Pagi-pagi sesuai janji dengan Pak Cik, kami dijemput di depan hotel sama driver. Surprise ternyata yang jemput istri Pak Cik sendiri. Karena masih muda, jadinya malah panggil kakak saja. Kak Rehan orangnya asik, dia malah kadi seperti teman. Kami boleh request lagu apapun selama di perjalanan. Sepanjang jalan juga banyak saling tukar cerita. Mengenai Penang dan Melaka yang jadi tujuan wisata medis, namun dengan bagian penyakit yang berbeda. Selain itu juga banyak berdiskusi mengenai makanan, tempat wisata dan kejadian yang sedang viral saat itu. Tak terasa satu jam an kemudian kami sampai, Elsa sudah pucat karena jalannya menanjak, untung dia tidak muntah. Tiket masuk Colmar Tropicale 14 MYR satu orang, itu sudah termasuk Japanese village, sementara untuk driver biayanya gratis. 


Dibanding ke Petronas kemarin, hari ini waktu kami sangat banyak. Jadi santai saja menyusuri sudut-sudut Colmar Tropicale. Menurut saya kurang lebih sama ya dengan Petite France di Korea. Di sini ada juga tempat menginapnya. Jadi kalau mau puas bisa memesan hotel dan bisa sekalian menikmati suasana malam. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi sangat bagus dan terawat. Ada beberapa cafe dan tempat makan bergaya Italia, juga ada minimarket untuk membeli minum dan makanan kecil. 

Pintu masuk Colmar Tropicale


Suasana di dalam Colmar Tropicale


Juga ada burung-burung yang mencari makan


Suasananya benar-benar mirip Petite France


Ada beberapa cafe di sana


Karena masih punya waktu, setelah puas di Colmar Tropicale kami lanjut melipir ke Japanese Village bersama Kak Rehan. Setelah parkir mobil, kami diharuskan naik tangga yang lumayan tinggi. Sebelum naik, ada peringatan untuk yang punya riwayat sakit jantung dan lain-lain harus berhati-hati karena tangganya tinggi tadi. Setelah kami naik, iya sih... lumayan bikin ngos-ngosan. Yang jompo seperti saya, harus beberapa kali berhenti untuk mengambil napas dan berusaha bertahan hidup... 😊

Adasatu keluarga dengan muka arab bertanya kepada kami menyebut satu istilah. Tapi kami tidak mengerti sama sekali maksudnya, baik yang orang Indonesia maupun Malaysia. Setelah dia memerikan foto, baru jelas bahwa yang dimaksudnya adalah Colmar Tropicale. Ternyata dia ke sini dulu baru mau ke Colmar Tropicale. Maka dijelaskalah oleh Kak Rehan bagaimana jalan mau ke sana.

Japanese Village ini sebenarnya hanya terdiri dari 2 rumah bergaya Jepang, tapi dilengkapi suasana yang memang dibuat mirip. Ada aliran alir diantara batu-batu besar dan tanaman. Vibes nya menurut saya agak seperti Kyoto. Yah lumayanlah ya, mengobati rasa rindu saya yang pengen ke Jepang lagi, namun tidak tahu kapan bakal bisa ke sana lagi.

Rumah di Japanese Village


Ada juga kimononya untuk disewa


Pulang ke hotel, sudah harus siap-siap packing karena besok kami akan pulang dan kembali lewat dari Jakarta dengan Air Asia. Untuk ke Palembang dilanjutkan dengan Pelita Air. Selesai sudah libur singkat saya di Kuala Lumpur. Secara umum saya sudah puas mengunjungi semua tempat wisata di Kuala Lumpur, namun untuk makanannya tidak akan ada kata bosan, banyak makanan di sini yang bisa membuat saya untuk balik lagi.

Snack dari Pelita Air

Perjalanan ini dilakukan pertengah tahun 2025 lalu, namun baru sempat ditulis sekarang. Karena lagi banyak kerjaan, saya susah meluangkan waktu untuk menulis blog, walau saya ingin terus menulis perjalanan-perjalanan saya sebagai dokumentasi. Saya ingin di masa depan, saya bisa membuka kembali kenangan perjalanan saya yang merupakan hal sangat saya suka. Setelah ini akan ada cerita-cerita singkat perjalanan saya di Indonesia, diantaranya karena kerjaan. Namun akan ada juga perjalanan panjang penuh cerita saat Tahun Baru 2026 dalam tuliskan selanjutnya.

