Perjalanan ini adalah acara outing dari kantor. Agendanya adalah menyusuri pulau-pulau di Belitung. Kalau untuk kegiatan mengunjungi beberapa tempat di sepanjang laut, saya sudah pernah waktu ke Phuket tahun 2015, serta Lampung beberapa tahun lalu. Dari Palembang pesawat transit dulu di Bangka, tapi kami tidak keluar pesawat, hanya menunggu penumpang yang turun dan naik di dan dari Bangka. Kemudian baru terbang lagi menuju Belitung. 


Belitung menurut saya samalah seperti tempat-tempat di Indonesai pada umumnya. Namun, tentu saja nilai plusnya adalah banyaknya pulau-pulau dan pantai-pantai indah yang tidak semua tempat punya. Hari pertama kami ke danau kaolin uang merupakan kawasan bekas tambang timah. Katanya airnya biru, tapi pada saat ke sana kami lihat airnya berwarna putih. Kemudian dilanjutkan makan mie Belitung dan makan siangnya ke honey bee untuk makan sekalian melihat peternakan lebah penghasil madu. Sayangnya karena saya alergi seafood, saya masuk grup yang kalau makan menunya tidak ada seafood. Minusnya pengen makan seperti orang-orang yang kayaknya enak dan seru makan udang dan kepiting. Plusnya kami tidak perlu rebutan meja dan kursi karena sudah khusus tersedia. Selama di Belitung ini, baru merasakan kalau Indonesia puanas. Terpaksa beli topi untuk menutup muka. Sunscreen dan sejenisnya selalu dipakai kalau tidak mau pulang ke Palembang dalam keadaan gosong.

Hari kedua fokus ke Pulau Leebong karena sekalian akan ada game kelompok di sana. Yah biasalah game-game kelompok yang sering dimainkan kalau lagi outbond atau kumpul-kumpul. Seoerti permainan Squid Game yang mencari teman sekelompok, dari 2, 3, 4 atau angka acak lainnya. Cuma kan kalau di Squid Game pakai pintu dan ruangan serta taruhannya nyawa, kalau yang ini mah paling dapat malu dan diketawain kalau tidak dapat kelompok. Pulau Leebong sangat lengkap, ada tempat mandi, mushola, minimarket dan restoran. Saya beli sendal di sini gara-gara tidak kuat pakai sepatu yang selalu basah dan lupa bawa sendal.

Hari terakhir saatnya island hooping, ada banyak pulau yang dikunjungi. Pulau pasir hanya bisa dikunjungi saat pagi, karena kalau sudah sore dan air pasang, pulaunya bakal hilang. Jadi tidak usah bangun rumah di sini kalau tidak mau tenggelam. Selanjutnya pulau Batu Garuda yang hanya dilihat dari kapal saja, Pulau Batu Berlayar yang berisi batu besar seperti orang tua dan batu kecil-kecil seperti anak-anaknya. Pulau Kelayang dan terakhir Pulau Lengkuas yang memiliki Mercu Suar. Saya yakin melihat mercu suar ini saat di pesawat kemarin.

Pulau Batu Garuda


Pulau Leebong


Pulau Lengkuas


Begitulah cerita singkat mengenai libur yang diberikan kantor sebagai waktu refreshing di tengah tahun. Sepertinya pulau-pulau besar di sekitar Sumatera sudah saya kunjungi semua, Pulau Bangka, Belitung dan Batam. Eh ada sih yang belum, Pulau Bintan, mungkin nanti ya suatu saat saya bisa berkunjung ke sana.

