Tulisan kali ini dalam rangka kerjaan ke Surabaya selama 4 hari 3 malam. Tidak ada foto saya karena lebih fokus ke makanan... eh kerjaan 😆. Total naik pesawat dari Palembang ke Surabaya adalah 4 kali, dan dipastikan semuanya itu diiringi dengan doa tentu saja. Kali ini saya pergi sendirian tanpa ada teman, hitung-hitung latihan karena akhir tahun ada rencana solo traveling yang lebih jauh.
Mengenai Saya
- Annie Mardiani
- Palembang, Indonesia
- Hobi shopping, nonton film, dengerin musik, suka menulis dan membaca novel, serta gila travelling.
Search
Jalan-jalan
- Brunei Darussalam (3)
- Hong Kong (5)
- Indonesia-Bali (3)
- Indonesia-Bandung (1)
- Indonesia-Bangka (2)
- Indonesia-Batam (2)
- Indonesia-Belitung (1)
- Indonesia-Curup (1)
- Indonesia-Jakarta (9)
- Indonesia-Jambi (1)
- Indonesia-Lampung (5)
- Indonesia-Palembang (2)
- Indonesia-Surabaya (3)
- Indonesia-yogyakarta (3)
- Japan-Kyoto (3)
- Japan-Tokyo (6)
- Macau (3)
- Malaysia-Johor Bahru (3)
- Malaysia-Kuala Lumpur (23)
- Saudi Arabia-Jeddah (3)
- Saudi Arabia-Mecca (4)
- Saudi Arabia-Medina (4)
- Singapore (13)
- South Korea-Seoul (13)
- Taiwan-Taipei (1)
- Thailand-Bangkok (3)
- Thailand-phuket (4)
- Vietnam-Ho Chi Minh (4)
Entri Populer
-
Kalau aku suka pada suatu makanan, itu pasti disebabkan oleh sesuatu.... Misalnya saja, dulu aku tidak suka kacang panjang, tapi saat OSPEK ...
-
Aku ke Pagar Alam lagi, kali ini bukan untuk Outbound tapi pelatihan. Lokasinya di Hotel Wisata Gunung Gare Pagaralam. Kegiatan ini merupaka...
-
Hari berikutnya adalah hari tidur sedunia. Capeknya baru terasa, setelah sebelumnya tidur di pesawat dan di Bandara, kemudian harus bangun ...
-
Suatu hari seekor mama kucing mengajak (menggigit) anak-anaknya pindahan ke rumah kami.... Karena mereka lucu-lucu, ya udah, mereka diterima...
-
Bak kena durian runtuh (entah gimana rasanya, yang pasti rasanya sakit),... Bulan Agustus 2015 ini tiba-tiba The big bos ngasih liburan ke a...
-
Hari kedua di Kuala Lumpur memiliki agenda utama yaitu naik Petronas. Saya pertama kali ke Kuala Lumpur Desember 2007, dan sejak saat itu sa...
-
Duh kenapa juga harus menderita, .... itulah yang menimpaku saat menghabiskan liburanku akhir tahun 2011 kemarin. Tiket sudah dibeli, pengin...
-
Pagi-pagi setelah sarapan, sambil menunggu jam 9, kami foto-foto narsis dulu di kamar hotel. Pemandangan jendela kamarnya di kejauhan sediki...
-
Postingan ini... untuk perjalanan akhir tahun 2023 ini, akan penuh dengan curhatan, padahal ini adalah satu-satunya postingan dengan label T...
-
2021 Masih belum ada titik terang kapan bisa traveling lagi. Yang jelas kalau dunia persilatan sudah kondusif harus umroh dulu, baru nambahi...
Saya suka naik kereta, dalam setiap perjalanan saya, biasanya kalau moda transportasinya sudah memadai maka saya akan memilih kereta. Di Jepang saya hampir tidak pernah naik mobil, naik mobil, tepatnya bis, hanya karena pindah terminal saat di bandara. Di Hong Kong malah saya benar-benar tidak naik mobil sama sekali, karena kemana-mana naik kereta. Dari Palembang saya sudah sering bolak-balik naik kereta ke Lampung, di dalam kota saya juga suka naik LRT. Saya pernah merencanakan perjalanan di Pulau Jawa dengan naik Whoosh dan Kereta Panoramic untuk beberapa kota, namun hal itu tidak pernah terlaksana. Tapi emang rejeki tidak kemana, lagi-lagi untuk urusan kerjaan, saya harus ke Bandung dan bisa naik Whoosh. Alhamdulillah ya, setidaknya satu whish list saya sudah tercoret.
Setelah urusan di Jakarta selesai, lanjut ke Bandung. Pergi ke Bandung nya dapat jadwal malam, yah gagal total mau ngonten pemandangan di luar. Mau membandingkan dengan kecepatan Shinkansen yang pernah saya tumpangi tahun 2018 lalu. Tapi Alhamdulillah saat pulangnya jadwalnya siang, jadi dapat juga rekaman pemandangan dengan kecepatan Whoosh. Kurang lebih samalah ya sebagai kereta cepat. Cuma karena jaraknya dekat, jadi agak tidak terasa dan kurang puas. Trus, selanjutnya naik apa lagi, mungkin naik Maglev ya pemirsa... hehe...