Hari berikutnya adalah hari tidur sedunia. Capeknya baru terasa, setelah sebelumnya tidur di pesawat dan di Bandara, kemudian harus bangun pagi-pagi untuk naik Petronas. Kamar hotelnya tidak punya tv, jam dan jendela. Jadi mau siang atau malam tidak ada bedanya. Setelah bangun tidur yang super kesiangan, bersiap-siap dengan santai karena tidak punya tujuan yang pasti untuk hari itu. Diputuskan akhirnya hanya main ke TRX mall, serta mall-mall lainnya untuk jajan-jajan cantik dan belanja apa saja yang kelihatan.


Kenapa TRX mall yang dipilih, karena di mall ini ada rooftop di lantai 3 yang bisa dikunjungi. Setelah makan siang serta beli jajanana kami ke sana. Jajanan yang dibeli adalah jajanan viral. Karena kan kami tidak mau ketinggalan dengan apa yang sedang diminati saat ini. Makanan yang dimaksud adalah Mon Chines Beef Roti yang halal. Ini ada isi daging dan beef yang sama enaknya, gerainya juga ada di Jalan Alor selain di Pavilion. Selain itu juga ada Chez Choux yang kami beli untuk rasa cokelat, vanila dan matcha. Minumnya Koin yang juga ada di Indonesia. 

Rooftop di TRX mall ini sangat keren, bersih dan bikin betah. Kalau mau Me Time bisa di sini, atau kalau mau kumpul rame-rame sama teman atau keluarga juga bisa. Rumput dan tanamannya sangat terawat, pasti mahal biaya perawatannya. Kami jadi kemping  di sana sambil makan makanan yang sudah dibeli. 

Rooftop di TRX mall


Terlihat juga gedung-gedung sekitar


Cemilan yang dibawa


Makan siang di Pavilion lagi


Setelah dari TRX mall kami mencari tiket untuk ke Colmar Tropicale. Kami ke Berjaya Times Square. Tapi hasilnya benar-benar nihil. Semua informasi dari internet yang mengatakan ada di lantai berapa dan di posisi mana benar-benar tidak ada lagi. Bolak-balik tidak jelas, akhirnya kami ke arah Hotelnya dan bertanya ke staff di sana bagaimana cara ke Colmar Tropicale. Akhirnya dapat info kalau tidak salah, karena saya menulis blog ini bermodal ingatan dari kunjungan yang sudah cukup lama. Infonya di lantai 15 dan datang pagi-pagi. Tapi untuk bertanya dia juga memberikan nomor kontak yang sekarang entah di mana. Setelah dihubungi ternyata tiket nya untuk besok sudah habis, karena memang muatan mobilnya juga terbatas. Yang ada untuk lusa, tapi sudah pulang kalau waktunya lusa. So... apakah kami akan menyerah, yo wes... sepertinya sudah takdir kalau tidak bisa ke Colmar Tropicale untuk kedua kalinya setelah bertahun-tahun lalu saya juga pernah tidak berhasil dapat tiketnya.

Karena memang tidak ada lagi tujuan, habis dari TRX mall dan Berjaya Times Square, kami balik ke hotel untuk menyambung mimpi. Makan malamnya tinggal melipir ke luar hotel di Jalan Alor yang memang sangat ramai kalau malam. 

Makan malam di Jalan Alor


Kembali ke cerita Colmar Tropicale tadi, saya masih usaha mencari cara ke sana besok. Nanya ke resepsionis dia janji akan mencarikan mobil sewaan untuk ke Colmar Tropicale pp dan mau menunggu sekitar beberapa jam. Tak lama dapat infonya, tapi mahal sekali, saya tidak ingat berapa tapi yang jelas sangat mahal dan tidak worth it sama sekali bagi saya. Mencari jalan lain, dapat lewat kakak saya, yang pernah menyewa mobil dengan orang yang dipanggil Pak Cik. Maka nego lah saya lewat nomor yang diberikan, dan hasilnya juga memang mahal, karena posisinya di luar kota dan menanjak dekat dengan Genting. Namun Pak Cik ini walau mahal tidak semahal dari temannya resepsionis sebelumnya. Setelah dipikir lagi, mumpung ada waktunya dan entah kapan lagi bisa punya kesempatan, akhirnya saya setuju. Besok kami akan dijemput pagi, pp ke Colmar Tropicale dan akan ditunggu beberapa jam.

