat. Kesimpulannya, selama di pesawat yang seharusnya dapat dua kali makan, jadi akan lewat semua kecuali untuk yang tidak puasa. Perkiraannya pesawat akan mendarat, tepat saat waktu magrib untuk berbuka puasa di Jeddah.

Pesawat Lion yang saya naiki kali ini agak berbeda lay out nya, tapi tentu saja lebih besar dari pesawat dengan rute domestik. Konfigurasi kursinya 3 4 3, namun tidak ada in flight entertainment seperti di pesawat-pesawat besar lainnya. Jadi sebaiknya memang waktu dimanfaatkan untuk istirahat atau ibadah saja. Benar-benar pengalamana baru, tidak bisa makan dan tidak ada yang bisa ditonton selama 9 jam. Tapi ini tergantung niat kan, kalau memang berniat untuk umroh, saya rasa hal ini tidak masalah karena seharusnya sudah siap dari awal, dari fisik maupun mental. Makan pertama tetap ditawarkan kalau ada yang tidak puasa, tapi pramugari meminta maaf terlebih dahulu kepada yang berpuasa. Pramugari Lion Air seragamnya juga berbeda, bajunya lebih panjang dan memakai jilbab merah. Saya berusaha untuk tidur, kadang berhasil tapi lebih banyak tidak  berhasilnya. Semua jendela sudah ditutup dan para pramugari membantu untuk merebahkan kursi bagi jemaah agar bisa tidur. Sayup-sayup terdengar ada yang mengaji selain ada juga yang mengobrol. Suatu waktu pesawat lengang karena kebanyakan tidur, tapi di saat lainnya rame karena sudah banyak yang bangun dan lalu lalang. Entah kenapa, untuk kali ini saya tidak ingin ke toilet, saya sempat mendengar pramugari memberi tahu agar penumpang tidak membasahi lantai toilet. Saya berusaha untuk menahan pipis dan syukurlah berhasil, karena memang tidak minum saat puasa. 

Lima jam setelah terbang, ada pembicaraan menarik di sekitar saya. Tour leader di rombongan lain menjelaskan, kalau dari waktu Indonesia saat ini sudah bisa berbuka puasa namun waktu kami sebenarnya belum masuk berbuka. Bagi yang sudah tidak tahan, boleh membatalkan puasa, namun di lain hari harus diganti. Beberapa jemaah jadi memutuskan untuk berbuka saja, namun saya dan banyak jemaah lain memutuskan untuk meneruskan puasa. Saya pikir, saya nanti akan malas kalau mau mengganti di lain hari, kepalang sudah puasa hari ini jadi ditahan saja sekitar 4 jam lagi. Beberapa saat menjelang mendarat, pramugari kembali membagikan makanan dan minuman. Kali ini untuk semuanya dan diberi kantong untuk menyimpan makanan untuk dimakan nanti, karena memang masih puasa. Isinya ada roti, kerupuk udang, nasi beserta lauk, botol air minum dan minuman dalam gelas kertas. Saya menyesal kenapa meminta minum juga orange juice dalam gelas kertas, karena semua yang lain bisa disimpan kecuali itu, sementara sesuai aturan keselamatan pesawat saat akan mendarat, semua meja harus dilipat. Jadi.... repotlah orang-orang seperti saya memegang gelas tersebut di tengah proses pendaratan pesawat. Coba deh, kalau diingatkan sebelumnya kan saya tidak akan minta minum tersebut, dan lebih heboh lagi, sebelum mendarat... pramugari melakukan semprotan di kabin pesawat, sehingga tambah repotlah saya menutup gelas tersebut dengan tangan 😓. Duh, seharusnya ada aturan yang disesuaikan untuk pembagian makanan dan minuman saat puasa dengan waktu mendarat pas menjelang waktu berbuka seperti ini. Saya sempat melihat ada Bapak-bapak memasukkan minumannya ke kantong plastik yang membuat saya iri karena tidak punya kantong plastik juga 😅. Menjelang waktu mendarat, pilot memberitahu bahwa sudah waktunya berbuka dan disambut sorakan dari semua penumpang pesawat. Akhirnya saya minum dengan lega dan terbebas dari gelas kertas yang merepotkan itu 😔. Tak lama, pesawat Alhamdulillah mendarat dengan selamat, selamat datang di Arab Saudi kembali....