Pulang ke Palembang dapat pengalaman agak tidak menyenangkan gara-gara pesawat yang tidak jadi terbang dari Halim. Pesawat sudah mau terbang, eh tidak jadi dan kembali parkir. Tapi tetap bersyukur, coba kalau sudah di atas dan baru merasa ada yang salah, kan jauh lebih menakutkan. Syukur Alhamdulillah, akhirnya walau cukup lama menunggu sampai dapat nasi, berhasil mendarat dengan selamat di Palembang.
Video Youtube
Perjalanan ini adalah acara outing dari kantor. Agendanya adalah menyusuri pulau-pulau di Belitung. Kalau untuk kegiatan mengunjungi beberapa tempat di sepanjang laut, saya sudah pernah waktu ke Phuket tahun 2015, serta Lampung beberapa tahun lalu. Dari Palembang pesawat transit dulu di Bangka, tapi kami tidak keluar pesawat, hanya menunggu penumpang yang turun dan naik di dan dari Bangka. Kemudian baru terbang lagi menuju Belitung.
Pulau Batu Garuda

Pulau Leebong

Pulau Lengkuas

Begitulah cerita singkat mengenai libur yang diberikan kantor sebagai waktu refreshing di tengah tahun. Sepertinya pulau-pulau besar di sekitar Sumatera sudah saya kunjungi semua, Pulau Bangka, Belitung dan Batam. Eh ada sih yang belum, Pulau Bintan, mungkin nanti ya suatu saat saya bisa berkunjung ke sana.
Video Yotube
Pagi-pagi sesuai janji dengan Pak Cik, kami dijemput di depan hotel sama driver. Surprise ternyata yang jemput istri Pak Cik sendiri. Karena masih muda, jadinya malah panggil kakak saja. Kak Rehan orangnya asik, dia malah kadi seperti teman. Kami boleh request lagu apapun selama di perjalanan. Sepanjang jalan juga banyak saling tukar cerita. Mengenai Penang dan Melaka yang jadi tujuan wisata medis, namun dengan bagian penyakit yang berbeda. Selain itu juga banyak berdiskusi mengenai makanan, tempat wisata dan kejadian yang sedang viral saat itu. Tak terasa satu jam an kemudian kami sampai, Elsa sudah pucat karena jalannya menanjak, untung dia tidak muntah. Tiket masuk Colmar Tropicale 14 MYR satu orang, itu sudah termasuk Japanese village, sementara untuk driver biayanya gratis.
Pintu masuk Colmar Tropicale

Suasana di dalam Colmar Tropicale

Juga ada burung-burung yang mencari makan

Suasananya benar-benar mirip Petite France

Ada beberapa cafe di sana

Karena masih punya waktu, setelah puas di Colmar Tropicale kami lanjut melipir ke Japanese Village bersama Kak Rehan. Setelah parkir mobil, kami diharuskan naik tangga yang lumayan tinggi. Sebelum naik, ada peringatan untuk yang punya riwayat sakit jantung dan lain-lain harus berhati-hati karena tangganya tinggi tadi. Setelah kami naik, iya sih... lumayan bikin ngos-ngosan. Yang jompo seperti saya, harus beberapa kali berhenti untuk mengambil napas dan berusaha bertahan hidup... 😊
Rumah di Japanese Village

Ada juga kimononya untuk disewa

Pulang ke hotel, sudah harus siap-siap packing karena besok kami akan pulang dan kembali lewat dari Jakarta dengan Air Asia. Untuk ke Palembang dilanjutkan dengan Pelita Air. Selesai sudah libur singkat saya di Kuala Lumpur. Secara umum saya sudah puas mengunjungi semua tempat wisata di Kuala Lumpur, namun untuk makanannya tidak akan ada kata bosan, banyak makanan di sini yang bisa membuat saya untuk balik lagi.
Snack dari Pelita Air

Hari berikutnya adalah hari tidur sedunia. Capeknya baru terasa, setelah sebelumnya tidur di pesawat dan di Bandara, kemudian harus bangun pagi-pagi untuk naik Petronas. Kamar hotelnya tidak punya tv, jam dan jendela. Jadi mau siang atau malam tidak ada bedanya. Setelah bangun tidur yang super kesiangan, bersiap-siap dengan santai karena tidak punya tujuan yang pasti untuk hari itu. Diputuskan akhirnya hanya main ke TRX mall, serta mall-mall lainnya untuk jajan-jajan cantik dan belanja apa saja yang kelihatan.