Lanjut Part 4


Hari kedua di Kuala Lumpur memiliki agenda utama yaitu naik Petronas. Saya pertama kali ke Kuala Lumpur Desember 2007, dan sejak saat itu saya sangat sering bolak balik Kuala Lumpur, baik sebagai tempat tujuan utama atau hanya sekedar transit. Dahulu saat masa jayanya sebelum pandemi Covid 19, tiket Air Asia sangat terjangkau, sehingga kemana-mana akan lebih murah lewat Kuala Lumpur dibanding Jakarta. Kalau dihitung-hitung sampai sekarang kurang-lebih saya sudah 10 kali lebih ke Kuala Lumpur. Tapi dari sekian banyak kinjungan itu, tidak satupun yang punya kesempatan untuk naik Petronas. Film Entrapment sudah dari jaman kapan ditonton, baru sekarang baru akan terwujud naik Petronas.


Tiketnya sudah dipesan secara online, dapat jadwal jam 11 pagi. Sebelum jam 11 sudah harus datang ke sana. Pagi-pagi sudah antri untuk beli sarapan nasi lemak di Jalan Alor yang sangat terkenal itu. Porsinya luar biasa banyak, satu nasi bisa dibagi dua, tinggal nambah lauknya saja. Selesai sarapan, cus naik MRT menuju Petronas. Kalau muncul dari mallny maka setelah sampai di pintu depan belok kanan. Tapi jika dari arah depan air mancur, maka belok kiri. Mungkin bisa juga ya dari arah sebaliknya, tapi kami ke arah yang ditunjuka oleh petugas saat nanya ke dia. Turun eskalator 1 lantai ke bawah. Setelah lapor ke meja petugas, kami dikasih stiker berwarna merah ditempel disebelah kanan bahu. Ini ada tanda rombongan yang jam 11. Rasanya jarak antar rombongan 15 menit, dan stikernya berwarna macam-macam dan ditempel di bahu kanan atau kiri.

Setelah waktunya, kami diperbolehkan masuk. Ada sesi foto dulu per kelompok dengan latar yang nantinya akan ditambah kemudian. Naik lift dengan tujuan pertama di Skybridge lantai 41. Cuma dikasih waktu 10 menit. Luar biasa, memanfaatkan waktu itu untuk ngevlog bikin video dan foto-foto narsis. Untunglah waktunya cukup dan masih sempat menikmati pemandangan di bawah, taman belakang di bagian belakang dan air mancur di bagian depan. Kemudian setelah petugas memanggil grup stiker warna merah sebelah kanan, lanjut ke lantai 86 setelah sebelumnya transit di lantai lain dulu. 

Di lantai 86 tempatnya lebih luas. Di tengah ada maket Petronas, juga ada Kota Kuala Lumpur dalam bentuk bentuk mini. Selain itu ada juga kamera dan layar yang menunjukkan augmented reality Petronas. Letakkan tangan kita menghada ke atas, nanti menaranya akan ada di atas tangan kita. 

Petronas Lantai 86


Skybridge lantai 41


Another angle lantai 41


Dari lantai 86, Kota Kuala Lumpur terlihat lebih jelas. Di sana ada teropong yang bisa digunakan. Saya juga melihat Pintasan Saloma dan beberapa tempat lain. Cuma sayang, tidak bisa berlama-lama, setelah waktunya habis, kami diantar turun ke lantai khusus yang menjual merchandise dan foto-foto yang bisa dipilih saat berfoto di bawah tadi. Foto kita juga bisa disatukan dengan merchandise khusus berbentuk kaca, tapi harganya lumayan mahal. Jadi supaya ada kenang-kenangan, saya beli yang versi biasa saja. Untuk softcopy boleh diambil setelah diberi linknya. Selain itu kita juga dapat sertifikat saudara-saudara... haha. Jadi bolehlah kali ya ditambahkan sebagai satu pencapaian telah berhasil naik Gedung Kembar tertinggi di dunia. Dari lantai tersebut juga terlihat jelas kembaran Petronas yang satunya. Kalau saya ditanya saya naik Petronas yang mana, sebelah kiri atau kanan, saya tidak tahu dan tidak bisa menjawabnya.

Foto merchandise Petronas


Sang kembaran


Makan siang kami makan di Pavilion. Sudah lama tidak makan Yong Tau Fu dan saya tidak menyia-nyiakan kesempatan mumpung masih di Malaysia. Agenda lain hari itu adalah Pintasan Saloma, tapi karena lebih bagus dilihat saat malam, maka kami akan ke sana saat malam hari, dan akan kembali ke hotel dulu untuk istirahat. Karena ini judulnya menuntaskan sisa list di Kuala Lumpur, jadi saya memang sengaja menyusun jadwal yang santai, dengan lebih banyak tidur di Hotel. Beda tentu saja kalau ke tempat baru, pasti dalam satu hari akan dibuah padat sampai kaki jadi gempor.