Makanan di pesawat menjelang berbuka puasa.


Selesai mendarat, belum sempat makan apapun. Dengan bis, langsung masuk terminal dan imigrasi serta ambil koper. Bandaranya kali ini berbeda dengan umroh pertama saya dulu. Jika pesawat Saudia mendarat di Bandara King Abul Aziz yang selayaknya bandara-bandara besar lainnya, maka bandara yang kami lewati ini seperti versi lebih sederhananya. Mungkin khusus jemaah haji, karena ada tempat berkelompok-kelompok untuk bersiap ganti pakaian, makan dan sholat berjemaah. Saya melihat jadwal kedatangan pesawat, setelah kami yang dari Indonesia ada yang dari Medan dan Surabaya dengan Lion. Beberapa kota lain dengan maskapai negara lain ada juga, tapi kota-kotanya banyak yang tidak saya kenal. Sepertinya Lion dan maskapai-maskapai yang ke bandara ini melayani rute dari kota yang bukan merupakan ibukota negara, jadi tidak perlu transit dulu, seperti kami yang bisa langsung dari Palembang tanpa lewat Jakarta dulu. Kalau menggunakaan pesawat Saudia, tentu saja rute nya pasti lewat Jakarta atau kota-kota besar lainnya. 

Makanan dari pesawat belum sempat dimakan, kami mendapat nasi lagi dari tour travel. Saya jadi bingung mau makan yang mana. Diberi kesempatan makan dan sholat dulu, sebelum naik bis malam ini ke Madinah. Jika umroh pertama saya dulu dari Mekah, maka pengalaman kali ini berbeda dengan ke Madinah dulu. Seperti biasa saat sudah sampai di Arab Saudi, selain tour leader kami mendapat pendamping ustad muthawif yang biasanya memang tinggal di Arab Saudi. Ustad muthawif lah yang nantinya akan membimbing selama pelaksanaan umroh. Ustad muthawif saya dulu sangat lincah, sampai buka order untuk beli kurma dan Al Baik, semoga kali ini juga... saya berharap.

Mendarat di Jeddah


Dapat nasi lagi untuk berbuka puasa


Perjalanan ke Madinah lumayan lama, di bis ustad muthawif menjelaskan berbagai hal dan juga memimpin doa. Saya duduk bersama Meta, dan setengah mendengar penjelasan yang disampaikan saat perjalanan ke Madinah karena tertidur. Saya baru terbangun, saat bis sudah hampir sampai ke Madinah dan terkena macet. Benar sekali kata teman saya yang berpengalaman umroh balik balik, saat saya belum berangkat. Di Arab Saudi kalau bulan puasa, siang seperti malam dan malam seperti siang. Kalau siang kan puasa, jadi banyak yang di rumah saja. Menjelang malam, jalanan justru ramai sekali. Tapi memang kan kalau di area Masjid Nabawi dan terutama di Masjidil Haram selalu ramai 24 jam. Jika dulu hotel saya di Madinah di area pintu 328, kali ini di samping Masjid Nawabi di belakang Masjid Abu Bakar As Siddiq di arah pintu 310 dan 311 yang kalau jalan lurus saja bisa menuju Raudah. 