Video Yotube

Pagi-pagi sesuai janji dengan Pak Cik, kami dijemput di depan hotel sama driver. Surprise ternyata yang jemput istri Pak Cik sendiri. Karena masih muda, jadinya malah panggil kakak saja. Kak Rehan orangnya asik, dia malah kadi seperti teman. Kami boleh request lagu apapun selama di perjalanan. Sepanjang jalan juga banyak saling tukar cerita. Mengenai Penang dan Melaka yang jadi tujuan wisata medis, namun dengan bagian penyakit yang berbeda. Selain itu juga banyak berdiskusi mengenai makanan, tempat wisata dan kejadian yang sedang viral saat itu. Tak terasa satu jam an kemudian kami sampai, Elsa sudah pucat karena jalannya menanjak, untung dia tidak muntah. Tiket masuk Colmar Tropicale 14 MYR satu orang, itu sudah termasuk Japanese village, sementara untuk driver biayanya gratis. 


Dibanding ke Petronas kemarin, hari ini waktu kami sangat banyak. Jadi santai saja menyusuri sudut-sudut Colmar Tropicale. Menurut saya kurang lebih sama ya dengan Petite France di Korea. Di sini ada juga tempat menginapnya. Jadi kalau mau puas bisa memesan hotel dan bisa sekalian menikmati suasana malam. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi sangat bagus dan terawat. Ada beberapa cafe dan tempat makan bergaya Italia, juga ada minimarket untuk membeli minum dan makanan kecil. 

Pintu masuk Colmar Tropicale


Suasana di dalam Colmar Tropicale


Juga ada burung-burung yang mencari makan


Suasananya benar-benar mirip Petite France


Ada beberapa cafe di sana


Karena masih punya waktu, setelah puas di Colmar Tropicale kami lanjut melipir ke Japanese Village bersama Kak Rehan. Setelah parkir mobil, kami diharuskan naik tangga yang lumayan tinggi. Sebelum naik, ada peringatan untuk yang punya riwayat sakit jantung dan lain-lain harus berhati-hati karena tangganya tinggi tadi. Setelah kami naik, iya sih... lumayan bikin ngos-ngosan. Yang jompo seperti saya, harus beberapa kali berhenti untuk mengambil napas dan berusaha bertahan hidup... 😊

Adasatu keluarga dengan muka arab bertanya kepada kami menyebut satu istilah. Tapi kami tidak mengerti sama sekali maksudnya, baik yang orang Indonesia maupun Malaysia. Setelah dia memerikan foto, baru jelas bahwa yang dimaksudnya adalah Colmar Tropicale. Ternyata dia ke sini dulu baru mau ke Colmar Tropicale. Maka dijelaskalah oleh Kak Rehan bagaimana jalan mau ke sana.

Japanese Village ini sebenarnya hanya terdiri dari 2 rumah bergaya Jepang, tapi dilengkapi suasana yang memang dibuat mirip. Ada aliran alir diantara batu-batu besar dan tanaman. Vibes nya menurut saya agak seperti Kyoto. Yah lumayanlah ya, mengobati rasa rindu saya yang pengen ke Jepang lagi, namun tidak tahu kapan bakal bisa ke sana lagi.

Rumah di Japanese Village


Ada juga kimononya untuk disewa


Pulang ke hotel, sudah harus siap-siap packing karena besok kami akan pulang dan kembali lewat dari Jakarta dengan Air Asia. Untuk ke Palembang dilanjutkan dengan Pelita Air. Selesai sudah libur singkat saya di Kuala Lumpur. Secara umum saya sudah puas mengunjungi semua tempat wisata di Kuala Lumpur, namun untuk makanannya tidak akan ada kata bosan, banyak makanan di sini yang bisa membuat saya untuk balik lagi.

Snack dari Pelita Air

Perjalanan ini dilakukan pertengah tahun 2025 lalu, namun baru sempat ditulis sekarang. Karena lagi banyak kerjaan, saya susah meluangkan waktu untuk menulis blog, walau saya ingin terus menulis perjalanan-perjalanan saya sebagai dokumentasi. Saya ingin di masa depan, saya bisa membuka kembali kenangan perjalanan saya yang merupakan hal sangat saya suka. Setelah ini akan ada cerita-cerita singkat perjalanan saya di Indonesia, diantaranya karena kerjaan. Namun akan ada juga perjalanan panjang penuh cerita saat Tahun Baru 2026 dalam tuliskan selanjutnya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...