Yong Tau Fu Pavilion


Beli Mango Sticky Rice di dekat Hotel di Jalan Alor


Setelah Magrib kami ke arah Petonas lagi untuk ke Pintasan Saloma, tapi kali ini naik LRT ke Stasiun Kampung Baru. Keluar sedikit, sudah kelihatan si jembatan tersebut. Ternyata di sini juga rame sama orang-orang. Lampu-lampunya terus berganti merah, kuning, hijau, biru dan ungu. Latar belakangnya Petronas dengan lampu terang berwarna putih.

Di Pintasan Saloma


Sekalian dengan Petronas


Makan malamnya di Mall di bawah Petronas, Nasi Kari Jepang dan Daging. Karena memang sudah kemalaman, banyak tempat makan yang mulai tutup. Setelah makan kami segera pulang mengejar MRT yang takutnya juga sudah habis karena sudah kemalaman.

Makanan Jepang

Lanjut Part 3

Jadi ceritanya perjalanan ke Kuala Lumpur ini saya lakukan di pertengahan tahun 2025 lalu. Cuma karena luar biasa sibuk, jadi benar-benar tidak sempat untuk menulis blog. Walau sekarang sudah tidak musim lagi orang menulis blog, dan orang-orang juga biasanya nyari informasi dari vlog kalau mau jalan-jalan. Saya tetap setia menulis blog untuk setiap perjalanan saya untuk catatan di masa depan apa saja yang saya lakukan untuk hobi nomor satu saya ini yang bisa bikin bangkrut. Saya pernah menonton drama Korea yang mengatakan jadikan hobimu menjadi pekerjaan nomor dua. Memang sih nulis blog, juga vlog saya saat ini memang tidak menghasilkan, tetapi tetap saya laukan. Jadi boleh dibilang ini adalah pekerjaan tidak penting yang saya suka, dibalik pekerjaan dan profesi utama saya yang merupakan "periuk nasi" saya.

Terus apa yang mau diceritakan, jadi begini... Mungkin tingkat stress saya levelnya sudah benar-benar naik. Pertengahan tahun lalu juga saya beberapa kali sakit dan kata dokter sakit saya adalah maag. Lama kelamaan jadi gerd juga karena gejalanya seperti dari asam lambung. Dan kabarnya “This illness is caused by stress.” Jadi, selain saya harus menjaga waktu makan, saya juga jangan stres kan. Maka dengan kesadaran penuh, ketika mendapat tanggal libur akhir Juni sampai awal Juli, saya memesan tiket ke Kuala Lumpur, kali ini bersama keponakan saya Elsa. Kenapa Kuala Lunpur lagi, karena ini liburnya pendek, yang penting jalan saja dan tidak perlu menambah hitungan negara yang sudah saya kunjungi. Lagipula saya kan belum mengunjungi beberapa tempat, termasuk naik Petronas dan bisa sekalian wisata kuliner. "Naik Petronas," ya anda tidak salah baca, saya belum pernah naik Petronas padahal sudah berkali-kali ke sana, baik sengaja maupun transit.

Berhubung Air Asia waktu itu belum ada dari Palembang, maka jadi kami akan transit dulu di Jakarta. Kalau sekarang mah, jangankan ke Kuala Lumpur dari Palembang, ke Singapura juga sudah ada. Tapi walau sudah ada pilihan ke Kuala Lumpur dan Singapura selain dari Jakarta kalau mau ke mana-mana, setelah saya cek, ternyata tetap lebih murah dari Jakarta. Ini akan saya ceritakan pada seri blog selanjutnya saya ke negara baru nanti. Persiapannya singkat saja, setelah tiket, kemudian booking hotel. Saya tidak bisa move on dengan daerah Jalan Alor, jadi saya pesan hotel tetap di sana, karena strategis dan mudah untuk mencari makan. Nah yang baru adalah Malaysia Digital Arrival Card (MDAC) yang harus diisi paling tidak 3 hari sebelum berangkat. Selama ini saya belum pernah pakai, jadi kali ini harus dipersiapkan dan agak bingung awalnya sebelum berhasil mengisinya. Untuk persiapan lainnya, saya membeli tiket dari klook untuk kereta KLIA Express dari bandara ke kota. Untuk pulangnya, rencananya akan naik taksi saja. Kemudian berhubung punya rencana akan naik ke Petronas, saya juga membeli tiketnya seharga 98 MYR, kalau untuk warlok harganya lebih murah.