Hotelnya di Sama Al Masi, benar-benar strategis. Jalan kaki ke Masjid Nabawi sangat dekat, tempat makan banyak dan tempat belanja di kiri kanan juga banyak 😁. Tapi ini sudah tengah malam, kami harus masuk ke kamar masing-masing untuk beberes dan istirahat sebentar, sebelum turun lagi jam 3 untuk sahur dan lanjut Subuh ke Masjid. Tidak sempat kalau mau tidur dulu, hanya sempat bongkar koper dan bergantian mandi. Tidurnya nanti saja, siang setelah kembali dari masjid. Kami mendapat kamar di lantai 8 dan harus ambil sendiri koper yang ada di lantai 7. Meta ada di kamar lain, saya sekamar dengan 3 ibu-ibu lainnya yang lebih tua dari saya. Jadi ceritanya saya bungsu dan paling melek teknologi juga di kamar itu hehe... Kalau ada masalah dengan hp mereka, saya langsung jadi teknisi dadakan. Saya juga jadi pusat informasi, karena dari kami berempat, hanya saya yang sudah pernah umroh sebelumnya. Tapi resikonya sebagai yang termuda, saya mengalah dapat giliran mandi terakhir. Di kamar saya ada ibu Neti dan 2 ibu yang merupakan besan yang saya panggil Nek Ino dan Nyai yang merupakan istilah panggilan nenek kalau di Sumatera Selatan. Banyak cerita lucu dari hubungan 2 ibu besan ini, Nek Ino lebih tua dan Nyai yang lebih muda. Nek Ino ibu dari anak laki-laki sementara Nyai adalah Ibu dari anak perempuan, dan mereka sudah punya 1 cucu dari pernikahan anak-anak mereka. Nyai suaminya tidak ikut umroh, sementara suami dari Nek Ino dan Bu Neti ada di kamar lain. Saya benar-benar terharu dengan cerita mereka, karena yang memberangkatkan mereka adalah anak-anak mereka. Bu Neti cerita kalau anaknya sudah umroh duluan dan sekarang memberangkatkan orang tuanya. Cerita seru pertama dengan ibu-ibu ini adalah saat giliran pertama mandi, Nyai sekalian mencuci baju di wastafel dan membuat kamar mandi jadi banjir 😅. Saya dan Bu Neti cuma senyum, tapi Nek Ino ngomel cukup panjang. Tapi walau begitu, nanti saat Nek Ino tersesat mau naik ke kamar habis belanja, Nyai juga lah yang direpotkan. Hubungan mereka ini seru sekali... seperti hate love relationship antar besan. Saya juga mau saja, misal punya anak dan berbesan dengan teman saya sehingga jadi akrab walau bisa juga berantem antar ibu-ibu... 😁.

Koper di lantai 7


Tempat tidur saya


Selesai beres-beres jam 3 kami turun untuk sahur. Tempat makan hotel ini terbagi dua, ada area jemaah Indonesia dan ada area jemaah dari India. Kami sudah diinfo kalau untuk arena India tidak boleh diambil makanannya, dan hanya bisa ambil di arena khusus Indonesia. Masalahnya tempat minum untuk jemaah Indonesia ada di sebelah meja makan jemaah India, sehingga untuk jemaah yang baru datang tidak tahu dan jadinya salah ambil, sebelum dikasih tahu petugasnya yang juga orang Indonesia. Menu makannya tentu Indonesia sekali, dan saya yakin nanti salah satu menunya di Madinah atau Mekah pasti ada ikan patinnya... 😀. Selesai sahur, kami menuju Masjid Nabawi. Rasanya mau nangis tercicip kembali ke sini, suasana menjelang subuh sangat ramai. 

Kalau mau dapat tempat di dalam, harus datang lebih cepat. Saya membawa botol minum kecil untuk mengambil air zamzam. Air zamzam di Masjid Nabawi ada di area dalam, kalau di area luar itu bukan air zamzam. Alhamdulillah kami mendapat tempat di dalam masjid, masih sempat minum karena belum waktunya azan. Azan menjelang Subuh ada 2 kali, jadi jangan sampai salah. Azan kedua baru kemudian pelaksanaan solat Shubuh dimulai. Di sebelah saya orang Indonesia dan sempat bercerita-cerita sedikit. Kemudian surprise dalam pesan dari Nabila saat dia melihat story saya. Nabila adalah yang menemani perjalanan saya saat di Istanbul bulan lalu, kebetulan saat ini dia juga ada di sini. Walau waktunya tidak pas, tapi kami sudah janjian untuk tetap saling kontak dan bertemu kalau sempat nanti.