Terlihat juga gedung-gedung sekitar

Cemilan yang dibawa

Makan siang di Pavilion lagi

Setelah dari TRX mall kami mencari tiket untuk ke Colmar Tropicale. Kami ke Berjaya Times Square. Tapi hasilnya benar-benar nihil. Semua informasi dari internet yang mengatakan ada di lantai berapa dan di posisi mana benar-benar tidak ada lagi. Bolak-balik tidak jelas, akhirnya kami ke arah Hotelnya dan bertanya ke staff di sana bagaimana cara ke Colmar Tropicale. Akhirnya dapat info kalau tidak salah, karena saya menulis blog ini bermodal ingatan dari kunjungan yang sudah cukup lama. Infonya di lantai 15 dan datang pagi-pagi. Tapi untuk bertanya dia juga memberikan nomor kontak yang sekarang entah di mana. Setelah dihubungi ternyata tiket nya untuk besok sudah habis, karena memang muatan mobilnya juga terbatas. Yang ada untuk lusa, tapi sudah pulang kalau waktunya lusa. So... apakah kami akan menyerah, yo wes... sepertinya sudah takdir kalau tidak bisa ke Colmar Tropicale untuk kedua kalinya setelah bertahun-tahun lalu saya juga pernah tidak berhasil dapat tiketnya.
Hari kedua di Kuala Lumpur memiliki agenda utama yaitu naik Petronas. Saya pertama kali ke Kuala Lumpur Desember 2007, dan sejak saat itu saya sangat sering bolak balik Kuala Lumpur, baik sebagai tempat tujuan utama atau hanya sekedar transit. Dahulu saat masa jayanya sebelum pandemi Covid 19, tiket Air Asia sangat terjangkau, sehingga kemana-mana akan lebih murah lewat Kuala Lumpur dibanding Jakarta. Kalau dihitung-hitung sampai sekarang kurang-lebih saya sudah 10 kali lebih ke Kuala Lumpur. Tapi dari sekian banyak kinjungan itu, tidak satupun yang punya kesempatan untuk naik Petronas. Film Entrapment sudah dari jaman kapan ditonton, baru sekarang baru akan terwujud naik Petronas.

Another angle lantai 41

Dari lantai 86, Kota Kuala Lumpur terlihat lebih jelas. Di sana ada teropong yang bisa digunakan. Saya juga melihat Pintasan Saloma dan beberapa tempat lain. Cuma sayang, tidak bisa berlama-lama, setelah waktunya habis, kami diantar turun ke lantai khusus yang menjual merchandise dan foto-foto yang bisa dipilih saat berfoto di bawah tadi. Foto kita juga bisa disatukan dengan merchandise khusus berbentuk kaca, tapi harganya lumayan mahal. Jadi supaya ada kenang-kenangan, saya beli yang versi biasa saja. Untuk softcopy boleh diambil setelah diberi linknya. Selain itu kita juga dapat sertifikat saudara-saudara... haha. Jadi bolehlah kali ya ditambahkan sebagai satu pencapaian telah berhasil naik Gedung Kembar tertinggi di dunia. Dari lantai tersebut juga terlihat jelas kembaran Petronas yang satunya. Kalau saya ditanya saya naik Petronas yang mana, sebelah kiri atau kanan, saya tidak tahu dan tidak bisa menjawabnya.
Foto merchandise Petronas

Sang kembaran

Makan siang kami makan di Pavilion. Sudah lama tidak makan Yong Tau Fu dan saya tidak menyia-nyiakan kesempatan mumpung masih di Malaysia. Agenda lain hari itu adalah Pintasan Saloma, tapi karena lebih bagus dilihat saat malam, maka kami akan ke sana saat malam hari, dan akan kembali ke hotel dulu untuk istirahat. Karena ini judulnya menuntaskan sisa list di Kuala Lumpur, jadi saya memang sengaja menyusun jadwal yang santai, dengan lebih banyak tidur di Hotel. Beda tentu saja kalau ke tempat baru, pasti dalam satu hari akan dibuah padat sampai kaki jadi gempor.

Beli Mango Sticky Rice di dekat Hotel di Jalan Alor

Setelah Magrib kami ke arah Petonas lagi untuk ke Pintasan Saloma, tapi kali ini naik LRT ke Stasiun Kampung Baru. Keluar sedikit, sudah kelihatan si jembatan tersebut. Ternyata di sini juga rame sama orang-orang. Lampu-lampunya terus berganti merah, kuning, hijau, biru dan ungu. Latar belakangnya Petronas dengan lampu terang berwarna putih.
Di Pintasan Saloma

Sekalian dengan Petronas

Makan malamnya di Mall di bawah Petronas, Nasi Kari Jepang dan Daging. Karena memang sudah kemalaman, banyak tempat makan yang mulai tutup. Setelah makan kami segera pulang mengejar MRT yang takutnya juga sudah habis karena sudah kemalaman.


.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)


.jpeg)

.jpeg)