Terus selain naik Petronas apalagi rencananya. Mau ke Colmar Tropicale, sama mall TRX yang ada rooftop nya, sisanya nyari makanan, haha. Kebanyakan nonton vlog orang, jadi pengen Ikan Bakar Bellamy dari vlog Ria SW dan kemudian beli roti canai di Mansion Tea Stall yang dilihat dari vlog orang Malaysia. Selain itu penasaran sama Mon Chinese Beef Roti yang halal rekomendasi Dilla, dan beberapa makanan lain. Intinya adalah nyari makan dan tidur di hotel saja kalau capek, haha....

Singkat cerita berangkatlah kami, ke Jakarta naik Garuda. Perjalanannya lumayan menegangkan karena cuaca juga tidak sedang bagus. Alhamdulillah sampai di Terminal 3, tapi terpaksa pindah ke Terminal 2 karena Air Asia tidak di Terminal 3. Capek dan rempong pindah terminal naik kereta bandara ke Terminal 2. Pesawat ke Kuala Lumpur berangkat jam 9 malam, jadi kami menunggu dan duduk manis di gatenya. Mau cari jajanan tidak terlalu banyak pilihan di sana, mau makan banyak, takut nanti bab di pesawat, jadi bengong saja sambil menahan kantuk. Eh tidak tahunya ketemu Dilla dan Ezar yang akan ke Jepang dan transit juga di Jakarta, tapi pesawat mereka berangkat duluan.

Snack dari Garuda

Saat boarding, kami dipindah lagi ke gate lain. Kebanyakan penumpangnya adalah warga Indonesia dan sedikit warga Malaysia. Kami nanti akan sampai tengah malam, dan untuk menghemat kami akan tidur di Bandara karena saya sudah biasa menggelandang di Bandara, terutama KLIA. Elsa juga nanti akan merasakan bagaimana seninya pahit dan manisnya traveling gaya kere demi jajan banyak, haha... Kenapa saya pilih Air Asia padahal ada pilihan lain ke Kuala Lumpur. Jawabannya adalah nasi lemak yang bisa di pesawat, saya sudah lama tidak naik Air Asia setelah pandemi, jadi saya sedikit kangen dengan nasi lemaknya. Kemasannya baru, minumnya dari rekomendasi saya pilih santan latte. Setelah saya cicip, menurut saya rasanya seperti kuah cendol atau kolak.

Makanan di Air Asia

Sampai tengah malam, di imigrasi tidak ada drama. Yah juga sudah malam juga kan, dan semua dokumen kami lengkap. Setelah dapat bagasi, dari area kedatangan saya mencari mushola di area lantai keberangkatan, tapi ternyata sedang renovasi. Toilet dan kamar mandinya masih bisa digunakan, tapi kami terpaksa mencari tempat untuk istirahat di tempat lain. Naik satu lantai, kami ketemu mushola lain, dan Alhamdulillah bisa istirahat bersama dengan para penumpang lain yang kebanyakan jadwal pesawatnya Subuh atau pagi.

Menjelang jam 5 ke 6, satu persatu orang-orang berangkat. Setelah sholat Subuh, kami mandi di lantai bawah. Lumayan badan lebih segar setelah mandi dan ganti baju. Tidak bisa langsung ke hotel, karena waktunya belum masuk waktu check in. Jadi saya berencana akan ke Mansion tea Stall dulu untuk sarapan roti canai spesial. Roti canai yang saya tonton di vlog, sepertinya enak. Ada tambahan 2 telur setengah matang dan sambal. Dari KLIA naik kereta KLIA Express ke KL Sentral. Titip koper dulu di loker KL Sentral. Tarifnya mahal sekali, tapi saya tidak ingat berapa. Karena terpaksa ya sudah direlakan saja. Lanjut dalam rangka mencari sarapan, naik LRT menuju Masjid Jamek. Dari stasiun Masjid Jamek menyeberang jalan dan mengikuti Google Maps ke Mansion tea Stall yang jaraknya tidak terlalu jauh kalau jalan kaki. Lumayan banyak juga orang yang makan di sana. Kami makan di meja luar dengan pemandangan Petronas dan gedung baru tertinggi di Kuala Lumpur yaitu Gedung Merdeka. Pesanannya teh tarik selain roti canai spesial yang memang sudah diidamkan dan rasanya enak sesuai dengan yang dibayangkan.