Lanjut Part 2

Tahun baru tanggal 1 Januari 2026 saya ada di udara menuju Doha. Pesawat dari Istanbul berdurasi 5 jam dan sampai di Doha tengah malam, sama seperti saat baru sampai di Dubai dan Istanbul, saya juga akan tidur di bandara malam ini. Paspor Indonesia bebas visa untuk masuk Qatar, saya memang sengaja mencari penerbangan lanjutan yang lama sebelum ke Jakarta agar bisa expore Doha dulu. Saat ini kondisi saya sudah lebih baik, walau asam lambung saya masih mengganggu yang membuat saya susah makan di pesawat, paling tidak saya tidak mual lagi. Tapi muncul penyakit baru, saya batuk dan pilek sehingga suara saya jadi ikut serak akibatnya. Jadi sesampainya di Bandara Doha, jika di bandara Istanbul saya membeli obat mual, maka di bandara Doha saya jadi beli obat batuk yang merek nya Ivilyx. Jangan tanya harganya, karena sudah pasti mahal, luar biasa ya dalam 2 hari terpaksa beli obat di jalan. Tapi it's okay lah... yang penting sehat... ya kan.... 


Berbeda dengan di Bandara Dubai dan Istanbul yang saya terpaksa tidur di area landside, kali ini saya bisa tidur di area airside. Koper berat sudah diatur sampai Jakarta, jadi saya tidak perlu keluar imigrasi. Enaknya tidur di area airside, lebih banyak pilihan spot untuk tidur. Banyak terdapat reclining chair dan mushola. Saya memilih tidur di mushola agar lebih privat dan ternyata banyak orang yang memiliki pemikiran sama dengan saya, walau saat memasuki waktu subuh yang tidur diusir sama petugasnya. Sama seperti sebelumnya, demi keamanan, tas yang berisi dompet dan hp saya jadikan bantal untuk tidur. AC di mushola juga masih manusiawi tidak seperti AC di mushola Kuala Lumpur, jadi saya tidak perlu repot untuk mencari selimut. Untuk perjalanan kali ini di 3 negara, saya juga bersyukur karena semuanya negara mayoritas muslim. Makanan halal banyak dan yang paling membahagiakan selalu ada semprotan di toiletnya.

Sudah melihat Boneka Teddy ini, artinya anda sudah ada di Doha

Makan di pesawat

Bangun subuh, seperti di Dubai dan Istanbul saya tidak bisa mandi. Hanya gosok gisi, cuci muka, ganti baju dan dandan setelah solat subuh. Kalau ketemu tempat untuk mandi, tentu saja saya akan mandi. Tapi karena tidak ada, ya jadi mohon maaf... cuma bisa mengandalkan parfum jadinya... hahaha.... Jika saat di Dubai, saya sendirian menuju Burj Khlaifa, maka di Doha saya ikut tur dari Qatar Airways nama programnya adalah Discover Qatar. Syaratnya memiliki waktu transit lebih dari 6 jam, dan kita akan dibawa keliling Doha di area dekat bandara, selama 3 jam. Saya memilih waktu dari jam 8 sampai jam 11, kalau lebih dari 3 jam ada yang sampai desert safari. Untuk ikut program ini, harus berkumpul 1,5 jam sebelum waktunya, jadi saya jam 06.30 sudah harus siap sehingga tidak sempat sarapan. Kenapa berkumpulnya 1,5 sebelumnya, karena harus melewati imigrasi dan lain-lain. 

Lokasi berkumpul di Discover Qatar Tour Desk, di Duty Free Plaza South, di bawah eskalator di antara concourse A dan B. Atau cara mudahnya cari saja Boneka Teddy yang sangat terkenal di Bandara Doha, boneka yang sangat sering saya lihat di vlog orang-orang. Jalan lurus terus sampai ketemu 2 eskalator, sebelah kiri penukaran uang dan sebelah kanannya Discover Qatar Tour Desk. Eskalator ini juga merupakan eskalator turun jika masuk setelah melewati imigrasi. Peserta tur yang berkumpul cukup banyak, ada bule, ada yang dari Asia entah darimana dan beberapa rombongan keluarga Indonesia yang sepertinya habis umroh. Kan lumayan ya, transit lama di Doha sekalian bisa jalan-jalan. 

Setelah didata, kami mendapatkan seorang pemandu yang kemudian mengajak kami ke lantai atas untuk masuk imigrasi sebelum masuk ke Doha. Dia sudah menjelaskan ada 2 step yaitu imigrasi kemudian ke titik kumpul yang sekarang saya lupa namanya, intinya semacam tour desk juga tapi posisinya di luar. Karena ramai dan lift nya terbatas, rombongan kami sempat terpisah. Sedapat mungkin saya mencari dan mengenali muka-muka sesama peserta tur agar tidak ketinggalan, tapi saat di imigrasi akhirnya terpisah juga. Antrian di imigrasi seperti biasa selalu ramai, di paspor saya sudah diselipkan kertas yang sebelumnya diberikan di tour desk Discover Qatar. Saya yakin tidak akan disulitkan, karena mereka pasti sudah biasa melayani turis transit yang masuk ke Doha sebentar dalam Program Discover Qatar. Yang bikin bete selain lama antri adalah saya sempat pindah ke petugas imigrasi lainnya, karena petugas di depan saya entah kenapa langsung mengarahkan ke petugas lain. Jadi ketika saya selesai dari imigrasi saya tidak menemukan satu muka pun dari peserta tur yang sama dengan saya. Inisiatif, nanya ke petugas sambil menyebutkan tour desk Discover Qatar yang sudah diinformasikan pemandu sebelumnya. Ternyata tidak sulit, tinggal keluar dan sampailah saya untuk lapor kalau saya sudah selesai dari imigrasi. Kami diminta menunggu sampai jam 8 kurang 15 sebelum masuk ke bis. Saya duduk tak jauh dari peserta tur yang lain sambil ngemil makanan yang ada di tas saya.

Setelah waktunya tiba, saya dan semua peserta menuju bis. Tas pakaian ganti ditaruh di bagasi bis dan kami mendapat pemandu lain yang bernama Francesca dari Italia. Kami juga diberikan air minum dingin untuk selama perjalanan. Perjalanan dimulai, Francesca menjelaskan tempat-tempat yang kami lewati termasuk beberapa tempat yang pernah dipakai pada piala dunia 2022. Ada area pantai dengan gedung-gedung tinggi masih terdapat logo world cup di tengah-tengahnya. Juga melewati stadion 974 yang merupakan stadion piala dunia yang terbuat dari kontainer. Qatar ini memang sunggu negara kaya, gedung-gedungnya kebanyakan berseni. Jarang gedung yang dibuat cuma lurus saja. Pasti ada "sesuatu" nya, kalau bisa dibuat meliuk kenapa tidak, uangnya ada kan... 😂 Di jalan juga saya melihat semacam acara apel pagi prajurit, tapi dilakukan di atas onta, sayang tidak bisa berhenti untuk foto-foto.

Kami akan berhenti di 3 tempat, yang pertama adalah Dhow Harbour. Ini adalah area di pinggir laut yang bisa melihat kapal-kapal di sana. Waktu yang diberikan tidak lama dan tripod dengan remote bluetooth saya memang benar-benar menjadi barang-barang yang berguna. Saya tidak perlu merepotkan orang lain untuk mengambil foto. Setting nya sesuai dengan yang saya mau, jadi tidak ada acara bete karena hasil foto yang diambil tidak sesuai keinginan. 

Di Dhow Harbour

Gedung-gedung di Doha 1...

Gedung-gedung di Doha 2...


Perhentian kedua adalah Kaltara Cultural Village. Ini semacam kawasan budaya dan seni yang diantaranya ada masjid, pigeon tower yang menaranya berbentuk seperti telur dan Katara Amphitheatre yang sepertinya stadion mini dengan warna dominan putih. Kalau mau menyimak pemandu menjelaskan objek-objek yang didatangi saya tidak punya cukup waktu untuk mengambil foto dan video. Setting kamera dan juga menunggu orang-orang sepi. Jadi saya lebih banyak memisahkan diri tapi tetap mengawasi di posisi Francesca supaya tidak ketinggalan. 