Roti canai spesial dan teh tarik

Karena memang masih pagi, kami masih punya banyak waktu sebelum check in. Lanjut jalan kaki ke Pasar Seni. Luar biasa ya, saking seringnya saya ke Kuala Lumpur, sekarang saya sudah tahu jalan pintas dari Masjid Jamek ke Pasar Seni. Jalan yang kami lewati seingat saya pernah dipenuhi dengan orang jualan makanan saat Hari Jumat. Namun karena itu bukan hari Jumat, jadi sepi tidak ada orang jualan. Jalannya tembus ke pintu belakang Pasar Seni. Sempat melihat-lihat beberapa barang seperti casing hp, tas sampai sepatu dan kaos kaki. Sempat bengong juga di Mixue sampai akhirnya sudah semakin siang dan lanjut ke Ikan Bakar Bellamy untuk beli makan siang. 

Naik grab sempat miscommunication karena titik jemput yang tidak sesuai. Depan pasar seni itu kan luas, sebagai turis mana kami tahu tempat yang difoto olehnya. Kami juga kirim foto lokasi depan Pasar Seni, sebagai warlok mestinya dia tahu kan, tapi dia tidak mau ngalah mencari kami. Akhirnya kami ngalah masuk ke dalam dan nanya ke petugas di mana foto lokasi yang diberi supir grab. Setelah dicari ternyata jaraknya tidak jauh maju dikit dari tempat kami menunggu tadi. Malas sih mau marah di negeri orang, akhirnya tetap naik walau capek rasanya bolak balik di cuaca panas. Sampai di tujuan, sang supir ngajak ngomong untuk konfirmasi soal titik jemput tadi, tidak ingat sih dia minta maaf atau tidak. Tapi gayanya sudah tidak sesongonng saat di chat tadi. Ya udahlah tidak masalah tetap dikasih bintang 5. 

Di Ikan Bakar Bellamy menu-menunya asli bikin ngeces semua. Lauk-lauk dibakar dengan bumbu dan daun pisang. Pelengkapnya kecap dan sambal yang luar biasa enak. Saya pilih ikan nila dan lele, tapi sebutannya beda dalam Malaysia sementara Elsa pilih cumi-cumi. Saya sih pengen ya, tapi saya alergi seafood. Tidak bisa makan udang dan ikan laut yang bikin gatal. Akhirnya rela makan ikan non laut demi tidak gatal-gatal. Makanannya dibungkus mau makan di hotel saja, karena sudah siang dan kami sudah capek. Naik Grab lagi ke KL sentral ambil koper dan ganti naik MRT ke Bukit Bintang. Menginapnya di Alor Boutique Hotel, dan dapat kamar di lantai 3 di mana tidak ada lift saudara-saudara. Setelah beres-beres sebentar, makan siang dan saya tidak bisa menahan diri minta satu cumi ke Elsa sambil berdoa semoga jangan muncul alerginya. Enak sekali, dan Alhamdulillah alergi saya tidak muncul. Tapi walau begitu, saya tahu diri tidak bisa makan banyak takut nanti tulah, jadi muncul gatalnya. Sekarang kalau diingat-ingat, saya juga makan fish cake di Korea, juga tidak gatal karena ikannya bersih. Sepertinya yang patut saya hindari selain udang ya emang ikan laut seperti ikan tongkol dan sejenisnya.

Setelah makan, kami tertidur karena semalam belum tidur dengan benar karena tidur di pesawat. Di kamar tidak ada jendela, tv maupun jam dinding, bablas bangunnya menjelang malam. Untung menginapnya di Jalan Alor, jadi keluar hotel langsung ketemu ramainya orang menjual makanan. Kami malam itu kembali ke area Pasar Seni, karena mau melihat The River of Life dan Dataran Merdeka. Namun sayang, malam itu air mancurnya tidak ada dan Dataran Merdeka sedang renovasi. Jadi balik lagi ke Jalan Alor Bukit Bintang. Kami makan di rumah makan Thailand yang memasang logo halal. Makannya tom yam beef dan ayam pandan plus nasi. 

Makan di Jalan Alor

Makan makanan Thailand

Seperti biasa jalan Alor tidak pernah sepi, selesai makan kami harus kembali istirahat karena besok akan jalan lagi.

Lanjut Part 2

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...