Di Kaltara Cultural Village


Katara Amphitheatre

Tempat terakhir yang kami datangi adalah Souq Waqif yang merupakan pasar tradisional. Tujuan saya cuma 2 yaitu berfoto dengan jempol besar dan mencari oleh-oleh gantungan kunci, magnet kulkas dan bel dinner untuk saya sendiri. Awalnya saya sempat kecewa karena pasar itu murni benar-benar pasar. maksud saya barang-barang yang dijual adalah kebutuhan orang lokal. Banyak bubuk-bubuk entah apa yang tidak saya ketahui fungsinya. Kami juga diajak mengunjungi toko tempat burung falcon. Ketika ada waktu saya bertanya ke Francesca dimana patung thumb yang saya cari dan dia menjelaskan dari tempat bis kami berhenti yang merupakan titik kumpul dekat gedung spiral, nanti jalan ke kiri. Syukurlah di sisa waktu, kami diberikan waktu bebas sebelum berkumpul lagi untuk pulang. Saya bergegas menuju tempat yang dimaksud Francesca, dan Alhamdulillah selain saya bisa berfoto dengan si jempol, saya juga menemukan banyak toko yang menjual souvenir turis. Ternyata di sana ada yang menjual gantungan kunci dan lain-lain karena memang merupakan sisi pasar tapi untuk turis dan lebih ramai. Banyak tempat makan yang juga berada di sana, tapi karena tidak ada waktu, saya bergegas kembali ke bis setelah semua yang saya cari ketemu.

Gedung spiral di depan Souq Waqif

Di Souq Waqif sebelah toko Burung Falcon


Patung jempol di Souq Waqif


Jam 11 kami kembali ke bandara dan berpamitan kepada Francesca. Air minum dari bis terpaksa ditinggal karena masuk bandara tidak boleh bawa air. Coklat Dubai saya yang dibeli di Dubai dan Istanbul hampir disita, tapi saya memohon jangan diambil karena itu untuk oleh-oleh. Kan sedikit juga ya, tidak akan djual. Setelah masuk lagi lewat imigrasi, saya langsung mencari makan. Ada foodcourt di dekat area Tour Desk Discover Qatar yang sudah saya lihat sebelumnya. Saya benar-benar lagi pengen nasi briyani dan syukurlah ada di sana. Ada macam-macam pilihan dan saya memilih lauk ayam. Saya minta kemasan take away, tapi sebagian saya makan di sana dan sebagian lagi saya makan nanti karena porsinya ternyata banyak sekali. Harganya? tentu saja mahal saudara-saudara. Saya menghabiskan 68 Riyal Qatar untuk makan siang. Untuk minum saya mengisi ulang botol dengan air minum yang banyak terdapat di sana. Di sana juga ada toko oleh-oleh yang harganya nauzubillah mahalnhya sesuai standar bandara. Saya membeli coklat Dubai lagi dan kurma dengan pembayaran menggunakan kartu kredit, karena uang tunai sudah menipis. Saya jadinya membeli 3 versi coklat Dubai untuk dibandingkan rasanya nanti. Coklat yang saya beli kali ini ada yang rasa mangga dan rasa lainnya.

Nasi briyani yang enak


Masih punya banyak waktu karena pesawat ke Jakarta jadwalnya malam, saya berjalan-jalan di bandara setelah sholat jamak Zuhur dan Ashar. Seperti Changi yang punya Jewel, maka di Bandara Hamad ini ada The Orchard. Taman dengan air terjun yang bisa menjadi tempat untuk rileks sambil menunggu jadwal terbang. Ada air mancur juga walau tidak sebesar di Changi. Posisinya ada di concourse paling ujung. Saya berharap gate saya nanti juga di C agar tidak terlalu jauh kalau jalan. Memang ada kereta menuju ke sana, tapi karena saya juga membawa tas pakaian plus oleh-oleh yang cukup berat, saya menggunakan luggage troley, saya malas harus meninggalkan troley itu dan nanti harus cari lagi. Jadi saya jalan kaki menelusuri concourse C yang panjang itu dengan mendorong troley. Untung ada banyak travelator, jadi kaki saya bisa terbantu untuk menghemat tenaga.

The Orchard Bandara Hamad Doha


Departure Board yang memberi tahu gate saya, baru menginformasikannya beberapa saat sebelum waktu boarding. Karena sudah capek, saya duduk saja sambil ngecas hp. Iseng menghabiskan uang riyal beli jus jeruk dan ternyata amit-amit mahal sekali. Sehari saya di Doha ini setara dengan saya seminggu di rumah sepertinya 😅. Alhamdulillah ternyata gate ke Jakarta tetap di concourse C tepatnya di C1, jadi saya tidak perlu jalan jauh lagi. Sambil menunggu, saya memakan nasi briyani lagi. Karena enak jadinya beli lagi, sisa yang tadi siang sudah habis dimakan di mushola. Di ruang tunggu sudah banyak orang Indonesia, saking lelahnya saya tertidur dan untung terbangun saat waktunya boarding. Saya termasuk yang terakhir masuk ke pesawat karena kursi saya di zona yang posisinya di depan. Awalnya saya duduk di 21C, tapi ada ibu dan suaminya mengajak tukaran. Jadi saya geser ke jendela 21A dan mereka duduk di tengah dan aisle seat. Alhamdulillah ya, rezeki anak soleh. Walau malam, tapi lumayan melihat pemandangan lampu-lampu gedung di Doha.

Saya sangat suka warna merah marun yang dominan di pesawat Qatar Airways. Karena perjalanan memakan waktu 8 jam, disediakan 2 kali makan. Jika di Emirates dan Saudia selain makan berat maka yang kedua adalah roti atau snack, maka kalau di Qatar Airways yang pertama makan berat yang kedua juga disajikan lengkap tapi bukan nasi. Kalau siang nafsu makan saya sudah kembali, nah malam ini saya kembali tidak nafsu makan. Demi bertahan hidup, obat yang saya beli di Istanbul jadi dimakan sebutir lagi agar saya bisa makan sedikit.

Makan pertama


Isinya nasi


Makan kedua


Isinya kentang, sosis dan telur

Menjelang subuh, pesawat memasuki wilayah Indonesia. Syukurlah ilmu saat saya umroh tahun 2023 dipakai lagi. Saya solat subuh di kursi pesawat setelah tayamum. Jika melihat layar di depan kursi, terlihat jelas rute pesawat yang gelap di belakangnya mulai berganti terang di depannya. Bumi seolah terpisah menjadi dua, gelap dan terang. Ini dibuktikan benar, saat saya melihat ke luar jendela dimana matahari mulai menampakkan dirinya. 

Pesawat mendarat di Jakarta jam 7 pagi. Saya sudah janjian dengan Desi yang kebetulan baru pulang umroh karena pesawat kami ke Palembang sama dan jadwalnya siang. Setelah saya sampai di Indonesia, Alhamdulillah saya benar-benar sehat. Saya sudah berani beli kopi dan minuman lainnya. Perut saya ini agak aneh, saya pernah mencret gara-gara beli kopi. Makanya selama traveling saya takut beli minuman asing, kecuali latte yang saya beli di Istanbul bersama Nabila dan Hafiz. Nah sekarang saya tidak peduli, mau mencret ya sudahlah, paling pesawatnya diundur 😂. Yang penting lagi pengen minum manis untuk melegakan diri sendiri. 

Demikianlah kisah nekat saya solo traveling ke Istanbul dengan transit Dubai dan Doha. Perjalanan ini akan menambah memori dalam ingatan saya. Mungkin lain kali saya lebih berani solo traveling ke negara-negara lainnya yang bukan muslim. Jiwa traveling saya terus ingin mengunjungi tempat-tempat yang baru, namun teman-teman saya tidak selalu cocok waktunya dan mau dijadikan teman traveling. Jadi saya harus mengumpulkan keberanian dan uangnya tentu saja, untuk perjalanan berikutnya.

Video youtube

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...